Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 47 Anak haram?


__ADS_3

Setelah memberi selamat dan berfoto bersama, Icha pun berbincang dengan kedua sahabatnya, Kia dan Vio.


"Aku gak nyangka banget Cha, kita iparan." Heboh Vio saat tahu kalau Icha adalah adiknya Farish, Kakak iparnya.


"Iya Vi, aku juga gak nyangka kalau Kak Violet itu kakak kamu," seru Icha


"Kamu tahu, Cha! Mbak Siska dipecat lho!" Kia mulai membuka kelas gosipnya bersama kedua sahabatnya.


"Aku tahu Kia! Noh orang yang udah pecat Mbak Siska. Malah depan aku lagi mecatnya" tunjuk Icha pada Al dengan dagunya.


"Sekarang kita malah dapat SP1 gara-gara gosip kamu itu," keluh Kia


"Salah kalian sendiri, siapa suruh gosipin aku." Bibir Icha pun langsung mengerucut karena merasa di salahkan oleh Kia.


"Kita kan penasaran dengan gosip yang beredar, abisnya mau tanya langsung kan jarang ketemu," kilah Vio


"Ya kalian nikmati aja keles, bulan ini gak dapat bonus," bisik Icha lalu cekikikan menertawakan wajah lesu kedua sahabatnya.


"Kamu tuh seneng di atas penderitaan orang, Cha!" seru Kia sewot.


"Udah jangan marah-marah, nanti aku traktir kalau gajian." Janji Icha pada kedua sahabatnya.


Seketika wajah Vio dan Kia menjadi sumringah mendengar Icha mau mentraktirnya.


"Nah gitu donk!" seru Kia


Setelah menyapa semua saudaranya dari kampung, Icha pun pamit untuk pulang.


Meskipun sebenarnya Icha masih ingin di sana, tapi dia takut nanti saudaranya bertanya ini itu padanya, apalagi dia ke sini bersama Al dan Dika. Sudah barang tentu saudaranya ingin tahu dengan siapa Icha datang. Lagipula Icha juga merasa tidak enak karena Al mengajaknya pulang.


"Dika mau main kemana dulu, mumpung masih siang," tawar Al


"Dika mau ke mall Pah, pengen naik thomas," jawab Dika


"Boleh! Nanti kita ganti baju dulu ya!" ucap Al


"Apa tadi Dek? Panggil Papa sama Om Al?" tanya Icha heran


"Iya, sekarang Dika punya Papa dua. Iya kan Pah?" sahut Dika


"Tentu saja sayang!" ucap Al meyakinkan


"Maksudnya apa Al?" tanya Icha bingung. "Sepertinya kita harus bicara," lanjutnya


Al hanya mengendikkan bahunya tidak peduli dengan apa yang Icha katakan. Yang penting kini hatinya senang karena Dika memanggilnya 'Papa'.


"Aku tidak peduli dengan kebenarannya jika Dika bukan anakku. Yang penting aku merasa sangat bahagia dengan panggilan 'Papa' dari Dika" batin Al


Al pun melajukan mobilnya menuju Mall yang menyediakan permainan anak dengan fasilitas lengkap.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya, Al langsung membawa Dika ke pusat permainan. Sedangkan Icha hanya mengekor dari belakang.


"Pah, kita naik kereta yuk Pah! Dika ingin naik Kereta sama Papa tapi Papanya sibuk terus. Papa Al mau kan temenin Dika" pinta Dika


Hati Al sangat terenyuh dengan keinginan Dika. Dia teringat saat tahun-tahun pertama kematian kedua orang tuanya. Al selalu menangis diam-diam, saat melihat sepupu atau sahabatnya yang selalu bercengkrama dengan orang tuanya atau saat mereka mendapatkan hadiah dari kedua orang tuanya. Sehingga Al selalu diam memendam semua rasanya sendiri.


"Ayo Papa temenin" ajak Al seraya menggandeng tangan Dika.


"Kakak, mau ikut?" tawar Dika


Saat Icha hanya diam tidak menjawab, Al sudah bicara duluan.


"Ayo Cha. Membahagiakan orang lain itu pahala lho!" sahut Al


Icha pun akhirnya mengikuti apa yang Dika inginkan.


***


Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Terlihat Siska sedang uring-uringan karena dia di pecat dari pekerjaannya, membuat Serena menjadi jengah dengan kelakuan adiknya.


