Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 60 Cahaya hatiku


__ADS_3

Keesokan paginya, Icha dibuat kaget karena terbangun di dalam kamar Al, dan hanya ada dia dan Al yang tidur di atas ranjang king size milik Al.


Perlahan Icha mengangkat tangan Al yang menindih perutnya. Namun bukannya terangkat, Al malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Al, aku mau bangun!" Icha terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Al.


"Sayang, jangan bergerak terus! Kamu membangunkan benda pusakaku," ucap Al dengan suara serak.


"Udah adzan subuh, ayo kita berjamaah!" ajak Icha


Dengan malas-malasan Al pun bangun dari tidurnya.


"Cha, kita mandi bareng aja kayak kemarin biar gak kesiangan," bujuk Al


Icha yang percaya begitu saja, akhirnya mengiyakan ajakan Al. Namun apa yang terjadi tidak seperti yang Icha bayangkan, karena Al mengajaknya olahraga pagi terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka mandi bersama.


Selesai mandi, Icha diam seribu bahasa. Kesal sangat kesal yang Icha rasakan pada suaminya yang mendadak mesum. Icha tidak menyangka si culunnya itu sangat suka olahraga kenikmatan bersamanya. Padahal Icha sangat malas kalau harus keramas pagi-pagi.


Setelah melaksanakan sholat berjamaah dengan Al, Icha pun segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Terlihat Bi Sari yang sedang memotong-motong sayuran untuk bahan membuat omelette sayur, yang merupakan makanan kesukaan Al.


"Bi, biar Icha bantuin," ucap Icha


"Biar bibi aja Neng! Kalau Neng Icha kerja, nanti malah Bibi tidak punya pekerjaan," Bi Sari


"Bibi mah ada-ada saja, ya gak bakalan atuh Bi. Icha tuh kangen, kalau di rumah suka recokin mama masak." Angan Icha melayang pada saat-saat sebelum kejadian itu.


"Neng, sebelumnya Bibi minta maaf, apa benar Neng Icha kabur dari rumah," tanya Bi Sari yang menyimpan rasa penasarannya selama ini. Namun dia tidak berani bertanya.


Icha hanya tersenyum getir seraya menganggukkan kepalanya pertanda dia mengiyakan apa yang Bi Sari katakan.


"Apa karena Aden kecil?" Lagi-lagi jiwa kepo Bi Sari meronta-ronta ingin dipuaskan oleh jawaban Icha.


Icha pun hanya mengangguk mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaan Bi Sari.


"Bibi sebenarnya bingung, kenapa bisa ada aden kecil. Padahal Den Al mau nyium Neng Icha aja sampai curi-curi kesempatan saat Neng Icha ketiduran di sofa." Terawang Bi Sari pada masa Al bersekolah di kotanya.


"Maksud Bibi, Al cium Icha saat Icha ketiduran selesai ngerjain tugas." Bola mata Icha langsung membesar mendengar pengakuan dari Bi Sari.


"Iya Neng, Den Al lebih dari satu kali kepergok sama Bibi sedang cium Neng Icha," terang Bu Sari


"Bener-bener si culun, ternyata penyakit mesumnya sudah lama," gerutu Icha dalam hati.


Setelah semuanya selesai dimasak, Icha pun membantu Bi Sari untuk menyiapkannya di meja makan. Meski di rumah ini ada lima

__ADS_1


orang pekerja, tapi urusan makan tuannya menjadi tanggung jawab Bi Sari.


Setelah semua makanan terhidang di meja makan, Icha pun pamit untuk memanggil Dika dan Al sedangkan Bi Sari memberitahu pada Tuan Ardi.


Sesampainya di kamar Dika, terlihat Al sedang menyisir rambut Dika.


"Ganteng sekali anak Mama," puji Icha


"Tentu saja, kan sama gantengnya dengan Papanya." Serobot Al


"Anda pede sekali Tuan Aldrich," cebik Icha


"Mama, memang Papa namanya siapa?" tanya Dika bingung sebenarnya Icha bicara pada siapa


"Nama Papa, Aldrich Marchdika Putra." Bukan Icha yang menjawab, tetapi Al yang langsung main serobot saja.


