
Hari sudah beranjak siang, tapi pemotretan untuk pre wedding belum selesai juga. Allana sudah merenggut kesal dengan keinginan papanya yang menyuruh untuk foto pre wedding. Bayangkan saja, dari jam tujuh pagi sampai terdengar samar-samar suara adzan dhuhur, fotografer itu masih asyik membidiknya dengan kamera. Mereka beralasan merasa belum cukup pose yang dilihatnya. Sampai ketika Allana sudah hilang kesabarannya, barulah mereka mengikuti apa yang dikatakan anak bosnya.
"Dengar! Aku tidak mau di foto lagi. Kalau kalian memaksa, jangan salahkan aku jika mempersulit pekerjaan kalian," ancam Allana dengan menunjuk muka fotografer. Merasa dipermainkan karena fotografer itu terus menyuruhnya untuk berfoto dengan berbagai pose, membuat jiwa arogan Allana yang sudah mati suri mencuat keluar.
"Iya Nona, sudah! Ini yang terakhir, setelah ini Nona bisa pulang dan beristirahat untuk persiapan besok." fotografer itu ketar-ketir dengan ancaman Allana. Mereka tidak menyangka kalau nona yang tadi terlihat sangat ramah bisa judes seperti itu saat marah.
Dika hanya mengelus punggung Allana dengan lembut untuk menenangkan kekasih hatinya. "Kita ke mesjid dulu ya! Sudah masuk waktu Dzuhur," ajak Dika.
"Nanti aku menunggu di luar saja, soalnya sedang halangan." Allana menunduk malu dan memelankan suaranya saat dia mengatakan kata 'halangan'.
"Iya gak apa-apa! Habis dari mesjid kita cari makan, perutku terasa sangat lapar." Dika mengelus perut di depan Allana membuat gadis itu jadi teringat saat Dika masih kecil.
Kenapa aku telat menyadarinya, kalau sebenarnya kamu sudah masuk dalam pikiranku dari semenjak pertama kita bertemu, batin Allana.
"Kenapa?" tanya Dika heran saat melihat Allana malah terdiam.
"Nggak ada, aku hanya sedang teringat dengan seorang bocah yang sok tahu sehingga dia menggagalkan acara seluncuran aku." Kenang Allana dengan tersenyum tipis.
"Padahal aku niatnya buat nolongin kamu, tapi malah bikin kamu marah." Dika bicara dengan nada sendu.
"Waktu itu aku minta maafnya terpaksa loh Dik, karena takut papa gak ngajak aku main lagi. Tapi sekarang, aku mau minta maaf dengan benar. Maaf ya, Dika! Aku salah paham sama kamu," ucap Allana tulus.
"Aku sudah memaafkannya, yuk berangkat!" Dika langsung menggenggam tangan Allana seolah tidak ingin terlepas lagi.
Tidak jauh dari tempat pemotretan, Dika dan Allana sudah sampai di mesjid untuk menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Sementara menunggu Dika sholat, Allana menuju kedai kuliner yang ada di pelataran mesjid.
"Wah! Ada siomay dan batagor," gumam Allana. Secepatnya, Allana menuju penjual Siomay yang berjualan dengan menggunakan gerobak. Namun, di sana tersedia meja dan kursi kayu untuk pelanggan makan. Mungkin karena orang tuanya selalu hidup layaknya orang biasa sehingga Allana maupun Elvano tidak pernah memilah-milah makanan berdasarkan siapa penjualnya. Mau itu jualan dengan gerobak ataupun dijajakan langsung atau restoran bintang lima, saat mereka suka pasti akan membelinya.
"Abang satu porsi gak pake pare tapi kentangnya banyakan," pesan Allana.
__ADS_1
"Baik Neng!" Abang penjual siomay mulai memasukan siomay sesuai pesanan Allana. Tidak butuh waktu lama, siomay sudah terhidang di depan Allana.
Gadis berponi itu sangat menikmati rasa siomay yang disuguhkan, sampai dia tidak sadar Dika sudah duduk disampingnya.
"Teteh, mau!" goda Dika dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
Allana menengok ke arah suara kemudian menyendok siomay miliknya dan menyuapi Dika. Mendapat suapan dari Allana, kedua sudut bibir Dika terangkat membentuk bulan sabit. Hatinya menghangat karena yakin Allana kini sudah benar-benar menerimanya dengan hati yang tulus.
"Gak pesan? Enak kan?" tanya Allana kemudian saat menyadari Dika tersenyum sendiri.
"Aku mau pesan juga, Bang satu ya disamakan!" teriak Dika.
