Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Terkurung


__ADS_3

Arabella diam mematung saat mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano. Merasa ada kesempatan, Elvano langsung menarik gadis penguntit itu masuk ke dalam sebuah paviliun yang ada di belakang mansion.


Elvano langsung mengambil sesuatu di dalam kantong celananya, tanpa meminta ijin lagi dia langsung memasangkan sebuah kalung pada Arabella membuat gadis itu menjadi kaget.


"El, apa yang kamu lakukan?" sentak Arabella.


"Aku sedang menandai peliharaan aku agar tidak bisa kabur lagi," jawab Elvano dengan wajah tanpa dosa.


"Jangan gila El! Aku bukan peliharaan kamu, kamu jangan seenaknya sama aku!" Arabella memberontak saat Elvano tinggal sedikit lagi memasangkan pengait kalung.


"Aku lupa, kamu kan lebih suka jadi mainan aku." Elvano tersenyum miring teringat saat dulu Arabella memintanya untuk menjadikan dia sebagai mainannya.


Flashback on


Terlihat dua orang gadis cantik berumur sepuluh tahunan datang dengan wajah yang ceria. Dua gadis cantik itu sedang bahagia karena mendapatkan uang jajan lebih dari Papa Andrea karena mereka masuk tiga besar di kelasnya. Begitupun dengan Joen yang selalu juara satu. Akan tetapi, Elvano tidak mendapatkan uang jajan tambahan karena dia tidak masuk rangking di kelasnya. Bukannya karena Elvano bodoh, tapi karena dia tidak peduli dengan pelajaran di kelas. Elvano lebih senang belajar komputer dan mengacak-acak situs orang.


Merasa kesal karena hanya dia yang tidak mendapatkan hadiah dari Andrea, Elvano terus memainkan robot mainan hadiah ulang tahunnya dari Andrea, sepulang dari acara pembagian raport.


Melihat Elvano bermain sendiri, Arabella yang suka menempel pada dia langsung mendekatinya.


"El, tumben main sendiri, Bang Joen mana?" tanya Arabella celingukan mencari keberadaan Joen.


"Gak tahu!" ketus Elvano dengan tidak mengalihkan pandangannya dari mainan robot.


"El, Aku juga mau jadi mainan robot biar terus kamu perhatikan," goda Arabella.


"Bodoh! Mau-maunya kamu dipermainkan orang." Lagi-lagi Elvano bicara ketus pada Arabella.


"Karena aku ingin selalu di dekat kamu," ucap Arabella. "El jangan galak-galak sama aku, nanti aku bilangin sama mama kamu."

__ADS_1


"Terserah!" Elvano tidak peduli pada ancaman Arabella.


Flashback on


Teringat dengan ucapannya sendiri, Arabella pun mencari cara untuk mengelak. "Itu 'kan sudah lama El, tidak berlaku untuk sekarang. Lagian itu kan ucapan aku waktu masih kecil, masih saja mengingatnya." Arabella cemberut merasa tidak suka masa lalunya disebut.


"Bagaimana aku tidak ingat, kalau setiap hari kamu terus mengikuti aku." Elvano terus menatap lekat Arabella mencari jawaban kenapa gadis penguntit itu selalu membayangi pikirannya.


Sementara Arabella langsung memalingkan muka tidak ingin beradu pandang dengan Elvano.


Bisa runtuh imanku kalau melihat ke dalam matanya cowok sengklek ini. Entah kenapa aku bisa tergila-gila padanya? Padahal aku sering bertemu dengan cowok yang lebih ganteng dari dia. Bahkan aku menolak Bryan yang memiliki mata sebening samudera, batin Arabella.


"Ara, apa kamu membenciku?" tanya Elvano saat melihat Arabella memalingkan wajahnya.


"Tidak!"


"Kamu lebih dari menyeram ...." Ucapannya terhenti saat dia menengok ke arah Elvano, bibirnya langsung diserobot oleh cowok sengklek itu.


Elvano tidak ingin mensia-siakan kesempatan, indra pengecap dia langsung menerobos masuk ke dalam rongga mulut Arabella. Namun kesenangannya berakhir saat terdengar suara ponsel di kantong jasnya.


