
Seperti rencana sebelumnya, Al dan Icha menjemput Dika di rumah Arkana. Setelah cukup berbasa-basi, Al pun pamit untuk pulang ke rumah.
Namun seperti ada yang aneh, saat suasana rumah terasa hening tidak seperti biasanya. Saat sampai halaman rumah, tak terlihat satpam yang biasa berjaga di depan. Hingga sampai ruang tamu, Al dikejutkan dengan keberadaan Raka yang sedang duduk dengan menopang kaki, sementara para pekerja rumahnya duduk di lantai dengan tangan terikat dan mulut yang di sumpal kain begitupun dengan Bu Mira dan Pak Bagas.
Hati Al begitu teriris melihat pemandangan di depannya. Apalagi, terlihat tubuh Icha seperti bergetar ketakutan melihat banyak pria bersenjata laras panjang yang menodongkan senjatanya pada para pekerja rumah. Ketika melihat kedatangan Al, Raka langsung berdiri dan bertepuk tangan. Sementara anak buah Raka sudah menodongkan senjata berlaras panjang pada Icha dan Dika yang membuat keduanya semakin ketakutan.
Prok prok prok
"Wah wah wah.... Sepertinya, calon mantan orang kaya sudah datang. Aku terkesan Al, dengan ketenangan kamu. Sedikit pun kamu tidak menunjukkan rasa takut dengan kehadiran anak buah aku. Berbeda dengan anak dan istrimu yang sudah bergetar ketakutan." Raka terus mendekat ke arah Al dengan pistol di tangannya.
"Apa yang Om mau, sampai harus menyandera pekerja di rumahku.?" tanya Al datar. Meski hatinya was-was tapi sebisa mungkin dia berusaha tenang.
"Kamu memang pintar Al, tanpa kubilang pun kamu mengerti dengan maksud kedatanganku. Aku hanya ingin kamu menandatangani dokumen ini. Setelah aku mendapatkan tanda tanganmu, maka semua pekerja kamu aku bebaskan, termasuk dia!" tunjuk Raka pada Pak Bagas yang terlihat ada darah merembes dari perutnya.
"Apa yang Om lakukan padanya?" pekik Al kaget saat melihat kondisi Pak Bagas.
"Mereka hanya memberinya pelajaran karena dia sudah menghalangiku mengambil anaknya Kalisa." Raka menunjuk pada anak buahnya.
"Apa jaminannya, Om akan membebaskan semua orang yang ada di rumahku, kalau aku menandatangani dokumen itu?" tanya Al.
"Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengobati bapak itu. Kamu tahu, Al? Diperutnya, ada peluru yang bersarang. Kalau tidak segera diambil, mungkin dia akan lewat," ucap Raka seraya membuat garis miring di lehernya.
"Baik, Om! Aku akan menandatangani dokumen ini asal Om Bagas diobati dulu," ucap Al dengan mengajukan syarat.
Raka pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Pak Bagas ke rumah sakit, sementara di dalam ruang tamu, terlihat Raka membawa dokumen pengalihan rumah dan perusahaan Putra Group padanya.
Sebelum Al menandatangani dokumen itu, Dia mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan rumah dan para pekerja yang terlihat ketakutan. Terakhir, Al melihat anak dan istrinya yang sedang berpelukan ketakutan.
"Al....Apa kamu yakin?" tanya Icha dengan memegang tangan Al.
__ADS_1
"Sayang, harta bisa di cari, tapi nyawa manusia tidak ada gantinya. Kamu masih menerimaku, kan? Meskipun aku tidak punya apa-apa." Al menatap dalam ke manik mata Icha, mencari kejujuran dari jawaban istrinya.
"Aku akan selalu ada untukmu, apa pun dan bagaimanapun keadaanmu," ucap Icha tulus.
"Terima kasih, sayang!" Al mencium kening Icha sekilas sebelum dia akhirnya menandatangani surah pengalihan perusahaan Putra Group pada Raka. Meskipun berat, Al akhirnya menandatangani surat pengalihan itu. Dia yakin suatu hari nanti, semuanya akan kembali menjadi miliknya.
Raka tersenyum bahagia mendapatkan apa yang diinginkannya. 'Sepertinya tidak sia-sia aku bergabung dengan kelompok mafia, karena akhirnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan,' pikir Rama.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Raka langsung membebaskan sanderanya, begitupun dengan Icha dan Al yang menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Sayang, bagaimana kalau kita pulang ke kotaku saja." Usul Icha saat mereka sudah berada di kamar.
