
Malam semakin larut, udara di kota S yang memang berada di kaki gunung semakin menusuk kulit. Meskipun sudah memakai sweater tapi dinginnya masih terasa.
Icha terus mengosok-gosokan tangannya mencari kehangatan pada sweater yang di pakenya. Melihat hal itu, Al segera memasukan tangan Icha ke kantorng jaketnya.
"Kita pulang saja, lagipula sudah jam sembilan lewat," ajak Al
"Ayok!" Icha langsung menyetujui ajakan Al, karena memang dia pun sudah kedinginan.
Begitupun dengan yang lainnya yang memutuskan untuk segera pulang.
Vio dan Kia pulang ke rumah Icha untuk menempati kamar tidur Icha karena suruhan dari Violet yang merasa tidak percaya jika adiknya itu tidur satu rumah dengan kekasihnya. Sedangkan yang lainnya bermalam di rumah Al.
Sepanjang perjalanan pulang, Kevin terus menggerutu karena merasa kesal Vio tidak tidur di rumah Al. Mau protes, dia tidak punya dalih yang kuat kecuali harus membongkar pernikahannya. Sementara Vio masih belum siap untuk terus terang sebelum papanya bisa menerima Kevin sebagai menantunya.
"Ck! dingin-dingin gini, punya istri tapi malah tidur dengan Ryza. Enak banget Al yang bisa pelukan terus sama Icha. Harus secepatnya ini merebut hati mertua," monolog hati Kevin
Tak jauh berbeda dengan Kevin, Oryza sedari tadi terus menerus memegang bibirnya yang tadi bekas tabrakan dengan Vio. Ada perasaan senang menelusup hatinya, tapi saat dia teringat dengan kejadian tadi di alun-alun, hatinya tiba-tiba bergemuruh. Ada rasa tidak rela gadis yang selalu menggombalinya bersama lelaki lain.
"Rasanya tidak mungkin kalau aku suka sama Kia, gadis berisik yang urat malunya hampir putus. Tapi dia itu cantik dan lucu." Oryza terus berperang antara perasaan dan logikanya
Lain halnya dengan Al, seseorang yang sudah berani mengambil sikap saat perang batin antara hati dan kebenciannya, kini sedang menikmati malam panjang bersama dengan istri tercintanya.
"Sayang, masih minum pil itu gak?" tanya Al setelah menyelesaikan ronde pertamanya seraya mengelus perut rata Icha.
"Aku sudah gak minum lagi setelah hari itu," ungkap Icha
"Setiba di sana, kita periksa ke dokter ya! Aku hanya ingin memastikan apakah pil itu berpengaruh tidak pada kandunganmu," ucap Al lembut
"Iya, Memangnya kamu ingin cepat-cepat punya anak lagi?" tanya Icha memastikan.
"Aku tidak ingin Dika sepertiku yang tidak memiliki saudara kandung," jawab Al sendu, "Aku ingin saat Tuhan memanggilku nanti, Dika tidak merasa sendiri sepertiku. Setidaknya akan ada seseorang yang saling menguatkan seperti kamu dan Kak Farish," lanjutnya
"Maafkan aku ya! Rasanya aku berdosa banget dulu menyetujui taruhan dengan Marco. Seandainya dulu aku tahu kamu sudah tidak punya orang tua, mungkin aku berpikir berulang kali," tutur Icha
Al mengeryit heran dengan apa yang dikatakan istri, "Memang apa hubungannya dengan aku sudah tidak punya orang tua? Bukankah mempermainkan perasaan orang lain itu tetap sala" tanyanya
"Memang salah, tapi kata Pak Ustad kita harus menyantuni anak yatim piatu tidak boleh menyakitinya ataupun menghardiknya," terang Icha
Mendengar apa yang dikatakan Icha, Al malah tersenyum smirk lalu berkata, "Benar kata Pak Ustadz sayang, jadi mulai sekarang kamu harus sangat baik sama aku karena aku yatim piatu. Kamu harus panggil aku sayang, gak boleh nolak kalau diajak mantap-mantap terus harus nurut semua yang aku katakan."
__ADS_1
"Aku kan suka nurut sama kamu," cebik Icha
"Beneran? Kalau gitu ayo kita ulangi lagi yang tadi," ajak Al dengan menaikturunkan alisnya
"Al.... Memangnya yang tadi belum cukup?" rengek Icha
"Belum sayang, kamu tuh seperti magnet yang selalu menarikku dimanapun aku berada." Gombal Al
"Bohong banget, memang selama kamu kuliah di luar negeri, kamu gak pacaran?" pancing Icha
"Bagaimana aku bisa pacaran,kalau kamu yang selalu memenuhi hati dan pikiranku," jujur Al
Tanpa bicara lagi, Al langsung meraup candu nya, menyentuh tiap titik sensitif Icha hingga pergumulan itu tak dapat di elakkan lagi.
