
Tak terasa, sudah tujuh bulan kini usia kandungan Icha. Hari ini dia berencana untuk kontrol ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi janinnya.
Al yang sengaja tidak masuk kantor karena akan mengantar Icha kontrol, masih bermalas-malasan di balik selimut tebalnya. Apalagi pergulatan semalam membuat dia mencapai puncak berkali-kali.
Melihat suaminya yang masih bergelung dengan selimut, membuat Icha ikut rebahan di balik selimut tebal itu menemani suaminya.
"Sayang, katanya mau nemenin kontrol? Masih bobo aja," cicit Icha
Bukannya menjawab, Al malah menarik Icha ke dalam pelukannya. "Bukannya siang janjiannya dengan Dokter Aruminya?" tanya Al dengan mata yang masih enggan terbuka.
"Ya udah deh, mending kita tidur aja! Aku juga masih ngantuk," ucap Icha dengan mengeratkan pelukannya pada Al.
Mendapat pelukan dari istrinya, mata Al langsung terbuka. Dilihatnya Icha yang sedang memejamkan matanya, tanpa sungkan lagi Al langsung mencium bibir Icha.Dia terus menikmati sarapan paginya yang memabukkan hingga akhirnya pergulatan di pagi hari pun tak dapat di hindari lagi.
Setelah Al mendapatkan pelepasannya, dia segera menggendong Icha menuju kamar mandi. Lagi dan lagi mereka mereguk kenikmatan di bawah guyuran shower yang menghangatkan badan sampai terdengar suara lenguhan panjang dari keduanya, barulah acara mandi yang benar-benar mandi itu dapat terselesaikan.
Kini Icha sudah siap dengan longdress-nya yang berwarna peach, membuat dia terlihat segar dan menawan. Sampai-sampai Al sedari tadi diam mematung melihat Icha yang baru turun ke bawah.
Dia terlihat semakin cantik dan bercahaya dengan perut buncit itu, membuatku ingin lagi dan lagi mengungkungnya. Oh tidak, akan banyak pria yang terpesona melihat kecantikannya dan aku tidak rela berbagi keindahan dengan lelaki lain.
Al terus larut dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau Icha sudah ada di depannya. "Sayang, ayo berangkat!" ajaknya.
Mendengar suara dan sentuhan tangan Icha yang terasa lembut di kulitnya, membuat Al tersadar dari lamunannya. Dia langsung tersenyum manis saat melihat istrinya yang mengerutkan keningnya.
"Kenapa sayang? Apa aku terlihat sangat tampan?" tanya Al
"Papa Al memang tampan, tapi sejak kapan jadi narsis begini?" Icha semakin heran dengan tingkah suaminya yang seperti ingin mendapat pujian darinya.
"Sejak istriku yang cantik ini terlihat semakin seksih." Goda Al dengan mencolek hidung Icha. "Ke rumah sakitnya pake masker ya!" lanjutnya.
Tanpa ingin membantah apa yang Al katakan, Icha pun menuruti kemauan suaminya. Begitupun dengan Al yang mengikuti Icha memakai masker. Lagipula terkadang dia risih dari tatapan orang-orang yang tanpa sengaja bertemu dengannya.
Sesampainya di rumah sakit, Icha dan Al pun langsung menuju ke bagian pendaftaran untuk mengikuti prosedur meskipun sebenarnya dia sudah ada janjij dengan Dokter Arumi. Namun saat dia akan menuju ke ruangan Dokter Arumi, tanpa sengaja berpapasan dengan Kevin dan Vio.
__ADS_1
"Kevin, sedang apa kamu di sini?" tanya Al heran saat mendapati asistennya sedang berada di rumah sakit dengan muka yang terlihat pucat.
"Dia dari tadi pagi muntah terus Pak, Badannya juga terasa lemas dan juga kepalanya pusing." Tanpa diminta, Vio langsung menjelaskan keadaan suaminya.
"Memang gak manggil Rio buat periksa, biar gak usah capek-capek datang ke sini," tanya Al lagi.
"Tadi sudah, hanya saja dia sedang ada operasi jadi menyuruh kita datang ke sini," terang Vio
"Ya sudah, ayok kita ke sana bareng!" ajak Icha langsung menengahi agar Al tidak bertanya lagi. Namun saat akan melangkahkan kakinya, tanpa sengaja Icha melihat Kia yang sedang memapah Oryza baru masuk ke lobby rumah sakit, membuat dia mengurungkan niatnya.
"Sayang, coba lihat ke sana! Pak Oryza kenapa dipapah sama Kia?" tunjuk Icha ke arah pintu masuk.
