Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 64 Bibit Unggul


__ADS_3

Hari telah beranjak sore, semburat jingga menghiasi cakrawala. Angin berhembus dengan kuat, menusuk hingga ke kulit.


Icha terus berjalan menyusuri jalanan yang semakin menanjak, hingga sampai pada sebuah taman yang berada di tepi jurang dengan pemandangan yang memanjakan mata.


Tatapan matanya memandang jauh ke depan pada hamparan hijau perkebunan teh. Namun pikirannya kini bergejolak mencerna apa yang tadi di dengarnya.


Salahkah dia berharap bahwa suaminya menikahinya karena mencintainya bukan karena rasa bersalah. Pikiran Icha terus berkecamuk tanpa menemukan jawaban yang diinginkannya.


Sementara itu, setelah Icha berpamitan, Al pun beranjak untuk menemui Dika. Dilihatnya Dika yang sedang bermain PS melawan Oryza.


"Gilak Al, anakmu jago banget main gamenya. Dari pertama main, aku gak pernah menang sama dia," keluh Oryza


"Pastilah! Papanya juga jago, emang pernah kamu menang melawanku?" tanya Al


"Gak pernah sih! Tapi kalau melawan Kevin kadang menang kadang kalah," jawab Oryza


"Icha juga jago Kho main gamenya, imbanglah sama aku dan Kak Farish," tutur Abizar


"Pantas aja, bibit unggul kamu dek," puji Oryza seraya menepuk pundak Dika.


"Papa jadi penasaran sama bibit unggul, mau main gak?" tawar Al


"Ayo Pah! Dika pasti bisa kalahin Papa," ujar Dika dengan semangat yang berkobar


"Oke! Kita main sepak bola aja ya!" ucap Al


Al pun bersiap duduk disamping Dika menggantikan posisi Oryza. Setelah gamenya di setting mulailah mereka bermain PS.


Meskipun lawannya hanya bocah berusia enam tahun, tapi Al tidak bisa menganggap remeh pada Dika, karena ternyata permainan Dika sangat luwes. Dia bisa mengecoh lawan dengan mudah.


Permainan semakin seru saat Dika bisa membobol gawang Al untuk pertama kalinya.


"Wah hebat kamu Dek, bisa bobol gawang Papamu, sama seperti Al yang bisa bobol Ic...." seru Oryza menggantungkan ucapannya, karena Al sudah melotot ke arahnya.


"Bobol gawang siapa, Om?" tanya Dika penasaran.


"Maksud Om, Papa suka bobol gawang Om kalau lagi main bola." Oryza langsung merapat ucapannya. Bahaya banget kalau sampai Al marah, bisa gagal dapat mobil baru.


Permainan pun dilanjutkan sampai semua laki-laki disitu hanyut dan melupakan kalau sudah sudah lebih dari satu jam Icha belum kembali.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, perlahan suara itu semakin mendekat pada kumpulan pria dewasa yang sedang menonton permainan game antara ayah dan anak. Hal yang membuat mereka betah di sana, karena mereka bisa mengolok Al yang kalah dari Dika. Kapan lagi coba ngolok-ngolok bos yang selalu dingin pada semua orang tapi sangat hangat pada keluarganya.


"Abi, Icha dimana?" tanya Aisha


"Bukannya bersama kalian?" Abizar malah balik bertanya.


"Tadi sih ngajak jalan-jalan, tapi kita mager. Jadinya gak ikut." Aisha pun menjelaskan pada Abizar


"Apa dia belum balik?" tanya Al


"Belum Al, makanya kita tanyain," ucap Aisha


Al langsung menghentikan permainannya dan berniat menyusul Icha.


"Sayang di sini dulu ya! Papa mau nyusul Mama," ucap Al


"Iya Pah!" sahut Dika


Setelah menitipkan Dika, Al pun bergegas untuk mencari Icha dengan motor matic milik Pak Marno. Namun saat di persimpangan jalan, Al pun dibuat bingung harus mencari kemana.