"Kenapa namanya sama denganku?" tanya Dika


"Itu karena Mama cinta banget sama Papa," goda Al dengan mengedipkan matanya pada Icha, membuat Icha semakin jengah dengan tingkah Al yang tidak seperti biasanya.


"Emang iya Mah?" tanya Dika


"Mana mungkin aku jawab jujur, kalau sebenarnya untuk mengingatkanku bahwa Al telah menghancurkan hidupku,"


Dika langsung berlari kecil menuju meja makan. Terlihat Tuan Ardi sudah siap di meja makan.


"Pagi Eyang!" sapa Dika


"Pagi jagoan Eyang, ayo kita makan!" ajak Tuan Ardi


Kini keempatnya makan dalam hening. Meski Dika sudah terbiasa makan sendiri, tapi Al sangat suka menyuapi Dika dari piringnya.


"Al makan dulu, Dika sudah bisa makan sendiri," tegur Icha


"Gak papa, aku seneng melihat Dika makan dengan lahap dari tanganku sendiri," ucap Al dengan pandangan tidak lepas dari Dika


Tuan Ardi yang sedang menikmati makanannya pun ikut memperhatikan Al yang asyik menyuapi Dika dengan sesekali dia memakan makanannya sendiri.


"Sepertinya Al memang sangat mencintai gadis itu dan putranya. Bagaimana jadinya jika waktu itu aku tidak melihat langsung Kalisa dengan kekasihnya. Mungkin Al akan memilih mereka dan meninggalkanku," batin Tuan Ardi


***


Setelah mengantar Dika ke sekolah, Al memaksa Icha untuk ikut ke perusahaan

__ADS_1


"Sayang, nanti malam aku gak pulang," ucap Al saat mobil sudah terparkir basemen.


"Kenapa?" tanya Icha


"Aku mau survey ke pulau C sama Kevin dan Oryza," terang Al


"Apa Kalisa ikut?" tanya Icha


Al menoel hidung Icha gemas melihat reaksi Icha yang dalam mode cemburu.


"Kalisa gak diajak dan gak tahu kalau aku mau pergi ke pulau kakeknya," jelas Al


"Beneran???!!!"


"Iya sayang, masa aku bohong," elak Al, "Apa kamu cemburu?" lanjutnya seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Icha yang terlihat kikuk


"Si-si-siapa yang cemburu, aku hanya gak suka kalau selalu ada Kalisa di sekitarmu," kilah Icha.


Cup


Al langsung mencium bibir Icha sekilas, hanya sekilas, karena kalau diperdalam, sungguh Al tidak akan sanggup untuk menahannya.


Terdengar suara ketukan di jendela mobil Al, membuat Al menjauhkan wajahnya dari wajah Icha yang masih memejamkan matanya.


"Sayang, ayo keluar," ajak Al


Icha pun langsung membuka pintu mobil dan keluar mengikuti langkah lebar Al. Hingga saat Al berhenti, Icha pun kembali menabrak punggung kekar Al.


"Jangan berjalan di belakangku!" seru Al seraya langsung menarik tangan Icha agar mau berjalan sejajar dengannya.


Sesampainya di ruangan Al, Icha disuguhi tatapan tidak suka dari Kalisa. Namun Icha tidak mau kalah sehingga langsung merangkul tangan Al dan bergelayut manja di tangan kekar Al.


"Sayang, nanti aku langsung tidur di kamarmu ya!" Ijin Icha dengan suara manja.


"Boleh, nanti aku temani setelah urusanku selesai," ucap Al


Bukan Al tidak tahu kalau Kalisa dan Icha kurang akur, tapi Al juga tidak mau kalau Kalisa masih berharap tentang pertunangan itu.


"Aku suka kamu bersikap seperti ini, Cha. Tidak membentangkan pembatas diantara kita lagi. Aku selalu kangen melihat Icha-ku yang dulu, yang ceria, cerewet, tapi ternyata waktu telah merubahmu menjadi seorang wanita yang tidak banyak bicara dan selalu waspada. Maafkan aku cahaya hatiku," batin Al


...*****...


👉Next part

__ADS_1


__ADS_2