Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 142 Hanya cangkang


__ADS_3

Setelah selesai berkemas, Al pun membawa keluarganya untuk pindah ke apartemen yang dulu dia pakai saat masih belum menikah dengan Icha. Begitupun dengan Bu Mira yang akan menempati apartemen yang dulu bekas dipakainya. Sementara beberapa pekerja ada yang memilih tetap bekerja di sana dan ada juga yang memilih pulang kampung. Namun Bi Sari memutuskan untuk ikut ke mana pun Al pergi, karena rasa sayangnya pada anak majikan yang dia asuh sedari Al kecil membuat dia tidak ingin meninggalkan Al di saat masa-masa sulitnya.


Sesampainya di apartemen, Al langsung menuju ke ruang kerjanya. Dia memeriksa isi brangkas yang sengaja Al sembunyikan di balik rak buku, sehingga orang yang masuk ke ruang kerjanya tidak akan ada yang tahu ada brangkas yang berisi surat-surat penting dan beberapa gepok uang tunai ditambah emas batang yang berjejer rapi mengisi brangkas itu.


Beruntung Al tidak menyimpan semua surat-surat kepemilikan beberapa aset di rumahnya, melainkan menyimpan di tempat-tempat yang tersembunyi. Sehingga di saat seperti ini, masih ada yang dia miliki. Namun yang membuat Al sedikit cemas, surat kepemilikan pulau Cinta dia simpan di ruang pribadinya yang ada di perusahaan Putra Group.


Setelah dia memastikan semuanya aman, Al pun menutup kembali brangkasnya dan mengambil beberapa gepok uang untuk keperluannya dan Icha. Karena tadi sebelum Al keluar rumah, Raka memeriksa isi tas Al dan mengambil kartu saktinya yang berwarna hitam.


Icha hanya mematung di ambang pintu melihat apa yang Al lakukan dengan dengan rak bukunya, sehingga saat AL berbalik, dia dikejutkan dengan kehadiran Icha di sana.


"Astagfirullah! Sayang, kamu sudah lama di situ?" tanya Al.


"Belum lama, mungkin dari kamu mengeluarkan uang dari balik rak buku itu," cicit Icha


"Berarti, kamu sudah tahu semuanya!" ujar Al.


"Tidak! Kamu terlalu banyak rahasia yang tidak aku ketahui Al," ucap Icha.


Al hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, karena sebenarnya bukan dia ingin merahasiakan apapun dari Icha, hanya saja Icha seperti tidak peduli dengan apa yang Al miliki. Karena memang, meskipun Al memberinya kartu sakti tapi Icha hanya memakainya untuk keperluan rumah dan anak-anaknya.


'Sini sayang, kalau kamu ingin tahu apa yang ada di balik rak buku!" ajak Al dengan mengulurkan tangannya pada Icha.


"Aku sudah melihatnya!" ujar Icha.


Setelah keduanya sama-sama duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya, Al pun mulai bicara.


"Sebenarnya Putra Group itu hanya cangkang, ibarat kamu memiliki sebuah telur, apa yang akan kamu ambil? Telurnya apa cangkangnya? Om Raka memilih mengambil cangkangnya dan telurnya tetap menjadi milik aku," tutur Al.

__ADS_1


"Aku gak ngerti dengan maksud kamu, Al!" ujar Icha.


AL menghela napas dalam sebelum dia menjelaskan pada istrinya. "Putra group hanya sebagian aset yang aku miliki. Meskipun aku melepasnya, tidak akan membuat kita jatuh miskin atau pun kelaparan," jelas Al.


"Apa suamiku banyak uangnya?" tanya Icha dengan muka cengo. Icha tidak tahu kalau selain Al menjadi CEO, dia juga memliki beberapa saham di perusahaan besar yang ada di negeri ini. Karena sedari awal, Al merasa ada hal yang membuatnya harus selalu waspada saat dia berada di perusaaan.


"Aku hanya memiliki uang segini," tunjuk Al pada lembaran uang di tangannya. "Untuk sementara, kita tinggal di sini dulu, sampai Om Raka merasa tidak perlu mengganggu kita lagi," lanjutnya.


