
"Kevin lepasin!" Vio langsung menghempaskan tangan Kevin saat Kevin sudah tidak menariknya lagi.
"Kamu, apa-apaan sih? datang-datang main makan makanan orang, udah gitu asal tarik tangan orang. Apa sih maumu?" Vio bertanya tanpa jeda.
"Kenapa kamu kecentilan sama Akas? Sekarang kamu tuh udah punya cowok, jadi hargai orang yang jadi cowokmu," tegas Kevin
"Apa katamu? punya cowok? Sejak kapan aku pacaran? Aku masih single, jadi aku bebas untuk dekat dengan cowok manapun, kenapa kamu repot? Aku...." Belum sempat Vio melanjutkan ucapannya, Kevin langsung membungkam mulut Vio dengan mulutnya.
Sedikit memaksa, lidah Kevin menerobos masuk ke dalam rongga mulut Vio untuk memperdalam ciumannya. Meski awalnya Vio menolak dengan terus memukul dada Kevin, tapi akhirnya di pun terhanyut dengan permainan indera pengecap Kevin yang mengabsen setiap sisi rongga mulutnya.
Setelah merasa puas saling mengecap, saling menyesap, Kevin pun melepaskan pagutannya dengan menempelkan keningnya dengan kening Vio.
"Dengar Viola! Mulai dari kejadian di cafe itu, kamu sudah menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan lelaki manapun selain aku. Jika kamu melanggarnya, aku tidak akan segan-segan menciummu meskipun itu di tempat umum." Kevin berbicara dengan nafas yang memburu.
"Kenapa kamu seperti itu padaku, Kevin? Apa karena Aku telah mengatakan perasaanku padamu, hingga kamu berbuat seenaknya padaku?" lirih Vio
Kevin tidak bisa menjawab pertanyaan Vio, karena dia pun belum mengerti dengan perasaannya pada Vio.
"Sudah malam, ayo kembali ke villa!" ajak Kevin
Kevin pun beranjak pergi yang kemudian di susul oleh Vio dari belakang. Sesampainya di villa, terlihat suasananya sudah sepi, mungkin penghuninya sudah beristirahat di kamar masing-masing.
"Beristirahatlah! Jangan terlalu dipikirkan! Kita jalani saja sebagaimana mestinya," pesan Kevin sebelum Vio masuk ke dalam kamar yang di tempatinya.
Setelah Vio masuk ke dalam kamarnya, Kevin pun segera mencari Oryza yang ternyata ada di mini bar sedang menikmati segelas wine.
"Sendirian aja Za?" tanya Kevin seraya menepuk pundak Oryza.
"Harus sama siapa lagi? Al lagi indehoy di kamar, mumpung Dika nginep di villa Pak Andrea. Sedang Abizar, dia gak terbiasa minum yang kayak ginian," terang Oryza
"Terus kenapa minum sendiri?" tanya Kevin
__ADS_1
"Aku kepikiran Kak Mitha, andai dulu aku berani mendekatinya, apa mungkin sekarang dia jadi milikku. Dia semakin cantik Vin, lebih cantik dari saat dulu aku masih jadi stalkernya," ungkap Oryza
"Sadar Za, kamu tuh gak akan mampu bersaing dengan Pak Andrea," tegur Kevin
"Aku tahu, tapi aku belum bisa ngilangin perasaan yang sudah lama ku simpan sendiri. Aku selalu mencoba menjalin hubungan dengan gadis lain, tapi tetap hatiku hanya tertuju padanya. Saat aku mulai menyukai gadis lain ternyata dia juga sudah dimiliki oleh sepupuku sendiri." Curhat Oryza dengan tertawa hambar.
"Lebih baik kamu mencoba membuka hati untuk gadis lain, Za. Coba aja jalanin sama Kia, sepertinya dia benar-benar menyukaimu," saran Kevin
"Heh Kia? Dia itu suka bercanda Vin, omongan dia kamu anggap." Oryza hanya tersenyum miring mendengar nama Kia disebut.
Tanpa mereka sadari, ada seorang gadis yang diam mematung mendengarkan percakapannya.
"Padahal apa yang aku katakan jujur dari hatiku, tapi ternyata hanya dianggap candaan," batin Kia
Kia pun kembali ke kamarnya, tidak jadi mengambil air minum ke dapur.
