Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Putus


__ADS_3

Suasana pesta terlihat begitu meriah. Pesta yang diadakan Yuki, selain mengundang teman sekolahnya juga mengundang kolega papanya. Dika menggenggam tangan Allana erat saat mereka memasuki tempat di mana pesta ulang tahun itu diadakan. Sebuah pesta yang di adakan di tepi kolam renang membuat semua orang yang hadir terbawa dalam suasana pesta yang meriah.


Dika dan Allana pun menghampiri Yuki yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna pastel.


"Yuki, selamat ulang tahun! Semoga panjang umur dan sukses dunia akhirat," ucap Allana pada temannya itu seraya memberikan kado yang di bawanya


"Makasih, Lana!" sahut Yuki.


Dika pun langsung menjulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat pada Yuki, tapi Allana menahan tangan Dika. "Tidak usah bersalaman, cukup ucapkan selamat aja!" suruh Allana.


"Selamat ya Yuki!" ujar Dika dengan tersenyum manis pada teman sekelasnya itu.


"Makasih, Dika! Kalian nikmati pestanya ya!" sahut Yuki dengan menyinggungkan senyum pada Dika.


Allana memutar bola matanya malas melihat Dika yang begitu ramah pada temannya, sehingga dia pun mengajak untuk segera pergi dari sana.


Setelah mengucapkan selamat pada si pemilik acara, Dika pun mencari tempat yang nyaman untuk mereka duduk. Dilihatnya sekeliling, saat melihat Elvano dan Arabella, Dika dan Allana pun langsung menghampirinya.


"Udah lama sampai sini?" tanya Dika pada Elvano sedangkan Allana sudah asyik ngobrol dengan Arabella


"Baru, kita ngambil makan yuk!" ajak Elvano. Perutnya dari tadi terus saja berbunyi karena dia belum sempat makan malam.


"Ayok! Aku juga lapar!" Selalu saja Dika mengikuti apa yag diajak Elvano, bahkan saat bersama Elvano dan yang lain, terkadang dia ikut konyol bersama mereka.


"Hey! Kalian mau kemana?" tanya Allana.


"Makan!" kompak kedua sahabat itu.


"Aku ikut!" Arabella langsung menggandeng tangan Elvano mesra membuat Allana mejadi tanda tanya besar dengan apa yang dilihatnya. Tumben sekali kembarannya itu tidak menolak saat didekati oleh sahabatnya.


"Ada apa dengan mereka? Tumben El tidak marah pada Ara," gumam Allana.


"Ayo, katanya mau makan!" Dika langsung menarik tangan Allana agar mengikutinya menyusul Elvano.


Saat mereka sedang asyik menikmati hidangan, terdengar ada suara yang merdu menyanyikan sebuah lagu yang membuat Dika menghentikan makannya. "Cinta memang tidak harus memiliki," gumamnya.


Tak berselang lama, datang seorang pria dewasa dengan wajah tampan menghampiri keempat anak baru gede itu.


"Kalian datang juga?" sapa pria dewasa itu.


"Eh, Om Zyan! Iya Om, Yuki kan teman sekolah Lana." Allana tanpa sungkan langsung bergelayut manja di tangan kekar pria dewasa yang bernama Zyan Malik Pratama


Zyan hanya tersenyum menanggapi kemanjaan keponakannya itu seraya mengusak rambut Allana pelan.


"Kalau tahu mau datang ke sini, tadi kita berangkat bareng biar Om gak sendiri," ucap Zyan.


"Makanya Om, cepat cari Tante yang baru! Biar Tante Felly tenang karena sudah ada yang ngurus Om dan anak-anak." Elvano langsung menyeruput minuman bersoda yang dibawanya.


"Lana masih kecil El, dia belum siap jadi mama sambung." Seperti tanpa beban, Zyan bicara seolah memberi harapan pada Allana.


"Om, gak sadar umur!" ketus Elvano


Zyan hanya terkekeh mendengar apa yang keponakannya katakan, sebenarnya dia hanya bercanda tapi dia tidak sadar kalau candaannya itu justru dianggap serius oleh Allana yang selalu bersikap manja padanya.

__ADS_1


"Kamu tuh, El! Selalu saja dianggap serius." Zyan menepuk pundak ponakannya pelan. "Om, mau pulang! Lana mau ikut bareng apa mau tetap di sini?"


Allana terdiam sesaat, sebenarnya dia ingin ikut dengan Zyan, tapi bukankah datang kesini bersama dengan Dika. sampai akhirnya dia memutuskan untuk tetap bersama Dika.


"Aku nanti aja, Om! Tadi berangkat bareng Dika," ucap Allana.


"Oh, ya sudah! Om duluan ya!" pamit Zyan.


"Iya, Om!" kompak keempat anak baru gede itu.


Dika sedari tadi asyik dengan makanannya, dia tidak ingin hatinya terluka saat melihat sorot mata Allana pada Zyan yang selalu terlihat berbinar.


Setelah menghabiskan makanannya, Dika pun mengajak Allana untuk segera pulang. Suasana hatinya sedang tidak karuan. Ditambah lagi dia ingin membawa Allana ke suatu tempat.


Melihat Dika yang sedari tadi diam, Allana pun hanya menyetujui keinginan kekasih sementaranya.


"El, kita pulang duluan ya!" pamit Dika


"Belum juga dimulai pestanya sudah mau pulang saja." Elvano menyelidik raut muka Dika yang terlihat datar. Dia yakin sahabatnya itu sedang merasa tidak nyaman. " Ya sudah, hati-hati pulangnya ya! Jangan kemalaman kalau mau main dulu," pesannya.


Setelah berpamitan pada Elvano dan Arabella, Dika dan Allana pun berpamitan pada yang punya acara.