Setelah pesanan siomay Dika datang, kini pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran itu saling menyuapi satu sama lain. Mereka lupa kalau di sana tidak hanya mereka saja tapi ada juga yang lainnya.
Dasar anak muda jaman sekarang! Pacaran tidak mengenal tempat, tidak tau apa kalau yang jualan baru saja menduda, gerutu penjual siomay.
Setelah menghabiskan siomaynya, Dika pun langsung membayar dengan lembaran warna biru. Namun saat akan diberi kembalian dia menolaknya.
Hari pun telah berganti, kini waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Allana terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih modern dengan ekor yang menjuntai di lantai. Tak ketinggalan mahkota siger menghiasi kepalanya. Mahkota ini bermakna harapan akan rasa hormat, kearifan, dan kebijaksanaan dalam pernikahan. Selain siger, kembang tanjung pun mempercantik tampilan Allana pada bagian sanggul, perias menyematkan enam kembang tanjung yang berbentuk seperti kupu-kupu kecil. Hiasan ini melambangkan kesetiaan sang perempuan pada pasangannya. Ditambah lagi dengan ronce melati yang menjuntai sampai ke dada. Ronce melati pada adat Sunda bermakna kesucian dan kemurnian sang perempuan.
Selain Allana, Icha dan Mitha pun ikut serta di make-up oleh MUA. Tak ingin ketinggalan Arabella dan adik-adik Dika pun minta didandani.
"Kak Allana cantik sekali, nanti kalau Zee nikah mau didandani seperti Kakak." Zee terkagum-kagum melihat kecantikan Kakak iparnya, sehingga dia tidak ingin jauh dari Allana.
Sementara Dika pun terlihat sangat tampan dengan jas pengantin yang berwarna putih. Terlihat dia sedang duduk bersama Al dan Pak Bagas
"Papa bangga sama kamu, Dik! Putra yang dulu Papa timang-timang, kini akan menempuh babak kehidupan yang baru. Jadilah suami yang baik, sayang sama keluarga dan jangan terlalu banyak menuntut pada istri di luar kemampuannya," pesan Pak Bagas dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia begitu kaget saat mendapat telepon dari Icha bahwa Dika akan menikah lusa, sehingga keesokan harinya langsung berangkat ke ibu kota. Sementara Pak Yusuf dan Bu Tasya dijemput oleh supir pribadi Al. Seperti sebuah reuni, keluarga yang bertemu tidak setiap hari itu saling melepaskan rindu. Kini Barra pun sudah tumbuh menjadi pemuda tampan, tahun ini dia lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMK sama seperti Zee dan Dave.
__ADS_1
Acara demi acara sudah terlaksana dengan baik, kini saatnya acara ijab kabul. Terlihat penghulu sudah bersiap duduk di depan Dika sementara Andrea sebagai wali duduk di samping penghulu.
Setelah penghulu menuntun pelafalan ijab kabul, kini Dika bisa mengucapkannya dengan lantang dan dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Allana AP Wiratama binti Andrea Nata Wiratama dengan maskawin perhiasan emas murni seberat 282 gram dibayar tunai."
"Saksi, apakah sah?" tanya penghulu
"Sah ...." Kompak hadirin yang menyaksikan acara ijab kabul
"Alhamdulillah ...."
Penghulu pun kemudian membaca do'a untuk pasangan pengantin baru. Setelah membacakan do'a pernikahan. Pengantin wanita pun disuruh turun untuk menandatangani beberapa berkas.
Allana berjalan begitu anggunnya dengan diapit oleh mamanya dan Arabella. Semua mata terkesima melihat tiga wanita cantik berjalan menuruni tangga. Dika sampai tidak berkedip melihat Allana yang aura kecantikannya terpancar ke luar, sehingga Arkana dengan iseng mengerjai sahabatnya.
"Dika, lap dulu iler kamu! Itu sudah menetes ke lantai." Arkana menyodorkan tissue pada Dika, yang langsung dipakai untuk mengelap bibirnya.
Menyadari sedang dikerjai sahabatnya, Dika langsung menatap tajam pada Arkana. Bertepatan dengan Allana yang sudah sampai di depan Dika.
Untuk pertama kalinya, Allana mencium punggung tangan suaminya dan Dika pun mencium kening Allana lama. Ada rasa yang tak biasa yang dirasakan oleh pasangan pengantin baru. Rasa bahagia dan haru yang menjadi satu.
Sebagai penutup acara ijab kabul, penghulu pun memberikan nasihat pernikahan pada pasangan pengantin baru.
"Menikah adalah ibadah terpanjang dalam mengarungi perjalanan hidup seseorang. Jangan sia-siakan suami atau istri yang Allah titipkan kepadamu."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...