***
Hari terus berganti, waktu terus berlalu. Semenjak pulang dari kota S, Kia semakin dekat dengan Dito dan Oryza pun kemana-mana selalu ditempeli oleh Yura. Sedangkan Vio dan Kevin masih stuck di tempat, menyembunyikan pernikahan mereka dari orang lain karena sampai saat ini Kevin belum bisa mendekati Pak Gun, papanya Vio.
Sudah seminggu ini wajah Al selalu terlihat lesu di pagi hari. Bahkan napsu makannya pun berkurang. Namun akan segar kembali setelah dia memakan belimbing wuluh, sehingga Bi Sari kerepotan mencari belimbing yang sangat jarang ditemui itu.
Berbeda dengan Icha yang kini porsi makannya bertambah dua kali lipat, membuat badannya semakin berisi.
"Sayang, kenapa gak di makan? Mubazir tahu, sini biar aku habiskan saja," pinta Icha setelah dia menghabiskan sarapannya.
"Kamu gak papa makan sampai dua piring? Perutnya memang gak begah?" tanya Al heran
"Enggak! Lagian sayang makanan cuma diacak-acak, nanti nangis loh!" ujar Icha seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Sayang, makannya jangan sambil ngomong!" tegur Al seraya mengelap makanan yang menempel di bibir Icha
Icha hanya tersenyum dengan mengacungkan jempolnya karena mulutnya penuh dengan makanan, membuat Al geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
"Melihat kamu makan lahap saja, sudah membuatku kenyang," bisik hati Al
Setelah menghabiskan sarapannya, Al pun mengajak istri dan anaknya untuk berangkat ke sekolah Dika sebelum mereka ke kantor.
"Papa, muka Papa pucat sekali. Apa papa sakit?" tanya Dika saat akan berpamitan.
"Papa cuma sedikit pusing, nanti siangan dikit juga baikan kho," jawab Al
__ADS_1
"Iya sayang, kita ke dokter ya! Perasaan sudah seminggu ini kamu lesu terus, padahal kalau malam segar bugar," ungkap Icha
"Bener juga apa yang Icha katakan, kalau malam malah bersemangat sekali menggempur dia," batin Al
"Dika baik-baik di sekolahnya ya sayang, nanti Pak Komar yang akan jemput pulang sekolah," pesan Icha sebelum Dika keluar mobil.
Pak Komar langsung melajukan mobil tuannya dengan kecepatan sedang setelah menurunkan tuan mudanya. Memang semenjak Al selalu merasa lemas di pagi hari, Pak Komar yang setia mengantar jemput kemana pun tuannya pergi.
Saat depan lobby, Al dan Icha pun turun dari mobil. Terlihat Kia dan Dito yang juga sama baru datang.
"Pagi Bos! Pagi, Cha!" sapa Dito ramah
Al diam saja, hanya memijit-mijit terus keningnya tidak menjawab sapaan Dito. Sehingga Icha yang menggantikan Al menjawab sapaan Dito.
"Pagi Dito, Kia. Kalian makin lengket aja nih. Kalau jadian, jangan lupa PJ nya ya!" goda Icha
"Sayang, kho aku pusing banget ya! Telpon Kevin suruh ke sini," titah Al seraya dia menuju kursi yang ada di lobby.
"Sebentar, aku telpon dulu ya!" Tanpa menunggu lama, Icha langsung menghubungi Kevin dan menyuruhnya untuk menjemputnya di lobby.
Tak lama kemudian, Kevin pun datang bersama dengan Oryza yang sengaja dihubungi oleh Kevin agar membantunya membopong Al ke atas.
Al pun langsung di bawa ke kamar khusus agar beristirahat dulu, dan tak berselang lama dokter pribadi Al datang memeriksa keadaannya. Setelah memeriksa kondisi Al dan mendapat keterangan dari Icha, dokter pun mengambil kesimpulan tentang sakitnya Al.
"Sepertinya Tuan Al terkena kehamilan simpatik," ucap Dokter Rio
"Maksud dokter, Al juga bisa hamil? Terus dia melahirkan lewat mana? Apa dengan operasi caesar?" cerocos Icha kaget saat mendengar diagnosis dokter.
"Bukan seperti itu Nona, maksudnya Tuan Al merasakan gejala kehamilan yang seharusnya dirasakan oleh ibu hamil. Hal itu terjadi karena rasa simpatik seorang suami pada istrinya yang sedang hamil." Jelas Dokter Rio
"Istrinya yang sedang hamil," gumam Icha pelan, "Berarti aku yang hamil dok?" pekik Icha saat sadar dengan maksud ucapan dokter dengan menunjuk mukanya sendiri.
"Iyalah dodol kalau situ memang istrinya," ucap Dokter Rio dalam hati
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
👉Next part