Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 104 Apa kamu percaya?


__ADS_3

Saat ketiga sahabat itu sedang berunding menentukan tanggal yang tepat untuk acara resepsi, yang akan diadakan secara bersamaan di resort yang baru di bangun di pulau C, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk!" suruh Al


Terlihat orang HRD membawa seseorang di belakangnya. "Permisi Pak, Saya ke sini membawa Pak Adjie Hendrayana yang akan bergadung dengan departemen keuangan," ucap Retno selaku manager HRD


"Baik Bu Retno, terima kasih!" ujar Kevin mewakili Al


Al pun mulai memberikan beberapa pertanyaan pada Adjie dan dia dengan sukses menjawab pertanyaan Al dengan baik, sehingga Al dan yang lainnya memutuskan untuk menerima Adjie sebagai bagian dari departemen keuangan menggantikan Siska yang dulu dipecat oleh Al.


"Mari pak Adjie ikut dengan saya ke ruangan," ajak Oryza.


"Baik Pak! Permisi Pak Al, Pak Kevin," pamit Adjie pada Al dan Kevin.


Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Oryza memperkenalkan area kerja yang ada di Putra Group.


"Pak Adjie, di sini tempat anda bekerja. Semoga kerasan dan bisa bekerja sama dengan baik," ucap Oryza saat sudah sampai di kubik tempat Adjie bekerja.


"Terima kasih Pak Oryza!" ucap Adjie


Oryza pun pergi kembali ke ruangannya, sementara Adjie mengedarkan pandangannya melihat rekan kerjanya yang sedang serius bekerja, hingga matanya menangkap sosok yang selalu dia cari keberadaannya. Dengan tersenyum miring, Adjie lalu membereskan kubik tempatnya bekerja.


"Dapat kamu Kia, sekarang kamu sudah tidak bisa lari lagi dari cengkramanku." batin Adjie


***


Seminggu sudah Adjie bekerja satu tim dengan Kia. Namun selama itu, Adjie tidak punya kesempatan untuk mendekati Kia karena menumpuknya pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Sementara Kia yang tahu kalau Adjie satu bagian dengannya, hatinya ketar ketir takut Adjie berulah dan menceritakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya.


Seperti siang ini, sebisa mungkin Kia menghindar dari pertemuan yang disengaja maupun tidak dengan Adjie. Namun sepandai-pandainya tupai melompat pasti dia akan jatuh juga. Begitupun dengan Kia yang pada akhirnya harus berpapasan di lorong toilet.


"Mau menghindar lagi? Memang kamu bisa terus-menerus menghindar dariku? Dengar Kiara Prameswari! Kamu tuh sudah jadi milikku, sejauh apapun kamu sembunyi pasti aku bisa menemukanmu," Adjie terus mencengkeram tangan Kia yang akan melarikan diri darinya.


"Kamu tuh gila Adjie, tidak pernah ada hubungan apapun diantara kita, dan tentang malam itu, aku yakin tidak pernah terjadi apapun. Karena aku tidak merasakan sakit apa-apa," geram Kia


Sungguh Kia menyesal telah ikut acara pesta perpisahan bersama teman-temannya hingga dia harus berakhir di sebuah kamar bersama Adjie dengan dada penuh tanda merah.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Padahal aku sudah merenggut mahkotamu," Tatapan mata Adjie nyalang melihat Kia di depannya. Seorang gadis yang selalu dia kejar cintanya, tapi hanya penolakan yang selalu dia dapat. Pada akhirnya, Adjie mengambil jalan pintas dengan bermain curang agar bisa mendapatkan Kia.


"Apa yang kalian bicarakan di jam kerja?" terdengar suara orang yang sangat di kenal oleh Kia bicara di belakangnya


Deg deg deg


Degup jantung Kia mendadak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak menyangka semuanya akan begitu cepat akan terbongkar di depan calon suaminya. Sebuah rahasia yang dia sembunyikan rapat-rapat pada akhirnya harus terkuak ke permukaan.


"Tidak apa-apa Pak, kami hanya bernostalgia dengan masa lalu kamu." Adhie segera melepaskan cengkraman tangannya pada Kia. Lalu dia pun pamit kembali ke tempat kerjanya.


Adjie masih bisa berpikir sehat, dia tidak ingin kehilangan pekerjaan yang dengan susah payah dia dapatkan. Hanya karena seseorang yang selalu menolak cintanya.


Selepas kepergian Adjie, terlihat Kia yang masih diam terpaku dengan badan yang gemetar. Oryza pun mendekat untuk memastikan keadaan bawahan sekaligus calon istrinya.


"Kia kamu gak papa?" tanya Oryza cemas.


