Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 111 Mirip siapa?


__ADS_3

Setelah Icha mengantarkan Al ke kamarnya, dia pun kembali ke bawah untuk mengambil minum dan sekalian mencari Dika, karena Al sangat merindukan putra sulungnya. Namun saat sampai di dapur, dia begitu terkejut melihat Bu Mira yang sedang mencuci piring dengan terisak.


"Tante, apa yang terjadi? Kenapa nangis?" Icha langsung mengelus lembut punggung Bu Mira yang masih terisak.


Seketika Bu Mira menghentikan pekerjaannya dan berbalik menghadap Icha. Dia langsung menghambur memeluk Icha erat. Sungguh untuk saat ini, dia sangat membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, menguatkan hatinya dari kerapuhan. Perasaan menjadi orang yang tidak berarti kini menghantui pikirannya. Membuat dia merasa ingin mengakhiri semuanya. Seandainya tidak ada Albara dalam kehidupannya, entah apa yang akan dia lakukan sekarang.


"Cha, apa Tante terlalu jelek untuk dicintai? Apa Tante tidak berhak untuk bahagia? Kenapa Tante selalu dicampakkan? Apa salah Tante, Cha?" Bu Mira terus terisak seraya memeluk Icha, hinga suara itu mampu menguraikan pelukannya pada Icha.


"Mama, kenapa menangis? Apa ada orang jahat yang nyakitin Mama?" tanya Dika yang baru datang dari taman belakang.


"Sini sayang!" ajak Bu Mira dengan melambaikan tangannya pada Dika, dan Dika pun menuruti apa yang dikatakan oleh Bu Mira.


Erat, begitu erat Bu Mira memeluk Dika, mencari kekuatan untuk hatinya yang sedang rapuh. Memang benar, dengan memeluk orang yang kita cintai, ada sebuah kekuatan yang mendorong kita untuk bangkit dan bertahan. Begitupun dengan apa yang dirasakan oleh Bu Mira, apalagi saat dia teringat dengan bayi kecilnya yang sudah pandai berceloteh, membuat dia segera menepis perasaan sedihnya dan menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipinya.


"Mama jangan sedih! Ada Dika yang jagain Mama sama adik bayi," ucap Dika tulus membuat Icha dan Bu Mira jadi terharu.


"Aku tidak menyesal telah melewati tiap masa sulit saat ingin mempertahankannya, karena Dika tumbuh menjadi anak yang penyayang. Tetaplah menjadi anak kebanggaan Mama dan Papa, Sayang."


Teringat akan tujuannya pergi ke dapur, Icha segera pamit pada Bu Mira dan membawa Dika untuk menemui papanya.


Saat sampai kamar Al, Dika langsung berlari menghambur ke dalam pelukan papanya. Meski hanya beberapa hari tidak bertemu, tapi rasa rindunya membuncah di dada.


"Papa, kenapa nginep di rumah sakitnya lama banget, Dika kan kangen sama Papa," cebik Dika.


"Papa lebih kangen lagi sama jagoan Papa yang ganteng ini." Al langsung mengurai pelukannya dan memberi beberapa ciuman di wajah Dika. Begitupun dengan Dika yang langsung menciumi wajah papanya, melepaskan kerinduan di hatinya.


"Anak Papa ganteng banget sih, mirip siapa ya?" Goda Al pada putra sulungnya.


"Tentu saja anaknya Papa, masa anak Om Abizar." Dika malah mengerucutkan bibir saat digoda oleh papanya.

__ADS_1


Merasa gemas dengan tingkah putranya, Al langsung mengacak-acak rambut Dika yang tersisir rapi. "Jangan terlalu rapi sisir rambutnya! Nanti malah dibilang culun sama mama."


"Kho culun sih, Pah. Katanya Dika ganteng," protes Dika seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, anak Papa mau model rambut kaya gimana juga sudah pasti ganteng. Noh tanyain ke mama, kenapa panggil culun sama Papa? Padahal gantengnya Papa sama Dika kan sama, sebelas dua belas." Dengan menahan senyumnya, Al melirikkan matanya pada Icha.


Sementara yang dilirik tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang standard tiap orang dalam berpenampilan kan berbeda-beda. Belum tentu saat menurut kita rapi, malah menurut orang lain mengatakan hal yang berbeda. Namun satu hal yang harus menjadi acuan, saat berpenampilan dan berpakaian apapun harus terlihat sopan dan tidak mengundang syahwat.


