
Libur semester telah usai, kini semua pelajar sudah mulai kembali bersekolah seperti biasanya. Tidak terkecuali dengan Dika yang selama libur semester selalu berkunjung ke rumah Allana. Meskipun dia selalu mendapatkan jawaban yang sama dari satpam rumah kekasih hatinya itu. Dika selalu berharap bisa bertemu dengan Allana dan meminta penjelasan langsung darinya. Namun, berkali-kali dia mencari tapi tetap tidak bisa bertemu dengan Allana.
Terpancar harapan baru di wajah Dika. Dia berpikir, mungkin nanti di sekolah dia akan bertemu dengan Allana karena pasti gadis itu akan masuk sekolah seperti dirinya. Dika sengaja berangkat pagi sekali karena berniat untuk menjemput Allana di rumahnya.
Sesampainya di rumah Allana, Dika langsung masuk setelah dipersilakan oleh tuan rumah. Nampak Andrea yang menyambut kedatangan Dika.
"Assalamu'alaikum," ucap Dika.
"Wa'alaikumsalam, masuk Dik!" suruh Andrea.
"Apa kabar, Om?" tanya Dika seraya mencium punggung tangan kanan Andrea.
"Alhamdulillah, Om baik!" ujar Andrea.
"Om, apa Lana sudah siap? Aku mau menjemputnya untuk berangkat bareng." Dika mengedarkan pandangannya, berharap Allana keluar dari pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga.
Andrea menghela napas dalam sebelum dia menjawab pertanyaan Dika. Sebenarnya dia merasa kasihan pada teman anaknya itu, tapi ayah dari dua anak itu menghargai keputusan putrinya untuk pergi jauh dari kehidupan Dika. Meskipun sebenarnya dia sedikit tersinggung dengan penolakan rekan bisnisnya pada Allana, akan tetapi dia bisa memakluminya. Mengingat bagaimana sikap Allana selama ini pada Dika.
"Dika, sebelumnya Om minta maaf! Mungkin kabar yang Om kasih kurang berkenan di hatimu. Sebenarnya Allana sudah tidak ada di negara ini lagi. Dia memutuskan untuk melanjutkan studi-nya di luar negeri. Om harap, kamu bisa mengerti dan tidak usah mencarinya lagi. Kejarlah cita-cita mu dulu, kalau kalian memang berjodoh, pasti Tuhan akan mempertemukan kalian kembali." Meskipun tidak tega, tapi akhirnya Andrea mengatakannya juga.
"Boleh aku tahu Om, dimana Allana melanjutkan studi-nya?" tanya Dika dengan sorot mata penuh harapan.
"Untuk hal itu, Om juga minta maaf tidak bisa memberitahu kamu. Om menghargai keputusan Allana untuk mengejar mimpinya tanpa ada gangguan dari mana pun." Andrea melihat wajah Dika yang lesu membuat dia jadi teringat dengan masa mudanya dulu, saat dia mencari keberadaan istrinya untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Sampai akhirnya dia membuat kebohongan agar segera dinikahkan dengan Mitha.
Semoga Dika tidak berpikir licik sepertiku dulu saat ingin mendapatkan Mitha, batin Andrea.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Om. Takut kesiangan!" pamit Dika.
"Hati-hati di jalan!" pesan Andrea saat Dika mencium punggung tangannya.
Andrea hanya melihat kepergian Dika dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kasihan sekali kamu, Nak! Hidupmu tidak sesempurna fisikmu. Padahal aku sangat berharap, Allana memiliki pemdamping hidup sepertimu. Semoga saja Allah menjodohkan kalian berdua, batin Andrea.
Andrea berbalik masuk ke dalam, nampak putri semata wayangnya sedang duduk di sofa depan televisi. Dia yakin, kalau sebenarnya Allana menguping pembicaraannya dengan Dika.
__ADS_1
"Sudah puas belum nyiksa anak orang?" tanya Andrea yang merasa gemas dengan keputusan putrinya.
"Lana bukan nyiksa, Pah. Lana hanya mau, kita sama-sama melupakan," lirih Allana.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di mansion. Papa sudah menyiapkan beberapa guru privat. Pergunakan waktu selama enam bulan ini untuk lebih banyak belajar ilmu kedokteran. Bukankah ingin masuk kedokteran?" Andrea langsung duduk di samping putrinya.
"Pah, jangan banyak-banyak kasih aku guru privatnya. Nanti aku pusing!" rengek Allana.
"Itu kan keinginanmu sendiri yang memutuskan home schooling. Papa hanya memberikan fasilitas agar kamu lebih banyak belajar ilmu di luar sekolah." Andrea bicara dengan entengnya.
"Pah, kenapa tega?" Allana langsung memasang wajah memelas di depan papanya.
"Sudah, Lana! Itu sudah final. Mungkin hari ini profesor yang papa datangkan dari berbagai negara untuk mengajarimu sudah tiba di mansion. Bersiaplah untuk menerima banyak ilmu baru!" Andrea langsung pergi meninggalkan putrinya yang sedang melongo dengan keputusannya. Dalam hatinya dia ingin sekali tertawa melihat ekspresi Allana.
Papa kebangetan nyuruh aku belajar terus, kalau sudah di mansion pasti harus belajar dengan serius, gerutu Allana dalam hati.
