
"Al, tadi Kakek terus menelponku. Dia minta agar kamu segera menghubunginya," ucap Aisha
"Memangnya ada apa? Bukankah dia sedang bersenang-senang dengan sahabatnya," tebak Al
"Kamu salah Al! Tadi kakek menelpon, memberitahukan kalau Kalisa meninggal saat melahirkan," jelas Aisha
"Apa katamu? Kalisa meninggal?" sentak Al kaget.
"Iya, Aldrich. Makanya dari tadi aku nungguin kamu, tapi kamu tidak keluar-keluar." Aisha langsung memutar bola matanya malas.
"Innalilahi wa Inna'ilaihi roji'un." Al langsung mengusap wajahnya kasar. Ada sedikit ketakutan dalam hatinya saat mendengar Kalisa meninggal karena melahirkan. Apalagi saat dia teringat dengan apa yang dikatakan Bu Mira, kalau Icha pernah mengalami pendarahan hebat saat melahirkan Dika.
"Sha, cepat sambungkan nomor kakek! Aku akan menerimanya di dalam," suruh Al.
Dengan segera Aisha pun menyambungkan panggilan telepon pada Tuan Ardi. Saat sudah tersambung, Dia pun segera memberitahukan pada Al.
π±"Hallo! Assalamualaikum."
π²"Wa'alaikumsalam. Al kapan kamu akan ke sini? Kalisa meninggal."
π±"Aku tidak bisa secepatnya Kek, lusa Ryza menikah dan besok lusanya lagi resepsi di pulau Cinta sekalian peresmian resort baruku."
π²"Cucu nakal! Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau Ryza menikah. Apa kalian sudah melupakanku karena aku tidak ada di sana?"
Terdengar suara Tuan Ardi dengan nada tinggi sehingga Al segera menjauhkan gagang telepon dari telinganya.
π±"Bukan begitu maksudku, Kek. Hanya saja Minggu kemarin itu kita habis kecelakaan. Mobilku dan mobil Ryza tabrakan."
π²"Apa katamu? Kecelakaan? Kenapa tidak memberitahuku? Sekarang juga aku akan pulang. Siapkan pengasuh untuk anaknya Kalisa!"
Klik
Tuan Ardi langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu Al menyetujui atau tidak dengan perintahnya.
"Dasar Kakek tua, asal suruh-suruh aja." Seraya menyimpan gagang telepon di tempatnya, Al terus menggerutu membuat Icha yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran.
__ADS_1
"Kamu kenapa, kho kesal? Ada yang tagih hutang ya!" tebak Icha
"Ya ampun, aku dikira punya hutang. Padahal aku yang suka kasih pinjaman sama orang," batin Al.
"Nggak sayang, tadi kakek nelpon bilang mau pulang dan minta dicarikan pengasuh untuk anaknya Kalisa," terang Al
"Kalisa sudah melahirkan? Wah rumah kita jadi rame sama anak kecil, aku suka." Mata Icha langsung berbinar mendengar akan bertambah satu bayi di rumahnya.
Seperti yang sudah dikatakan oleh Tuan Ardi, keesokan harinya dia tiba di Indonesia bersama Tuan Satya dan bayinya Kalisa.
Rumah besar itu kini terlihat ramai dengan kehadiran dua bayi yang menggemaskan, belum lagi dengan kehadiran bayi yang dikandung oleh Icha, akan membuat suasana rumah semakin meriah.
Seperti sore itu, Al dan Tuan Ardi sedang menikmati secangkir teh, dengan mata yang tidak lepas dari Dika dan kedua bayi yang sedang diajak bermain oleh pengasuhnya, di sebuah ruangan khusus dengan pembatas kaca yang terhubung langsung pada ruang keluarga.
"Kakek senang, rumah kita sudah tidak sepi lagi, Al. Bertahun-tahun kita hanya tinggal berdua bahkan selama lima tahun Kakek harus sendiri dalam kesepian. Kini rumah kita ramai dengan kehadiran mereka. Ternyata saat kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, maka kita juga akan ikut bahagia." Tanpa mengalihkan pandangannya, Tuan Ardi mengungkapkan perasaan pada cucu satu-satunya.
"Kakek benar! Saat kita mengulurkan tangan untuk membantu orang lain, rejeki kita tidak akan berkurang melainkan akan terus bertambah." Al pun ikut menimpali ucapan kakeknya.
