
Begitu banyak orang yang menonton keributan di rumah Kinan, sehingga aparat kelurahan pun turun tangan dan menggiring Kinan, Pak Sugeng dan Bu Romlah ke kelurahan.
Setelah disidang akhirnya ibu-ibu komplek membuat kesepakatan hitam diatas putih dengan Kinan. Apabila masih ingin tinggal di daerah itu, maka Kinan harus memutuskan hubungan dengan Pak Sugeng dan tidak boleh merayu lagi laki-laki yang sudah beristri. Jika Kinan melanggarnya, maka dia akan diusir dari komplek dengan tidak terhormat.
Kinan hanya pasrah menerima apapun yang dikatakan warga komplek tempat dia tinggal. Mau mengelak pun rasanya percuma karena dia sudah terciduk langsung oleh Bu Romlah dan ibu-ibu arisan lainnya.
Abizar tersenyum miring melihat Kinan yang terpojok. Seseorang yang dulu sering main bersamanya karena kemana-mana selalu menemel pada Icha, kini rasanya ingin sekali dia tertawa diatas penderitaan Kinan.
Sementara Icha menatap sendu Kinan, ingin sekali dia memberi dukungan pada Kinan tapi pasti Kinan akan menolaknya karena terlihat jelas sorot kebencian di mata Kinan.
Setelah semua warga membubarkan diri, tersisa tinggal beberapa orang yang masih bertahan di aula kelurahan termasuk Icha, Abizar, Farish dan Aldrich yang selalu berada di sisi Icha.
Melihat Icha yang berada tak jauh darinya, Kinan pun mendekat ke arah Icha. Tanpa di duga, dia langsung melayangkan tangan ke arah pipi mulus Icha.
Plakkk
Icha langsung memegang pipinya yang kebas, sedangkan Al yang tidak menyangka Kinan akan menampar Icha langsung mendorong Kinan dengan sekuat tenaga.
Brukk
Kinan terhempas dengan badannya yang menabrak beberapa kursi, membuat dia meringis kesakitan.
Pak RT yang duduk tidak jauh dari situ langsung membantu Kinan untuk berdiri.
"Ada apa lagi ini? Bukankah masalahnya sudah clear?" tanya Pak RT kaget
"Pasangan mesum itu sudah mendorong saya Pak RT," adu Kinan dengan tidak tahu malunya mengatakan orang lain mesum, lalu apa yang dilakukannya itu tidak mesum?
"Tidak perlu membelanya Pak," Al mulai bersuara dengan nada datar dan dingin yang menusuk membuat darah mendadak terasa membeku.
Al mendekat ke arah Kinan dengan sorot mata yang tajam seakan ingin mencabik-cabik mangsa di depannya.
"Wanita hina ini yang dulu menjadi otak dibalik rencana gila teman-temannya, dengan menjebakku dan Icha. Selama ini aku diam karena aku tahu istriku sangat menyayangimu, tapi hari ini kamu sudah sangat keterlaluan menyentuh batas kesabaranku," Al langsung mengeluarkan sebuah pulpen di kantong bajunya, dengan hanya menekan tombol, pulpen itu berubah menjadi sebuah samurai yang kecil dengan panjang sekitar lima puluh sentimeter.
Srett srett
__ADS_1
Tanpa ada yang menduganya, Al langsung membuat huruf x di pipi kiri Kinan setelah dia menekan tombol di pulpen itu.
"Al..." jerit Icha
Awww
Kinan meringis menahan perih di pipinya dengan darah segar yang mulai membasahi pipinya.
Semua orang tercengang melihat apa yang dilakukan oleh Al. Tidak ada yang berani bicara. Mereka bingung siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus dibela. Hingga Pak Lurah yang dari tadi menonton pun akhirnya angkat bicara.
"Maaf Nak Al, sebaiknya jangan main hakim sendiri. lebih baik kita bicarakan baik-baik." Ujar Pak Lurah lembut.
'Bisa bahaya kalau sampai menyinggungnya, bisa-bisa sumbangan untuk kelurahan di stop' pikir Pak Lurah
Melihat pipi Kinan yang berdarah, Icha pun berjalan ingin medekati Kinan. Namun langkahnya terhenti saat tangan Al mencekalnya.
