Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 89 Papa, maafkan Icha!


__ADS_3

Setelah semuanya siap, akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan minibus milik Al, agar bisa beristirahat dengan nyaman selama perjalanan malam menuju kota S.


Pak Komar yang memegang kemudi dengan Bi Sari yang duduk di sampingnya, menemani pak Komar agar tetap terjaga selama perjalanan. Sementara Dika langsung terlelap lagi saat Al memindakannya dari kamar ke dalam mobil.


Al terus memeluk Icha yang terus menangis dan mencoba untuk menenangkannya, "Sayang, jangan nangis terus! Lebih baik kita berdo'a untuk kesembuhan papa," bujuk Al


Tanpa menjawab apa yang Al katakan, Icha langsung khusyuk dalam do'a untuk kesembuhan papanya.


Hanya butuh waktu tiga jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai sudah sampai tujuan. Terlihat Icha yang sudah tertidur lelap, sehingga Al langsung memindahkannya ke kamar Icha. Begitupun dengan Dika yang digedong oleh Farish dan dipindahkan ke kamar Icha. Sedangkan Farish sendiri, dia langsung menuju rumah sakit untuk menemani mamanya.


Sementara Al menjadi susah tidur karena harus berbagi tempat tidur dengan Dika dan Icha, sedangkan ranjang Icha hanya berukuran quen size.


Karena matanya sulit terpejam, Al pun berpindah duduk di kursi meja belajar Icha. Dilihatnya album kebersamaannya saat masa putih abu. Puas terus membolak-balikkan album foto, al pun mencari barang lain yang menurutnya menarik. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah diary milik Icha yang tersembunyi berada di laci meja belajar.


"Aku penasaran apa yang Icha tulis di sini." gumam Al


***


Icha menggeliatkan badannya saat terdengar suara adzan subuh berkumandang. Dilihatnya tangan kekar yang sedang memeluknya dari belakang


"Al bangun, sudah subuh!" Icha mencoba melepaskan pelukan Al. Namun sepertinya Al malah mengeratkan pelukannya.


"Sayang, aku mau sholat subuh dulu ke mesjid," ucap Icha


Mendengar Icha mau ikut sholat berjamaah, Al pun melepaskan pelukannya di pingging Icha dan meraih guling utuk di peluknya.


Setelah membersihkan diri, Icha langsung menuju mesjid yang tak jauh dari rumahnya.


Semua orang merasa kaget atas kedatangan Icha, pasalnya mereka sudah bertahun-tahun tidak melihat Icha. Bahkan ibu-ibu saling berbisik membicarkan Icha.

__ADS_1


"Aku gak nyangka, Icha yang terlihat baik dan polos ternyata seperti itu. Dia rela melepaskan keperawanannya demi sebuah mobil." Meski pelan, tapi suara bisikan itu sampai juga ke telinga Icha dan sukses membuat Icha terkaget dengan apa yang dikatakan oleh para tetangganya.


Dia diam saja dan menyapa seperlunya dengan semua tetangga yang dulu dikenalnya dengan baik. Selesai sholat berjamaah, Irene mamanya Abizar langsung menarik tangan Icha agar segera pulang bersamanya dan tidak perlu mendengarkan apa yang tetangganya katakan.


Sampai di rumah Abizar, Icha pun langsung bertanya pada Irene dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Tan, apa sakitnya papa ada hubungannya dengan apa yang mereka bicarakan?" tanya Icha.


"Iya, semua berawal dari Bu Romlah yang habis membeli mobil dari showroom milik temanmu itu," jelas Bu Irene.


"Maksud tante, Marco?" tanya Icha


"Iya mungkin, cuma nama mantan istrinya Kinan yang sekarang sedang membangun rumah di ujung jalan komplek ini," terang Bu Irene


"Kinan bilang, kalian berteman karena waktu sekolah satu kelas. Dia juga bilang, kalau kamu suka taruhan pakai uang. Bahkan kamu mempertaruhkan kehormatanmu demi sebuah mobil. Apa itu benar, Cha?"


