
Seperti yang telah dijanjikan oleh Icha, keesokan harinya Icha pun bergegas untuk menjemput Dika di sekolahnya.
Abizar yang mengetahui kalau Icha akan ke sekolah Dika, diapun menawarkan untuk mengantarnya. Mengingat setelah jam makan siang akan ada meeting.
Sesampainya di sekolah Dika, terlihat murid kelas satu berhambur keluar untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Tak ketinggalan Dika pun segera berlari saat melihat Icha sudah menunggunya di depan gerbang. Namun langkah kakinya terhenti saat dia mendengar Ibu dari temannya sedang berbicara kasar pada Icha.
"Lihat Bu Ibu! Sekarang lakinya sudah beda lagi. Tidak sama dengan yang waktu itu saya temui di mall," seru Bu Liana dengan sedikit mengencangkan suaranya.
"Ibu kenapa selalu saja mengganggu Icha, salah Icha apa coba?" melas Icha
"Pake tanya lagi, sudah jelas kamu salah karena sudah melahirkan anak haram," ketus Bu Liana
Ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya pulang, hanya menyimak dengan apa yang dikatakan oleh Bu Liana. Soalnya mereka tahu kalau Bu Liana memang suka sekali menggosipkan orang.
"Terserah apa yang mau ibu katakan mengenai saya, yang jelas setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Begitupun dengan saya dan Bu Liana, karena kita manusia yang tidak luput dari salah dan dosa." Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Icha pun segera membawa Dika ke dalam mobil Abizar.
Abizar yang sedang menunggu di dalam mobil merasa heran karena raut muka sedih yang menyimpan luka dan amarah.
"Cha, kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Abizar heran.
"Ngak papa kho Bi, aku hanya takut nanti kita telat" kilah Icha
Abizar langsung terdiam karena dia tahu, kalau Icha sedang berbohong padanya. 'Nanti saja kutanyakan kalau ngobrol hanya berdua' pikirnya
"Hallo jagoan!" sapa Abizar pada Dika
"Hallo Om! jawab Dika
"Dika, Om titip Kak Icha ya! Kalau ada yang gangguin hajar aja!" pesan Abizar
"Siap Om!" seru Dika seraya memberi hormat pada Abizar.
"Kamu mah Bi ngajarinnya gak bener," protes Icha
Abizar hanya menggendikkan bahunya lalu dia pun memacu mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena mengejar waktu agar tidak telat meeting.
Sesampainya di basemen, ternyata kedatangan mereka bersamaan dengan Al yang juga baru datang setelah meeting di luar dengan klien.
"Papaa..." teriak Dika saat dia melihat Al turun dari mobil
Al tersentak kaget mendengar suara yang dirindukannya. Wajah yang terlihat lesu kini berubah cerah saat netranya menangkap sosok kecil yang dirindukannya.
Tanpa ragu Al merentangkan tangannya agar Dika segera menghambur ke pelukannya. Langkah kecil yang awalnya ragu untuk mendekat, kini dengan tidak sabaran mempercepat langkahnya agar cepat sampai pada pelukan Al.
__ADS_1
"Papa, Dika kangen!" ucap Dika
"Papa juga kangen banget sama Dika," lirih Al
Kevin dan Abizar yang melihat kedekatan Al dan Dika dibuat melongo. Apalagi mereka berdua memakai panggilan seperti ayah dan anak. Sedangkan Icha hanya diam membisu dengan pikiran yang berkecamuk.
"Kevin, tolong pesankan makan siang untuk kita. Aku tunggu di ruanganku!" suruh Al
"Siap Pak bos!" seru Kevin
Al pun segera mengajak Dika untuk istirahat di ruangannya, sehingga mau tidak mau Icha pun mengikut dari belakang.
Tidak ada yang tahu dengan kehadiran Dika di perusahaan Al selain para petinggi perusahaan dan staff sekertaris yang ruangannya satu lantai dengan ruangan Al.
"Al, kamu bawa anak siapa?" tanya Kalisa kaget saat melihat Al membawa anak kecil ke ruangannya.
