Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 120 Curang


__ADS_3

Sore harinya, Tuan Ardi kembali ke pulau Cinta. Sementara Tuan Satya tidak ikut serta karena berjaga-jaga takut putranya kembali datang.


Saat sampai di sana, terlihat beberapa pekerja sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk resepsi nanti malam. Tuan Ardi terus berkeliling di area resort yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari villa yang sekarang sudah menjadi milik Al. Perlahan Tuan Ardi menghembuskan napasnya, menikmati semilir angin yang begitu menenangkan. Tak terasa langkah kakinya membawa dia pada bibir pantai. Ditatapnya warna jingga kemerahan di ujung senja dengan pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.


Sungguh, dia sangat merindukan saat-saat dulu bersama mendiang istrinya. Seorang gadis yang pertama kali dia temui di ujung senja, saat dia mengeyam pendidikan di Negeri Ratu Elizabeth.


"Diana, dulu kamu selalu memintaku untuk membeli pulau ini pada Satya. Namun, untuk hal itu aku tidak bisa mengabulkannya. Karena aku tahu, pulau ini menyimpan begitu banyak kenangan buatnya. Namun sekarang, Satya sendiri yang ingin melepaskannya. Apa kamu senang Diana? Akhirnya keluarga kita yang memiliki pulau ini." Tuan Ardi terus saja berbicara sendiri, soalah ada seseorang yang sedang diajaknya bicara.


Saat mentari sudah menghilang di ufuk barat, barulah Tuan Ardi beranjak pergi dari tempatnya berdiri, menuju ke villa untuk bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan Kevin dan Oryza.


Saat tiba di villa, Tuan Ardi langsung diberondong pertanyaan oleh Al, Kevin dan juga Oryza yang yang tidak ingin ketinggalan.


"Kakek, bagaimana Om Raka? Apa dia berhasil membawa Dave?" tanya Al


"Kakek kemana dulu? Tadi Bi Sari bilang Kakek sudah berangkat tapi kenapa gak nyampe-nyampe ke sini?" Kevin pun tidak mau kalah dari Al untuk bertanya pada Tuan Ardi.


"Kakek, kemana Kakek Satya? Kenapa gak ikut lagi?" tanya Oryza yang ikut menimpali.


"Kalian ini, bagaimana Kakek mau menjawab kalau tidak diberi kesempatan," ucap Tuan Ardi jengah dengan kelakuan tiga cucunya.


Meski yang menjadi cucu kandung hanya Al seorang, tapi Tuan Ardi begitu menyayangi ketiga sahabat cucunya. Apalagi dua di antaranya adalah keponakan dari menantunya Dara yang merupakan mama kandung Al.


"Jawab pertanyaanku aja dulu, Kek." Al langsung menginterupsi.


"Aku dan Satya datang pas Raka mau mengambil Dave. Untung saja aku datang tepat waktu," tutur Tuan Satya.


"Syukurlah!" Kompak Al, Kevin, dan Oryza.


"Terus, Kakek Satya ke mana, Kek?" tanya Oryza mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Dia menjaga Dave, khawatir Raka akan kembali lagi. Sudah Kakek mau ke dalam dulu mau sholat magrib." Tuan Ardii segera menyudahi sesi tanya jawab dari cucunya.


"Tunggu sebentar, Kek! Pertanyaanku belum di jawab," ucap Kevin yang melihat Tuan Ardi akan beranjak masuk ke dalam villa.


"Resort," jawab Tuan Ardi singkat seraya melangkah pergi. Namun tidak tahu dari mana datangnya dua bocah yang sedang berkejaran.


"Wle.... " Allana menjulurkan lidahnya meledek Dika, karena Dika tidak bisa mencapai dirinya yang sedang bersembunyi di balik badan Tuan Ardi.


"Kak Allana curang! Kenapa sembunyi di balik Eyang." Dika tidak terima, karena merasa dicurangi oleh Allana.


Mereka memang sedang memainkan permainan Tuan dan pelayan, siapa yang bisa menangkap orang yang di kejarnya, maka orang yang di tangkap akan jadi pelayannya selama seminggu. Begitupun sebaliknya, jika dalam batas waktu tertentu yang mengejar tidak bisa menangkap, maka dia yang akan jadi seorang pelayan.


