
Sementara di lain tempat, Richard senior Allana di kampusnya dan sekarang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Allana, celingukan mencari Allana yang tak kunjung kembali. Dia baru sadar, kalau gadis yang disukainya itu belum kembali sedari tadi minta ijin ke toilet.
"Ke mana Allana? Sudah lebih dari satu jam belum juga kembali. Kenapa juga aku malah asyik ngobrol dengan Kinara? Astaga! Minuman yang tadi aku kasih kan sudah aku campur, pasti sudah bereaksi. Sial! Mau untung malah jadi buntung. Siapa cowok yang beruntung mendapat gadis jinak-jinak merpati itu?" gumam Richard seraya terus mencari keberadaan Allana.
Di saat Richard sedang mencari keberadaan Allana, netra coklatnya menangkap sosok rekan kerjanya Sasi bersama dengan papanya Allana. Mereka terlihat terburu-buru menuju ke lantai atas. Richard pun segera mengikuti ke mana mereka akan pergi. Dia naik lift setelah lift yang di naikin oleh Sasi dan Andrea. Saat sampai di lantai yang di tuju, Richard berkeliling mencari keberadaan Sasi karena dia yakin, Sasi pasti datang karena permintaan Allana. Apalagi dia datang bersama dengan papanya Allana.
Sial sial sial, kenapa Allana bisa menyadari kalau minuman yang dia minum ada campurannya. Bisa gagal rencana aku untuk mendapatkan anak bos, batin Richard.
Tanpa di sadarinya, pengawal Andrea menangkap gerak-geriknya, sehingga dia pun segera melaporkan pada tuannya.
***
Keesokan harinya, saat adzan subuh berkumandang, Icha terbangun dari tidurnya dan segera membangunkan suaminya untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta, Al langsung mengecek handphone-nya. Biasanya saat bangun tidur, pasti banyak e-mail yang masuk dari perusahaannya yang di luar negeri. Namun, Al merasa kaget saat membaca pesan dari Dika yang mengatakan, dia tidak akan pulang karena bermalam dengan Allana di hotel Zinc. Tak ingin menunggu lama lagi, Al segera bergegas merapikan pakaiannya membuat Icha menjadi heran pada suaminya.
"Sayang mau ke mana, buru-buru sekali?" tanya Icha saat melihat suaminya yang panik.
"Dika," jawab Al datar.
"Kenapa dengan Dika?" Icha ikut panik saat mendengar nama putra sulungnya. Karena memang dari tadi sore setelah dia berpamitan, Dika belum kembali ke rumah. Pikiran buruk langsung menguasai kepalanya. Berbagai prasangka menari-nari di benaknya.
"Mau ikut?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Al membuat Icha semakin memiliki prasangka yang tidak-tidak.
"Ikut, nanti aku titip Zip pada Bu Sari saja. Sekarang dia masih tidur." Icha pun segera mengganti baju dan mengikuti suaminya.
Saat sampai di hotel yang dituju, Al segera menanyakan kamar yang di sewa oleh Dika. Sampai di sana, Al pun langsung membuka pintu yang memang tidak dikunci dari dalam.
Icha langsung menutup mulutnya melihat pemandangan di depannya. Hatinya hancur melihat Dika tidur bersama seorang gadis di saat mereka belum sah menikah. Bayang masa lalunya berputar-putar di kepalanya. Dia takut kesalahan yang Al lakukan, dilakukan oleh putranya juga.
Sementara Al langsung membangunkan Dika yang tanpa baju, hanya berselimut tebal sedang berpelukan dengan seorang gadis yang dia ketahui sebagai masa lalu putranya.
__ADS_1
"Dika, bangun!" sentak Al.
Mendengar ada suara yang mengagetkannya, Dika langsung membuka matanya. Begitu pula dengan Allana. Kedua terlihat kaget melihat keadaan masing-masing.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Allana saat mendapati dirinya tidak memakai baju, begitupun dengan Dika yang bertelanjang dada.
"A-aku tidak tahu!" jawab Dika gugup.
"Dika, kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan! Cepat nikahi Allana sebelum benih yang kamu sebar menjadi besar." Al sangat dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak ingin apa yang terjadi pada Dika saat masih kecil harus dirasakan kembali oleh cucunya.
"Dika mau tanggung jawab, Pah! Tapi kejadiannya tidak seperti yang papa lihat. Dika juga tidak mengerti kenapa bisa satu kamar dengan Lana? Seingat aku, kemarin sedang bersama dengan Arkana di bar." Dika berusia untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Dia pun tidak ingat kenapa bisa berakhir di tempat tidur bersama Allana. Apalagi, ini pertemuan pertama mereka setelah lima tahun berpisah.
Sementara Allana hanya menangis terisak dengan menarik selimut agar menutupi tubuhnya. Samar-samar dia teringat dengan kejadian saat di pesta pernikahan. Yang mana dia mendadak merasakan panas di tubuhnya, sehingga menyuruh pengawal membooking kamar dan menghubungi papanya. Setelah tahu nomor kamarnya, Dia langsung pergi meninggalkan pengawalnya yang masih mengurus pembayaran. Namun, ternyata takdir membawanya kembali pada mantan kekasih yang selalu dirindukannya.
