
Setelah Al memastikan keadaan Icha yang sudah stabil, dia pun langsung menuju ke IGD untuk memastikan keadaan Pak Bagas. Meski sebelumnya dia sudah menyuruh Pak Komar untuk menjaganya, tetap saja Al merasa belum yakin kalau belum melihatnya langsung.
Saat sampai di sana, terlihat Pak Komar sedang duduk sendiri. Tanpa bersuara, Al pun langsung mendekatinya.
"Pak, bagaimana keadaan Om Bagas?" tanya Al pada Pak Komar.
"Kaki dan lehernya mengalami patah tulang, Den. Mungkin sebentar lagi dia akan di pindah ke ruang perawatan," jelas Pak Komar.
Al hanya mendengarkan tidak berniat untuk menanggapi apa yang dikatakan oleh Pak Komar. Pikirannya semakin bercabang, memikirkan semua kejadian yang terasa begitu mendadak. Tiap ada korban kecelakaan, dia selalu teringat pada kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.
"Den!" Al masih asyik dengan lamunannya sampai tidak mendengar Pak Komar memanggilnya.
"Den, Den Al" Dengan memberanikan diri, Pak Komar pun menepuk pundak Al sehingga Al terkaget mendapat tepukan di pundaknya.
"Iya Pak, Kenapa?" jawab Al kaget
"Itu Den, Pak Bagas dipindah ke ruang perawatan, barusan di dorong oleh perawat," tunjuk Pak Komar pada bed yang di dorong oleh perawat.
Terlihat dari jauh seorang ibu sedang berlari kecil dengan raut wajah cemas, yang terlihat jelas di wajahnya. Setelah Bi Sari memberitahu tentang kecelakaan yang menimpa Pak Bagas, Bu Mira tanpa berpikir panjang langsung menitipkan anak-anak pada pengasuh di karena dia akan ke rumah sakit.
"Al, bagaimana keadaan Bagas?" tanya Bu Mira dengan sesekali mengatur napasnya.
"Ayo ikut, Tan. Om sudah dipindah ke ruang perawatan," ajak Al.
Saat sampai di ruang perawatan yang di tuju, Al mengernyit heran dengan kamar yang di tempati oleh Pak Bagas. Kenapa tempatnya seperti ini, kenapa dia tidak ditempatkan di ruang VIP?
Tanpa berpikir lagi, Al langsung menyuruh Pak Komar untuk mengurus pemindahan Pak Bagas ke ruamg VIP.
"Pak Komar, tolong minta petugas rumah sakit untuk memindahkan Om Bagas ke ruang VIP!" suruh Al
"Baik Den!" Pak Komar langsug bergegas pergi menuju kasa pendaftaran untuk mengurus pemindahan Pak Bagas.
__ADS_1
Sementara Bu Mira yang mendengar Al menyuruh Pak Komar untuk memindahkan mantan suaminya itu pun langsung bicara, "Al memang asuransi kesehatannya untuk kamar kelas dua, nanti bayarannya mahal kalau dipindah ke VIP." Raut muka Bu Mira semakin bertambah cemas mengingat rumah sakit yang di tempati adalah rumah sakit swasta yang terkenal elit di ibu kota dengan peralatan medis yang lengkap.
"Tante tidak usah khawatir untuk masalah biaya, yang penting Om sehat kembali dan bisa berkumpul dengan kita. Ayo kita masuk Tan!" ajak Al yang langsung membuka pintu ruang perawatan Pak Bagas.
Terlihat Pak Bagas dengan kaki dan lehernya yang memakai gips. Dia sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
Bu Mira langsung menghambur memeluk mantan suaminya itu, dia menangis tersedu melihat kondisi pria yang dicintainya sangat memprihatikan. Meski rasa sakit karena pengkhianatannya, tapi rasa cinta Bu Mira masih begitu besar untuk Pak Bagas. Dia hanya butuh waktu untuk bisa menerima kembali dan melupakan kesalahan yang telah diperbuat oleh orang yang dicintainya itu.
Merasa ada yang memeluk tubuhnya, Pak Bagas pun membuka matanya perlahan. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit, tapi saat melihat wanita yang sedang memeluknya, harapan untuk kembali sembuh begitu besar.
"Mi-ra," panggil Pak Bagas
"Kamu udah sadar, Mas?" Bu Mira segera menyeka air mata dengan ujung bajunya. Dia tidak sadar kalau hal itu membuat perutnya terlihat jelas oleh Pak Bagas.