"Boleh! Nanti kita liburan seminggu di kampung kamu," sahut Al.
"Kenapa cuma seminggu? Kenapa kita tidak menetap di sana?" tanya Icha.
"Nanti aku ceritakan kalau sudah sampai di kotamu, sekarang lebih baik kita tidur, biarlah mereka yang berjaga." Al langsung menuntun Icha ke ranjang.
"Sudah sayang jangan terlalu dipikirkan, apa kamu nyesel nikah sama aku karena sekarang aku bukan CEO lagi?" tanya Al sendu.
"Apa yang kamu katakan? Bukan begitu maksudku, aku hanya khawatir nanti kamu tidak terbiasa hidup sederhana seperti aku." Terlihat raut wajah cemas Icha yang begitu kentara.
"Sayang, bukankah dulu aku pernah jadi culunmu? Kamu tahu kehidupan seperti apa yang aku jalani saat itu, kan? Aku tidak mengapa kehilangan perusahaan itu, asal aku tidak kehilangan kalian!" ucap Al sendu. Bagi Al, keluarga adalah harta yang paling berharga
"Terima kasih sayang!" Icha langsung menghambur ke pelukan suaminya. Tentu saja Al langsung menyambut pelukan dari istri tercintanya.
Sementara Dika sedari tadi dia sudah tertidur, rasa takutnya membuat dia cepat tertidur dalam pelukan Al saat tadi menggendongnya naik ke atas.
Tidurlah sayang, jangan cemas untuk hari esok. Bukan hanya Putra group sumber rejeki kita, tapi Tuhan pasti sudah menyiapkannya di tempat lain. batin Al.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Al dan Raka pergi ke kantor untuk serah terima jabatan. Sedikit pun dia tidak cerita tentang penyerangan Raka ke rumahnya. Semua karyawan geger dengan kabar yang mengejutkan mereka, hampir semua karyawan merasa cemas dengan kelangsungan perusahaan setelah dipimpin oleh Raka. Sehingga mereka mulai membuat rencana untuk mengantisipasi jika nanti terjadi hal yang buruk pada perusahaan atau pun nasibnya di sana.
Kevin yang baru tahu tentang pengalihan perusahaan pada Raka membuat dia seperti cacing kepanasan.
"Al apa-apaan kamu? Kenapa seperti ini?" bisik Kevin.
"Aku sedang membayar mata yang diberikan pada kakek," jawab Al datar.
"Al, bagaimana dengan nasibku dan ribuan karyawan?" tanya Kevin cemas.
"Kamu tinggal pilih, bekerja bersama Om Raka atau menjadi pengangguran sepertiku." Lagi-lagi Al bicara tanpa ekspresi membuat Kevin semakin frustrasi.
Setelah semua urusan di perusahaan beres, Al kembali pulang ke rumahnya. Meski dia seperti biasa saja, tapi sebenarnya hatinya sangat cemas meninggalkan anak dan istrinya bersama orang-orang yang menyandera mereka.
"Pilihanmu sangat tepat Aldrich, kamu memilih keluarga dan Om memilih harta. Hiduplah dengan tenang bersama keluargamu. Kamu boleh membawa mobil yang kamu inginkan," sarkas Raka saat keduanya dalam perjalanan menuju rumah Al yang kini sudah beralih menjadi rumah Raka.
"Om, bukankah hanya rumah dan perusahaan yang Aku alihkan pada Om?" tanya Al heran dengan perubahan keputusan Raka.
"Setelah Om pikir-pikir, karena di garasi banyak koleksi mobil sport dengan harga fantastis, maka Om akan mengambil semuanya dan kamu hanya boleh membawa satu mobil untukmu mencari pekerjaan nanti. Sepertinya Om terlalu baik sama kamu, Al." Dengan tidak tahu malunya, Raka menganggap dirinya sebagai orang baik.
"Baiklah, tapi Om harus janji tidak boleh menyakiti siapa pun lagi!" lirih Al.
Biarlah Om Raka mewujudkan keinginannya dulu untuk memiliki Putra Group. Pada saatnya nanti, aku akan mengambilnya kembali. Maafkan aku, Kek! Jika keputusanku membahayakan kelangsungan Putra Group.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...