Icha hanya diam saja tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh mamanya Abizar. Terasa hatinya seperti diiris sembilu saat sahabat yang dianggap saudara justru dengan sengaja menghancurkan nama baiknya, hingga membuat papanya harus terbaring di rumah sakit.


"Tante percaya sama kamu, tapi papamu tidak kuat mendengar omongan para tetangga hingga dia anfal," terang Bu Irene


"Makasih Tan, sudah kasih tahu, Icha pulang dulu mau siap-siap buat jenguk papa." Pamit Icha pada bu Irene. namun saat di ambang pintu, Icha berpapasan dengan papanya Abizar, Pak Agung.


"Sabar ya Cha! Allah sayang sama kamu hingga memberimu ujian yang berat," tutur Pak Agung seraya menepuk pundak Icha


"Iya Om, makasih,"


Icha terus berjalan menuju rumahnya dengan sesekali menyeka air matanya yang memaksa keluar.


"Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing, apakah ini jalan hidupku yang ternoda dan harus menanggung malu karena kebodohanku. Andai waktu ini dapat kuputar kembali, aku tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi. Karena kesalahanku Dika harus mendapat bullyan dari teman-temannya. Karena kesalahanku juga, sekarang papa harus terbaring di rumah sakit. Maafkan Icha Pah!" Jerit hati Icha

__ADS_1


Brukk


Icha hampir saja jatuh kalau Al tidak sigap menangkapnya. Menyadari Al yang ada di depannya, Icha pun langsung menghambur ke pelukannya. Dengan menyembunyikan wajah di dada bidang Al, Icha menahan tangisnya yang terisak.


"Jangan di tahan sayang, menangislah jika dengan menangis membuat hatimu plong," ucap Al lembut dengan mengelus punggung istri yang sangat dicintainya.


Setelah melihat Icha yang mulai tenang, Al pun mengajak Icha untuk bersiap menjenguk Pak Yusuf di rumah sakit. Karena tadi Farish menelpon meminta Icha segera menyusul ke rumah sakit.


Saat sampai rumah sakit, terlihat Farish dan Bu Tasya sedang duduk di bangku depan ruang ICU. Icha segera menghambur dalam pelukan hangat mamanya. Keduanya larut dalam tangis kesedihan karena laki-laki yang dicintainya terbaring tak berdaya di brangkar rumah sakit. Setelah puas melepaskan kesedihannya, Icha pun masuk ke dalam ruang ICU untuk bertemu cinta pertamanya, seseorang yang selalu mengajarinya kedisiplinan dan tanggung jawab, seseorang yang selalu menggendongnya sedari kecil saat Icha tertidur di depan televisi.


Papanya memang bukan seseorang yang selalu mengungkapkan perasaannya secara langsung, tapi Icha mengerti sikap protektif dan tegas papanya itu karena rasa sayang terhadapnya.


Hati Icha mencelos melihat beberapa alat medis yang terpasang di tubuh papanya. Icha pun meraih tangan Pak Yusuf dan menciumnya.


"Papa, maafkan Icha. Jangan hukum Icha seperti ini, Icha sayang sama Papa,"


Icha terus menangis dengan menggenggam tangan Pak Yusuf, hingga ada gerakan dari tangan Pak Yusuf barulah Icha menghentikan tangisnya. Dilihatnya mata papanya yang mulai bergerak membuka matanya.


"Papa!" panggil Icha


Al yang sedari tadi berdiri di belakang Icha, mata elangnya menangkap pergerakan Pak Yusuf dan dia pun segera memberi tahu dokter untuk diperiksa.


"Icha" Pak Yusuf tersenyum melihat putrinya. Rindunya seperti terbayar saat melihat keadaan putrinya baik-baik saja.


Selama ini dia selalu takut orang-orang mencomooh putri kesayangannya, apalagi setelah kejadian yang menimpa Dika, semakin dia terus kepikiran. Hingga saat banyak tetangga yang bertanya tentang Icha, serangan jantung itu langsung menyerangnya.


"Jangan menangis, Papa baik-baik saja," lirih Pak Yusuf


...*****...

__ADS_1


👉 Next part


__ADS_2