Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Melepasmu


__ADS_3

Hari terus berganti, waktu pun terus berlalu. Tak terasa semua anak kelas XII sudah merayakan kelulusan. Setelah perjuangan panjang selama tiga tahun menuntut ilmu di bangku SMA.


Di saat yang lain bersuka cita dengan kelulusannya, Dika hanya terdiam di tempatnya. Semenjak hari itu, di mana dia tahu tentang alasan Allana pergi, Dika menjadi pendiam. Dia tidak ramah seperti dulu lagi. Dia tidak mau keramahtamahannya disalah pahami oleh orang lain terutama kaum hawa.


"Dika, mau ikut acara makan-makan gak? Selesai acara kelulusan, kita mau ke kafe Mizy untuk merayakan kelulusan," ajak Yuki.


"Aku tidak ikut!" ucap Dika datar.


"Oh, ya sudah tidak apa-apa!" ujar Yuki lalu berlalu dari hadapan Dika dan kembali bersama dengan teman-temannya.


"Percuma Yuki, dia gak bakalan mau gabung sama kita. Dia hanya ingin sama Lana!" Arabella masih terus saja memoleskan lip tint di bibirnya.


"Iya, sejak Lana gak sekolah di sini lagi, Dika jadi dingin sama cewek kaya orang yang takut tertular penyakit," cicit Yuki.


"Dari kecil Dika memang sudah suka sama Lana. Padahal Lana selalu judes sama dia." Kenang Arabella pada masa kecilnya.


"Pantesan kamu cepat akrab, Ara. Ternyata teman masa kecilnya. Apa waktu masih kecil, Dika sudah ganteng seperti sekarang," tanya Yuki penasaran.


"Waktu masih kecil dia sudah ganteng, pinter, anaknya penurut lagi dan yang membuat papanya Lana sangat menyukainya, dia itu sederhana dan rendah diri. Bahkan Om Andrea ingin Dika jadi menantunya. Lana aja pikirannya yang menyimpang, masa suka sama bapak-bapak." Arabella memulai acara gosipnya, membuat Yuki semakin antusias untuk mendengarkan cerita tentang Dika.


"Terus, bagaimana Dika dan Lana bisa pacaran?" tanya Yuki yang mendekat pada Arabella.


"Kalau itu karena aku dan Lana ...." Ucapan Arabella menggantung di udara saat dia mendengar suara yang dingin di belakangnya.


"Ara, bisa bicara sebentar?" tanya Dika.


"Bisa, memangnya ada apa?" Arabella merasa heran, tumben Dika mengajaknya bicara serius. Biasanya dia hanya diam, seolah enggan untuk bicara.


Dika tidak menjawab, dia hanya mengisyaratkan agar Arabella mengikutinya.


Saat sudah sampai di taman belakang tempat dulu Allana mendapat hukuman, Dika langsung duduk di bangku taman tempat di mana dia mencuri ciuman Allana.


"Ara, boleh aku minta tolong?"


Ara hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan Dika. Dia masih bingung, kenapa Dika membawanya ke tempat itu?

__ADS_1


"Tolong berikan pada Allana jika nanti kamu bertemu dengannya!" Dika langsung memberikan sebuah kotak pada Arabella. "Tolong katakan juga padanya aku pamit, besok aku akan berangkat ke Jerman."


"Iya, Dik! Nanti aku sampaikan," ujar Arabella.


"Terima kasih! Ara aku pamit, aku akan pulang duluan," Dika langsung pergi menunggu jawaban dari Dika. Setelahnya, dia langsung menuju ke ruang kepala sekolah meminta surat-surat yang dibutuhkan. Sebelumnya dia sudah bilang akan melanjutkan ke ke luar negeri dan minta dipercepat surat-surat yang dibutuhkannya.


Setelah urusannya di sekolah selesai, Dika langsung menuju ke tebing, tempat yang dulu pernah dikunjungi bersama Allana.


Dika termenung lama di atas kap mobilnya seraya memandang laut lepas dengan tangan yang menggenggam kalung yang pernah di pakai Allana. Sampai tiba-tiba dia berdiri dan menuju bibir tebing.


"AKU MENYERAH LANA, KAMU AKAN KU LEPAS!!!!" teriak Dika menggema di udara lalu dia melemparkan kalung itu sembarangan. Namun, setelahnya dia menyender di kap mobil dengan buliran air mata yang memaksa untuk keluar.


Hatinya rapuh, meski alasan Allana pergi karena dia tapi Dika merasa dipermainkan saat dia tidak sengaja melihat Allana dan Arabella sedang di mall. Namun, saat Dika ingin mengejarnya, dia malah kehilangan jejaknya.


Dika terus bergelut dengan pikirannya hingga suara ponsel membuat dia tersadar kembali. Dia langsung meraih ponsel yang ada kantong celana, terlihat 'Sweet heart calling' di layar ponselnya. Dika langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari mamanya.


"Hallo, assalamu'alaikum Mah." Dika menyentuh tanda speakers agar tidak usah menempelkan ponsel di telinganya.


"Wa'alaikumsalam, Abang sedang di mana? Sudah sore kenapa belum pulang?" terdengar suara mamanya yang sarat dengan kecemasan.


"Abang sedang main, Mah! Ini udah mau pulang," ujar Dika.


"Wa'alaikumsalam," lirih Dika.


Dika langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan segara meninggalkan pantai karena memang, matahari sudah condong ke barat.


