
'I hate Monday' mungkin itulah yang dirasakan oleh kebanyakan orang, saat mereka belum merasa puas menikmati libur singkatnya. Ataupun saat membayangkan betapa banyak pekerjaan yang menantinya. Sama seperti halnya Icha yang masih asyik bergelung dengan selimutnya. Sementara sang suami si workholic sudah standby di depan monitor untuk mengecek beberapa e-mail yang masuk dan menyiapkan materi meeting yang akan dipimpinnya nanti siang.
"Al jam berapa?" gumam Icha dengan mata yang masih terpejam.
Sebelum menjawab apa yang Icha tanyakan, Al melihat jam tangan rolex yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Sudah jam enam pagi sayang, kenapa belum siap-siap? Ini hari Senin, bukannya Dika upacara bendera?" tanya Al
"Aku masih ngantuk, bolehkah hari ini aku tidak masuk kerja?" Icha masih saja memejamkan matanya seperti yang sudah dipakaikan lem fox, lengket sekali.
Melihat istrinya yang sedang kambuh malasnya, Al pun langsung merapihkan pekerjaannya dan membuka kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Setelah menyimpan laptop dan kacamata di atas nakas, Al langsung mengikis jarak dengan Icha, "Matahari sedang diskon besar-besaran loh," bisiknya
Mendengar kata diskon, mata Icha langsung terbuka lebar. Seperti ada kekuatan baru untuk segera bangun dan bersiap kerja.
"Beneran Al?" tanya Icha memastikan.
"Serius, bukankah kalau matahari memang selalu ada diskon," tutur Al
"Yahhh, aku jadi malas lagi nih," ucap Icha lesu dengan mengerucutkan bibirnya.
"Memang ingin beli apa harus nunggu diskon dulu?" Al merasa heran dengan istrinya.
'Untuk apa dia menunggu harga diskon, kalau beli harga normal saja masih sanggup' pikirnya.
"Aku senang berburu baju diskon, hehhehe...." ucap Icha cengengesan
"Astaga! Kalau ingin beli baju, kenapa gak bilang?" Al hanya bisa menepuk jidat menghadapi kepolosan istrinya.
Seandainya itu orang lain, mungkin tidak akan menunggu harga diskon untuk membeli sesuatu, karena Al sudah memberi Icha kartu sakti warna hitam miliknya.
"Gak akh, nanti saja belinya kalau beneran ada diskon," tolak Icha seraya berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Setelah semuanya tampak rapi, Icha pun langsung menyusul Al yang sudah turun terlebih dahulu bersama DIka.
Saat sampai di ruang makan, terlihat Al dan Dika yg sedang bercengkerama seraya menunggu nyonya rumah yang sedang kambuh penyakit magerannya.
"Pagi sayang!" sapa Icha pada Dika dengan mengecup pucuk kelapa DIka,
"Pagi Mah!" sahut Dika
"Ayo kita mulai sarapannya biar Dika tidak telat sekolahnya!" ajak Al
__ADS_1
***
Berbeda dengan dua orang gadis yang sudah mulai bergosip sebelum jam masuk kerja.
"Kia, aku dengar hari ini ada anak baru loh. Dia akan jadi sekertarisnya Pak Oryza," ucap Vio
"Masa sih? Kho gak pernah dengar ya!" Kia merasa kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vio.
"Seriusan! Nanti kalau bener, kamu harus traktir aku makan siang, oke!" gurau Vio
"Boleh, nanti aku traktir cilok bah atik yang biasa mangkal di depan sekolahku dulu," tutur Kia
"Yaelah Kia, mau traktir cilok. Nanti gak kenyang," ucap Vio
"Kamu sih belum nyobain, rasanya enak tau! Mirip baso terus pake saos sambel yang dicampur kacang tanah," cerocos Kia seperti seorang sales yang promosi barang dagangannya.
"Yakin enak? Nanti kalau libur kerja kita ke sana eksekusi cilok yang kata kamu enak," ucap Vio
"Kalau kita libur, sekolah juga libur dodol. Mana mungkin Bah Atik mangkal di sana. Siapa yang mau beli coba," cebik Kia
Tanpa sengaja, Vio melihat Oryza masuk bersama seorang gadis cantik di sampingnya. Mereka terlihat akrab dan selalu nyambung kalau mengobrol.
"Ki Kia, lihat pangeran kadalmu sedang bersama gadis cantik," tunjuk Vio
Degh!
