Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 112 Yura


__ADS_3

Oryza menghembuskan napasnya kasar mendengar apa yang Yura katakan, dia sesegera mungkin menetralkan perasaannya agar tidak terpancing oleh omongannya. "Yura, apa kamu tahu? Aku selalu kangen pada masa kecil kita, saat Starla masih ada. Kamu suka sekali makan kue putri salju buatan mamaku sampai kamu belajar membuatnya sendiri."


"Aku ingat! Mamamu memang selalu baik padaku. Mungkin semua keluargamu baik padaku, tapi tidak dengan mereka. Aku menyesal jadi anak yang patuh, kalau akhirnya mereka meninggalkanku juga" Terlihat jelas tatapan Yura menyiratkan luka yang dalam. Luka batin karena merasa diabaikan oleh orang tuanya.


Oryza tahu jelas kenapa Yura berubah menjadi anak yang pendendam dan selalu ingin membalas tiap orang yang mengabaikannya. Semenjak orang tuanya bercerai saat Yura masih berusia sepuluh tahun dan tidak satupun diantara mereka yang ingin membawa Yura bersamanya. Meski semua kebutuhan hidup Yura ditanggung oleh kedua orang tuanya tapi semenjak itu orang tuanya tidak pernah menengoknya dan mempercayakan penuh pada pengasuhnya.


"Yura, tidak semua orang seperti mereka. Buktinya keluargaku sayang padamu, apa kamu tega menyakiti orang yang menyayangimu?"


Tidak ada jawaban dari Yura, dia hanya terdiam seperti merenungkan apa yang dikatakan oleh Oryza. Selama ini hanya kata-kata Oryza yang masih dia percaya, bahkan pengasuhnya pun sering melakukan kekerasan padanya. Hingga akhirnya tewas overdosis.


"Aku pulang dulu! Cepatlah sehat! Banyak pekerjaan menantimu," pamit Yura.


"Kamu baik-baik saat tidak ada aku," pesan Oryza seraya mengelus kepala Yura sayang.


Yura pun berbalik pergi, tapi sebelum itu dia menatap Kia dingin yang sukses membuat Kia bergidik ngeri.


Selepas Yura pulang dari ruang perawatan Oryza, Kia masih membisu dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia masih terbayang dengan tatapan Yura yang sukses selalu membuatnya bergidik ngeri.


Menyadari hal itu, Oryza pun langsung mengajak bicara pada Kia. "Kia, jangan menunjukkan rasa takut pada Yura. Dia tidak akan menyakiti orang yang tidak menyakitinya," ucapnya.


"Za, aku takut dia merasa kalau aku yang sudah merebutmu." Jujur Kia.


"Kamu tenang saja, selama ada aku di sampingnya, dia tidak akan berani bertindak. Makanya aku sengaja menjadikannya sekertarisku," ungkap Oryza


Oryza menghela napas dalam, justru saat ini dia memikirkan keselamatan sepupunya. Yura sudah berani mensabotase mobil Al. Besar kemungkinan akan ada kejutan lain darinya.


***


Kesehatan Al sudah semakin membaik dan hari ini dia sudah mulai bekerja lagi. Al langsung menghubungi bagian HRD untuk membuatkan surat mutasi kepindahan Yura ke cabang Kalimantan dengan dalih Oryza tidak butuh sekertaris karena kemungkinan akan mengambil cuti panjang sampai kakinya benar-benar sembuh.


Terlihat Yura sedang membereskan barang-barangnya, karena mulai besok dia sudah

__ADS_1


berangkat ke luar pulau Jawa.


Vio hanya melihatnya dari jauh tanpa ingin menyapanya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kia, rasanya tidak mungkin orang yang seanggun dia bisa sejahat itu. Tanpa sengaja, disaat Vio bengong melihat ke arah Yura, orang yang yang dilihatnya balik menatapnya dengan tatapan dingin membuat Vio langsung menundukkan kepalanya tidak berani melihat ke arah Yura.


"Bener apa yang Kia katakan, tatapannya itu mengerikan sekali." gumam Vio


Tak ingin berlama-lama memikirkan hal yang membuatnya bergidik ngeri, Vio pun langsung memusatkan pikirannya pada pekerjaan yang ada di depannya.


