
Seulas senyum mengembang di sudut bibir Pak Yusuf, hatinya merasa lega saat bagaimana melihat sikap menantu lelakinya itu memperlakukan putri semata wayangnya. Kini Pak Yusuf yakin tidak salah telah menikahkan Icha dengan Aldrich, seseorang yang telah menghancurkan kehormatan putrinya.
"Mungkin cara mereka untuk bersama awalnya memang salah, tapi aku yakin, anak itu mencintai putriku dengan begitu besar. Aku bisa melihat tatapan matanya hanya terpaku pada Icha meskipun banyak wanita yang lebih cantik di luaran sana." batin Pak Yusuf.
Melihat Pak Yusuf seperti sedang melamun, Bu Tasya pun menepuk tangan Pak Yusuf pelan.
"Jangan sering melamun Pah," tegur bu Tasya, "Ayo kita bersiap, bukannya Icha sudah selesai mengurus administrasinya?" lanjutnya.
"Papa tidak melamun Mah, Papa hanya senang melihat Icha sudah ada yang menjaganya. Jika suatu hari nanti Papa harus pergi, Papa jadi tidak merasa khawatir lagi," terang Pak Yusuf.
"Papa kalau ngomong suka asal. Papa tuh harus panjang umur, inget Farish belum punya anak. Apa Papa tidak ingin menimang cucu?" gerutu Bu Tasya.
Pak Yusuf hanya diam saja, tidak menanggapi istrinya yang mengerutu, bisa panjang ceritanya kalau dia ikut terpancing.
Setelah semuanya siap, Pak Yusuf pun pulang ke rumah dengan dikawal oleh teman-temannya Icha.
Saat sampai lobby, tak sengaja rombongan Icha berpapasan dengan Kinan dan Pak Sugeng, mereka tampak mesra dengan Kinan bergelayut manja di tangan pak Sugeng.
Abizar segera mengarahkan handphonenya melakukan siaran langsung di sosmed-nya dengan berpura-pura bikin konten YouTube kepulangan Pak Yusuf. Padahal dia sengaja mengarahkan kameranya ke arah Kinan dan Pak Sugeng.
Terlihat Pak Sugeng yang merasa kurang nyaman karena kelakuan di belakang istrinya tertangkap oleh tetangganya. Namun Kinan seolah tidak peduli, toh kalau pun ketahuan oleh istri Pak Sugeng, bisa jadi mereka bercerai dan dia yang akan jadi istri sah seorang jaksa, pikirnya.
Farish yang merasa sakit hati atas apa yang telah Kinan lakukan pada keluarganya, terutama adiknya, akhirnya angkat bicara.
"Kakak gak nyangka Kinan, selama ini yang telah Kakak sayangi itu tak lebih dari seekor rubah. Kamu menjelek-jelekan Icha di depan Ibu-ibu komplek, tahunya kelakuanmu lebih bejat dari apa yang telah Icha lakukan." Farish langsung pergi setelah mengatakan kekesalannya pada Kinan. Lagipula rasanya memalukan jika dia harus berantem dengan seorang perempuan di tempat umum.
"Terus saja Icha yang dibelain. Kenapa dari dulu dia terus yang diprioritaskan? Padahal apa kurangnya aku? Aku lebih anggun dan dewasa dari Icha, tapi selalu saja Icha yang diutamakan," sungut Kinan dalam hati.
***
Hari telah menjelang siang saat Icha dan yang lainnya sampai rumah. Dika langsung berlari menyambut kedatangan Al, rasa kangen yang membuncah dia luapkan dengan menghambur ke pelukan Al yang sudah merentangkan tangannya.
"Papa, Dika kangen..." rengek Dika dalam pelukan Al.
"Papa juga kangen sayang, gak ada Dika sama Mama Icha, rumah jadi sepi." Al terus mengelus punggung Dika dengan sayang.
__ADS_1
"Mama gak dapat pelukan nih," ucap Icha yang pura-pura cemburu pada Dika.
"Dapat kho Mah," sahut Dika seraya melepaskan pelukan Al dan berpindah memeluk Icha.
Abizar pun tak ingin ketinggalan untuk mendapatkan pelukan Dika, "Wah.... Om Abi ga dipeluk nih Dik, nanti gak dapat mainan baru dong!" rayunya.
"Om Abi dapat kho! tapi khusus Om Abi, nanti bayarannya mobil off road ya Om, yang bisa dinaikin tapi," tawar Dika seraya langsung memeluk Abizar.
"Abis dong tabungan Om buat ngelamar tante Aisha," ucap Abizar melas membuat yang lain mengulas senyum melihat tingkah Dika dan Abizar.
"Om Abi mau ikutan Om Kevin ya! Yang melamar tante Vio," ceplos Dika.