"Kamu kenapa Sis? Daritadi uring-uringan terus" ketus Serena


"Aku tuh lagi kesel Mbak sama ponakannya Mas Bagas, si Icha itu," gerutu Siska


"Kesel sama Icha, kenapa uring-uringan di sini" seru Serena


"Mbak tahu, gara-gara dia aku dipecat dari pekerjaanku" geram Siska


"Karena aku bikin gosip kalau dia jadi simpanan CEO perusahaanku" jelas Siska


"Kamu sih cari gara-gara Sis, tapi kata Ibu mertua Kakak, katanya Dika itu sebenarnya bukan anak Mira tapi anak dari anak angkatnya Mira dan Mas Bagas" ucap Serena mulai bergosip.


"Emang siapa anak angkat Mas Bagas" tanya Siska


"Ya siapa lagi kalau bukan si Icha itu" jawab Serena jengah.


Pak Bagas yang baru datang, tidak sengaja mendengar pembicaraan istrinya dengan adik iparnya.


"Kenapa dengan Icha?" tanya Pak Bagas


"Itu Mas, Siska dipecat gara-gara Icha," terang Serena


"Memangnya kalian ada masalah apa?" tanya Pak Bagas lagi


"Aku dituduh menyebarkan gosip, padahal mah memang bener kho kalau Icha jadi simpanan CEO," beber Siska


"Kamu jangan bercanda Siska! Tidak mungkin Icha jadi simpanan, pacar saja tidak punya," bela Pak Bagas


Siska dan Serena hanya diam mendengar apa yang dikatakan Pak Bagas, tanpa berniat untuk membantahnya. 'Daripada berabe nantinya, mending ngalah saja' pikir Siska.

__ADS_1


Setelah Pak Bagas pergi dari hadapannya, Siska pun berlalu ke luar rumah untuk 9menyebarkan gosip ke tetangga terdekat kalau sebenarnya Dika bukan anak Bu Mira dan Pak Bagas, tetapi anak haram.


"Kalau aku tidak bisa membalas sakit hatiku pada Aldrich, maka aku akan balaskan pada Icha dan anaknya" geram Siska dalam hati


***


Setelah puas menjajal berbagai permaianan yang tersedia, Dika pun merengek meminta makan karena cacing-cacing di perutnya sedang berpesta jingkrak-jingkrak membuat perut Dika berbunyi merdu.


"Kakak lapar" keluh Dika seraya mengelus-elus perutnya


"Ayo sama Papa, kita makan sepuasnya," ajak Al seraya menggenggam tangan Dika agar mengikutinya


Al pun langsung membawa Dika menuju restoran cepat saji favorite Dika. Tanpa banyak bicara, Icha langsung mengikuti kemana Al membawa Dika.


"Cha, pesan seperti biasa kan?" tanya Al


"Iya! Tambah es krim ya!" pinta Icha


Dengan senang hati Al memesan makanan untuk dua orang yang dicintainya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Al langsung menuju ke meja yang ditempati oleh Icha dan Dika.


"Ini pesanan untuk putra kesayangan Papa," ucap Al seraya menyimpan nampan yang di bawanya


"Makasih Pah!" ucap Dika


Icha hanya mengulas senyum melihat interaksi Al dan Dika. "Makasih Al!" ucapnya


Dika terus saja berceloteh menanyakan apapun yang ingin diketahuinya pada Al, begitupun dengan Al yang antusias menjawab apapun yang Dika tanyakan dengan sesekali mengelap sudut bibir Dika yang belepotan karena saus. Icha yang sedari diam pun akhirnya angkat bicara.


"Al, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Icha tertahan sebelum ada suara lain yang berbicara tanpa permisi.


"Oh berarti benar ya, kalau Dika itu anak haramnya kamu, Cha." Tanpa permisi Bu Liana yang merupakan tetangga Icha di komplek menyerobot pembicaraan Icha.


"Bu Liana! Maksud ibu apa?" tanya Icha


"Saya sudah tahu semuanya dari Siska. Ternyata wajah polosmu itu sungguh menipu" cibir Bu Liana


Al yang tidak suka dengan kehadiran Bu Liana, langsung memanggil keamanan.


"Tolong usir dia Pak! Orang ini sudah mengganggu makan kami," suruh Al


"Baik Pak! Silakan keluar Bu! Di sini bukan tempat mencari keributan" ucap Security seraya menarik tangan Bu Liana.


Dika yang sedari tadi melihat keributan orang dewasa itu pun, jiwa penasarannya meronta-ronta.


"Kakak, anak haram itu apa?" tanya Dika


"Tidak ada anak haram sayang, yang ada itu perbuatan kedua orang tuanya yang haram."


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa ya! like, comment, vote, rate, gift dan masukin juga ke favorite....


👉Next part


__ADS_2