Kia tidak menjawab, dia hanya melihat ke arah Oryza dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Heyyy.... Kia kamu gak papa?" Sekali lagi Oryza bertanya untuk memastikan keadaan Kia.


"Pak, sepertinya ada hal yang harus aku bicarakan. Aku tunggu di cafe Mizy pulang kerja nanti," ucap Kia setelah dia bisa menguasai dirinya lagi.


"Apa benar Kia sudah tidak perawan lagi? Tapi kalau dilihat dari cara jalannya, aku yakin dia masih segel. Lalu tadi apa yang dikatakan oleh Adjie membuatku ragu dengan penilaianku sendiri." Batin Oryza


Setelah Oryza menuntaskan hajatnya, dia pun segera kembali ke ruangannya. Rasa penasarannya yang tinggi membuat Oryza tidak fokus bekerja, sehingga dia malah memperhatikan Kia di balik kaca besar di ruangannya,


Yura yang ingin meminta tanda tangan Oryza menjadi aneh dengan sikap atasannya, yang terus melihat ke luar jendela dan mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk.


"Permisi Pak Oryza, ini ada beberapa berkas yang harus anda acc," ucap Yura membuyarkan lamunan Oryza.


"Simpan saja di mejaku, nanti aku kerjakan," suruh Oryza


"Sorry Za, tapi ini mendesak. Kamu harus segera menanda tanganinya." Sudah tidak ada lagi keformalan yang Yura perlihatkan.


Oryza mendengus kasar dengan sikap Yura yang pemaksa, disaat dia sedang tidak bisa konsentrasi, justru dipaksa untuk meneliti satu persatu angka yang ada pada berkas yang dibawa oleh Yura. Menyebalkan bukan?? Tapi itulah dunia kerja yang tidak akan peduli pada masalah pribadi ataupun perasaaan si pekerja. Karena dunia kerja menuntut sikap profesionalisme semua pekerjanya.


***

__ADS_1


Saat jam pulang kerja, Kia dengan terburu-buru membereskan barang-barangnya. Sampai Vio merasa heran melihat gelagat sahabatnya. Apalagi sudah seminggu ini Vio merasa ada yang berbeda dengan sikap Kia yang tidak ceria seperti biasanya.


Diam-diam Vio mengikuti kemana sahabatnya itu pergi, dia memilih menggunakan ojek agar tidak diketahui oleh Kia. Seperti seorang detektif gadungan, Vio terus mengendap-endap mengikuti Kia hingga tanpa sadar dia menabrak dada bidang seorang pria tampan yang akan keluar dari cafe setelah meeting bersama kliennya.


Awww


Vio meringis kaget saat sadar telah menabrak seseorang, "Maaf Mas, saya tidak sengaja," sesal Vio menundukkan kepalanya.


"Aku tidak mau memaafkanmu, sebelum kamu menjelaskan dengan apa yang kamu lakukan di cafe. Sudah seperti maling saja, jalan mengendap-endap." Sergah laki-laki itu yang ternyata adalah Kevin.


Vio langsung mendongakan kepalanya, melihat ke arah suaminya, "Sttt....Ayo ikut aku!" Vio langsung menarik tangan Kevin agar mengikutinya.


Vio terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kia. Saat sudah menemukannya, dia pun segera mencari tempat duduk di belakang Kia.


Terlihat Oryza yang baru datang untuk menemui Kia. Setelah memesan makanan, Kia pun langsung bicara inti pada Oryza.


"Sebelumnya aku minta jika pada akhirnya Pak Oryza kecewa sama aku, dan aku siap menerima keputusan apapun dari Bapak." Kia menjeda sejenak ucapannya.


"Kia bisa tidak jangan panggil aku bapak kalau di luar kantor, berasa tua banget." Protes Oryza


"Baik, Ryza. Kamu pasti dengar kan apa yang Adjie katakan pas di lorong toilet? Apa kamu percaya dengan apa yang dikatakannya?"


"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak, karena aku belum tahu kejadian sebenarnya," jawab Oryza


"Aku harap, kamu tidak menyela sebelum aku selesai bicara," ucap Kia


Gubrak!


Terdengar suara kursi yang jatuh di belakang Kia, ternyata Vio hilang keseimbangan saat dia mencondongkan badannya ingin menguping apa yang dikatakan oleh Kia pada Oryza.


Dengan panik Kevin segera membantu istrinya bangun. Untung saja suasana roof top cafe Mizy masih sepi, sehingga tidak banyak yang tahu kejadian memalukan itu.


"Vio, kamu gak papa?"


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih 🙏🏻...


👉 Next part


__ADS_2