"Papa," lirih Elvano saat melihat layar ponselnya dan terlihat nama papanya di sana.


Elvano sedikit menjauh dari Arabella dan langsung menerima panggilan telepon dari papanya.


"Hallo El, cepat kembali! Ada yang menyerang situs kita." tanpa menunggu jawaban dari putranya, Andrea langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Sesaat dia melihat ke arah Arabella, meski dia masih ingin di sini, tapi papanya dan perusahaan membutuhkannya. "Tunggu di sini! Nanti aku kembali."


Sebelum pergi, Elvano mencium pipi Arabella sekilas lalu beranjak pergi dan mengunci paviliun dari luar membuat Arabella tidak bisa membukanya. Sementara Arabella hanya menatap nanar melihat kepergian Elvano yang terburu-buru.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Malah di kunci lagi. Bisa-bisa aku ketinggalan pesawat. El, kenapa kamu lebih nyebelin dari sebelumnya?" gerutu Arabella. Terus saja gadis ini bicara sendiri meluapkan kekesalannya pada Elvano. Sampai pesta sudah bubar pun tapi Elvano masih belum juga kembali.


Sementara di dalam mansion, Elvano bersama papanya dan Joen sedang berkutat di ruang kerja Andrea. Setelah satu jam akhirnya keadaan situsnya kembali stabil bahkan lebih susah untuk dibobol.


"Alhamdulillah, merepotkan sekali keluarga Austin. Demi Lana, kita hampir kehilangan setengah aset Ji Sung. Tinggal nunggu besok di berita kehancuran Philips Company," cerocos Elvano.


"El, kamu tinggalin anak orang di paviliun sudah di kasih makan belum? Ini sudah waktunya makan malam. Kamu ingin Papa hukum lagi karena melakukan hal di luar kewajaran pada Ara? Dengar El, papanya Ara itu sahabat papa yang sudah papa anggap sebagai saudara. Papa tidak akan biarkan kamu menghancurkan kehormatan gadis itu. Kalau kamu menyukainya, Papa akan segera menikahkan kalian." Andrea menatap dalam putranya yang terlihat kaget karena ternyata apa yang telah dilakukan diketahui olehnya.


"Iya Pah, El mengerti!" Elvano menundukkan kepalanya. Bagaimanapun aura mendominasi Andrea terlalu kuat untuk disanggah olehnya.


"Tiga puluh menit lagi kita bertemu di meja makan, ajak Ara sekalian El! Papa mau bertemu mama kalian dulu. Badan Papa sudah lemas butuh asupan vitamin dari dia." Andrea berlalu pergi meninggalkan kedua pemuda tampan yang saling pandang itu. Lalu keduanya kompak menggelengkan kepalanya.


"Selalu saja begitu, papa kenapa bucin sekali sama mama? Kalau mama sudah bilang jangan, baru papa menurutinya padahal kita yang meminta sama dia tidak digubrisnya." Elvano merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan kepenatan setelah satu jam berkutat dengan komputer.


"Nanti juga kamu begitu sama Ara. Jangan digedein gengsi El, nanti kamu malah menyesal saat sudah kehilangan." Joen mencoba menasehati keponakanya. Meskipun mereka seumuran, tapi cara berpikir Joen lebih dewasa dari Elvano.


"Siap, Bang! Aku pergi dulu, dia pasti kelaparan seperti kata papa." Elvano langsung beranjak pergi dari ruang kerja papanya. Tanpa sengaja dia melihat papanya sedang bermanja-manja pada mamanya saat melewati ruang santai yang ada di lantai atas.


Elvano hanya tersenyum saat melihat kelakuan kedua orang tuanya yang seperti remaja sedang jatuh cinta. "Apa aku dan Ara bisa seperti itu ya?" gumam Elvano tanpa sadar dengan apa yang diucapkannya.


Pemuda tampan itu melanjutkan langkahnya menuju paviliun. Saat sampai di sana, terlihat seorang gadis yang sedang tidur meringkuk di atas sofa. Elvano tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Hatinya menghangat melihat Arabella yang ketiduran karena menunggunya.


"Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Kenapa aku senang melihatnya setia menungguku?" gumamnya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2