
"Kamu jangan becanda Bi! Aku kho nggak pernah dengar" elak Icha dengan menyembunyikan rasa sakit hatinya.
"Ck! Nggak usah pura-pura kuat depan aku, Cha. Aku tahu kalau kamu terluka" ucap Abizar
"Kamu tuh orang paling nyebelin Abizar. Kenapa aku nggak bisa bohong sama kamu" cebik Icha
"Karena Aku bayangan kamu. Meskipun kamu bersembunyi, asalkan ada sedikit cahaya, aku pasti bisa menemukanmu. Begitupun dengan raut wajahmu, meski kamu menyembunyikan perasaanmu, asalkan aku bisa melihat raut wajahmu dan tatapan matamu, aku bisa memastikan kebenaran dari ucapanmu" jelas Abizar
"Terus aku harus gimana Bi? Kemarin dia nemuin aku di apart dan minta aku jangan percaya apapun yang aku dengar" ucap Icha sendu
Flashback on
Dengan langkah gontai Icha menuju lantai 10 apartement yang di tempatinya. Namun saat Icha sampai depan apartementnya, Al langsung menarik tangan Icha agar masuk ke apartement miliknya. Icha yang masih kaget, hanya mengikuti saja kemana Al membawanya.
Sesampainya di dalam apartement, tanpa bicara Al langsung memeluknya erat. Icha yang akan melepaskan pelukan, ditahan oleh Al dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Please sebentar aja, Cha. Aku kangen banget sama kamu" lirih Al
"Kamu kenapa Al? Apa ada masalah?" tanya Icha
"Masalahku hanya satu, aku tidak mau jauh lagi sama kamu, Cha" jujur Al
"Al, aku sesek! Kamu kekencengan meluk akunya" protes Icha
Al langsung melepaskan pelukannya dengan terkekeh. Betapa tidak, Al dengan rela menurunkan gengsinya dan jujur dengan perasaannya, Icha malah protes karena pelukannya terlalu erat.
"Masih sesek?" tanya Al dengan mengulas senyum.
Entahlah semenjak Al bertemu lagi dengan Icha, olah raga bibirnya jadi semakin sering.
"Udah nggak sekarang mah, Al aku haus" keluh Icha
"Sebentar aku ke dapur dulu" pamit Al
Al pun datang dengan membawa dua minuman dingin di tangannya. Icha segera menerima minuman yang Al berikan.
"Cha sini duduknya deketan, kita kayak musuhan kalau jauhan gini" protes Al saat Icha memilih duduk di ujung sofa.
"Kemaren-kemaren emang kita musuhan Al, kalau kamu lupa."
"Iya, musuh dalam selimut" jawab Al enteng.
Icha langsung melototkan matanya mendengar apa yang Al katakan. Sedangkan Al hanya bersikap cuek. Al pun berpindah duduknya karena Icha tidak mau mendekatinya.
"Cha, lihat aku! Aku mau ngomong serius sama kamu" pinta Al
Icha pun duduknya menghadap ke arah Al dengan menyilangkan kakinya di atas sofa.
__ADS_1
"Ada apa sih Al?" tanya Icha dengan tidak sabaran
"Lihat aku Cha! Hanya ada kamu di mata dan hati aku. Apapun yang kamu dengar diluaran sana, ku mohon jangan mempercayainya" ucap Al
"Aku nggak ngerti dengan maksud kamu Al, memangnya orang-orang sedang gosipin apa? Apa kamu sebenarnya sudah nikah?"
Al hanya menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan Icha.
"Aku hanya ingin nikah kalau sama kamu, Cha"
"Kamu kho semakin ngaco Al, bukankah kita hanya berteman"
"Aku serius dengan perasaanku, Cha"
Pembicaraan mereka pun terhenti karena Icha ditelpon untuk segera pulang oleh Tante Mira.
Flashback off
"Bagaimana perasaan kamu sama dia, Cha?" tanya Abizar
Icha terdiam, bingung harus bicara apa.
"Aku..." belum selesai Icha bicara, Abizar sudah memotongnya.
"Udah nggak usah dilanjutin, aku sudah tahu jawabannya" potong Abizar
Icha hanya mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Abizar bisa menebak isi hatinya.
Abizar hanya mengusak kepala Icha gemas. Hingga datang seseorang ke meja mereka.
