Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Plak plak


"Kenapa kalian tidak becus menjaga putri dan menantuku? Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, kalian harus menanggung akibatnya." Andrea begitu marah dengan kabar yang di terima. tanpa segan, dia menampar pengawal bayangan yang ditugaskan untuk menjaga Allana.


Sementara Allana dan Dika sudah mendapatkan penanganan medis. Namun takdir Tuhan tidak dapat dicegah. Sekuat apapun kita berusaha tapi saat waktu yang sudah digariskan untuk kita menghirup udara sudah habis, maka di saat itu pula kita harus kembali ke Sang Pencipta pemilik alam dan seisinya.


Al dan Icha terus menangis di depan tubuh yang sudah terbujur kaku. Dika hanya bertahan satu jam setelah kecelakaan itu terjadi. Efek racun dan benturan keras di kepalanya yang membuat dia banyak kehilangan darah, membuatnya harus meninggalkan orang-orang yang dicintai untuk selama-lamanya


"Sayang, kenapa begitu cepat meninggalkan Mama dan papa? Baru kemarin kamu menikah dan bahagia sekarang harus pergi meninggalkan kami semua," ucap Icha di sela isak tangisnya.


Hatinya hancur sehancur-hancurnya mendapati putranya sudah tak bernyawa. Tak ada kata terakhir yang Dika ucapkan. Hanya saat kemarin dia berkunjung ke rumahnya, Dika terus memeluk Icha dan menciuminya seraya berkata, " Mama, Dika bahagia jadi anak Mama dan Papa. Terima kasih untuk semunya, Dika sayang sama Mama dan Papa."


Tak jauh beda dengan Icha, Al pun sangat terpukul dengan kepergian putra sulungnya. Dia teringat saat terakhir Dika minta ijin untuk pulang cepat. "Pah, Dika pulang duluan! Papa jaga kesehatan, jangan terlalu ngoyo pada pekerjaan. Seberapa pun banyaknya uang yang kita miliki, hanya amal ibadah yang akan kita bawa nanti."


Saat itu Al hanya tersenyum dengan nasihat yang anaknya katakan, dia tidak menyangka akan secepat ini ditinggalkan oleh putranya.


Sementara di ruangan Allana, terlihat Mitha sudah menunggunya semenjak Allana di bawa ke rumah sakit karena dia langsung diberitahu oleh pengawal putrinya tentang kecelakaan itu.


Perlahan Allana membuka matanya menyesuaikan cahaya sekitarnya. Dilihatnya ruangan yang serba putih dan mamanya yang sedang duduk di samping bed tempatnya berbaring.


"Mama, Dika mana?" tanya Allana.


"Lana, kamu sudah sadar sayang?" Mitha langsung menciumi putrinya tanpa menjawab pertanyaaan dari Allana.


"Mama, Dika mana? Tolong panggil dia, Mah! Jangan lama-lama perginya! Lana tidak ingin jauh dengan Dika," rengek Allana.


"Lana ..." Mitha tidak sanggup melanjutkan kata-katanya yang terasa tercekat di tenggorokan.


"Kenapa, Mah? Tadi Dika bilang harus pergi, saat Lana mencegahnya dia tetap tidak mau mendengarkan apa yang Lana katakan," terang Allana.


Mitha tidak menjawab apa yang Allana katakan, dia hanya melihat jam tergantung di dinding. "Mungkin masih ada," gumamnya.


"Ayo kita ketemu Dika!' ajak Mitha. "Dia ada di ruangan yang berbeda," jelasnya kemudian.


Allana hanya menurut saat Mitha menuntunnya untuk naik ke atas kursi roda. Hatinya campur aduk. Dia terus teringat kata-kata yang Dika ucapkan saat berada di alam bawah sadarnya.


"Sayang, maafkan aku tidak bisa terus bersamamu! Aku mohon, jaga anak kita dengan baik. Aku mencintaimu!"


Tanpa sadar, Allana mengelus perut ratanya. "Sayang, kita akan ketemu papa," gumamnya.


Mitha yang sedang mendorong kursi roda, samar-samar mendengar apa yang putrinya katakan.

__ADS_1


Dari mana Lana tahu kalau dia sedang hamil, aku kan belum memberitahunya. Aku bingung mengatakan yang sebenarnya. Pasti Lana sangat syok mendengar tentang Dika, batin Mitha.


Saat sudah sampai di kamar jenazah, jantung Allana langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak, dia terus menyangkal dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin suaminya ada di kamar jenazah, karena baru tadi mereka berbincang, baru tadi dia memeluk Dika.


"Mama, kenapa kita ke sini?" tanya Allana dengan suara yang bergetar.


Mitha tidak menjawab dengan apa yang putrinya tanyakan, dia terus membawa Allana masuk ke dalam ruang jenazah. Nampak di sana, pasangan paruh baya sedang menangis seraya berpelukan.


"Mama, Papa!" panggil Allana.


Icha langsung melepas pelukan suaminya dan menghambur memeluk menantunya, "Maafkan Dika, Lana!"


"Mama, Dika tidak salah jadi Lana tidak perlu memaafkannya." Allana ikut menangis saat mertuanya menangis sambil memeluknya.


Icha membawa menantunya untuk melihat putranya untuk yang terakhir kali. Saat Icha perlahan membuka kain penutup Dika, Allana menutup matanya rapat-rapat. Dia tidak ingin melihat kenyataan, yang terbaring di sana adalah suaminya. Namun, bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa lari kenyataan.


