
Aisha yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, "Al ini baju ganti kamu, cepat sana mandi!"
Al pun langsung mengambil paper bag yang dibawa oleh Aisha. Namun, sebelum dia masuk ke kamar mandi, Al berbalik dulu melihat ke arah Icha.
"Kalau Icha sadar, nanti langsung kasih tahu aku." Setelah berpesan pada Kevin dan Aisha, Al pun langsung masuk dan membersihkan dirinya.
Tidak butuh waktu lama, cukup sepuluh menit Al berada di dalam kamar mandi. Kini dia terlihat segar dan bertambah wangi.
"Cie suami orang ganteng banget," goda Kevin saat Al keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan baju yang dibawa oleh Aisha.
"Berisik kamu, Vin!" Al terus mendekat ke arah Icha yang matanya masih tertutup. Diciumnya kening lama hingga ada setetes air di rambutnya yang jatuh ke lubang hidung Icha.
Hatchi....
Al langsung kaget mendengar suara bersin Icha sehingga dia dengan cepat melihat ke arah wanita yang mampu membuatnya tergila-gila.
Terlihat Icha sedang tersenyum manis menatap ke arahnya, "Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Al dengan mata yang berbinar.
"Iya, apa kamu senang?" tanya Icha yang masih terlihat lemas.
Tanpa menjawab pertanyaan Icha, Al langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah istrinya yang berakhir di bibir pucat itu.
"Woy Aldrich, lihat-lihat donk! Aku gak ada layan nih," Kevin langsung mendumel saat melihat Al malah menyesap bibir Icha di hadapannya.
"Iya nih, Al. Mana Abizar lagi tugas keluar kota," cebik Aisha.
"Sorry! Aku terlalu senang melihat kesayanganku udah sadar." Al terus menatap Icha dalam, kebahagiaan di hatinya begitu membuncah.
Flashback on
Saat Al baru masuk ke dalam kamar mandi, perlahan tangan Icha bergerak. Melihat hal itu, Kevin pun segera memanggil dokter yang menangani Icha. Sampai saat dokter datang, Icha perlahan membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya sekitar sampai matanya dapat terbuka dengan sempurna.
Dokter pun langsung memeriksa keadaan Icha dan mengatakan, "Alhamdulillah kondisi Mbak Icha sudah membaik, tinggal pemulihan saja. Mungkin dua sampai tiga hari sudah bisa pulang."
"Alhamdulillah, Dok." Kevin dan Aisha pun kompak mengucapkan syukur.
"Nanti saya buatkan resep obat untuk pemulihan Mbak Icha," ucap Dokter Arumi.
"Terima kasih, Dok!"
Setelah Dokter Arumi pergi, terdengar suara derit pintu kamar mandi pertanda Al akan keluar. Kevin pun segera memberi kode pada Icha untuk berpura-pura tidur lagi.
Flashback off
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Aisha, Al langsung mencubit pipi Icha gemas. "Kamu ngerjain aku?" tuduh Al.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana kalau aku gak bangun lagi," ucap Icha.
"Dia pasti gila, Cha. Kalau kamu sampai...."
"Aku akan maksa kamu buat bangun dan ikutin ke mana pun kamu pergi," potong Al.
"Sayang, jangan begitu! Karena manusia hanya bisa berharap dan berencana. Jangan menentang Qadha dan Qadar Allah," ucap Icha lembut seraya mengelus pipi Al lembut.
Al hanya diam tidak bisa menjawab apa yang Icha katakan, hanya air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya memaksa ingin dikeluarkan.
"Sudahlah jangan sedih-sedihan! Selama kita masih punya kesempatan, pergunakan waktu untuk membahagiakan orang yang kita sayangi." Kevin langsung menengahi saat melihat Al seakan ingin menangis.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar, Kevin pun segera mempersilahkan masuk.
"Permisi, Tuan! Ini bayinya sudah bisa untuk diberikan ASI eksklusif karena kondisi Nyonya Farisha sudah membaik. Diusahakan kolostrumnya diminum oleh dede bayinya, karena itu sangat baik untuk daya tahan tubuhnya." Perawat pun langsung memberikan bayi kecil Itu pada Icha dan membantunya untuk mendapatkan posisi yang nyaman saat menyusui.
"Mbak, kolostrum itu apa?" tanya Kevin yang tidak mengerti maksud dari ucapan perawat.
"Kolostrum adalah ASI yang keluar pertama kali yang berwarna kekuningan dan kental. Cairan ini banyak mengandung antibodi penghambat pertumbuhan virus dan bakteri, protein, vitamin A dan mineral sehingga sangat penting untuk segera diberikan pada si Kecil ketika ia lahir." Dengan sabar perawat pun menjelaskan pada Kevin.