***


Sementara di tempat yang berbeda, terlihat Oryza dengan setia menyuapi Kia makan buah yang dibawa oleh mamanya. Semenjak tangan kanan Kia retak, Oryza selalu menyuapi Kia makan kalau mamanya sedang ada pekerjaan yang mengharuskannya pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kia, kho aku merasa lucu ya!" ujar Oryza disela-sela menyuapi Kia dan dirinya.


"Lucu gimana?" tanya Kia heran.


"Lucu aja kalau nanti kita duduk di pelaminan, kakiku pengkor dan tanganmu juga pengkot. Kita jadi pasangan pengkor," ucap Oryza dengan terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Bibir itu, sangat ingin ku kecup, ku reguk manisnya. Oh kaki, cepatlah sembuh! Aku ingin sekali mengobrak-abrik rongga mulut gadis di depanku," batin Oryza


"Za, aku minumnya udah." Kia langsung menyingkirkan gelas yang dipegang Oryza dengan mulutnya, membuat Oryza tersadar dari lamunannya.


Disimpannya gelas yang tadi dipegangnya di atas nakas. Dengan satu gerakan, tangannya langsung menahan tengkuk Kia, dan langsung meraup bibir Kia yang sedari tadi seakan terus memanggilnya. Oryza begitu menghayati pergulatan lidahnya dengan Kia. Namun kesenangan itu rupanya harus terganggu dengan kedatangan seorang gadis cantik yang tidak diharapkannya.


Prok prok prok


Terlihat Yura yang berdiri di ambang pintu seraya bertepung tangan dengan menampilkan wajah sinisnya.


"Wahhh.... rupanya kedatanganku tidak tepat waktu. Pasiennya sedang menikmati vitamin C yang memabukkan." Sinis Yura dengan menatap tajam pada Kia

__ADS_1


Mendengar suara orang yang bertepuk tangan, Oryza dan Kia segera melepaskan pagutannya.


"Eh kamu, Yura. Kenapa baru ke sini? Sudah mau tiga hari aku dirawat," ucap Oryza


"Buat apa aku datang? Kamu sendiri sudah melupakanku," ketus Yura.


"Hai anak manis! Sudahlah jangan merajuk! Memang tidak sedih melihat aku seperti ini," rayu Oryza yang sukses membuat tatapan tajam Yura menjadi sendu melihat keadaan Oryza yang seperti itu.


Seseorang yang selalu baik dan perhatian padanya. Apapun yang Yura inginkan, Oryza selalu berusaha untuk memenuhinya. Namun Yura tidak merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Baginya, orang-orang yang telah mengabaikannya pantas untuk mendapat pembalasan darinya.


Yura mendekat ke arah Oryza yang terbaring dengan kaki yang masih diangkat ke atas, dengan tatapan sendu, Yura pun bertanya pada Oryza, "Apa ini sakit?"


"Sedikit, gak usah sedih gitu! Aku baik-baik saja." Tangan Oryza terulur mengelus pucuk kepala Yura. Setiap melihat Yura dengan tatapan sendu itu, Oryza selalu teringat dengan adiknya yang sudah meninggal karena leukimia


"Yura, aku harap ini yang terakhir kamu menyakiti orang lain. Saat ada satu orang yang mengabaikanmu, sebenarnya sudah ada orang lain yang siap menyayangimu dengan tulus. Untuk yang kemarin, aku minta maaf karena meninggalkanmu di lobby. Sebenarnya aku tidak berniat begitu, hanya saja ada satu hal yang membuatku lupa," tutur Oryza panjang lebar


"Kamu tenang saja, aku yang akan membantumu menyingkirkan hal yang membuatmu lupa padaku." Yura tersenyum smirk dengan mata melirik ke arah Kia.


Melihat senyuman dan lirikan Yura yang menyiratkan sebuah arti, bulu kuduk Kia langsung meremang. Entah kenapa Kia merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya.


Sementara Oryza yang mengerti maksud dari ucapan Yura, langsung menghembuskan napasnya kasar. "Yura, kalau kamu berani menyentuh apa yang jadi milikku, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menghentikanmu dengan sekuat tenagaku."


Yura hanya tersenyum menanggapi apa yang Oryza katakan. "Coba saja kalau memang kamu bisa menghentikanku!"


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


👉Next part


__ADS_2