Oryza dan Kevin terus minum wine berdua hingga tak terasa sudah habis satu botol. Setelah keduanya merasa puas, mereka pun ke kamar untuk beristirahat.
Sementara di sebuah kamar yang berada di lantai atas, terlihat baju yang berserakan di bawah ranjang dengan suara merdu percintaan dua insan yang di mabuk asmara.
"Sayang, kenapa selalu terasa nikmat. Aku merasa tidak pernah cukup jika hanya sekali," lirih Al seraya mengelus rambut Icha yang sedang memeluknya.
"Al kenapa kamu jadi mesum? Akh iya aku lupa, waktu dulu juga kamu sering nyuri cium bibir aku kan?" tuduh Icha
"Aku mesum cuma sama kamu, Cha," ucap Al, "Kalau soal itu, aku bukan cium tapi kecup bibir kamu, karena hanya menempel saja tidak sampai menerobos masuk ke dalam," ungkapnya
"Sama saja Al, kamu sudah mencurinya dariku. Dasar pencuri, pemaksa...." Belum sempat Icha melanjutkan ucapannya, Al sudah memotongnya.
"Pemerkosa, itu yang pantas kamu sematkan buatku," potong Al
"Al, jangan marah! Aku hanya bercanda Papa nya Dika," rayu Icha seraya menangkap kedua pipi Al yang terdiam setelah memotong ucapan Icha.
__ADS_1
"Oke! Tapi ada syaratnya," ucap Al
"Apa syaratnya?" tanya Icha
"Aku minta sekali lagi," ucap Al dengan senyum mengembang di bibirnya, jangan lupakan kerlingan mata mesumnya yang siap meruntuhkan iman para kaum hawa.
Icha menghela nafas dalam menanggapi keinginan suaminya, ingin menolaknya tapi takut dosa, menurutinya rasanya lelah sekali. Pada akhirnya, Icha hanya mengangguk pasrah memenuhi keinginan suaminya.
Tanpa berkata lagi, Al langsung memagut candunya, menyentuh tiap titik sensitif Icha, sehingga suara merdu kenikmatan itu semakin membakar hasrat yang menggelora. Dengan tidak sabaran, Al langsung memasukkan pusaka keramatnya ke sarang berharga milik Icha.
Suara-suara laknat itu bersahutan memenuhi seisi kamar, hingga di ujung puncaknya, Al dan Icha mereguk kenikmatan bersamaan.
"Kamu sangat luar biasa sayang, aku mencintaimu," bisik Al tepat di telinga Icha.
Namun sayang, Icha tidak mendengar sepenuhnya apa yang Al katakan, karena dia sudah membuka pintu gerbang menuju ke dunia mimpi.
Keesokan paginya, saat mentari sudah menerobos masuk di sela-sela jendela kamar, terlihat pasangan suami istri masih bergelung di bawah selimut. Udara puncak yang dingin, membuat pasangan yang terlelap setelah olahraga malam yang panas itu, semakin mengeratkan pelukannya untuk mencari kehangatan.
Namun kenyamanan itu harus berakhir, saat terdengar suara gedoran pintu yang tak kunjung berhenti.
Tok tok tok
"Al bangun Al, ada Pak Andrea," teriak Kevin di depan pintu.
Al yang mendengar suara gedoran pintu langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, begitupun Icha yang langsung ikut menyusul suaminya dengan membalutkan selimut ke tubuhnya, segera berlari kecil karena merasa terciduk oleh satpol PP.
Sementara Kevin yang merasa kesal karena tidak ada sahutan dari dalam kamar, segera berbalik menuju lantai bawah seraya mulutnya tak henti bersungut-sungut merasa kesal pada bos sekaligus sahabatnya.
"Dasar Aldrich! Dulu aja dia dingin banget sama cewek, sekarang malah doyan. Gak cukup emang semalaman mereka meracau mengeluarkan suara-suara yang membuat si Ujang terbangun. Dia enak ada pasangannya, lah aku sama Oryza terpaksa tidur dengan headset sambil dengerin lagu," sungut Kevin pelan.
"Kamu kenapa Vin?"
__ADS_1
...*****...
👉Next part