Seperti ada yang panas, tapi bukan api. Kia terus melihat sampai Oryza dan gadis itu sudah tak terlihat lagi oleh jangkauan matanya.
"Jangan sedih, kalau sudah jodoh tidak akan kemana." Vio langsung memeluk Kia yang masih diam mematung.
"Kamu pasti bisa dapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari dia," Vio berusaha menghibur Kia, karena dia tahu bagaimana perasaan Kia yang sebenarnya pada Oryza.
"Makasih Vio, aku gak apa-apa kho! Mulai hari ini aku akan berhenti berharap pada Oryza," ungkap Kia sendu.
"Baguslah, kita harus jadi cewek seterong," ucap Vio
" Kenapa harus berhenti berharap?" Oryza langsung nimbrung saat tak sengaja mendengar namanya disebut oleh Kia
"Eh Pak Ryza! Kapan ke sininya?" tanya Vio
Oryza tidak menjawab apa yang Vio katakan, matanya terus menelisik menatap dalam Kia. Hatinya merasa tidak rela saat dia mendengar Kia akan berhenti berharap padanya.
"Ternyata menyakitkan juga saat tahu bahwa orang yang mencintai kita sudah tak mencintai lagi," batin Oryza
__ADS_1
"Kia, kenapa tidak dijawab apa yang aku tanyakan?" Tak ada jawaban dari Kia, Oryza pun menuntut jawaban atas pertanyaannya.
"Memangnya penting gitu, harus dijawab segala?" cebik Kia
"Kamu...." tunjuk Oryza geram
"Maaf ya Pak Oryza, ini masalah pribadi saya, jadi anda tidak perlu tahu tentang masalah saya. Dan juga ini privasi saya, jadi saya berhak untuk tidak menjawab pertanyaan Bapak," tutur Kia dengan nada normal.
"Terserah!" Oryza pun langsung beranjak pergi, dia sampai lupa dengan maksud dan tujuannya tadi menghampiri kedua gadis yang sedang asyik mengobrol.
"Wah kamu hebat Kia! Bisa tegas gitu sama dia," puji Vio
"Kamu yang bilang juga, aku harus jadi cewek seterong," cebik Kia
"Sabar ya Kia sayang, lebih baik nyari cowok yang cinta sama kita, daripada tersiksa mencintai sendiri." Vio berusaha menguatkan hati Kia
"Tentu saja, masa cewek secantik aku gak ada satupun cowok yang cinta sama aku sih,"
"Kita mulai siap-siap yuk!" aja Vio
Kedua gadis itupun mulai larut dalam pekerjaannya, tidak ada obrolan diantara mereka. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga ada instruksi untuk briefing pagi barulah mereka angkat bicara.
"Vio, apa mungkin yang cewek tadi sekertaris barunya Oryza?" tebak Kia
"Bisa jadi Kia, mereka terlihat akrab gitu," ujar Vio
Setelah semua staf keuangan berkumpul, dan menyampaikan apa saja yang harus di perbaiki dalam sistem kerja, barulah Oryza memperkenalkan sekertaris barunya.
"Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan di sini, perkenalkan gadis cantik yang ada di samping saya ini Yura Anastasya. Dia yang akan menggantikan Sintya sebagai sekertaris. Jadi kalau ada perlu apa-apa saat saya tidak ada tempat, silahkan hubungi Yura."
Briefing pun dibubarkan setelah acara perkenalan dengan sekertaris baru. Untuk penyambutan karyawan baru, semua sepakat untuk membooking sebuah karaoke.
Kia hanya diam saja meski yang lain terlihat heboh akan ada hiburan gratis, sehingga hal itu menjadi tanda tanya buat Oryza yang biasa melihat karyawannya itu bertingkah absurd.
"Kenapa aku merasa, Kia seperti menghindariku. Apa ada kata-kata ku yang pernah menyinggungnya?"
Oryza terus bergelut dengan pikirannya dengan perubahan sikap Kia yang tidak pernah lagi menggodanya.
Sementara Kia terus memantapkan hati untuk menghapus cinta sepihaknya pada Oryza.
"Aku cewek strong yang gak akan lemah pada cinta yang tak bertuan, semangat Kiara Prameswari," gumam Kia pelan dengan mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Tanpa di sadarinya, ada mata yang sedari tadi melihatnya di balik kaca pembatas ruangan. Entahlah, Oryza mendadak tersenyum saat melihat Kia seperti bicara sendiri dan menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1