
Sepulang kerja, Icha buru-buru ke apartement. Karena tadi Abizar memaksa Icha untuk ikut pulang kampung. Dengan perasaan tak karuan, Icha pun terpaksa mengikuti ajakan Abizar untuk pulang ke kampung halamannya.
Flashback on
Setelah Abizar dipanggil oleh Al, kemudian dia memanggil Icha untuk ke ruangannya.
"Cha, aku udah bilang sama Tante Mira kalau kamu mau ikut pulang sama aku. Tadi juga aku udah minta tolong Tante buat nyiapin barang-barang Dika," terang Abizar.
"Apa-apaan kamu Bi? Aku kan udah bilang nggak mau ikut!" geram Icha.
"Aku nggak mau tahu, kamu harus ikut! Kalau kamu nolak pun, aku akan tetap bawa Dika pulang bersamaku," ancam Abizar.
"Jangan kelewat batas kamu Abizar!" Icha sangat marah dengan keputusan sepihak Abizar.
"Sudahlah Cha! Nggak usah marah gitu, lagian aku udah sewakan cottage buat kamu, Dika dan Aisha tinggal. Jadi kamu Nggak perlu takut kalau nanti papa kamu belum bisa terima kamu kembali."
"Aku hanya bilang ke Tante kalau nanti kamu pulang sama aku."
"Jadi selama ini, kamu kasih tahu Mama tentang aku? Kenapa kamu jadi penghianat Bi?"
"Dengar Farisha Yumna, kamu pikir aku tidak tahu kalau sebenarnya kamu juga sangat merindukan papa dan mamamu. Kalau kamu masih takut ketemu papamu, kamu cukup temui mamamu, wanita yang sudah melahirkan kamu, wanita yang lebih mementingkan kebahagiaanmu, wanita yang sangat mencintaimu. Coba sekarang, aku bawa Dika pulang kampung dan kamu nggak usah ikut. Apa yang akan kamu rasakan? Kamu nggak bisa pisah 'kan sama Dika? Mamamu juga sama, Cha."
Tak terasa bulir air mata itu jatuh di pipi Icha. Semua yang Abizar katakan memang benar, dia tidak akan bisa berpisah lama dengan putranya. Apalagi mamanya yang sudah dia tinggalkan selama 6 tahun lebih, pasti akan sangat tersiksa dengan kerinduannya.
"Baiklah aku akan ikut!"
Flashback off
Kini Icha sudah siap dengan semua bekal yang akan dibawanya pulang, begitupun dengan Dika yang sangat antusias. Tinggal menunggu Abizar yang akan menjemputnya.
"Salam buat Mama kamu ya Cha! Maaf Tante nggak bisa ikut, soalnya toko kue Tante lagi rame," sesal Bu Mira.
"Iya nggak papa Tan, nanti Icha bilangin pada Mama," ucap Icha.
Terlihat di layar handphone Icha "Bizar is calling", Icha pun langsung menerima panggilan telepon dari Abizar.
π±"Hallo Assalamu'alaikum."
π²"Wa'alaikumsalam! Cepetan turun, aku nunggu di bawah."
__ADS_1
π±"Iya aku turun sekarang!"
π²"Aku tutup telponnya ya, Cha."
Panggilan telepon terputus, Icha pun segera pamit pada Tante Mira untuk berangkat ke kota kelahirannya.
Sesampainya di lobby apartement, terlihat Abizar dan Aisha sedang duduk menunggunya.
"Hallo ganteng!" sapa Abizar pada Dika
"Hallo Om Abi!" jawab Dika
"Udah siap, Cha?" tanya Abizar
"Nggak usah nanya gitu deh Bi, siap nggak siap kamu tetep maksa aku pulang, kan." cebik Icha dan Abizar hanya terkekeh menanggapi kekesalan Icha.
"Udah yuk biar nggak kemalaman di jalannya!" ajak Aisha.
Sepanjang perjalanan Dika tidak berhenti bertanya, hingga suasana riuh mengiringi perjalanan mereka dengan gelak tawa.
"Aku nggak nyangka kamu orangnya heboh juga, Cha!" ucap Aisha
"Aku kan suka bersosialisasi ABI! Kata orang kan banyak teman banyak rejeki," kilah Icha.