Benar saja, Al melihat Oryza yang seperti lemas sekali, sampai-sampai Kia menjadi kerepotan. Merasa kasihan melihat sepupunya, Al pun meminta perawat untuk membawakan kursi roda untuk Oryza dan Kevin.
"Kalian berdua habis makan apa sampai lemas begitu? Apa permainan kalian terlalu hot sampai menguras tenaga?" tanya Al saat sudah berada di ruangan Dokter Rio.
"Aku gak tahu Al, bangun tidur gak enak badan, mual, lemas, dari pagi aku belum makan apapun," keluh Kevin yang tidak terlalu parah dari Oryza.
"Kamu udah periksakan Icha belum?" tanya Oryza
Tak berselang lama, Dokter Rio pun datang ke ruangannya. Betapa kagetnya dia, melihat begitu banyak orang di ruangannya. Meskipun sebenarnya dia tahu kalau Kevin dan Oryza akan datang menemuinya, tapi dia tidak kepikiran kalau mereka akan datang beramai-ramai seperti akan berdemo.
Dengan muka cengonya, Dokter Rio pun bertanya, "Kalian sudah lama berada di sini?"
"Mungkin dari abad sebelas sebelum masehi," jawab Al asal.
"Bisa saja kamu Al, kenapa rombongan begini? Memangnya kalian sakit semua?" tanya Dokter Rio
"Sudah cepat periksa mereka! Lihat mukanya sudah seperti zombie saja!" tunjuk Al
Sialan kamu Al! Muka ganteng begini dibilang zombie, sungut Kevin dalam hati.
Punya sepupu ngomongnya suka asal jeplak, untungnya sayang, batin Oryza.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Al pun langsung menuju ke ruangan Dokter Arumi. Sementara Kevin dan Oryza langsung diperiksa oleh Dokter Rio. Setelah Dokter Rio mendapatkan hasil diagnosa dari kedua sahabatnya itu, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum aneh. Tanpa memberitahu sakit apa yang sedang di derita oleh kedua sahabatnya itu.
"Sepertinya sakit kalian parah, sampai-sampai menular ke istri kalian berdua. Untuk itu, agar istri kalian cepat tertangani, lebih baik dia segera konsultasi dengan Dokter Arumi." Dengan nada yang dibuat serius, Rio pun mengatakan hal yang membuat Kevin dan Oryza kaget.
"Ma-ma-maksud Dokter, saya ketularan suami saya?" tanya Kia dengan wajah cemas.
"Bisa dibilang begitu, bisa juga karena kalian terlalu sering melakukan hubungan badan, sehingga istri dari pasien yang mengalami sakit seperti Oryza dan Kevin harus konsultasi ke dokter kandungan karena ada sesuatu yang harus diperiksa lebih terperinci," jelas Dokter Rio panjang lebar.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Rio, Vio yang sedari tadi menyimak pun angkat bicara, "Bagaimana bisa aku sakit, kalau aku merasa baik-baik saja. Hanya saja, akhir-akhir ini napsu makanku bertambah."
"Ini hanya diagnosa awal setelah melihat dan mendengar keluhan pasien. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kalian secepatnya menemui Dokter Arumi. Mungkin Al juga masih ada di sana. Untuk mual, muntah, lemas dan pusingnya nanti aku resepkan obatnya yang harus kalian tebus di apotek." Dokter Rio pun langsung muliskan resep untuk kedua sahabatnya.
Setelah mendapatkan resep dari Dokter Rio, Mereka berempat pun segera bergegas menuju ruangan Dokter Arumi sesuai petunjuk Dokter Rio.
Saat sampai di sana, terlihat Al yang akan masuk ke dalam ruangan Dokter Arumi karena saat tadi dia sampai di sana, ternyata dokter kandungnya sedang menerima pasien.
Namun betapa kagetnya Icha saat melihat Siska yang baru keluar dari ruangan Dokter Arumi dengan muka pucat dan badan yang kurusan tidak seperti saat mereka bertemu di bioskop.
"Mbak Siska!" panggil Icha
Mendengar ada yang memanggilnya, Siska yang sedari tadi menundukkan kepalanya langsung melihat ke arah suara yang memanggilnya. Dengan langkah seribu, Siska pun langsung mempercepat langkahnya.
"Aneh banget ya, orang mau nyapa malah kayak orang ketakutan. Emangnya aku kayak monster?" gerutu Icha.
"Sudahlah sayang, lebih baik kita masuk ke dalam," ucap Al
Al pun langsung membawa Icha masuk ke dalam, tapi saat dia mau menutup pintu, dia dikagetkan dengan kedatangan para sahabatnya.
"Mau apa kalian ikut masuk?"
...*****...
...Dukung terus Author ya! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...