"Aku tidak keberatan tinggal di sini, tapi bagaimana keadaan Om Bagas? Tante Mira pasti sedih banget!" Icha meyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya, sedangkan Al langsng merangkul bahu Icha.


"Besok kita menengoknya ke rumah sakit, kalau sekarang sudah sangat larut. Oh iya sayang, kenapa kamu tidak membujuk Tante untuk menerima Om kembali? Bukankah sekarang sudah tidak ada lagi penghalang dalam hubungan mereka?" Saran Al pada Icha.


"Iya nanti aku akan coba bicara pada Tante, karena waktu itu Tante bilang, dia belum siap terluka lagi." Icha mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya dari bawah.


Andai waktu itu aku tidak bisa membuka hatiku lagi untukmu, mungkin hari ini aku termasuk orang yang tidak beruntung karena telah menolak berlian di depan mata, batin Icha.


"Den, Den Al ada tamu!" teriak Bi Sari di depan pintu ruang kerja Al.


"Ada tamu sayang, nanti malam saja kita lanjutkan," goda Al. "Ini uangnya kamu simpan untuk keperluan sehari-hari." Al pun memberikan uang yang dia ambil di brangkas pada Icha.


Tanpa bicara lagi, Al langsung meninggalkan Icha sendiri di ruang kerjanya. Setelah kesadarannya terkumpul kembali, Icha pun beranjak pergi dari ruang kerja suaminya.


Icha langsung menuju ke kamarnya untuk menyimpan uang yang diberikan oleh suaminya. Kemudian dia pun bergegas melihat putri kecilnya yang sudah pintar berceloteh.


"Bi, apa Zee rewel?" tanya Icha saat sudah bergabung dengan Bi Sari dan putrinya karena Dika sedang main di apartemen Bu Mira bersama Barra yang sudah bisa merangkak.


"Tidak Neng! Dede cantik anaknya anteng seperti dulu Den Al masih kecil," ungkap Bi Sari.

__ADS_1


"Bi, memang di depan ada siapa?" tanya Icha pelan.


"Ada Den Kevin dan Den Oryza, sepertinya mereka sedang berdebat," ucap Bi Sari lagi.


Icha yang merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Bi Sari, akhirnya sedikit mengintip ke ruang tamu. Namun aksinya ternyata terlihat oleh suaminya, sehingga Al pun memanggil Icha untuk ikut bergabung.


"Sayang, sini kalau mau ikutan! Gak usah ngintip gitu!" seru Al,


Dengan cengengesan, Icha pun ikut bergabung dengan suaminya. "Hehehe, kalian serius banget ngobrolnya!"


"Kita sedang marah dengan suami kamu, Cha! Kenapa kemaren gak kasih tahu kalau rumah kalian di serang Om Raka? Mungkin aku bisa langsung menghubungi Bang Juna untuk membantumu." Sewot Kevin dengan berapi-api. Dia tidak terima Putra Group jatuh ke tangan Raka.


"Sudahlah, Vin! Kita kasih kesempatan pada Om Raka untuk merasakan menjadi pemilik Putra Group sebelum pemilik yang sebenarnya datang,"ucap Al enteng.


"Maksud kamu Al?" Kompak Kevin dan Oryza.


"Kalian pikir, aku pemilik sah perusahaan? Saham terbesar masih dimiliki oleh Kakek dan aku hanya menyerahkan sahamku dan kedudukanku saja pada Om Raka. Dia terlalu terburu-buru ingin memiliki Putra Group sehingga dia hanya membidik aku sebagai CEO," terang Al.


"Kalau begitu, Kakek dalam bahaya Al." Terlihat raut cemas di wajah Icha saat mendengar apa yang Al katakan.


"Tenang saja, Sayang! Sebelum Om Raka menyerang, pasti kakek sudah menyerang balik. Lebih baik kita diam, pura-pura tidak mengerti apa-apa agar Om Raka tidak curiga."


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2