Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 35 Bertemu teman lama


__ADS_3

"Yakin seperti itu?" Al memicingkan matanya memastikan jawaban Icha.


Aku tidak ingin mengatakan kebenarannya pada Al sekarang, karena aku belum yakin dengan perasaan Al. Lagipula dia akan bertunangan dengan wewe gombel itu, bagaimana kalau nanti Al mengambil Dika dariku. Apa yang harus aku lakukan?


Icha menatap lekat mata elang Al mencari jawaban dari setiap apa yang Al katakan padanya, hingga dia pun terhanyut di dalamnya. Al perlahan mendekatkan wajahnya pada Icha, dengan sedikit memiringkan kepalanya diraupnya bibir ranum yang membuatnya lupa diri sehingga menginginkan hal yang lebih.


Al terus mengecap rasa manis dari benda kenyal itu dan saat Icha membuka sedikit mulutnya, pengecap rasa itu langsung menerobos masuk mengeksplor tiap sudut rongga di dalamnya, hingga suara decakan dan lenguhan mengalun seperti melodi yang menghanyutkan.


"Kakak!" Dika terbangun karena mendengar suara-suara yang membuat telinganya terasa gatal


Al dan Icha langsung melepaskan pagutannya dengan perasaan yang deg-degan. Tapi untung saja posisi sofa membelakangi sofa bed tempat Dika tidur sehingga Dika tidak melihat jelas adegan yang seharusnya tidak dilihat oleh anak kecil.


"I-iya Dek, ada apa?" tanya Icha gugup.


"Kakak, tadi kakak dengar nggak ada suara aneh. Apa rumah ini ada hantunya?" tanya Dika.


Icha langsung mendekat dan memeluk Dika, "Tidak ada hantu di sini, jadi Dika tidak boleh takut" ucapnya.


"Dika, mau makan chicken gak?" tawar Al.


"Om Al! Kapan kesini?" tanya Dika antusias saat melihat Al ada di hadapannya.


"Belum lama dek," sahut Al.


" Om tadi dengar nggak ada suara aneh di rumah ini?" tanya Dika.


"Oh itu mungkin suara tikus pengerat dek" ucap Al seraya mengelus tengkuknya.


"Om bohong ya!" seru Dika.


Al langsung melotot tidak percaya dengan apa yang Dika ucapkan. Bagaimana anak sekecil ini bisa tahu kalau dirinya sedang berbohong.


Sedangkan Icha menahan senyumnya, karena Dika pun sama kalau dia berbohong pasti mengelus tengkuknya.


"Dika kenapa menyimpulkan begitu?" tanya Al.


"Dika nggak mau bilang sama Om, karena hanya Kakak saja yang tahu," jelas Dika.


"Udah nggak usah dibahas, katanya mau makan chicken. Dika cuci muka dulu ya, kan abis bobo," ucap Icha menengahi.


Dengan antusias Dika pun berlari ke kamar mandi karena dia ingin cepat-cepat makan makanan kesukaannya.


Setelah semuanya siap, Al pun langsung membawa dua orang yang disayanginya menuju Plaza yang ada di kota itu.


Selama perjalanan Dika tidak berhenti bertanya apapun yang ingin diketahuinya. Al pun dengan antusias menjawab apapun yang Dika tanyakan.


Benar-benar bos aneh, kalau lagi di kantor suka marah-marah nggak jelas, tapi kalau sama Dika berubah jadi cerewet gitu, monolog hati Icha.

__ADS_1


Tuk


Al mengetuk kening Icha pelan sehingga si empu kening pun tersadar dari lamunannya.


"Jangan ngelamun, Cha! Ingin cepat-cepat ku lamar ya?" canda Al.


"Pede banget anda Pak CEO!" cebik Icha.


"Masih pengen yang tadi, Cha?" tanya Al saat melihat Icha mengerucutkan bibirnya.


"Pengen apa Om?" sela Dika.


Astaga!!! Kenapa sampai lupa kalau di belakang ada Dika, rutuk hati Al


"Om lihat!! Ada balon raksasa!" Seru Dika heboh saat mereka melewati alun-alun.


"Lagi ada acara apa? Rame banget," gumam Icha.


"Dulu Om sama Kak Icha sering main ke situ, Dek," ucap Al mengenang masa lalunya.


"Dika juga mau main ke situ Om, nanti sama Kak Icha," sahut Dika.


"Om nggak diajak Dek?" tanya Al.