Elvano merasa miris membayangkan harus berkutat dengan buku-buku tebal setiap hari, sedangkan Joen hanya menanggapinya biasa saja. Karena sudah keseharian dia berkutat dengan buku-buku tebal.
***
Setibanya di sekolah, Dika langsung mencari Arkana. Dia yakin, pasti sahabatnya itu tahu tentang Allana.
"Sudah, Dia ada di dalam. Masuk saja!" suruh Rafa.
"Makasih ya!" ujar Dika.
Rafa hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan Dika, sedangkan Dika lgsung berlalu pergi menuju ke dalam kelas.
Dika mengedarkan pandangannya melihat seisi kelas untuk mencari keberadaan Arkana. Setelah dia menemukannya, kemudian Dika pun langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Ar, bisa aku bicara?" tanya Dika saat sudah berhadapan dengan Arkana.
"Tentu saja! Yuk kita bicara di luar, di sini terlalu berisik." Arkana langsung merangkul bahu Dika membawanya ke luar kelas.
Saat sampai di taman depan kelasnya, Arkana pun mengajak Dika untuk duduk di bangku taman.
__ADS_1
"Ada apa mencariku?" tanya Arkana.
"Aku ingin tahu, di negara mana Allana tinggal?" tanya Dika.
"Aku gak tahu, Dik! Karena sepulang dari pulau Cinta, mereka langsung ke luar negeri, katanya menjenguk kakeknya Allana yang sedang sakit." Arkana menepuk pundak Dika lalu melanjutkan bicarannya. "Sudahlah, Dik! Kamu jangan terlalu memikirkannya. Dia pasti baik-baik saja! Kalau kalian memang jodoh, pasti bertemu kembali."
Dika melihat ke arah sahabatnya, memikirkan apa yang Arkana katakan. Mungkin memang benar apa yang dikatakannya, tapi hatinya selalu merasa kalau Allana masih dekat keberadaannya hanya saja, dia tidak tahu tepatnya Allana berada,
"Aku ke kelas dulu, sebentar lagi bel." Dika langsung beranjak pergi setelah berpamitan dengan sahabatnya.
Dika berjalan dengan lesu menuju ke kelasnya. Terlalu banyak pertanyaan yang dia simpan tentang keberadaan kekasihnya itu. Saat sampai di kelas, dia melihat Arabella yang sedang duduk seraya menelungkupkan kepalanya di meja.
"Kenapa aku tidak tanya dia saja. Pasti Ara tahu di mana Lana berada," gumam Dika.
Setelah menyimpan tasnya, Dika pun duduk di kursi yang biasa Allana duduki.
"Ara, kamu tahu di mana Allana sekarang?" tanya Dika yang sukses mengagetkan Arabella yang sedang tidur ayam.
Arabella membuka matanya melihat ke arah Dika yang sedang melihatnya penuh harap. "Aku tidak tahu! Dia tidak memberitahu aku di mana dia sekarang. Lagian kamu, Dik! Udah punya pacar masih mesra-mesraan dengan bule itu. Aku juga kalau jadi Allana pasti milih nyerah kalau melihat cowoknya tidurin cewek lain di depan mata," sungut Arabella yang keceplosan.
"Maksud kamu apa, Ara? Aku gak nidurin anak orang," sanggah Dika.
"Alah ngomong sana sama bantal! Aku juga lihat kamu sama Kattie sedang ciuman di kamar bule itu, karena aku sama Lana niatnya mau ke toilet yang ada di kamar, tapi saat lewat depan kamar si bule, sungguh kelakuanmu menodai mataku." Arabella tidak bisa berpura-pura tidak melihat seperti Allana. Dia merasa kesal karena Allana memutuskan untuk home schooling.
"Kamu salah paham, Ara. Kejadiannya tidak seperti itu. Waktu itu aku jatuh dan tidak sengaja menimpa Kattie," jelas Dika yang merasa kaget dengan apa yang Arabella katakan. 'Pantas saja dia memutuskan untuk pergi' pikirnya.
"Telat! Semua alasanmu tidak akan membuat Allana kembali ke sekolah. Om Andrea sudah mengirimnya jauh," ketus Arabella.
Dika terhenyak di tempatnya, hanya satu harapannya, semoga Tuhan menjodohkannya dengan Allana.
Semenjak Dika tahu dari Arabella mengenai alasan Allana menjauh darinya, hari-hari Dika dihabiskan dengan belajar dan belajar. Dia sudah tidak menanggapi Kattie lagi saat gadis itu menghubunginya. Bahkan, rencana awalnya dia mau melanjutkan kuliah di Oxford University seperti papanya, dia batalkan karena tidak ingin berhubungan lagi dengan Kattie.
Hal itu membuat papanya Kattie menegur Al untuk mengingatkan Dika tentang perjodohan yang sudah diatur oleh keluarga besar Austin yang merupakan keluarga besar neneknya Al. Mendapat teguran dari sahabat sekaligus saudaranya, membuat Al berpikir berulang kali. Dia tidak mau memaksakan sesuatu pada Dika termasuk mengenai perjodohan itu.
Aku tidak mungkin merampas kebahagian Dika dengan memaksanya mengikuti perjodohan itu. Dulu, aku pikir Dika juga menyukai Kattie karena selama yang ku lihat mereka terlihat akrab. Namun ternyata aku salah, batin Al.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...Jangan lupa like, comment, vote, rate, gift, dan favorite ya!...