"Ternyata cucuku sekarang sudah dewasa, sudah mengerti tentang makna hidup," puji Tuan Ardi
***
Hari yang ditunggu pun sudah tiba waktunya, rencana yang disusun sudah terealisasi dengan baik. Saudara dan kerabat sudah berdatangan memenuhi mesjid terbesar di negeri ini untuk menyaksikan acara sakral dua sejoli.
Karangan bunga sudah berjajar rapi di halaman mesjid sebagai ucapan selamat dan turut berbahagia atas pernikahan dua sejoli yang saling mencintai.
Kia dan Vio sudah di rias sedemikian cantiknya dengan MUA yang sudah menjadi langganan Bu Dewi. Begitupun dengan bumil yang tidak ingin ketinggalan. Meskipun dandanan Icha tidak setebal pengantin, tetap saja membuat jiwa liar para lelaki yang melihatnya menjadi terpancing.
Terlihat di pojokan ruang rias pengantin, ada seorang gadis yang sedang terisak. Dia bahagia semua sahabatnya sudah menikah, tapi sekaligus merasa sedih karena ditinggal menikah. Yang berarti sudah tidak ada lagi para penjaganya karena mereka pasti akan sibuk dengan keluarganya masing-masing.
Melihat Aisha yang sedang terisak meski sudah make-up, Icha pun perlahan mendekat pada sepupu iparnya.
"Sha, kenapa nangis? Kamu jangan sedih karena semua sahabatmu menikah hari ini. Mereka tidak akan berubah, pasti akan selalu ada untuk kamu." Tangan Icha terus mengelus punggung Aisha, meyakinkan kalau ketakutannya itu tidak akan terjadi.
"Makasih, Cha! Aku sedih karena hanya tinggal aku yang belum menikah. Padahal aku kan cewek, seharusnya aku yang lebih dulu menikah di antara mereka," ucap Aisha disela Isak tangisnya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku pasti meminta Abizar untuk segera melamar kamu," bujuk Icha.
"Beneran ya, Cha! Aku tunggu kabar baiknya!" sahut Aisha dengan menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.
Icha hanya tersenyum menanggapi ucapan Aisha. Dalam hatinya, dia sendiri bingung harus berbuat apa agar Abizar segera melamar Aisha. Namun bukan Icha namanya yang selalu punya ide disaat-saat terjepit keadaan.
"Ahhaa....Aku punya rencana," teriak Icha tiba-tiba yang sukses membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget dan langsung menengok ke arah Icha.
"Kamu kenapa sih, Cha? Teriak-teriak segala," tanya Kia yang sudah selesai di make over.
"MTZ deh kamu Kia, mo tauuu aza!" cebik Icha
Aisha yang sudah menurunkan tangannya setelah menutup telinga, akhirnya ikut bersuara. "Iya kamu kenapa, Cha? Memang punya rencana apa?" tanya nya.
"Kamu tahu hasilnya aja, Sha. Pokoknya pasti bikin kamu senang." Dengan tangan yang terus menepuk-nepuk pundak Aisha.
Tak lama kemudian datang seorang utusan yang memberitahukan bahwa acara ijab kabul akan segera di mulai, sehingga pengantin wanita diminta untuk mendekat ke area ijab kabul yang berada di tengah-tengah mesjid Istiqlal.
Violet langsung menggandeng tangan Vio, sedangkan Aisha dan Icha menggandeng tangan Kia. Mereka tidak langsung turun ke bawah tetapi menunggu di lantai dua sampai ijab kabul selesai.
Terlihat Kevin yang sudah siap di depan penghulu, karena dia yang mendapat giliran pertama untuk ijab kabul. Semua yang hadir terlihat khusyuk mendengarkan Kevin yang akan membacakan ijab dan kabul.
"Saya terima kawin dan nikahnya ananda Viola Shaka Qatrunada binti Gunawan Wicaksono dengan maskawin emas murni seberat 2,6 kilogram dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya Bapak Penghulu pada hadirin yang hadir di acara akad nikah Kevin dan Vio.
"Sahhhh!" Kompak hadirin dengan serempak
"Alhamdulillah" Setelah mengucapkan syukur, Pak Penghulu pun membaca do'a pernikahan untuk kedua mempelai.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment gift vote dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
πNext part