Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 146 Rencana pergi


__ADS_3

Meski berat melepaskan bayi yang tidak berdosa itu diasuh oleh Tuan Satya yang sudah berusia lanjut, tapi Al begitu menghargai keputusan sahabat kakeknya itu.


Semenjak perbincangan itu, Kakek Satya kini tinggal di rumahnya bersama dengan cicit satu-satunya dan pengasuh yang biasa mengasuh Dave semenjak bayi bermata biru itu dibawa ke tanah air.


Seminggu sudah Raka dimakamkan, rencananya hari ini Tuan Satya akan kembali ke London bersama dengan Tuan Ardi. Dua sahabat itu seolah enggan dipisahkan, kemana pun salah satunya pergi, maka yang satunya lagi pasti mengikuti.


Namun, saat mereka sedang bersiap untuk keberangkatannya, tak ada hujan tak ada angin, Elisa datang ke rumah mertuanya dengan menangis tersedu-sedu. Namun Tuan Satya seperti sudah tak menganggap Elisa sebagai menantunya lagi.


"Hiks ... hiks ...hiks ... Papa bagaimana ini bisa terjadi, kenapa Raka begitu cepat meninggalkanku?" Elisa sesekali menghapus air matanya dengan tissue yang dia bawa.


"Sudahlah, Elisa! Hentikan sandiwara kamu! Terima kasih kamu sudah datang untuk berbelasungkawa atas kematian Raka." Tuan Satya langsung memalingkan muka, enggan melihat wajah menantunya yang penuh kepalsuan.


"Papa, kenapa selalu saja tidak menyukaiku? Salahku apa?"tanya Elisa sendu.


"Rasanya, aku tidak perlu memberi tahu tentang apa kesalahanmu. Karena kamu sudah tahu sendiri dengan kesalahanmu." Tuan Satya langsung berlalu pergi meninggalkan Elisa sendiri di ruang tamu.


"Tuan Satya, bukan salahku jika aku sudah tidak peduli pada putramu, tapi dia sendiri yang memulai mengkhianati aku. Dia memelihara lebih dari satu gadis belia untuk dijadikan budak napsunya. Sementara aku menjadi pajangan di rumah megahnya," teriak Elisa saat melihat Tuan Satya berlalu pergi meninggalkannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Elisa, Tuan Satya memejamkan matanya, menahan rasa sakit di hatinya karena dia merasa gagal dalam mendidik putra satu-satunya.


Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada mantan mertuanya, Elisa pun pergi dari rumah Tuan Satya.


Kamu tidak sadar juga. Karena pengaruh darimu, Raka menjadi orang yang serakah.


...***...


Sementara Al mulai berbenah di rumahnya, sebelum dia kembali menempati rumah peninggalan orang tuanya itu.


Setelah merasa semuanya beres, dia pun kembali membawa anak dan istrinya ke rumah. Sedangkan Pak Bagas dan Bu Mira sudah berangkat ke kota S, tempat pria berusia 40 tahun itu dinas.


Sebenarnya Pak Bagas sudah mengajukan pensiun dini, tapi pengajuannya di tolak karena alasannya yang tidak bisa diterima oleh pusat.

__ADS_1


Kini rumah yang beberapa hari lalu terlihat mencekam, sudah terasa hidup kembali. Kehadiran keluarga kecil Al membuat suasana ceria di rumah itu.


"Kakek, ada hal yang ingin aku katakan," ucap Al saat kedua pria berbeda generasi itu sedang menikmati secangkir kopi di sore hari.


"Ada apa, Al? Soal Putra Group itu? Kakek sudah melimpahkan semua saham Kakek untuk kamu," ucap Tuan Ardi seraya meniup kopinya yang terlihat masih keluar asap.


"Kalau soal itu, aku sudah membagi dua saham aku untuk Dika dan Zee. Sementara 10% saham Kakek sudah aku atas namakan Dave," ungkap Al.


"Kenapa besar sekali sampai 10%?" tanya Tuan Ardi merasa kaget dengan apa yang dikatakan cucunya.