"Siang Pak Abizar, Mbak Icha" sapa seseorang yang bernama Angkasa Dewantara, putra pemilik Angkasa Raya Group yang merupakan klien perusahaam tempat Icha dan Abizar bekerja.
"Siang juga Pak Akas" jawab Abizar seraya menjulurkan tangannya hendak bersalaman.
"Siang Pak" sahut Icha
"Maaf mengganggu waktunya sebentar, boleh saya meminta no ponsel Mbak Icha?" pinta Akas
"Tentu saja boleh Pak, iya kan Cha?" serobot Abizar
"Eh iya Pak, boleh!" ucap Icha
Icha pun langsung memberikan no handphonenya pada Akas.
"Terima kasih Mbak! Saya kembali ke meja dulu, karena sepertinya Pak Abizar dan Mbak Icha sudah selesai makan" pamit Akas
"Sama-sama Pak!" kompak Abizar dan Icha
__ADS_1
Setelah Akas kembali ke mejanya, Abizar dan Icha pun segera beranjak pergi kembali ke kantor.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kantor, karena jarak restoran dan kantor yang tidak terlalu jauh.
Sesampainya di perusahaan Putra Group, Icha dan Abizar masih meneruskan candaan mereka hingga tidak sengaja berpapasan dengan Al dan Kalisa yang baru kembali dari makan siang.
Abizar dan Icha sedikit membungkukkan badan mereka sebagai penghormatan kepada atasannya sebelum mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke ruang kerjanya.
Kalisa tersenyum remeh saat melihat Icha, karena posisi sekrtaris, sekarang dia yang tempati.
Sedangkan Icha terlihat masa bodoh, dia langsung menggandeng mesra Abizar seperti apa yang dilakukan Kalisa pada Al. Hingga suara bariton itu menghentikan langkah mereka.
"Tunggu!" seru Al
Icha dan Abizar sontak saja menghentikan langkahnya.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Abizar bingung
" Apa kalian bekerja hanya untuk memamerkan kemesraan? Dimana tanggung jawab kalian" tegur Al
"Maaf Pak, maksud Pak Al gimana" tanya Abizar bingung
Al tidak menjawab pertanyaan Abizar, dia malah memanggil Kevin yang ada di belakangnya.
"Kevin buat peraturan baru, bahwa selama berada di sini, tidak boleh ada yang memperlihatkan kemesraannya di lingkungan perusahaan. Kalau ada yang melanggar, salah satu dari pasangan itu harus mengundurkan diri" tegas Al. "Termasuk juga kamu Kalisa," imbuhnya
"Baik Pak!" ucap Kevin
"Bilang aja cemburu Al, lihat Icha menggandeng tangan Abizar mesra gitu, ditambah lagi dari mulai masuk kantor mereka asyik bercanda" monolog hati Kevin
Al langsung berlalu pergi melewati Icha dan Abizar. Sungguh Al tidak rela melihat Icha bermanja-manja pada lelaki lain, Termasuk Abizar.
"Dasar bos aneh" gerutu Icha
"Ngatain aneh tapi cinta mati" cibir Abizar
"Biarin! Tapi Bi, aku kan sukanya sama culun bukan sama kang CEO" ucap Icha
"Culun sama CEO huruf depannya sama Cha"
"Udah akh! Ngoceh sama kamu Nggak ada habisnya Bi" ucap Icha dengan cemberut
Icha dan Abizar pun melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti menuju ruangannya.
Sedangkan Al yang masih menahan amarahnya, langsung menuju ruang pribadinya. Dia melepaskan semua pakaiannya dan menuju showerl. Dia ingin meredakan kepalanya yang terasa mendidih dengan air dingin.
Sebenarnya Al melihat apa yang dilakukan Abizar dan Icha di restoran tadi, karena Kalisa mengajak mereka untuk makan disana sebagai perayaan hari pertama Kalisa menjadi sekertaris Al. Namun apa yang dilihatnya, Abizar dan Icha terlihat sangat akrab dan tidak ada kecanggungan diantara mereka. Meski sebenarnya Al tahu Icha dan Abizar bersahabat dari kecil tapi tetap saja hatinya tidak rela melihat Icha yang lebih menempel pada Abizar.
__ADS_1
...*****...
👉Next Part