Melihat Allana menangis, Icha langsung menghampiri untuk menenangkannya.
"Sayang, jangan khawatir, Dika pasti bertanggung jawab! Maafkan putra Tante!" Icha langsung memeluk Allana dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Sudah! Sekarang kamu bersihkan badan kamu, kita langsung ke rumah Allana untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu." Al langsung duduk di sofa seraya memijit keningnya. Kepalanya terasa hampir meledak. Di saat Philip datang untuk meresmikan perjodohan Dika dan Kattie, di saat itu pula putranya tidur dengan gadis yang menjadi teman kecilnya. Ibaratnya mundur kena maju kena.
Melihat suaminya seperti menahan sakit di kepalanya, Icha pun berniat untuk mengajaknya turun ke restoran hotel mencari sarapan, sekaligus membiarkan pasangan muda-mudi itu membersihkan diri.
"Sayang, Tante dan Om menunggu di restoran ya! Kalian cepat mandi! Nanti kita sarapan bersama," Icha mengurai pelukannya dan beranjak ke arah suaminya. "Sayang, kita turun saja! Masa mau melihat orang mandi," ajaknya.
"Iya! Dika, mandinya jangan nambah! Papa dan Mama menunggu di bawah." Al langsung berdiri dan merangkul pinggang Icha, kemudian segera keluar dari kamar hotel.
Selepas kepergian orang tuanya, Dika melihat ke arah Allana dengan bahu yang terbuka. Dia pun mengikis jarak dengan gadis yang mampu meluluhlantakkan hatinya.
"Lana, aku senang kita bisa bertemu kembali. Aku minta maaf dengan semua yang terjadi! Aku juga tidak ingat kenapa kita bisa berakhir di tempat tidur, tapi satu yang pasti, aku pasti bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di antara kita." Dika menatap lekat gadis yang sedang menunduk itu. Desiran-desiran di hatinya begitu hebat saat dia bisa melihat kembali gadis yang dicintainya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf! Aku juga salah, sebenarnya semalam ada seseorang yang ingin mencelakaiku dengan mencampurkan sesuatu pada minumanku. Namun, saat aku akan ke kamar untuk mendinginkan suhu tubuhku, ternyata salah masuk kamar." Allana pun mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa aku harus berterima kasih pada orang yang ingin mencelakai kamu? Dia sudah berjasa untuk mempertemukan kita." Dika tersenyum lebar membayangkan kalau dia akan menikah dengan kekasih hatinya.
"Dika, kalau kamu keberatan, kamu tidak perlu menemui papaku." Allana langsung menunduk. Dua teringat kalau Dika sudah dijodohkan.
"Sut! Jangan bicara seperti itu! Aku pasti akan bertanggung jawab padamu dan calon anak kita." Dika semakin mengikis jarak diantara keduanya. Kerinduan yang membuncah di dadanya kini mereka salurkan dalam sebuah ciuman di pagi hari. Dika terus memainkan Indra pengecapnya di dalam rongga yang dulu selalu mengeluarkan kata-kata ketus padanya. Keduanya semakin terbuai dalam tiap gesekan kulit yang langsung bersentuhan hingga suara dobrakan pintu menghentikan mereka yang saling melepaskan kerinduan.
Brak!
"Hentikan! Kalian belum resmi menikah," Sentak Andrea yang baru datang.
Dika dan Allana langsung saling melepaskan pagutannya. Malu, mereka sangat malu ketahuan oleh papa dan calon papa mertuanya.
"Maaf, Om!" Dika menunduk dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Begitu pula dengan Allana.
"Lana, cepat kamu mandi! Papa mau bicara dengan Dika dulu." Andrea langsung duduk di sofa dengan mata tajamnya melihat ke arah dua anak muda di depannya. Dalam hatinya, dia ingin sekali menertawai kedua anak muda yang saling memungkiri perasaannya sendiri.
Rasain kalian! Pura-pura gak cinta tapi tidak bisa saling melepaskan satu sama lain. Andrea terkekeh dalam hati
Allana hanya menurut dengan apa yang papanya katakan. Dia takut papanya murka dengan semua kesalahannya. Allana menggulung tubuhnya dengan selimut hingga menyisakan Dika yang hanya memakai celana pendek saja.
Selepas kepergian Allana, Dika menengok ke arah bekas Allana tidur. Setahu dia, akan ada bercak darah jika melakukan untuk yang pertama kalinya. Terlihat memang ada setitik darah kering di seprai sehingga dia pun berasumsi kalau semalam memang telah terjadi sesuatu di antara dirinya dengan Allana, tapi kenapa dia tidak bisa mengingatnya.
"Dika, pakai bajumu! Kemari duduk dekat Om!" Andrea melambaikan tangannya mengajak Dika untuk duduk bersamanya.
"Baik, Om!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...