Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Terjebak


__ADS_3

"Abang, tau gak? Kak Lana sekarang sudah jadi dokter loh!" seru Zee heboh.


"Memang iya? Ade ketemu di mana?" tanya Dika kaget. Hatinya berdenyut saat mendengar nama seseorang yang mengisi penuh hatinya disebut.


"Kemarin ya, Mah! Waktu nganter Ade berobat karena batuk-pilek, ternyata Bu Dokternya kak Lana." Zee terus saja bicara tanpa tahu ada seseorang yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Pasti cantik ya, Dek?" Dika langsung menerawang jauh ke masa lalu saat dia sering bermain bersama meskipun sikap Allana terkadang judes tapi sedikitpun dia tidak sakit hati.


"Banget, Kak! Sekarang malah ramah banget. Coba saja tanya sama Zio." Zee terus saja membanggakan Allana di depan Dika sampai Icha pun menghentikan ocehannya.


"Zee, ganti baju dulu! Biar Abang istirahat, pasti lelah baru sampai." Icha kemudian mengajak Elzio untuk ikut bersamanya. "Abang istirahat saja dulu, pasti beresin kamarnya udah," suruh Icha kemudian.


Tak ingin mendebat mamanya, Dika langsung menuju kamarnya bersama dengan Zee dan Dave. Sementara Kattie menempati kamar tamu di lantai satu.


"Abang, kalau ingin ketemu Kak Lana bilang aku saja. Nanti aku anterin ke tempat kerjanya," ucap Zee sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.


"Makasih ya, Sayang! Nanti aja deh, kita istirahat dulu," Dika segera membuka pintunya. Dia mengedarkan pandangan, melihat ke seluruh ruangan yang selama ini dia tinggalkan.


"Masih sama, Mama tidak merubah isi kamar ini sedikit pun ," gumam Dika.


Setelah mengunci kamar, Dika pun mulai merebahkan badannya yang terasa lelah. Dia tidak ingin lengah ketika sedang tidur, sehingga dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Di saat Langit sudah mulai menampakkan warna jingga, perlahan dia membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Dika menggeliatkan badannya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah dia rapi dengan baju santainya, Dika pun turun ke bawah untuk mengambil minum karena terasa haus di tenggorokan.


Saat tiba di dapur, Dika mendapatkan mamanya sedang memasak. perlahan dia mendekat dan memeluk Icha dari belakang, disandarkan kepalanya di bahu Icha. Membuat Ica langsung terkaget, karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Abang, kamu bikin Mama kaget aja!" seru Icha.


"Mah, apa benar dengan apa yang dikatakan Zee. Kalau sekarang Allana menjadi dokter dan sangat cantik?" tanya Dika.


"Memang benar, Bang! Lana sekarang sudah menjadi dokter dan dia menjadi sangat ramah. Apa Abang belum melupakan dia?" tanya Icha.


Dika diam tidak menjawab apa yang ditanyakan mamanya. Dika menjadi penasaran dengan apa yang diucapkan oleh mamanya.


"Mama, Allana bekerja di rumah sakit mana? tanya Dika penasaran.

__ADS_1


"Allana bekerja di rumah sakit milik keluarganya, apa Abang akan menemuinya?" tanya Icha.


"Nggak tahu, Mah! Abang bingung, tapi Abang juga ingin sekali bertemu dengannya." Dika langsung melepaskan pelukannya pada Icha. Kemudian dia berlalu mengambil gelas dan menuju ke dispenser untuk mengisi air.


Setelah Dika menghilangkan rasa dahaganya, dia kembali menghampiri Icha dan menyenderkan bokongnya di kitchen set.


Tak berapa lama kemudian datanglah Al bersama seorang lelaki di sampingnya. Lelaki yang sudah sangat dikenal oleh Dika. "Uncle Philip," lirih Dika


Degh!


Jantung Dika berdetak lebih cepat dari biasanya, dia tidak menyangka papanya Kattie sudah ada di depan matanya.


Kenapa aku lebih suka menjadi orang biasa dari pada menjadi bagian dari keluarga Austin, tapi darah mereka mengalir di tubuhku, batin Dika.


"Sayang apakah Kattie sudah datang?


Katanya dia akan ke sini. Makanya Philip menyusul." Al mendekati istrinya dan menciumnya sekilas, setelah itu barulah dia menghampiri putranya dan memeluknya.


Al bisa merasakan debaran hati Dika, sehingga dia menatap lekat pada wajah Dika yang terlihat tegang, dia pun kembali memeluk putranya.


"Jangan cemas, Papa akan selalu mendukung setiap keputusanmu," bisik Al lalu mengurai pelukannya pada Dika


"Uncle, how are you?" Dika menghampiri Philip dan mencium punggung tangannya.


"I am fine, thanks!" Philip menepuk pundak Dika pelan. Dia sangat bangga pada calon menantunya itu, apalagi majalah luar negeri sering memberitakan tentangnya sebagai arsitek muda yang berbakat. Bahkan hasil rancangannya banyak disukai orang.


Setelah berpamitan, Dika pun pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dia malas berlama-lama dengan orang yang memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya.


Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju ke sebuah bar karena Arkana sudah menunggunya di sana. Saat Dika membuka pintu bar, terlihat Arkana melambaikan tangannya. Pemuda tampan bermata elang seperti yang dimiliki papanya itu segera mendekat pada sahabatnya yang sudah sekian lama tidak bertemu.


