
Hari pun terus berlalu, kini ujian semester memasuki hari terakhir. Tak ada soal yang sulit bagi Dika saat dia mengerjakan soal-soal ujian, semuanya bisa dia jawab dengan cepat dan benar. Tidak berbeda jauh dengan Allana, meskipun dia suka semaunya tapi Allana selalu rangking satu di kelasnya.
Seperti hari ini, setelah Dika keluar karena sudah selesai mengerjakan soal ujian, tak berselang lama Allana pun keluar. Sementara Arabella masih ada soal yang belum dia kerjakan.
"Dika, Dika tunggu!" teriak Allana saat melihat Dika berjalan menuju ke arah kantin.
Mendengar suara Allana yang memanggilnya, Dika pun menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Allana yang sedang menyusulnya.
"Mau ikut ke kantin?" tanya Dika saat Allana sudah ada di depannya.
"Iya, aku belum sarapan. Tadi pagi langsung berangkat karena takut kesiangan," jawab Allana.
Dika hanya mengusak rambut Allana gemas, siapa suruh tadi pagi dia langsung mengajaknya berangkat ke sekolah karena Dika kira Allana sudah selesai sarapan makanya dia langsung mengikuti ajakan mantan pacarnya itu.
"Ish! Kamu tuh acak-acak rambut aku, nanti gak ada yang naksir lagi." Allana memasang muka cemberut di depan Dika, padahal hatinya senang selalu mendapat perlakuan hangat dari mantannya itu.
Semenjak kejadian di tepi pantai itu, Allana sudah tidak memasang muka judes lagi saat di depan Dika. Dia menjadi lebih welcome dengan kehadiran Dika di hidupnya. Entahlah, bayang-bayang kejadian yang memabukkan itu selalu menari-nari di pikirannya. Allana ingin sekali menyangkalnya tapi hatinya justru menginginkan kejadian itu terulang lagi.
"Ngapain nunggu ada yang naksir, kalau kamu sudah ditunggu untuk jadi mama sambung oleh Om Zyan." Kaki Dika terus melangkah menuju ke kantin tanpa memperdulikan Allana yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Kenapa dia bicara seperti itu? Apa sekarang, dia sudah tidak menyukaiku lagi, batin Allana.
Allana hanya menatap sendu punggung kokoh Dika sampai ada seorang gadis yang menghampiri pemuda tampan itu, barulah dia menyusul mantan pacarnya.
"Kalian mau ke kantin bareng? Aku gabung ya!" tanya Lisa yang merupakan tetangga rumah Dika.
"Boleh! Ayo berangkat!" ajak Dika lalu berlalu pergi bersama dengan Lisa dan asyik mengobrol. Sementara Allana mengikut dari belakang.
Kenapa aku merasa jadi nyamuk ya! Ada di tengah-tengah orang yang sedang asyik pedekate, tapi aku penasaran dengan apa yang akan mereka katakan, batin Allana.
Sesampainya di kantin, suasana masih sangat sepi karena anak-anak yang lain belum selesai mengerjakan soal ujian. Dika mencari tempat penjual siomay berada, karena memang dia sedang ingin memakan makanan kesukaannya itu. Setelah menemukannya, dia pun memesannya diikuti oleh kedua gadis cantik yang sedari tadi terus mengikutinya.
Setelah mendapatkan pesanan makanannya, ketiga anak baru gede itu langsung mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.
"Lana, memang kamu suka pare?" tanya Dika saat dia melihat piring siomay Allana yang ada sayur pare. Karena setau Dika, gadis cantik itu sangat tidak menyukai sayur yang rasanya pahit itu.
"Biar pare saja yang rasanya pahit, tapi hidupku jangan," sarkas Allana.
"Hidup kamu itu terlalu sempurna, Lana! Sampai orang lain susah untuk menggapainya," ucap Dika.
__ADS_1
"Sempurna dari mananya, buktinya gak ada yang cinta mati sama aku, kayak papa yang tidak pernah bisa berpaling dari mama meskipun banyak wanita cantik yang menggodanya." Allana langsung memasukan siomay bulat-bulat sampai mulutnya menjadi penuh.
"Nanti juga pasti ada, Lana! Kamu 'kan cantik, pinter, tajir lagi." Lisa langsung memotong saat melihat Dika akan bicara.
"Tapi aku gak mau cowok itu menyukaiku karena melihat apa yang aku miliki tapi yang bisa menerima semua kekuranganku." Allana melirik Dika sekilas, tapi Dika masih asyik dengan siomaynya.
Merasa tidak ada respon dari Dika, Allana pun melanjutkan makannya dalam diam sampai siomay di piringnya habis, barulah dia bersuara lagi.
"Dik, aku duluan pulang ya! Mau ada perlu," pamit Allana seraya bangun dari duduknya. Namun begitu dia akan melangkahkan kakinya, Dika langsung mencekal tangannya.
"Bareng sama aku aja! Lisa, aku duluan!" Tanpa menunggu jawaban dari Lisa, Dika pun langsung beranjak pergi bersama dengan Allana.
Sementara Lisa hanya melihat kepergian dua orang itu dengan raut wajah yang kesal. Bagaimana tidak, dia sengaja buru-buru menyerahkan hasil ujiannya saat tidak sengaja melihat Dika lewat di jendela kaca kelasnya. Tapi sekarang dia malah ditinggalkan begitu saja.
Lain halnya dengan Allana, hatinya merasa senang saat Dika lebih memilih menemaninya dibanding bersama dengan Lisa.
"Mau ada perlu ke mana, Lana?" tanya Dika saat mereka berjalan beriringan.
