Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Cemburu


__ADS_3

Sepulang sekolah, Allana mengajak Dika untuk menemaninya makan bakso yang ada di perempatan jalan menuju ke rumahnya. Sebenarnya, tadi dia mengajak Arabella untuk menemaninya, tapi dia menolaknya dengan alasan lagi diet. Untung saja ada Dika, jadi ada yang selalu setia menemaninya diajak ke mana pun.


"Dika, kamu berangkat sekolah naik apa?" tanya Allana saat mereka menuju ke parkiran.


"Aku bawa motor! Kenapa? Kamu gak suka kalau naik motor?" tanya Dika.


"Suka kho! Tapi aku gak bawa jaket," keluh Allana.


"Pake punyaku aja!" Dika langsung membuka jaket kulit yang dipakenya dan memakaikan pada Allana.


Allana hanya melihat ke arah Dika yang sedang sibuk merapikan jaket di tubuhnya. Mungkin ini pertama kalinya dia mendapatkan perhatian yang lebih selain dari keluarganya. Membuat hati Allana menjadi menghangat.


"Sudah rapi, yuk naik!" ajak Dika.


Allana hanya mengikuti apa yang Dika katakan tanpa mengeluarkan suaranya, sampai terdengar suara Arkana dari belakang.


"Kalian mau ke mana?"


"Kita mau makan bakso, kamu mau ikut?" tanya Dika.


"Nggak kayaknya! Tadi Kak Ara minta diantar beli kado, memang siapa yang ulang tahun?" tanya Arkana.


"Oh itu, besok Yuki ulang tahun. Aku tadi nitip sama Ara buat beliin kadonya," jawab Allana.


"Ar, kita duluan ya!" pamit Dika setelah dia menstarter motor sports-nya.


"Yo ay, besok main ke rumahku! Kita tanding ML," ucap Arkana yang dibalas dengan acungan jempol dari Dika.


Dika melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena dia khawatir Allana tidak terbiasa naik kendaraan roda dua, mengingat ke mana pun dia pergi pasti selalu naik mobil.


"Dik, pelan banget jalannya! Udah kayak keong aja," protes Allana.


"Kamu suka ngebut?" tanya Dika.


"Aku suka yang cepat, gak suka yang lambat!" terang Allana.

__ADS_1


"Oh oke!" Dika langsung menancap gas membuat Allana terkaget hingga tanpa sadar dia langsung memeluk tubuh tegap Dika.


Menyadari ada tangan kecil yang melingkar di perutnya, anak baru gede hanya tersenyum tipis. Ada perasaan senang dihatinya, kini gadis yang disukainya seperti betah saat berlama-lama dengannya. Dulu, Dika yang selalu mendekat pada Allana, mencari perhatian gadis cantik itu hingga dia selalu ikut saat diajak oleh saudara-saudara Allana untuk ikut latihan bersama mereka.


Tidak rugi sebenarnya, meskipun Allana suka bersikap judes padanya, tapi Dika mendapatkan banyak ilmu yang tidak dia dapatkan dari pendidikan formal. Karena Andrea, papanya Allana sering mendatangkan pelatih profesional untuk mengajari putra-putrinya berbagai macam ilmu yg belum diajarkan di sekolah.


Lamunan Dika seketika buyar saat Allana menepuk pundaknya dari belakang, "Turunin kecepatannya! Sebentar lagi nyampe."


Dika langsung mengikuti apa yang disuruh oleh Allana, karena memang benar apa yang dikatakan gadis itu, lampu merahnya sudah terlihat dari jauh.


Saat sampai di kedai bakso, Allana pun langsung masuk ke dalam setelah dia melepaskan helmnya. Sementara Dika merapikan dulu motornya agar tidak menghalangi pelanggan lain yang ingin makan di sana. Dika melepaskan helm di kepalanya, bersamaan dengan segerombolan anak perempuan yang juga akan makan bakso di sana. Mereka dibuat melongo saat Dika sudah benar-benar melepaskan helmnya, hingga salah satu dari anak perempuan yang memakai bet sekolah negeri itu menghampiri Dika.


"Hai, kamu anak Garuda ya! Kenalin, aku Delisa!" Gadis yang bernama Delisa itu mengulurkan tangannya mengajak kenalan. Namun, belum juga Dika menyambut tangan itu, Allana sudah terlebih dahulu menarik tangan Dika.


"Lama banget sih, parkir motor doang!" ketus Allana.


"Sorry!" ucap Dika seraya mengikuti langkah kaki Allana, sedangkan gadis yang tadi mengajak Dika berkenalan hanya melongo di tempat.