Tanpa disadarinya, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan tiap gerak gerik Dika dari kejauhan. Dia langsung membuka helm full face yang sedari datang dipakainya karena dia datang dengan motor sport miliknya. Jejak air mata masih terlihat jelas di matanya. Dia tiba di pantai saat Dika akan berteriak menyebut namanya. Allana sengaja tidak membuka helm agar tidak diketahui oleh Dika.


Allana berjalan ke tempat tadi di mana Dika berdiri, dicarinya sesuatu yang tadi dilemparkan oleh Dika. Setelah menemukannya, dia langsung melihat kalung itu. "Maafkan aku Dika!" lirihnya.


Entah kenapa, saat aku memutuskan untuk melepaskan semua kenangan tentang kita, langkahku selalu membawa kembali ke tempat itu. Maafkan aku, Dika! Jika aku terlambat menyadari, aku tidak bisa melepas kamu dari hatiku.


Allana kembali memakai kalung yang dulu pernah Dika berikan padanya. Setelah tadi Arabella memberikan kotak hadiah dari Dika, Allana segera pergi dengan motornya. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang sahabatnya itu katakan. Allana hanya ingin tiba di pantai secepatnya. Sampai dia mendengar apa yang Dika teriakkan.


Saat mentari akan benar-benar terbenam, Allana pun kembali pulang.

__ADS_1


Dika, kamu seperti senja yang kehadirannya hanya sesaat. Namun, selalu memberikan kenangan indah di hidupku sampai aku merasa tidak bisa lepas dari semua kenangan itu.


Allana terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi hingga saat di persimpangan lampu merah, dia menerobos saat lampu sudah berwarna merah. Sementara dari arah kiri, ada mobil box yang melaju cepat hingga semua orang yang melihat berteriak histeris.


"Awaassss ...."


Cekitttt


Suara gesekan ban dengan aspal terdengar begitu nyaring. Untung saja Allana bisa menghentikan motornya disaat jarak motor dengan mobil box tinggal setengah meter. Banyak orang yang mengumpat dan memaki Allana karena membawa motor serampangan sehingga membahayakan nyawanya sendiri dan orang lain.


Pengawal pribadi Allana segera mengamankan anak majikannya, bisa bahaya kalau terjadi sesuatu yang buruk pada putri kesayangan tuannya. Bersamaan dengan itu, polisi pun segera mengamankan tempat kejadian dan mengatur lalu lintas agar kembali berjalan normal.


"Nona, apa Nona baik-baik saja?" tanya pengawal Allana yang bernama Jack. Dia kebingungan saat tadi Allana kabur dari rumah hingga dia menghubungi tuannya dan menceritakan semuanya. Setelah mendapat lokasi nona mudanya, Jack segera menyusul Allana dan memperhatikan gadis itu dari jauh agar tidak terlihat oleh Allana. Namun, saat Allana pulang kecepatan motornya kalah dengan yang dipakai oleh Allana sehingga dia tertinggal.


"Om Jack, urus motorku! Aku mau pulang, capek!" suruh Allana.


"Maaf, Nona! Anda harus ikut kami ke kantor polisi. Masalah ini harus Anda sendiri yang tuntaskan," kata polisi yang tertulis nama Firman di dada atas kanannya.


"Merepotkan sekali!" gerutu Allana. Dengan terpaksa dia pun mengikuti apa yang polisi itu katakan. "Om Jack, hubungi Om Arjuna. Suruh dia menyusul aku, tapi jangan bilang sama papa."


"Nona, tolong buka helmnya!" pinta Firman.


"Aku gak mau sebelum Om Arjuna datang," tolak Allana ketus.


Ya ampun nih cewek gak ada takut-takutnya sama seragam coklat, rasanya aku hilang wibawa di depan dia, batin Firman.


Saat sampai di kantor polisi, benar saja Arjuna sudah menunggunya di sana. Tanpa sungkan, Allana merengek pada komandan polisi itu.


"Om, Lana tuh gak salah! Tadi 'kan Lana gak lihat kalau lampunya sudah merah jadinya jalan terus. Gak taunya ada mobil yang mau nyebrang juga. Lana kaget terus langsung rem mendadak. Salah Lana di mana coba, Om?" cerocos Allana yang sukses membuat Arjuna geleng-geleng kepala dengan kelakuan anak sahabatnya itu.


"Salah kamu hanya satu, tidak patuh dengan aturan lalu lintas."Arjuna menarik tangan Allana untuk masuk ke dalam ruangan kepala polisi.


"Om, jangan bilang papa ya! Lana tuh baru bebas dari belajar rodi karena papa, masa sekarang harus kena hukuman lagi karena gak lihat lampu merah," keluh Allana yang membayangkan hukuman seperti apa lagi yang akan diterimanya.


"Telat, Sayang! Tadi saat Jack menghubungi Om, di samping Om ada papa kamu. Tapi dia sedang ada urusan sebentar, mungkin sebentar lagi dia datang." Arjuna mendudukkan bokongnya di sofa.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Andrea datang bersama dengan Arkana. Karena memang saat Jack menelpon Arjuna dan menceritakan apa yang terjadi pada Allana, ketiga sahabat itu sedang berbincang di rumah Andrea yang tidak jauh dari persimpangan jalan tempat kejadian Itu, sehingga Andrea menyuruh Arjuna berangkat terlebih dahulu karena dia yakin putrinya pasti ingin menyembunyikan kejadian itu darinya.


"Putri papa sudah pintar main petak umpat nih! Baiklah, persiapkan dirimu untuk bertemu dengan calon suami besok!" Seperti tanpa beban Andrea membicarakan pernikahan pada orang yang sedang patah hati.


__ADS_2