"Tidak ada ketentuan harus sportif atau curang, yang penting cerdik melihat keadaan, ha-ha-ha ...." Allana tertawa lepas karena dia merasa senang akan memiliki pelayan selama satu Minggu.


Saat Allana sedang lengah karena asyik tertawa, Dika langsung menangkap Allana dan memeluknya dari belakang hingga mereka jatuh terjerembab di atas sofa dengan posisi Allana di bawah. Tuan Ardi hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu berlalu pergi menuju ke kamarnya.


Dika yang tidak mengerti dengan posisinya hanya tertawa bahagia di atas tubuh Allana. Yang terbayang olehnya, dia akan dilayani oleh Allana selama seminggu. Bahkan jajan pun di traktir oleh orang yang menjadi pelayan. Berbeda dengan Allana di usianya yang baru sembilan tahun, sudah mengerti dengan rasa suka pada lawan jenis, justru dibuat mematung karena kaget. Saat kesadarannya kembali, diapun langsung berteriak kencang seraya mendorong tubuh Dika membuat penghuni villa merasa kaget.


"Mama, Papa! Dika cabul, dia udah perkosa Allana," teriak Allana histeris sambil menangis.


Sontak saja semua orang berhamburan keluar kamar menuju ke tempat keributan. "Sayang ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Mitha


"Mama, Allana sudah tidak suci lagi. Dika sudah perkosa Allana," adunya pada Mitha.


"Nggak Tante! Tadi DIka hanya jatuh bersama Kak Allana di sofa," terang Dika.


"Allana gak bohong, Mah! Waktu Lana ikut nonton film sama Mbak Surti, kalau tubuh cewek ditindih sama cowok nantinya hamil hikz-hikz-hikz.... Lana gak mau hamil, Lana mau sekolah,"


"Kalau Lana hamil, Dika harus tanggung jawab dong! Kalian harus menikah," goda Mitha pada putrinya.

__ADS_1


"Lana gak mau, Lana hanya mau nikah sama Om Zyan. Om Zyan pangerannya Lana, Mah. Bukan Dika!" Lana terus saja terisak di pelukan mamanya.


"Surtiii...." teriak Andrea yang memanggil pembantunya.


Terlihat Surti yang datang setengah berlari karena mendengar teriakan dari Tuannya. "Iya Tuan, ada apa?" tanyanya.


"Apa yang kamu lakukan pada Allana? Kenapa pikirannya jadi terkontaminasi oleh film yang kamu tonton," sentak Andrea


"Bukan film Tuan! Saya menonton drama dengan Non Allana," elak Surti.


"Sama saja, pokoknya bulan ini saya potong gaji kamu 50%," tegas Andrea


Surti hanya pasrah menerima keputusan Tuannya, karena protes pun Andrea pasti akan memberinya hukuman yang lain. Sementara, semua penghuni villa kembali ke aktifitasnya masing-masing, mempersiapkan diri untuk acara resepsi.


Kini tinggallah Andrea, Mitha, Al dan Icha yang ada di ruang keluarga, sementara Allana, Dika dan anak-anak Andrea yang lain kembali bermain bersama.


"Al, aku minta maaf dengan apa yang Allana katakan tadi," sesal Andrea yang tidak enak hati pada orang tua Dika karena perkataan putrinya.


"Gak papa Bang, namanya juga anak-anak, aku mengerti!" Meski sebenarnya hatinya terasa sakit karena penolakan Allana pada putranya, tapi Al sebisa mungkin untuk menutupi perasaannya.


"Al, sebenarnya aku sangat berharap putriku berjodoh dengan putamu. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin menjdodohkan mereka berdua," ucap Andrea


"Maaf Bang, tapi mereka masih kecil, belum mengerti dengan perasaannya sendiri," dalih Al.


"Saya mengerti Al, tapi apa salahnya kalau kita memilihkan jodoh sedari mereka masih kecil,"


...*****...


...Dukung terus Author ya! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih🙏🏻...


__ADS_2