Mendengar kalau Kevin melamar Vio, Oryza pun langsung mencecar Kevin.
"Sialan Vin, mau lamar anak gadis orang gak bilang-bilang," sewot Oryza.
"Aduh Dika malah bilang-bilang lagi, dasar anak kecil gak bisa bohong," batin Kevin.
"Ya nanti aku bilang pas mau nikahannya, ya gak honey?" Kerlingan mata Kevin pada Vio.
"Udah masuk yuk! Bi Sari pasti udah nyiapin buat makan siang kita," ajak Icha.
Makan siang kali ini begitu meriah di rumah Icha, rumah yang biasanya sepi setelah kepergian Icha kini kembali terasa hidup kembali. Apalagi dengan celotehan Dika yang sukses membuat mereka tertawa. Namun keseruan itu harus berakhir saat Bu Irene datang terburu-buru memanggil nama Abizar.
"Abi Abi cepetan ikut mama!" teriak Bu Irene.
Abizar yang sedang makan langsung meninggalkan makanannya yang tinggal beberapa sendok lagi.
"Ada apa sih Mah, teriak-teriak?" tanya Abizar.
Mama Irene langsung menjewer telinga anaknya gemas, karena kelakuan anaknya kini di kompleknya geger tetang perselingkuhan Pak Sugeng dan Kinan.
"Aduh! Sakit Mah sakit," keluh Abizar.
"Kamu tuh apa-apaan bikin siaran langsung menayangkan perselingkuhan orang. Lihat sana! Bu Romlah sedang melabrak Kinan," terang Bu Irene seraya melepaskan jeweran tangannya.
__ADS_1
"Wah seru Mah, ayo kita lihat! Cha pinjem motornya ya!" teriak Abizar seraya menarik tangan Mamanya untuk mengikutinya.
Abizar langsung mengendarai motor Icha dengan Bu Irene di boncengannya. Terlihat begitu ramai di rumah baru Kinan, karena semua teman arisan Bu Romlah ikut melabrak ke rumah Kinan. Sementara Bu Irene yang juga ikut arisan di kompleknya memilih pulang mencari Abizar karena dia tahu kalau anaknya pulang hari ini.
Wajah Kinan terlihat berantakan dengan rambut yang acak-acakan, ditambah lagi baju atas Kinan yang sudah sobek di sana sini.
Flashback on
Ibu-ibu komplek yang sedang arisan bulanan di rumah Bu Romlah di buat heboh, saat salah satu peserta arisan yang umurnya baru menginjak tiga puluh tahun memperlihatkan siaran langsung Abizar pada ibu-ibu yang hadir. Mereka tidak ada yang mengira kalau Pak Sugeng yang terlihat kalem bermain wanita di belakang istrinya. Apalagi dengan perempuan yang dua puluh tahun lebih muda darinya.
"Tidak bisa dibiarkan Bu, Kinan harus kita kasih pelajaran. Jangan mentang-mentang dia masih muda dan cantik jadi seenaknya saja merebut suami orang," Si ibu muda pun mulai jadi kompor meleduk.
Setelah melihat siaran itu di tambah omongan teman arisannya, tanpa berpikir panjang Bu Romlah langsung menuju ke rumah baru Kinan yang ada di ujung komplek. Begitupun ibu-ibu arisan lainnya yang mengikuti Bu Romlah karena penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Saat sampai sana, terlihat suasana rumah yang sepi namun sayup-sayup terdengar suara sensual seorang wanita.
Tanpa permisi lagi, Bu Romlah pun langsung membuka pintu rumah Kinan yang memang tidak dikunci. Betapa kagetnya dia saat melihat suaminya sedang menyusu pada Kinan dengan posisi Kinan duduk di pangkuan Pak Sugeng.
Dengan kekuatan api yang keluar dari kepalanya, Bu Romlah langsung menarik rambut Kinan agar turun dari pangkuan Pak Sugeng.
"Dasar murahan penghianat, bilangnya Icha yang menjual keperawanannya, tapi sebenarnya kamu sendiri yang jual diri. Sudah tidak laku hah sama yang lajang sampai merebut suami orang," teriak Bu Romlah dengan terus menjambak rambut Kinan sampai begitu banyaknya rambut yang rontok.
"Lepas Bu, sakit!" pinta Kinan.
Pak Sugeng langsung melerai istri dan simpanannya. "Bu sudah, Bu! Kita bisa bicarakan baik-baik, jangan bersikap anarkis seperti ini," Lerai Pak Sugeng.
Namun tetap saja Bu Romlah terus mendesak ingin menjambak lagi, hingga akhirnya tamparan mendarat sukses di kedua pipi Kinan, karena adiknya Romlah ikut membantu kakaknya menyerang Kinan.
Flashback off
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote gift rate dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
👉 Next part