Allana langsung duduk di kursi yang tersedia, pipinya mengembung karena dia merasa kesal dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Lana, pelan-pelan nanti kamu tersedak!" ucap Dika lembut.


Uhuk uhuk ....


Baru saja Dika selesai bicara, Allana sudah tersedak bakso rudal yang dimakannya. Dika langsung memberikan minum pada gadis di depannya dengan tangan yang menepuk-nepuk punggung Allana. "Makannya pelan-pelan, tidak ada yang akan merebutnya," ucap Dika.


Akibat suasana hati Allana yang masih kesal, dia langsung meminum minuman yang diberikan oleh Dika sampai habis. Setelahnya dia melanjutkan lagi makan baksonya.


Dika menghentikan makannya dan hanya melihat Allana yang melanjutkan makan bakso setelah tadi dia tersedak. Dika merasa heran, kenapa Allana seperti sedang kesal. 'Tidak mungkin kan, kalau Allana cemburu karena tadi didekati gadis itu?' pikir Dika.


"Lana, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan aku?" tanya Dika.


Allana menghentikan makannya, dia melihat ke arah Dika yang sedang menatapnya dalam. Sesaat mereka saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan, hingga akhirnya Allana memutus pandangannya.


"Aku gak suka kamu dekat dengan cewek manapun selama status kamu masih jadi pacar aku!" ketus Allana.

__ADS_1


Dika menghela napas dalam mendengar apa yang Allana katakan. "Mereka hanya ingin berkenalan, Lana. Lagipula, bukannya banyak teman banyak rejeki?"


Mendengar apa yang Dika katakan, Allana langsung menghempaskan sendok ke mangkuk dan beranjak pergi tanpa memperdulikan Dika.


Setelah membayar bakso yang dimakannya, Dika pun langsung mengejar Allana yang sudah keluar dari kedai bakso. Dilihatnya gadis yang sedang marah itu duduk di atas motor miliknya, Dika pun langsung menghampiri Allana.


"Mau pulang sekarang, apa mau main dulu?" tanya Dika dengan tatapan yang tidak lepas pada Allana.


"Pulang!" ketus Allana.


Dika hanya menghela napas dalam menghadapi gadis yang satu ini. Moodnya sering kali berubah. Setelah dia memakai sarung tangan dan helmnya, tanpa bicara lagi Dika langsung melajukan si kuda besi menuju rumah Allana yang memang tidak jauh dari tempatnya makan bakso.


Sesampainya di rumah, Allana pun mengajak Dika untuk mampir sekadar berbasa-basi. Namun ternyata, Dika mengiyakan tawaran pacarnya itu.


Kini sepasang anak baru gede itu sedang menikmati udara sore di gazebo taman belakang rumah gadis cantik yang selalu terlihat judes pada orang yang baru dikenalnya.


Dika memilih tiduran dengan tangan sebagai bantal, rasa ngantuk mulai menyerangnya setelah kenyang memakan bakso. Sementara Allana asyik berselancar dengan ponsel pintarnya seraya duduk selunjuran. Melihat ada paha menganggur di depan matanya, Dika pun berpindah menjadikan paha Allana sebagai bantalnya.


"Dika ikh ngapain?" Allana mencoba menyingkirkan kepala Dika di pahanya, tapi si empunya enggan beranjak dari sana.


"Diamlah, Lana! Orang pacaran itu, biasa seperti ini. Bukankan sekarang kamu pacar aku? Jadi, kamu gak boleh nolak!" Mata Dika terpejam, rasa kantuknya sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Ck! Kenapa gak tidur di bawah saja? Bukannya tadi juga dia tiduran tanpa bantal," gerutu Allana dengan melihat wajah Dika yang menghadap ke atas.


Dia memang tampan, tapi sayang umurnya lebih muda dariku. Sangat tidak mungkin aku jatuh cinta sama brondong. Mending sama pria dewasa agar bisa mengayomi, batin Allana.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Dika benar-benar tertidur di paha empuk Allana. Sampai ada suara mengagetkan Allana yang sedang asyik dengan pikirannya seraya menatap wajah tampan pacar bohongannya.


"Sedang apa kalian di situ?" Elvano yang baru datang dengan Joen kaget melihat adiknya yang begitu intim dengan orang yang selalu dia jutekin.


"Bang El, Bang Joen baru pulang?" tanya Dika yang baru bangun dari tidurnya. Sementara Allana hanya diam saja, dia bingung harus bicara apa pada kakaknya itu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih 🙏🏻...


__ADS_2