"Kakek Satya sudah tua, tidak mungkin bisa mendampingi Dave terus. Sementara perusahaan Pradipta sekarang sudah collapse. Aku tidak mau nanti Dika atau Zee berebut saham yang aku miliki makanya aku bagi dari sekarang," jelas Al.


"Pikiranmu sangat jauh, sampai memikirkan ke sana. Padahal anak-anakmu masih kecil." Tuan Ardi langsung menghabiskan setengah gelas kopi yang ada di tangannya.


"Aku hanya tidak ingin anak keturunanku berebut harta warisan." Lagi-lagi jawaban cucunya membuat Tuan Ardi merasa bangga dengan pemikirannya.


"Kakek bangga padamu, Al! Oh iya, apa yang ingin kamu katakan? Apa ada hal yang penting?" tanya Tuan Ardi seraya menyimpan gelas kopinya ke meja.


"Maksud kamu?" Tuan Ardi kaget dengan apa yang cucunya katakan.


"Yura kemarin ini mengacau di rumah. Dia menganggap dirinya diabaikan oleh kita sebagai keluarganya," terang Al.


"Aku penasaran dengan apa yang terjadi di antara Papa dan mamanya Yura sehingga melakukan test DNA untuk membuktikan kebenarannya, ternyata hasilnya negatif." Al memberikan amplop berwarna coklat pada kakeknya.


"Maksud kamu?" Tuan Ardi menautkan alisnya, dia bingung dengan apa yang dikatakan oleh cucunya.


"Yura berpikir, dia anaknya papa." Al langsung meminum kopinya yang sudah tidak panas lagi.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya pada gadis itu? Sehingga dia tidak salah paham terus pada kita," tanya Tuan Ardi.


"Aku enggan bertemu dengannya. Aku minta tolong pada kakek untuk memberikan surat hasil DNA ini padanya," pinta Al.

__ADS_1


"Baiklah! Kakek akan mengundur keberangkatan ke London," ucap Tuan Ardi.


"Terima kasih, Kek! Aku ke dalam dulu," pamit Al pada Tuan Ardi.


Tuan Ardi hanya menatap punggung cucunya yang berlalu pergi, dia hanya berharap kebahagiaan akan selalu menyertai kehidupan cucunya.


Sementara Al, setelah berbincang dengan kakeknya, dia langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Al masih bingung dengan rencana hidupnya. Di satu sisi, dia ingin menetap di sini tapi di sisi lain perusahaan yang dia bangun dari nol di negeri orang sedang membutuhkannya karena begitu pesat permintaan pasar atas jasa desain arsitektur yang dibuat oleh perusahaannya.


Saat sampai di kamar, nampak Icha yang sedang memberi ASI pada Zee. Putrinya yang semakin hari semakin menggemaskan.


Al langsung merebahkan badannya di samping Icha dan memeluk istrinya dari belakang. Dia menyusupkan kepalanya ke leher belakang Icha, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu dia rindukan di setiap waktunya.


"Sayang, kalau kita ikut berangkat ke London bersama Kakek, apa kamu keberatan?" tanya Al lembut.


"Kenapa jauh sekali? Aku gak bisa bahasa Inggris," ungkap Icha.


"Nanti aku ajarin, kalau sudah di sana pasti kamu cepat lancarnya." Al terus mencium leher belakang Icha, membuat si empunya merasa kegelian sendiri.


"Sayang, aku kangen!" Al terus mengikis dengan istrinya hingga badan mereka kini saling menempel satu sama lain.


"Sayang, baby Zee masih lapar. Sabar dulu, ya! Sampai dia tidur dengan pulas," bujuk Icha.


"Sayang, aku gak tahan lagi!" rengek Al sudah seperti anak kecil yang meminta jajan pada ibunya.


"Sabar! Sebentar lagi Zee pulas," ucap Icha.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Icha, setelah Baby Zee tertidur pulas, dia segera melepaskan sumber kehidupannya. Sehingga Al segera membopong Icha menuju sofa bed yang ada di kamarnya. Dengan tidak sabaran, Al langsung mengungkung Icha dan mendapatkan vitaminnya yang selalu membuat dia merasa ketagihan.


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik di like comment vote rate gift dan masukin juga bisa ke favorite!...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2