
"Wah wah wah.... sepertinya ada pertunjukan menarik, Mbak Yura lain kali jangan duduk di pangkuan Pak Oryza. Mending di bawah kungkungannya, biar gak dijatohin lagi." Kia terkekeh geli melihat apa yang dilihatnya.
"Lagian Pak Oryza kayak gak punya duit aja, Lain kali kalau mau mantap-mantap di hotel donk, Pak! Biar gak mencemari mata anak buahnya."
"Mending cepat ke KUA sana, biar gak bikin dosa teus-terusan," cerocos Kia
"KIARA...." Bentak Oryza lalu mendekat ke arah Kia
Menyadari akan terjadi hal yang tidak beres, dengan secepat kilat Kia berbalik dan pergi dari ruangan Oryza, "Tanda tangannya nanti aja, Pak!" teriak Kia dengan terus berlari membuat rekan kerjanya melihat aneh ke arahnya.
Kia terus tertawa geli membayangkan Yura yang terjatuh setelah berciuman dengan Oryza. Rasa sakit hatinya terlupakan sejenak dengan pertunjukan yang dilihatnya.
Vio yang melihat sahabatnya terus menahan tawa, menjadi penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi. "Kia kamu seneng banget, ada apa sih? Bagi-bagi dong kalau lagi seneng," ucapnya.
Kia pun beranjak dari duduknya hendak membisikkan sesuatu pada Vio. Namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang menariknya keluar dari departement tempatnya bekerja.
"Ayo ikut aku!" seru Oryza dengan terus menarik paksa Kia agar mengikutinya.
Kia yang tidak siap dengan tarikan tangan Oryza, membuatnya berjalan dengan terhuyung-huyung.
"Lepasin PaK! Aku bisa jalan sendiri, lagian kasar banget sih jadi cowok. Coba kalau sama Yura, dielus-eluslah dadanya. Anjritt bikin mataku ternoda." Kia terus menggerutu sepanjang perjananannya ke basement.
"Bisa diem gak!" sentak Oryza yang langsung membuat Kia kicep tidak berani bersuara lagi.
Oryza membawa Kia ke mobilnya, dan menyuruhnya ikut naik bersamanya.
"Kita mau ke mana? Bukannya masih jam kerja?" tanya Kia
"Hotel," jawab Oryza singkat yang sukses membuat Kia membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Oryza katakan.
"Jangan gila dong Pak, Aku gak mau diajak gila. Lagian kalau mau gila, sendiri aja napa? Gak usah ajak-ajak aku segala," cerocos Kia
"Kamu tuh berisik!" desis Oryza
"Kenapa kalau aku berisik? Gak suka? Ya udah, aku juga gak akan maksa kamu buat suka sama a,ku. Aku juga gak keberatan kalau misalkan perjodohan kita dibatalkan. Karena aku yakin masih ada orang yang mau nerima aku meskipun aku berisik. Kalau misalkan Pak oryza gak berani ngomong, aku yang akan minta perjodohan kita dibatalkan." Kia bicara tanpa jeda membuat Oryza langsung menepikan mobilnya.
__ADS_1
Dengan menahan letupan amarah di hatinya, Oryza pun menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Serius kamu ingin pernikahan kita batal?" tanya Oryza degan menatap lekat Kia.
" Iya! Aku gak mau jadi perusak hubunganmu dengan Yura. Lupakan tentang surat terakhir ibuku. Aku yakin Ibuku tidak akan keberatan jika aku bahagia dengan orang lain," tutur Kia
Nyes
Seperti tertusuk pedang es, terasa linu hati Oryza mendengar apa yang Kia katakan. Meski dia belum yakin dengan perasaaannya pada Kia, tapi rasanya sakit saat tahu Kia tidak mengharapkannya.
"Jangan harap aku akan membatalkannya!" ujar Oryza langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kia yang kaget karena laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, hanya diam dengan mulut komat-kamit berdo'a dalam hati. Bayangan saat ibunya kecelakaan karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan berujung menabrak pembatas jalan, karena hilang keseimbangan terus menari-nari di benaknya hingga tanpa terasa lelehan air mata merembes dari matanya.
"Ya Tuhan, jika ini saat terakhir aku di dunia. Ku mohon pertemukan aku dengan ibu di sana." Do'a Kia dalam hati.
Kia terus larut dalam pikirannya, dalam kesedihannya. Tanpa sadar, mobil Oryza sudah terparkir dengan rapi.