"Kira-kira naik apa turun ya! Kalau turun ada pasar dadakan tiap Sore sampai malam tapi kalau naik terus ujungnya villa milik pengusaha kaya raya kata Pak Marno," gumam Al


"Sayang, di sini rupanya! Aku mencarimu, putra kita menunggu di villa!" seru Al dengan penekanan.


"A-Al...." ucap Icha gelagapan


"Pak Al liburan di sini juga? Kebetulan sekali, saya juga sedang berlibur di villa kenangan," ucap Akas menjelaskan. "Tadi saya tidak sengaja melihat Icha sedang termenung sendiri, makanya saya menemaninya. Tidak baik melamun di tepi jurang," lanjutnya


"Maksud Pak Akas?"


"Jaga istri anda baik-baik Pak Al! Icha, saya pergi dulu!"


Akas pun segera pergi dari hadapan Al dan Icha tanpa menunggu jawaban dari keduanya. Harapannya seakan sirna saat tahu Icha sudah bersuami dan memiliki anak. Baru saja dia akan mendekati Icha, namun ternyata bunga di hatinya harus layu sebelum berkembang.


Sementara itu, Al langsung mendekati Icha yang masih terduduk dibangku taman.


"Apa ini alasanmu tidak ingin di temani? Karena kamu ingin bertemu dengan lelaki lain? Apa tidak puas jika hanya memiliki aku saja? Jawab Icha! Jangan hanya diam saja!" marah Al


"Bagaimana bisa jawab kalau bicaramu seperti rel kereta api," gerutu Icha

__ADS_1


"Farisha Yumna! Aku sedang bicara serius padamu!" seru Al


Icha mengehela nafas panjang menghadapi suami sekaligus mantan bosnya yang emosi nya mudah tersulut.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Kita berteman baik karena dulu sering bertemu saat meeting bersama Abizar." Icha pun tak urung menjelaskan pada Al karena dia tahu sekarang Al sedang dalam mode singa.


"Apa ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan?"


"Ada! Aku dan Abizar contohnya, aku berteman dari orok dengannya. Bagiku Abizar sudah seperti saudaraku sendiri."


"Apapun alasanmu, aku tidak suka melihat kamu bersama dengan laki-laki lain," ungkap Al


"Kenapa? Apa anda cemburu Pak CEO," tebak Icha dengan memicingkan matanya.


Sretttt


Dengan satu hentakan, Al menarik Icha ke dalam pelukannya. Al sudah tidak tahan rasanya ingin menghukum istrinya.


"Dengar Farisha Yumna! Aku tidak akan membiarkan satu lelaki pun mendekatimu, apalagi berharap ingin memilikimu, karena kamu hanya milikku," tegas Al


Cekit


Terdengar suara ban mobil yang dipaksa berhenti oleh pengemudinya. Terlihat seorang ibu paruh baya keluar dari mobil dengan buru-buru menghampiri Icha yang dalam pelukan Al.


Dengan kasar ibu itu menarik tangan Icha paksa hingga lepas dari pelukan Al.


"Di sini rupanya kamu wanita murahan, gara-gara kamu aku harus mendekap di penjara dua hari, dan gara-gara kamu, anakku harus pindah sekolah. Padahal apa yang aku katakan pada orang-orang itu kebenaran kalau kamu memang melahirkan anak haram," seru Bu Liana seraya ingin menjambak rambut Icha. Namun Al dengan sigap Al menangkap tangan Bu Liana


"Jaga ucapan anda! Kalau memang anda tidak ingin mendekam lagi di penjara," sentak Al


"Oh jadi kamu yang telah melaporkan saya ke polisi, kalian berdua memang anak muda yang tidak tahu diri. Sudah berbuat dosa tapi tidak ingin mengakuinya," tunjuk Bu Liana ke depan muka Al.


"Mama hentikan!"


...*****...


...Selalu dukung Author ya Readers!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


👉Next part


__ADS_2