"Lana," Icha mengelus pundak Allana pelan, memberi kekuatan untuk bisa menerima kenyataan.


Allana pun membuka matanya perlahan, dilihatnya Dika yang seperti sedang tertidur dengan senyum tipis di bibirnya. "Dika sedang tidur, Mah! Kenapa harus ada di sini?"


"Sayang, ikhlaskan Dika! Biar dia tenang di sana. Meskipun dia sudah tidak bisa bersama kita lagi, tapi Dika akan selalu ada di hati kita." Mitha langsung menghampiri putri dan besannya yang pasti sangat terpukul dengan kepergian menantunya.


"Mama, Dika sedang tidur. Dia pasti akan selalu menjaga Lana dan anak kami." Allana tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya. Sampai petugas rumah sakit datang untuk mengurus kepulangan jenazah Dika barulah Allana histeris mendengar apa yang petugas itu katakan


***


Tiga hari sudah berlalu, tapi Allana masih belum bisa menerima kenyataan. Dia selalu duduk di tepi jendela kamarnya, berharap melihat Dika pulang ke rumahnya.


Emily pun sudah ditangkap. Karena saat dokter mengatakan penyebab utama kematian Dika karena racun yang telah diminumnya, Andrea segera mencari bukti penyebab kematian Dika. Hingga saat mereka mengecek CCTV ruangan Dika, terlihat jelas Emily sedang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Dika yang ada di atas meja kerjanya.


Kini Andrea sedang bersama Al membicarakan siapa pemilik racun itu karena Emily tidak bisa memberitahukan orang yang telah menyuruhnya.


"Bagaimana Bang, sudah keluar belum hasil labnya?" tanya Al


"Ini Al, sepertinya komposisi racunnya unik. Dia membunuh tidak langsung di tempat sehingga kita tidak akan curiga pada orang yang terakhir kita temui," jelas Andrea.


Al diam saja seraya membaca hasil laporan lab yang dibawa oleh Andrea. Setelah selesai membacanya, barulah dia menarik napas dalam utuk menetralkan sesak di dadanya.


"Ini racun milik Keluarga Austin. Mungkin mereka marah karena aku dan Dika menolak perjodohan itu. Aku tidak menyangka racun ini dipakai untuk membunuh kelurganya sendiri." Tanpa bisa ditahan, setetes air mata jatuh di pipi Al.


"Apa? Keluarga Austin?" Andrea langsung terkaget mendengar apa yang dikatakan oleh Al. "Apa karena aku membuat perusahaannya bangkrut ya?" gumam Andrea.

__ADS_1


"Al, apa ini ada hubungannya dengan Philip Austin? Apa kamu juga memiliki racun seperti ini?" tanya Andrea.


"Ada, aku menyimpannya baik-baik. Aku tidak tahu Philip terlibat atau tidak."


Kurang ajar kamu Philip! Sudah kubuat bangkrut malah membuat putriku kehilangan suaminya. Akan aku buat kamu hidup segan mati tak mau, geram hati Andrea.


Andrea langsung berpamitan pada Al karena dia akan menyuruh bawahannya yang ada di London untuk menangkap Philip dan membawanya ke hutan lindung milik kakeknya yang ada di negeri Ginseng.


Tidak butuh waktu lama untuk menangkap Philip karena dalam tubuhnya sudah ditanam alat pelacak oleh Andrea saat dulu dia menjebaknya.


Andrea tersenyum devil saat melihat Philip sedang berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan dirinya dari serangan hewan buas yang sengaja di pelihara di sana. "Itu hukuman untuk orang yang telah merusak kebahagian putriku. Karena aku tidak bisa menghukummu secara hukum, maka aku serahkan pada hukum alam. Bersenang-senanglah Philip! Nikmati hari tuamu bersama dengan hewan buas."


***


"Lana, jangan bersedih terus! Tersenyumlah, aku sangat merindukan senyumanmu"


"Dika?" Allana langsung memeluk Dika dengan erat


"Iya sayang! Aku sedih setiap hari melihatmu termenung dan menangis. Ku mohon berbahagialah demi aku dan anak kita."


"Dika, aku kangen!" rengek Allana


"Lana, berjanjilah untuk selalu bahagia! Tolong jaga dan sayangi anak-anak kita."


Allana langsung terbangun dari tidurnya, dilihatnya langit sudah bewarna jingga pertanda siang akan segera pergi.


"Sayang, ini malam ke tujuh Dika meninggal apa kamu akan ikut ke acara tahlilannya?" tanya Mitha lembut.


"Mah, Lana ingin ke makam Dika!"


Di sinilah sekarang Allana, di bawah cahaya senja yang berwarna jingga, dia berjongkok di depan gundukan tanah merah dengan sebuket bunga mawar putih. Setelah dia membaca do'a, Allana pun berbicara dengan pusara Dika.


"Dika aku ikhlaskan kamu pergi, karena aku yakin cintamu akan selalu bersamaku. Maafkan aku, tidak mengantarmu untuk yang terakhir kalinya. Aku aku tidak sanggup melihatnya. Dika, aku mencintaimu."


...~Tamat~...


Alhamdulillah.


Terima kasih untuk semua dukungan pembaca Terjebak Cinta Mantan S1 dan S2. Mohon maaf atas semua kekurangan Author dalam membuat cerita. Author berharap semoga novel TERJEBAK CINTA MANTAN dapat menghibur pembaca semua dan mengambil hal yang positifnya serta tidak meniru hal yang negatifnya.


^^^Salam sayang,^^^

__ADS_1


^^^Thatya0316 ^^^


__ADS_2