Menyadari tidak ada pergerakan dan bantahan dari Kia, Oryza pun melihat ke arah Kia yang masih memejamkan matanya dengan sisa air mata di pipinya.
"Apa aku sudah keterlaluan hingga dia menangis. Aku tidak menyangka gadis berisik ini bisa nangis juga, biasanya dia selalu tertawa gembira," batin Oryza
Ditepuknya pundak Kia yang sedang memejamkan matanya. Namun tetap tidak ada respon. "Ki Kia bangun." Oryza terus menepuk-nepuk pipi Kia pelan hingga si empunya pipi perlahan membuka matanya.
"Ini di mana? Kepalaku pusing sekali," keluh Kia dengan memijit pelipisnya.
"Wedding organizer, mama sudah menunggu di sana," terang Oryza
Sebenarnya tadi saat Kia keluar dari ruangan Oryza, ada telpon masuk dari mamanya ke handphone Oryza, sehingga dia tidak mengejar Kia yang keluar dari ruangannya.
Kia hanya menghela napas dalam mendengar apa yang dikatakan oleh Oryza. Rasanya dia sudah tidak punya kesempatan lagi mengelak dari perjodohan ini. Apalagi mamanya Oryza terlihat begitu sayang padanya, memperlakukannya seperti pada anaknya sendiri. Membuat Kia merasakan kembali kasih sayang seorang ibu, yang tidak dia dapatkan dari ibu tirinya.
Oryza langsung membawa Kia ke ruangan mamanya, yang merupakan pemilik wedding organizer yang mereka datangi.
"Sayang, kamu sudah datang," sapa seorang wanita paruh baya pada Kia, yang masih terlihat cantik dan segar.
__ADS_1
"Iya Mah!" sahut Kia dengan mencium punggung tangan Bu Dewi mamanya Oryza
Semenjak pertemuannya dengan keluarga Oryza, Bu Dewi langsung memintanya untuk memanggil mama sama seperti Oryza.
"Mah sama anaknya gak disapa," protes Oryza
"Gak penting nyapa kamu, Za. Tiap hari ketemu," ucap Bu Dewi
Oryza hanya cemberut mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya, tapi entah kenapa hatinya merasa senang saat melihat mamanya akrab dan terlihat sayang pada Kia.
"Kalau aku bawa cewek ke rumah, sikap mama pasti B aja, tapi kenapa sama gadis berisik itu, mama begitu hangat dan terlihat sangat sayang. Apa karena dia anak sahabatnya ya? Apa aku juga harus membuka hatiku untuk gadis berisik itu. Tapi rasanya tidak mungkin kalau aku menyukainya?" tanya Oryza dalam hati
Setelah memilih konsep apa yang akan dipakai nanti saat acara pernikahannya yang tinggal sebulan lagi, Oryza tidak langsung membawa Kia kembali ke kantor. Melainkan terlebih dahulu mampir ke apartemennya.
Kini mereka sudah berada di apartemen Oryza yang bersebelahan dengan apartemen milik Kevin dan Aisha.
"Kia, sepertinya ada hal yang harus aku luruskan sama kamu," ucap Oryza setelah keduanya duduk di sofa
Kia melihat ke arah Oryza sekilas sebelum dia bertanya pada Oryza, "Memangnya ada hal apa, sampai aku harus dibawa ke sini?"
"Aku dan Yura tidak memiliki hubungan apapun selain bersahabat, karena memang rumahnya bersebelaan dengan rumahku. Jadi aku akrab sama dia," jelas Oryza
"Iya, saking akrabnya kalian melakukan hal itu di kantor. Kenapa kalian tidak meresmikan saja hubungan kalian." sarkas Kia
"Kenapa? Tentu karena aku harus menlkah denganmu. Aku tidak ingin mengecewakan mama yang terlihat sangat sayang padamu. Aku harap, kamu juga tidak mengecawakan mamamu dan juga mamaku."
Mendengar apa yang Oryza katakan, hati Kia mencelos. Namun bukan Kia namanya yang harus memperlihatkan kerapuhannya di depan orang lain.
"Oke, aku tidak akan mengecewakan mamanya Pak Oryza, selama Pak Oryza tidak mengecewakanku. Dan lagi, aku tidak mau di madu. Kalau Pak Oryza memiliki hubungan khusus dengan sekertaris anda, maka aku akan membatalkan perjodohan ini. Dengan ataupun tanpa persetujuan dari anda," tegas Kia
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
👉Next part