"Aku mau main ke mansion, udah lama gak naik kuda," jawab Allana enteng, "kamu mau ikut gak?" tanyanya.
"Boleh, tapi nanti aku pulang dulu takut mama nyariin. Ayo naik!" suruh Dika saat sudah sampai parkiran.
Selama perjalanan menuju ke rumah Dika, Allana hanya terdiam serasa menikmati hembusan angin yang menerpa kulitnya. Entahlah, Allana sangat suka saat dia bersama dengan Dika berkendara motor meskipun harus kepanasan dan terkadang mendadak hujan turun.
Seperti hari ini, langit terlihat mendung dengan awan hitam yang bergelayut manja di atas sana. Dika sudah merasa khawatir takut kehujanan di jalan karena dia hanya membawa satu mantel di bagasi motornya. Namun, tidak bagi Allana. Dia seperti menikmati hembusan angin yang kian kencang. Sampai pada perempatan lampu merah yang akan berbelok ke rumah Dika, rintik-rintik hujan itu mulai turun membasahi tubuh kedua anak manusia yang beranjak dewasa itu.
"Lana, mau neduh apa lanjut? hujannya makin deras," teriak Dika di depan kemudi.
"Lanjut aja, Dik! Nanggung bentar lagi sampai rumah kamu." Allana pun tak kalah berteriak saat menjawab apa yang Dika tanyakan.
"Pegangan, aku mau ngebut!" Tanpa menunggu jawaban dari Allana, Dika langsung menambah kecepatannya hingga Allana langsung memeluk Dika dengan erat.
Terlihat senyum tipis di bibir Dika saat Allana semakin mengeratkan pelukannya.
Aku ingin waktu berhenti sesaat, merasakan lebih lama hangatnya pelukanmu. Lana, kapan kamu akan membuka hati untukku? bisik hati Dika.
Perlahan Allana menyandarkan kepalanya pada punggung kokoh Dika. Ada kenyamanan yang dia rasakan, tapi dia masih terbelenggu dengan obsesinya yang menginginkan Zyan sebagai pangeran berkuda putih yang selalu dia impikan. Sampai dia tidak menyadari pangeran yang sesungguhnya selalu ada untuk menjaganya.
Tak berapa lama kemudian, motor matic itu sudah sampai di pelataran rumah Keluarga Putra. Namun, sepertinya Allana masih nyaman bersandar pada punggung kokoh itu, hingga dia tidak menyadari kalau Dika suh menghentikan motornya.
__ADS_1
"Lana, sudah sampai! Kita lanjut di kamar aku saja kalau kamu masih betah memelukku," ucap Dika seraya mengelus tangan Allan yang melingkar di perutnya.
"A-apa Dik, sudah sampai?" Allana tergagap karena merasa malu oleh Dika.
"Iya! Ayo turun, nanti kamu masuk angin kalau memakai baju yang basah." Dika pun langsung turun dari motornya setelah Allana turun terlebih dahulu.
"Dik, tapi aku gak bawa baju ganti," rengek Allana.
"Pakai bajuku saja!" goda Dika dengan menaikturunkan alisnya.
"Masa aku pake sempakk kamu," sanggah Allana dengan cemberut.
Dika langsung tertawa melihat ekspresi, Dia sengaja bicara seperti itu hanya ingin menggoda Allana.
"Kamu tenang saja, biasanya mama suka menyimpan stok pakaian dalam yang masih baru. Ayo masuk!" Dika langsung menarik tangan Allana ar mengikutinya masuk ke dalam. Terlihat Bi Sari sedang menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
"Bi, mama memang gak pergi ke kantor?" tanya Dika saat melihat begitu banyak makanan yang terhidang di meja makan.
"Tadi Neng Icha nelpon, katanya mau makan siang bersama sahabatnya di rumah. Jadi Bibi disuruh menyiapkan makanan yang banyak," jelas Bi Sari.
"Oh! Bi, mama menyimpan stok pakaian dalam di mana?" tanya Dika kemudian.
"Buat Neng Lana, ya!" tebak Bi Sari, "nanti Bibi ambilkan! Neng Lana mandi aja dulu, biar nanti Bibi yang nyiapin baju gantinya."
"Makasih ya, Bi!" Dika langsung membawa Allana menuju ke kamarnya, sementara dia akan mandi di kamar adiknya. Karena Dika tidak berani masuk ke kamar orang tuanya di saat mereka tidak ada di rumah.
Setelah sampai di kamarnya, Dika pun menyuruh Allana untuk segera mandi. "Lana langsung mandi air hangat ya! Biar gak masuk angin. Aku mandi di kamar Zee," ucap Dika kemudian dia pun berlalu pergi keluar kamar. Namun, saat baru saja dia menutup pintu, Bi Sari sudah berdiri di belakangnya dengan membawa baju ganti untuk Allana.
"Ini Den bajunya! Bibi kira, Den Dika mau mandi bareng dengan Neng Lana, makanya Bibi buru-buru nyusul ke sini." Bi Sari menyodorkan baju bersih kepada Dika.
"Gak mungkin lah, Bi! Dika belum siap jadi papa muda," ucap Dika enteng, "Udah Bibi saja yang simpan ke kasur Dika kalau takut aku ngapa-ngapain."
"Baiklah, Den!" Bi Sari langsung masuk ke kamar anak majikannya dan langsung menyimpan baju yang dibawanya. Sementara Dika langsung berlalu pergi menuju kamar adiknya.
Cukup aku yang merasakan menjadi anak yang terhina karena lahir dari kesalahan orang tuaku, tapi tidak untuk anak keturunanku, batin Dika.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima Kasih!...