"Tidak perlu menolong rubah betina itu, dia pantas mendapatkannya," ujar Al
"Aku juga tidak ingin di sentuh olehnya, culun," geram Kinan
Mendengar ucapan Kinan, hati Icha berdenyut linu. Icha tidak mengerti kenapa Kinan begitu membecinya, padahal selama bersama Kinan Icha selalu bersikap baik padanya.
"Kamu tahu! Aku tidak pernah suka denganmu, anak manja kolokan cerewet tapi kenapa selalu mendapat perhatian dari orang-orang. Sedangkan aku, selalu tidak kalian pedulikan. Aku benci sama kamu Farisha, karena kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, sedangkan aku harus bersusah payah mendapatkannya. Aku hanya ingin kamu merasakan jadi orang yang dipandang sebelah mata sehingga aku terus menghasut Marco untuk menjebakmu. Akhirnya aku bisa melihat saat semua orang mencemoohmu. Hahahaha...." Kinan tertawa getir
"Tapi lagi-lagi aku kalah, terlalu banyak orang yang berdiri di belakang si anak manja itu. Aku membencimu Farisha!" teriak Kinan
"Aku ingin sekali membencimu Kinan, dengan apa yang telah kamu lakukan padaku, tapi aku tidak bisa. Satu hal yang harus kamu tahu, kenapa akhirnya aku menyetujui bujukan Marco, karena aku berpikir dengan uang hasil penjualan mobil itu, aku bisa mengajakmu untuk kuliah bersamaku. Disaat aku memikirkan masa depanmu, tapi disaat itu pula kamu memikirkan untuk menghancurkanku. Mulai saat ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain." Icha langsung pergi tanpa menoleh lagi kebelakang.
Dia tidak ingin menjadi pendendam, sehingga Icha memutuskan untuk menganggap Kinan seperti orang asing yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Al langsung mengejar Icha begitupun dengan Abizar dan Farish. Mereka tahu bagaimana dulu Icha selalu membela Kinan, bahkan Icha sering berbagi uang jajan pada Kinan, tapi ternyata persahabatan mereka tidak sehat.
Saat sudah bisa menggapai tangan Icha, Al langsung menggenggamnya dengan erat.
"Tidak usah memikirkan orang seperti itu, lebih baik kita beli es krim yuk!" ajak Al
__ADS_1
Icha melihat ke arah tangannya yang digenggam oleh Al. 'Benar apa yang dikatakan Al, untuk apa aku memikirkannya. Toh masih banyak yang ingin bersahabat denganku' pikir Icha.
Icha menghela napas dalam sebelum menjawab ajakan dari Al.
"Ayo! Tapi gulali juga ya," tawar Icha
"As your wish," jawab Al dengan senyum mengembang
Farish yang menyusul Icha langsung merangkul pundak adiknya, "Kita pesta es krim dan gulali, di tambah permen kapas," ujar Farish
Abizar pun langsung berjalan mensejajarkan dengan Farish dan yang lainnya ikut menimpali apa yang di katakan Farish, "Satu lagi Kak, Chicken kesukaan Icha dan Dika. Yuk kita eksekusi!" ajaknya
Pada akhirnya setelah dari aula kelurahan, mereka berburu makanan untuk melepaskan kemarahan yang masih tersimpan di hati.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Icha dan yang lainnya pun pulang ke rumah, karena sudah pasti Dika menunggunya.
Saat sampai rumah, matahari sudah beranjak di ufuk barat dengan sinar jingga yang menghiasi angkasa. Terlihat Dika yang rapi dan wangi setelah mandi sore, dengan gemas Abizar menjembil pipi Dika yang mulus.
"Om jangan pegang pipi Dika," marah Dika
"Maaf deh, abisnya Om gemas sama kamu," melas Abizar
Al yang melihat Abizar menjembil pipi anaknya, akhirnya angkat bicara.
"Abizar, kamu berani jembil pipi Dika lagi, maka aku potong gaji kamu lima puluh persen," ancam Al
Glek
Abizar langsung menelan ludahnya kasar mendengar ancaman bosnya, dia lupa kalau Dika anak bos besarnya.
"Buset deh nih culun, cuma jembil pipi aja masa potong lima puluh persen. Bisa gagal kawin dong," keluh Abizar dalam hati
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...
👉Next part