"Nggak! Om aja nggak ajak Dika." Dika cemberut karena merasa dia ditinggalkan oleh Icha dan Al.


"Janji ya, Om!" seru Dika.


"Iya Om janji!" jawab Al.


Tak terasa mobil pun sudah memasuki pelataran parkir sebuah Plaza terbesar di kota itu. Dengan buru-buru Dika keluar dari mobil diikuti oleh Icha dan Al. Hingga terdengar sebuah suara yang memanggil.


"Icha!" panggil seorang teman lama


Al terlihat jengah saat tahu siapa yang menyapa Icha.


"Marco!" lirih Icha


"Apa kabar, Cha? Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Marco


"Baik Co! Kamu apa kabar juga?" tanya Icha


"Bisa kita bicara sebentar, Cha?" ucap Marco


"Dia kesini bersamaku." Al yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Apa ini suamimu?" Marco tidak menggubris ucapan Al, matanya terfokus hanya pada Icha

__ADS_1


Tak ingin Icha yang menjawab, Al pun langsung menjawab duluan pertanyaan Marco.


"Iya, Aku suaminya dan ini putra kami!" tegas Al.


Icha langsung melotot tak percaya dengan apa yang Al katakan.


Berarti benar waktu itu aku melihat Icha keluar dari klinik kandungan karena Icha hamil lalu pergi dari rumah, batin Marco


"Kita cari tempat yang enak aja Co untuk ngobrol, nggak enak kita ngobrol di jalan begini," ucap Icha


Di sinilah sekarang mereka, di sebuah restoran cepat saji karena Dika merengek ingin cepat-cepat makan chicken kesukaannya.


Icha dan Marco berada dalam satu meja, sedangkan Al dan Dika di meja yang agak jauh agar pembicaraan Icha dan Marco tidak di dengar oleh Dika.


Tanpa basa-basi lagi, Marco pun langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan sedari dulu.


"Cha, aku minta maaf dengan semua yang terjadi, aku tidak tahu dampaknya akan seperti itu. Aku sangat menyesal kenapa harus mengikuti usulan dari Kinan," sesal Marco


"Maksud kamu apa, Co?" Icha bingung dengan apa yang Marco ucapkan.


"Aku tahu, setelah kejadian di villa, kamu hamil kan Cha? Saat kamu pergi dari rumah pun, aku melihatmu membawa ransel pergi ke terminal. Aku sempat curiga saat melihatmu terus celingukan, tapi saat mau aku samperin, bis yang kamu tumpangi keburu pergi," terang Marco


"Makanya waktu pas perpisahan kamu tidak datang dan saat kutanyakan Abizar pun dia tidak tahu, aku segera meminta no rekening kamu pada Om Yusuf dan kubilang kamu dapat undian berhadiah dari showroom Papaku."


"Aku minta maaf Co, uangnya terpaksa aku pakai," ucap Icha


"Nggak papa, Cha! Memang itu uang kamu. Apa yang tadi bersamamu itu putramu? Lalu pria itu benar suamimu?" tanya Marco


Icha hanya terdiam mendengar pertanyaan yang Marco ucapkan. Sungguh Icha sangat menyesal pulang ke kampung halamannya, jika pada akhirnya rahasia yang dia tutupi akan terbongkar dan juga luka hatinya akan terbuka lagi setelah dengan susah payah dia berusaha melupakannya.


"Aku aku sudah memaafkan kamu, Co. Tapi kuharap, kamu tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Aku aku ingin mengubur semua kenangan itu. Kamu tahu, aku tidak ingin mengingat sedikitpun tentang permainan konyol kamu itu," ucap Icha getir


"Sekali lagi aku minta maaf, Cha!" ucap Marco dengan menggenggam tangan Icha.


Tanpa mereka sadari, datang seorang wanita cantik dengan perut yang membuncit menghampiri mejanya.


"Aku tungguin di baby shop, ternyata lagi pegang-pegangan tangan," sarkas wanita cantik itu


Icha yang membelakangi wanita itu pun langsung menolehkan kepalanya setelah dia melepaskan genggaman tangan Marco.


Sedangkan Al yang tadinya mau menghampiri Icha jadi mengurungkan niatnya karena ingin melihat tontonan gratis dulu. "Menarik," lirihnya.


"Icha!" seru Wanita itu kaget.


"Kinan," lirih Icha.


"Sedang apa kalian pegang-pegangan tangan? Kamu tahu Cha? Aku sedang mengandung anak Marco, jadi kamu jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku!" seru Kinan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2