Waktu pun terus berlalu, jam makan siang pun telah tiba. Vio langsung menuju ke ruangan Icha, karena dia sudah berjanji untuk makan siang bareng. Sementara Icha tidak bisa makan siang di luar karena banyaknya pekerjaan yang harus Al lakukan setelah ditinggalkan beberapa hari.


Dengan langkah gontai Vio langsung menuju ke meja Icha dan Aisha yang ternyata masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kalian masih belum istirahat? Udah lewat sepuluh menit loh," tegur Vio mengingatkan.


"Sebentar lagi Vi, nanggung nih." Tanpa melihat ke arah Vio, Icha menjawabnya.


Tanpa bicara lagi, Vio pun mengintip apa yang sedang Icha kerjakan. "Cha, Yura dimutasi ya?" tanyanya.


Icha yang sedang mengetik langsung menghentikan pekerjaannya, "Kata siapa Vio? Kho aku gak tahu ya!"


Acara gosip pergosipan pun terpaksa dihentikan saat Asep datang dengan beberapa kantong di tangannya. "Permisi Mbak Icha, ini makanannya ditaruh di mana?" tanyanya.


"Langsung ke dalam aja, Kang. Ayo Vio, Aisha!" ajak Icha


Setelah dipersilahkan masuk oleh si pemilik ruangan, Asep pun masuk ke dalam dengan diikuti oleh Icha dan yang lainnya. Terlihat Al yang masih sibuk di depan monitor dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya.


"Ya Ampun pesona Pak Al masih tidak berubah, membuat otak kotorku bekerja dengan baik," batin Vio


Menyadari sahabatnya yang diam mematung, membuat Icha langsung memukul lengan Vio pelan. "Dia suami aku sekarang, Vio. Dilarang mengaguminya!" tegur Icha.


Mendengar apa yang Icha katakan, membuat Vio menjadi gelagapan sendiri. Bagaimana tidak, dia terciduk sedang mengagumi suami sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Bukan begitu, Cha. Aku teringat saat dulu kita kena hukuman dari Pak Al. Pemandangannya persis seperti ini," elak Vio


"Iya bener, tapi sepertinya itu modus dia buat menjeratku." Icha pun langsung menerawang ke masa dia belum berbaikan dengan Al.


"Apa kalian akan terus berdiri di situ?" tanya Al yang mampu mengagetkan dua sahabat yang sedang bernostalgia.


Mendengar teguran dari Al, Icha pun langsung cengengesan. "Gak sayang, kita lagi inget waktu kamu marahin kita bertiga," kekeh Icha seraya mendekat ke arah Al yang sudah duduk sofa bersama Aisha.


"Aku marah karena kalian tidak patuh pada aturan. Apa pernah aku marah saat kalian patuh?" tanya Al


"Ya gaklah! Sekarang malah suka nurutin apa yang aku mau," ucap Icha langsung mendudukkan bokongnya di samping Al.


Melihat Icha yang sudah duduk di sampingnya, Al langsung mengelus perut Icha sayang, "Apa anak Papa sudah lapar? Maaf ya sayang, kita makannya telat." Setelah mengajak bicara anaknya yang masih ada di perut Icha, Al pun langsung menciumnya tanpa memperdulikan orang di sekelilingnya.


"Ayo makan, jangan pada diam saja!" ajaknya kemudian.


Seperti terhipnotis, Vio dan Aisha pun langsung mengikuti apa yang bosnya katakan. Begitupun dengan Icha yang langsung makan makanan sehat yang khusus dibuat untuk ibu hamil.


"Sayang, aku icip punya kamu dong! Yang ini kurang gurih," tunjuk Icha pada makanan yang ada di tangannya.


Al langsung melihat ke arah makanan yang ada di tangan Icha, "Aku memang sengaja memesan makanan itu dan meminta mereka untuk tidak memakai penyedap."


"Aku mau yang punya kamu!" rengek Icha


"Ya udah aku suapin," ucap Al


Benar saja, Al langsung menyuapi Icha secara bergantian dengan dirinya hingga makanan yang ada di tangannya habis tak bersisa.


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


👉Next part


__ADS_2