"Gak papa kali Al, lihat sedikit." Kevin enggan beranjak karena penasaran bagaimana bayi itu menyusu pada ibunya, apa sama seperti dengan yang dilakukannya pada Vio? Tapi bukan Al namanya yang membiarkan orang lain melihat bagian salah satu bagian inti tubuh istrinya.
"Tidak bisa Kevin Aprilio, sekarang cepat keluar! Anakku sudah lapar dari kemarin belum menyusu," sentak Al.
Dengan muka ditekuk, Kevin pun keluar dari ruang inap Icha bersama Aisha. Namun saat di luar, entah kenapa dia merasa seperti ada orang yang sedang memperhatikannya, sehingga Kevin pun menegdarkan pandangannya. "Tidak ada apapun, semuanya terlihat normal," gumamnya.
Aisha yang tidak sengaja mendengar apa yang Kevin katakan, akhirnya dia pun bertanya, "Kenapa Vin? Apanya yang normal?"
"Gak ada, berapa lama kalau bayi menyusu?" tanya Kevin
"Gak tentu, bisa sampai satu jam mungkin." Aisha menggendikkan bahunya, karena dia pun kurang tahu soal bayi.
"Kita balik ke kantor aja yuk, Sha! Lagian sama Al juga sudah diusir," keluh Kevin.
Tanpa berpamitan pada Al, Kevin pun kembali ke kantor bersama Aisha. Sementara Al di dalam kamar inap, terus memperhatikan bayinya yang sedang menikmati sumber kehidupannya.
Perawat yang tadi membawa bayi kecil itu sudah kembali mengerjakan tugasnya yang lain, sehingga tinggalan sepasang suami istri itu yang sedang memperhatikan malaikat kecil mereka yang terlihat rakus menikmati nutrisinya.
"Sayang, kuat banget nenennya. Papa minta boleh?" Goda Al pada bayinya.
__ADS_1
"Gak boyeh, Pah. Ini punya dede!" Icha malah ikut menirukan suara anak kecil.
"Sedikit aja, Dek. Papa juga pengen nyicip. Kemarin ini airnya gak keluar." Al semakin penasaran saat melihat anaknya tidak mau melepaskan sumber kehidupannya, padahal sudah tiga puluh menit dia menyusu.
"Papa Al mimi cucu sapi aja kaya Kak Dika. Oh iya Al, ayo telpon Dika! Aku ingin tahu keadaannya," suruh Icha saat dia teringat dengan putra sulungnya.
Al langsung mengambil handphone yang dibawa oleh Aisha bersama baju gantinya. Tidak butuh waktu lama, sambungan teleponnya sudah terhubung dengan nomor Andrea.
📱"Hallo, Assalamu'alaikum."
📲"Wa'alaikumsalam, bagaimana Al istrinya?"
📱"Alhamdulillah udah baikan. Bang, aku titip Dika untuk beberapa waktu di sana, mungkin sampai keadaan di rumah sudah stabil."
📲"Iya, kamu tenang saja. Aku malah senang calon mantuku tinggal di sini."
Ya ampun Bang Andrea, orang serius malah diajak bercanda, batin Al.
📱"Bisa minta tolong bicara dengan Dika, Bang?"
📲"Boleh, sebentar aku panggilkan. Kebetulan aku sudah pulang ke rumah. Soalnya aku lebih betah tinggal di rumah daripada di kantor banyak cewek ondel-ondel."
Ada-ada saja Bang Andrea, tapi bener juga sih. aku juga lebih betah dengan Icha yang jarang make up ketimbang sama cewek badut."
📲"Hallo Papa! Mama mana?"
Terdengar suara Dika yang begitu sumringah di seberang sana, membuat Icha tersenyum lega karena putranya baik-baik saja.
📱"Sayang, kamu baik-baik saja?"
📲"Dika baik, Pah. Dede bayi mana?"
Al pun mengarahkan handphonenya pada Icha yang sedang menyusui bayi kecilnya. Hingga mereka pun larut dalam obrolan. Meski hanya lewat handphone, sedikitnya rasa kangen dan khawatir dapat terobati.
Tanpa mereka sadar,i telah ada seseorang yang berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan keharmonisan keluarga kecil itu.
Nikmati saja dulu kebahagian kalian, sampai akhirnya ku renggut semua darimu Aldrich.
...*****...
...Dukung terus Author ya! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima Kasih!...
__ADS_1