"Hai Bro! Apa kabar?" Arkana langsung berdiri menyambut sahabatnya.


"Aku baik! Apa kabar juga?" Dika dan Arkana langsung berpelukan ala pria yang tidak memakai cipika-cipiki seperti para wanita.


Dua sahabat itu asyik bercerita di temani oleh sebotol wine sampai hari sudah sangat larut dan terlihat Dika yang sudah mabuk, membuat Arkana memutuskan untuk membawa Dika ke hotel terdekat. Dika memang jarang minum minuman beralkohol. Kalau dia minum untuk pergaulannya di sana, paling dia hanya menghabiskan satu gelas saja. Namun hari ini, sepertinya dia mabuk berat.


Arkana memapah Dika yang sedang meracau tidak karuan. "Baru kali ini aku melihat dia mabuk seperti ini, tinggal lama di luar negeri tapi tidak kuat minum wine yang hanya beberapa gelas saja," gumam Arkana

__ADS_1


Setelah sampai kamar yang dipesannya, Arkana membantu Dika tidur dan membukakan sepatu dan baju yang bau alkohol. Di rasa keadaan Dika sudah bisa ditinggalkan, Arkana pun segera pulang menuju ke apartemennya. Dia tidak mungkin membawa Dika ke apartemennya, karena di sana ada seorang gadis yang bekerja untuk membersihkan apartemen dan menyiapkan makanan untuknya. Gadis yang ditolongnya saat gadis itu kabur dari acara pelelangan karena akan dijual keperawanannya oleh rentenir yang menangkapnya.


Setelah kepergian Arkana, tiba-tiba pintu kamar Dika ada yanng membukanya. Nampak perempuan muda datang dengan sempoyongan. Dia segera menuju ke kamar mandi untuk menetralkan rasa panas di tubuhnya. Selagi kesadarannya belum hilang, gadis itu mecoba untuk menghubungi keluarganya dan meminta mengirimkan dokter perempuan ke kamar hotel yang di sewanya.


"Ah sial! Siapa yang memasukkan obat itu ke dalam minumanku? Aku tidak bisa bertahan lagi! Aku harus menelpon lagi pada El agar lebih cepat lagi datangnya," gerutu Allana yang tadi menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya.


Namun entah siapa yang telah memasukan obat ke minumannya sehingga dia merasa badannya panas menginginkan sebuah sentuhan yang mampu meredakan rasa panas yang menjalar di tubuhnya. Menyadari hal yang aneh, Allana segera pamit ke toilet pada Richard sesama rekan dokternya.Akan tetapi, Allana langsung memesan kamar. Sembari menunggu dokter, dia meredamkan rasa panas itu dengan berendam di air dingin.


Allana mencari tas selempang yang tadi di lemparnya ke arah tempat tidur. Dia tidak menemukan handphone miliknya, tapi menemukan sesuatu yang membuat rasa dingin di tubuhnya. Allana terus meraba badan yang tanpa baju itu hingga sampai ke bawah dia menemukan sesuatu yang menonjol. Entah setan datang dari mana, Allana menciumi sesuatu yang mampu membuat suhu di tubuhnya menjadi menurun.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Dika pun membuka matanya. Dia terkaget saat mendapati Allana ada di atasnya hanya memakai bathrob sedang melakukan hal yang membuatnya bertambah mabuk. Dika membiarkan saja gadis itu melakukan sesuka hati padanya. Meski dia harus menahan gejolak hatinya untuk tidak melakukan yang lebih jauh lagi. Sampai akhirnya, boa itu benar-benar bangun dan ingin segera masuk ke dalam kandangnya. Dika membalikkan keadaan, bersamaan dengan Andrea dan seorang dokter masuk ke kamarnya.


Brak!


"Sialan lu!" Andrea langsung menarik Dika yang badannya penuh tanda merah akibat perbuatan Allana.


Melihat ternyata Dika yang berada di atas putrinya, Andrea menggantungkan tinjunya. Apalagi Dika seperti orang yang setengah sadar.


"Om!" lirih Dika yang masih setengah sadar dari mabuknya.


Apa yang sudah terjadi di antara mereka? Bocah ini juga, kapan datangnya? Sepertinya Dika sedang mabuk dan belum sadar sepenuhnya, Tapi bagus untuk memuluskan rencana aku, batin Andrea.


Andrea membawa Dika yang kembali tertidur ke sofa. Dia mencari ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Andrea tersenyum miring ingin melihat bagaimana reaksi rekan bisnisnya saat melihat kelakuan putranya.


"Dokter, bagaimana keadaan Lana?" tanya Andrea.


"Saya sudah menyuntikkan obat penawarnya, Tuan. Nona hanya akan tertidur untuk menetralkan kembali tubuhnya," jelas Dokter Sasi.


"Apa sentuhan fisik akan membangkitkan kembali reaksi obatnya?" tanya Andrea lagi.


"Tidak, Tuan! Ini penawar khusus yang khasiatnya tidak bisa diragukan lagi," jelas Dokter Sasi lagi.


"Kamu bantu putriku berpakaian tapi bagian atasnya dibuat terbuka saja! Aku akan memindahkan bocah itu ke samping Allana." Andrea segera memindahkan Dika ke samping Allana lagi.


...~Bersambung~...


...Dukung Author terus ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2