"Kenapa mukanya mirip sekali dengan Al saat masih kecil" batin Kalisa
Al tidak memperdulikan pertanyaan dari Kalisa, dia langsung menghampiri Aisha yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
"Sha, undur jadwal meeting satu jam," suruh Al.
"Baik Pak!" jawab Aisha
" Kakak, kalau Kakak kerjanya dimana?" tanya Dika penasaran saat Icha sudah ada di dekatnya.
"Kakak sama Om Abi, Dek." Icha pun menjawab apa yang ingin Dika ketahui.
"Kalau Papa Al dimana?" tanya Dika lagi
"Itu ruangan Papa," tunjuk Al pada pintu di depannya.
"Nanti kalau Dika sudah besar, Dika juga mau kerja di tempat sebagus ini," ucap Dika dengan mata penuh kekaguman pada perusahaan Al yang menurutnya sangat besar dan juga bagus.
"Tentu saja! Nanti Dika yang gantiin Papa kerja di sini," ucap Al tanpa sadar. "Ayo kita masuk keruangan Papa," ajaknya
Al pun langsung membawa Dika ke ruangannya membuat Kalisa menahan kesal karena dia diabaikan oleh Al.
"Sha, memang anak kecil itu siapa?" tanya Kalisa
"Dia adiknya Icha" jawab Aisha dengan mata yang terus melihat ke arah monitor sedang tangannya asyik bergoyang diatas keyboard.
"Cih! Adiknya si cewek kampung itu ternyata, tapi kenapa mirip Al?" gumam Kalisa
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan Al, terlihat Dika begitu mengagumi apa yang di lihatnya. Dia begitu antusias menanyakan apapun yang di lihatnya, membuat Al merasa gemas dengan semua tingkah dan ucapan Dika.
"Dek nanti di sini sama Bi Sari dulu ya, Papa, Mama Icha, dan Om Abi mau meeting dulu," ucap Al
Abizar yang mendengar Al menyebut 'Mama Icha' jadi mengerutkan dahinya. Sudah banyak hal yang dia tidak ketehui tentang perkembangan hubungan sahabatnya, sedangkan Icha menjadi salah tingkah.
"Meeting itu apa Pah?" tanya Dika
"Meeting itu orang-orang yang berkumpul membicarakan pekerjaan," jelas Al
"Kenapa tidak di sini aja kumpulnya Pah?" tanya Dika lagi
"Kalau di sini gak muat sayang, kan banyakan orangnya." Dengan sabar Al memberi pengertian pada Dika.
Dika hanya mengangguk-anggukan kepalanya pertanda dia mengerti apa yang Al ucapkan.
Tak lama kemudian, Kevin datang dengan seorang OB yang membawa pesanan makan siang Al, di ikuti oleh Kalisa dan Aisha di belakangnya.
Melihat Al yang duduk dekat Icha, Kalisa langsung menyerobot duduk diantara Al dan Icha
"Kalisa apa yang kamu lakukan?" sentak Al
"Kenapa? Kan aku yang jadi calon tunanganmu. Wajar dong kalau aku duduk samping kamu," ucap Kalisa menjeda ucapannya, "bukan cewek kampung ini," cibirnya
"Jaga ucapanmu?" bentak Al
Dika langsung memeluk Icha ketakutan saat mendengar suara bentakan Al meski itu bukan tertuju padanya.
"Kenapa kamu marah? Aku bicara apa adanya," geram Kalisa
Icha yang menyadari kalau Dika ketakutan langsung berinisiatif untuk pergi daripada membiarkan Dika melihat pertengkaran Al dan Kalisa
"Aku keluar dulu, kalian selesaikan dulu masalah kalian," ucap Icha seraya berdiri dan menggandeng tangan Dika.
"Duduk Icha!" suruh Al datar dengan tatapan matanya yang tajam.
Icha hanya menghela nafas dalam sebelum dia angkat bicara.
"Maaf, Dika tidak terbiasa melihat orang berselisih atau mendengar suara bentakan. Jadi tolong jangan bertengkar di depannya!"
...*****...
👉 Next part
__ADS_1