"Iya bersosialisasi sampai kamu di suruh bersihin lapangan basket karena rumpi terus sama Kinan."
"Berarti Icha sama Al bertolak belakang ya, waktu sekolah Al nggak banyak bicara. Dia mau ngomong sama cewek itu hanya sama aku dan Kalisa. Itupun karena Kakek selalu nyuruh Al untuk baik sama Kalisa," jelas Aisha.
"Emang Al sama Kalisa udah dijodohin dari kecil?" bukan Icha yang bertanya tapi Abizar yang malah penasaran dengan sosok Aldrich yang dulu dia kenal sebagai si culun.
"Mungkin, Kakek selalu bilang kalau Kakek berhutang banyak pada keluarga Kalisa," jelas Aisha.
"Berarti pertunangan itu hanya untuk balas budi?" tanya Abizar lagi. Sedangkan Icha hanya menyimak pembicaraan dua sejoli yang sedang bergosip.
"Emang waktu di sekolah dulu, Al pernah pacaran sama siapa aja?" tanya Abizar mulai mengorek info tentang Al.
"Al nggak pernah pacaran selain sama Icha, aku juga kaget pas kamu bilang kalau Icha mantannya Al. Mungkin hanya Icha satu-satunya cewek yang bisa masuk ke hidup A, padahal dulu dia idola di sekolahku. Tiap hari ada aja yang kasih coklat," terang Aisha.
"Nggak usah promosikan sepupu kamu deh, Sha!" sela Icha.
__ADS_1
"Ngapain aku promosikan Cha. Semua yang cewek idamkan ada sama dia, udah ganteng, badan oke, tajir, royal lagi. Aku aja sering dibeliin apapun yang aku mau," bela Aisha.
"Iya, aku emang nggak punya apa-apa Sha." Abizar malah baper saat Aisha memuji Al, padahal maksud Aisha agar Icha mau balikan lagi sama Al.
"Bukan begitu maksudku bee, ikh kamu mah nggak ngerti," gerutu Aisha.
"Ck! Ketahuan banget kalian modusnya," gerutu Icha
"Kita hanya ingin kamu kembali bahagia sama Al, Cha. Soal pertunangan itu, itu hanya keinginan Tuan Ardi, Cha." Pandangan Abizar menatap lurus ke depan.
"Tau ah pusing denger ocehan kalian, mending aku tidur bareng Dika."
Icha pun langsung tidur menyusul Dika yang sudah tertidur pulas. Sedangkan Abizar dan Aisha langsung lirik-lirikan dengan mengacungkan jempol karena misinya untuk mempengaruhi pikiran Icha kemungkinan berhasil.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, akhirnya mobil Abizar sampai di cottage yang sudah dia sewa untuk 2 hari ke depan. Aisha dan Icha pun segera masuk dengan bawaan mereka, sedangkan Abizar menggendong Dika yang masih tertidur.
***
Sementara Al yang melihat postingan Aisha di sosmed tentang keberangkatannya ke kota kelahiran Abizar bersama Icha, dia pun langsung berkemas dan meminta share lock pada Aisha.
Sesampainya di kota S, Al langsung menuju ke rumahnya yang dulu dia tempati saat bersekolah di sana.
Tin tin tin
Terlihat pintu gerbang rumah Al ada yang membuka dari dalam.
Al pun langsung membawa masuk mobilnya ke dalam garasi.
"Selamat datang Den" ucap Kang Asep yang menjaga rumah Al.
"Apa kamarku sudah dibersihkan Kang?" tanya Al.
"Sudah Den! Tadi waktu Bi Sari memberi tahu kalau Den Al mau ke sini, istri saya langsung membersihkan seisi rumah," jelas Kang Asep.
"Makasih Kang, aku mau istirahat dulu." pamit Al. "Kang tolong bikinin wedang jahe ya, di sini udaranya dingin sekali!" lanjutnya.
Al pun langsung menuju ke kamarnya ingin mengistirahatkan badannya yang lelah. Setelah membersihkan diri, Al mencoba memejamkan matanya. Namun pikirannya terus melayang mengingat kembali semua kenangan saat dia bersekolah di Kota ini.
...*****...
__ADS_1
πNext part