
"Sejak kapan kamu ikut campur urusanku, Arka?" geram Elvano. Dia tidak suka Arkana memojokannya.
"Bang, selama ini aku menghargai Abang, makanya aku selalu diam dengan apa yang Abang lakukan pada Ara. Satu hal yang harus Abang tahu, bagaimanapun Ara kakakku. Aku minta mulai sekarang Bang El jangan ganggu Ara lagi." Tidak ingin berlama-lama di kantor Elvano, Arkana pun langsung keluar dari ruangan itu. Dia ingin marah tapi takut hubungan baik keluarganya akan berantakan. Apalagi persahabatan diantara keluarganya dengan keluarga Elvano turun temurun dari semenjak neneknya masih muda.
Selepas kepergian Arkana, Elvano terhenyak di kursi kebesarannya. Apa selama ini aku sudah keterlaluan pada gadis itu? pikirnya.
Di saat Elvano sedang dilanda kegalauan dengan pertanyaannya sendiri, pintu ruangan ada yang membuka dari luar. Terlihat Akira masuk dengan membawa tentengan di tangannya.
"Sayang, ayo kita makan siang dulu!" ajak Akira dengan menyimpan goodie bag yang berisi makanan di meja.
Elvano melihat sekilas ke arah Akira. Entah kenapa dia merasa risih dengan kehadiran gadis yang selalu menemaninya di saat dia merasa kesepian. Meskipun dia tidak mencintainya, tapi Akira selalu mengikuti kemauannya.
"Akira, sepertinya aku ingin putus. Aku sedang malas punya pacar," ucap Elvano dengan menatap lekat ke arah Akira.
"Kenapa bicara begitu? Apa karena cewek itu, kamu ingin putus?" tanya Akira dengan nada sinis.
Sialan! ATM berjalan aku malah minta putus. Aku hanya cukup menemaninya minum atau mendengarkan ocehannya kalau dia sedang mabok, besoknya langsung dapat transferan. Apa dia sudah bertemu dengan gadis yang bernama Ara itu? Sampai bosan aku mendengar cerita tentang cewek itu, batin Akira.
"Bukan! Aku hanya sedang ingin sendiri, kamu juga bisa melanjutkan hubunganmu dengan Nathan. Aku tidak keberatan!" jawab Elvano.
"Hubungan apa maksud kamu, El? Aku tidak mengerti," elak Akira.
"Sudahlah, aku tidak keberatan kalian berciuman dengan hot di mobilku. Kamu harus tahu Akira, Nathan mencintai kamu. Aku sarankan, lebih baik kalian lanjutkan saja." seperti tanpa beban Elvano membeberkan semuanya.
"Aku minta maaf, El! Waktu di mobil, itu karena Nathan yang memulai. Dia terus menggodaku," bela Akira.
"Aku sudah memaafkan kamu, ayo kita makan!" ajak Elvano yang kini sudah duduk di sofa bersama dengan Akira.
__ADS_1
Tak berselang lama, Nathan datang dengan berkas di tangannya. Dia hanya tersenyum melihat Akira dan Elvano sedang makan berdua.
"Nathan, ayo gabung!" ajak Elvano dengan menggeser duduknya memberi tempat pada Nathan agar dekat dengan Akira.
Nathan hanya menurut apa yang dikatakan oleh bos sekaligus sahabatnya.
"Nathan, setelah jam makan siang kosongkan jadwalku. Aku ada urusan," ucap Elvano di sela-sela makannya.
"Mau ke mana? Nanti aku atur ulang jadwal kamu," jawab Nathan.
Elvano tidak menjawab, dia hanya terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Setelah dirasa kenyang, dia langsung berpamitan pada keduanya untuk pergi duluan.
Pria tampan dan mapan itu, melajukan mobilnya menuju ke butik peninggalan omanya yang kini dikelola oleh mamanya Ara karena Bu Winda yang dulu memegang ER's Boutique sudah pensiun.
Sesampainya di sana, Elvano bergegas masuk ke dalam. Dia ingin meyakinkan perasaannya sendiri pada Arabella. Dengan penuh percaya diri pemuda tampan itu masuk ke dalam butik.
"El, tumben ke sini?" Bella menyambut kedatangan putra sahabat suaminya.
"Iya, Tan! Ara ada di ruangannya?" tanya Elvano to the points.
"Oh, Ara ada sedang bersama dengan temannya. Masuk saja El!" Bella pun mempersilakan Elvano untuk menemui putrinya. Bukan tidak tahu dengan apa yang terjadi di antara putrinya dan Elvano. Hanya saja Bella tidak ingin ikut campur dalam urusan putrinya. Dia tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai karena dia pernah merasakannya selama bertahun-tahun yang lalu.
"Makasih, Tan!" Elvano langsung naik ke lantai atas karena ruang kerja Ara dan mamanya memang ada di lantai tiga.
Saat sampai di depan ruangan Ara, Elvano merasa hawa tubuhnya menjadi panas dengan darah yang berdesir hebat. Elvano menghimpun kekuatan di tangannya sebelum dia masuk ke dalam. Tanpa bicara lagi, dia langsung menarik laki-laki yang sedang merangkul pundak Arabella.
Bugh bugh!
__ADS_1
Elvano langsung menghantam perut lelaki itu, membuat dia meringis kesakitan,
"El hentikan! Gala, kamu tidak apa-apa?" Arabella langsung menolong Gala yang sedang memegang perutnya akibat tinjuan dari Elvano.
"Kamu apa-apaan sih, El? Main pukul anak orang saja," geram Arabella.
"Kamu yang apa-apaan, berbuat mesum di jam kerja," tuduh Elvano.
"Elvano AP Wiratama, daripada Anda membuat keributan di ruanganku, silakan Anda keluar!" usir Arabella.
"Kamu berani mengusirku? Kamu pikir kamu siapa, berani mengusirku dari sini." Elvano bicara dengan nada yang meremehkan.
"Oh, iya aku lupa! Kamu pemilik tempat ini. Ayo Gala, kita pergi ke dokter!" Tanpa memperdulikan Elvano, Arabella langsung menuntun Gala keluar dari ruangannya. Dia kesal dengan sikap arogan Elvano yang kadang suka berbuat sesuka hatinya.
Tidak terima dengan apa yang Arabella lakukan, Elvano langsung mengejarnya dan menarik tangan Arabella untuk mengikutinya meninggalkan Gala yang sedang meringis kesakitan.
"Dasar Tuan muda, selalu bersikap semaunya. Apa Lana juga masih suka seperti itu? Tapi yang kudengar, sekarang Allana jadi dokter anak yang ramah," gumam Gala dengan mata yang tak lepas dari Elvano yang sedang menyeret Arabella.
Sementara Elvano terus menarik Arabella tidak peduli gadis itu terus memukuli tangannya. Hingga sampai lantai bawah, Ara pun terpaksa mengikuti pangeran kecilnya itu daripada merusak reputasinya sebagai desainer ER's Boutique.
"Kalian mau keluar?" tanya Bella yang melihat putriny sedang ditarik tangannya.
"Iya, Tan! El, pinjam dulu Ara." Elvano langsung membawa pergi Arabella setelah berpamitan dengan Bella.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...