"Yuki, kita pulang dulu ya! Ada acara lain," ucap Allana.


"Yah, padahal baru mau dimulai acaranya," keluh Yuki.


"Sorry! Sekali lagi happy birthday ya!" Allana sebenarnya merasa tidak enak harus pulang duluan, tapi sepertinya dia memilih untuk ikut ajakan Dika.


Pacaran apanya, kita mau putus! gerutu Allana dalam hati.


Setelah berpamitan pada Yuki, Dika langsung mengajak Allana untuk pergi dari pesta itu.


"Dik, kita mau pergi ke mana?" tanya Allana saat mereka sudah berada di mobil.


"Ke suatu tempat yang mungkin jadi tempat terakhir kita pacaran," ucap Dika yang terus melihat ke arah jalan.


Tidak butuh waktu lama, mobil sport itu sudah memasuki kawasan pantai. Dika memarkirkan mobilnya tepat menghadap ke arah laut lepas. Dia diam tak beranjak dari tempatnya ataupun membuka seat belt yang dipakainya. Tatapannya terus menghadap ke arah laut lepas yang terlihat gelap.


"Dika, kenapa membawaku ke sini? Aku kedinginan kalau harus bermain di pantai. Lihat baju yang aku pakai!" tunjuk Allana pada bajunya.


"Kita tidak turun kho! Aku hanya ingin menagih bayaran sebagai pacar bohongan kamu," ucap Dika datar.


"Memangnya, kamu ingin bayaran apa?" tanya Allana yang merasa heran, katanya ingin meminta bayaran, kenapa tidak mengajaknya ke mall atau meminta uang.


"Kamu janji kan, akan memberinya apapun itu?" tanya Dika dengan menelisik raut muka Allana yang terlihat bingung.


"Iya, kamu bilang saja ingin apa!"


"Kiss, aku minta kiss sebagai bayaran jadi pacar kamu!"


"Ma-ma-maksud kamu ...." Allana langsung terdiam saat merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Perlahan dia memejamkan matanya, merasakan sapuan bibir Dika yang terasa lembut.


Allana seperti orang linglung menikmati setiap sentuhan bibir Dika. Dia membiarkan Dika menyesap menghisap bibir tipisnya, sampai dia merasakan kehabisan oksigen barulah Allana menepuk dada Dika meminta untuk melepaskan pagutannya. Mereka segera meraup oksigen sepuasnya untuk menetralkan gejolak hasrat yang membuncah di dada.

__ADS_1


"Lana, I love you!" lirih Dika saat keningnya dengan kening Allana beradu.


"Dika, aku-aku ...." Sekali lagi Dika tidak ingin membiarkan bibir itu mengatakan hal yang menyakitkan hatinya, sehingga dia langsung meraup benda kenyal itu mengeksplor seisi rongga mulut Allana yang membuat gadis berponi itu ikut terhanyut dan menikmati setiap sentuhan yang Dika berikan sampai suara ketukan kaca mobil menghentikan kegiatan panas yang memabukkan itu.


Tok tok tok


"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan? Sudah jam sembilan malam, pantainya mau ditutup." Rupanya penjaga pantai sedang berpatroli dan mendapati mobil Dika berada di tempat yang sepi.


Sial! Kenapa dia mengganggu kesenangan orang lain, gerutu hati Dika.


Untung saja, ada yang datang! Selamat selamat! batin Allana.


Dika membuka kaca jendela mobil dan kepalanya melongok ke luar jendela. "Maaf Pak! Tadi saya sedang nembak dia untuk jadi pacar, tapi dia menolaknya," kilah Dika.


"Kenapa ditolak, Neng? Padahal si masnya ganteng gini, kalau jadi menantuku saja bagaimana?" tanya penjaga pantai yang berwajah bringas itu.


"Saya sukanya sama dia, Pak! Ini buat beli rokok, saya permisi pulang dulu!" Dika memberikan satu lembar uang kertas yang berwarna merah muda pada penjaga pantai itu.


"Makasih, Mas! Lain kali jangan kemalaman main di pantainya," pesan penjaga pantai itu.


"Baik, Pak! Saya permisi!" Dika langsung menjalankan mobilnya keluar dari area pantai.


Allana yang sedari tadi diam tiba-tiba dia tertawa sendiri saat teringat Dika akan dijadikan menantu penjaga pantai itu.


"Dik, mungkin anaknya cantik loh! Kenapa kamu menolaknya?" tanya Allana dengan cekikikan.


"Kalau anaknya itu kamu, aku mau jadi menantunya." Dika menengok sekilas ke arah Allana kemudian dia kembali melihat lurus ke depan.


"Kenapa kamu suka sama aku? Aku 'kan galak!" selidik Allana.


"Kenapa tadi kamu mau aku cium?" Bukannya menjawab, Dika malah balik bertanya.


"Itu aku-aku...."


"Kamu susah kan menjawabnya! Padahal kamu tahu alasannya," ucap Dika menohok hati Allana.


"Sudahlah! Aku lapar, makan yuk!" ajak Allana.


Tanpa menjawab ajakan Allana, Dika langsung membelokkan mobilnya pada warung tenda yang menyediakan ayam bakar dan pecel lele.


"Gak apa-apa 'kan makan di sini? tanya Dika.


"Gak apa-apa sih, hanya saja baju aku gak matching dengan tempatnya," keluh Allana.


"Pakai jaket aku saja!" Dika langsung mengambil jaket yang ada di kursi belakang mobilnya. Setelah mendapatkan jaketnya, dia pun memakaikannya pada Allana.


Aku gak ngerti dengan perasaanku, aku hanya merasa nyaman saat bersamanya, batin Allana.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2