"Ma-ka-sih udah datang," ucap Pak Bagas
"Om cepat sehat, dan terima kasih untuk semuanya." Al langsung menghampiri saat tahu Pak Bagas sudah bisa berkomunikasi.
"Alhamdulillah Icha sudah stabil Om, nanti ruang perawatan Om dipindah dekat Icha saja, biar kita lebih mudah menjaga kalian berdua." Al pun memberi tahu rencana pemindahan ruangan Pak Bagas
Tak berapa lama kemudian, datang dua orang perawat yang akan membantu Pak Bagas. Sementara Bu Mira merapihkan barang yang bawaannya.
Setelah memindahkan Pak Bagas, Al pun menuju ke ruangan Icha yang ada di samping ruang perawatan Pak Bagas. Terlihat wajah pucat Icha yang masih memejamkan matanya. Al hanya menghela napas dalam melihat keadaan istrinya. Ingin sekali dia melihat Icha terbangun dari tidurnya, memeluk dan menciumnya menumpahkan kebahagiaan karena kelahiran putrinya, tapi semua itu harus ditahannya. Menunggu sampai Icha kembali sadar.
Al masih termenung sambil menggenggam tangan kekasih hatinya itu dengan erat, hingga rasa kantuk menyerangnya karena semalaman tidak tidur.
Dalam mimpinya lelaki tampan itu merasa bertemu dengan seorang gadis yang terlihat begitu ceria meski wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Dia ingin mendekat, tapi saat sedikit lagi Al menggapai tangan gadis cantik itu ternyata ada seorang gadis yang datang dan mendorong gadis ceria itu hingga jatuh. Terlihat senyum kemenangan tersungging di bibirnya saat dia melihat gadis ceria itu jatuh. Tiba-tiba jantung Al berdegup dengan kencang saat menyadari kalau gadis yang telah mendorong gadis ceria itu adalah Yura.
Keringat dingin langsung bercucuran di dahi Al hingga akhirnya dia terbangun dari tidurnya dan melihat ke sekeliling kamar rawat inap Icha. Semuanya masih sama, wanitanya masih belum membuka mata.
"Yura, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia tiba-tiba masuk ke dalam mimpiku," gumam Al
__ADS_1
Perutku sangat lapar tapi aku enggan sekali untuk makan. Sudah jam berapa ini? batin Al.
Dilihatnya jam yang menggantung di dinding, jam jam sudah menunjukkan angka 12 berarti dari kemarin dia belum makan, begitupun berganti baju. Al lupa tidak mengabari Kevin atau Aisha tentang kelahiran putrinya, begitupula mertuanya di kampung. Dia mencari jasnya, karena seingat Al handphone-nya itu dia simpan di saku jas.
Disaat Al sedang mengingat-ingat benda pipih itu, terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar.
"Masuk!" seru Al
Ceklek! Terlihat Kevin dan Aisha dengan wajah cemas masuk ke dalam ruang inap Icha dengan tentengan di tangan Aisha.
"Al bagaimana keadaan Icha?" tanya Aisha
"Dia belum siuman dari setelah malahirkan, padahal kondisinya sudah stabil," jawab Al
"Cepat mandi! Ini aku bawakan baju ganti, Bi Sari tidak bisa ke sini. Yura mengacau di rumahmu Al. Dia sepertinya ingin mencelakai Dika tapi untung seorang pengasuh melihatnya dan Yura berhasil kabur," terang Kevin.
"Lalu bagaimana keadaan Dika?" tanya Al dengan suara bergetar.
"Dika baik-baik saja, Aku sudah menitipkannya pada Tuan Andrea." Tangan Kevin menepuk-nepuk pundak Al, "kamu tenang saja, aku sudah mengirim anggota kepolisian untuk berjaga-jaga di rumahmu, aku yakin Yura gak bakal balik lagi ke rumahmu."
"Kenapa dia bisa kabur dari rumah sakit?" tanya Al
"Sepertinya dia mengelabui dokter di sana hingga dia bisa kabur," jawab Kevin
"Apa Oryza sudah tahu?" Al semakin penasaran dengan kabar yang dibawa oleh Kevin. Pikirannya terus bertanya, apa mungkin Yura sudah tahu semua tentang masa lalu orang tuanya.
"Tahu, dia sedang mencari keberadaan Yura. Polisi juga sudah menggeledah rumahnya, tapi mereka tidak menemukan Yura di sana." Dengan sabar Kevin pun memberi tahu apa yang telah terjadi.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, jangan lupa mampir juga ke karya Author yang lain....
__ADS_1
...Terima kasih!...