
Menyadari seperti ada yang memperhatikan, Al pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Raka sedang mematung di sana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Om Raka, sudah lama di situ?" tanya Al kaget mendapati ayahnya Kalisa diam mematung di depan pintu yang tidak di tertutup rapat.
Sadar keberadaannya diketahui oleh Al, Raka pun langsung menyunggingkan senyumnya. "Om tadi tidak sengaja bertemu Kevin di depan, katanya istrimu melahirkan. Jadinya sekalian saja, Om tengokin ke sini. Pas tiba di sini, kalian sedang asyik bercengkrama. Jadinya, Om menunggu takut mengganggu kalian."
"Tidak, Om. Aku malah senang, Om berkunjung ke sini." Al langsung berdiri dari duduknya dan memberi kode pada Icha untuk merapikan pakaiannya.
Setelah melihat Icha sudah rapi, tidak terlihat buah kesayangannya meski sedang menyusui, Al pun langsung menghampiri Raka dan mengajaknya duduk di sofa yang di sediakan untuk menunggu pasien.
"Om, apa kabar?" tanya Al.
"Om baik, Al. Hanya saja, Om sangat ingin bertemu dengan putranya Kalisa. Kenapa kalian tidak mengijinkan aku untuk membawanya," ucap Raka dengan wajah yang terlihat melas. Sangat berbanding terbalik dengan yang ada di hatinya. Dia membenci Al karena telah meninggalkan Kalisa dan memilih perempuan kampung itu, sehingga keinginannya untuk menguasai Putra Group mendapat batu sandungan.
"Untuk masalah itu, aku tidak punya wewenang, Om. Karena semua itu keinginan Kakek Satya," ucap Al
"Paling tidak kalian mengijinkan aku untuk melihatnya. Tapi kalian malah menghalangi aku untuk melihat cucuku sendiri." Raka langsung berdiri dari duduknya hendak pergi. Namun sebelumnya dia memberi pesan pada Al, "Jaga istri dan anakmu dengan baik!"
Al mengerut heran dengan maksud dari Papanya Kalisa itu, "Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Om Raka," gumamnya.
Tak berselang lama setelah kepergian Raka, orang tua Icha datang dari kota S untuk menengok anak dan cucunya.
Pak Yusuf sangat senang melihat bayi kecil itu, apalagi sangat mirip dengan Icha saat dulu masih bayi, sehingga dia teringat saat-saat Icha dilahirkan.
"Mah, cucu kita mirip sekali dengan Ibunya ya. Papa jadi teringat dulu Icha lahir," ucap Pak Yusuf
"Iya, pinter banget mereka bikin anak. Yang cowok jiplakan Papanya, yang cewek kembaran mamanya." Bu Tasya mengulurkan tangannya ingin menggendong cucu perempuannya.
Icha langsung memberikan putrinya agar digendong oleh mamanya. Pak Yusuf pun langsung mendekat ingin mencium cucu perempuannya.
"Hush ... Jangan cium-cium, Pah! Lihat papanya lihatin terus! Nanti saja kalau Al sudah pergi," bisik Bu Tasya.
Mendengar bisikan dari istrinya, Pak Yusuf langsung melirik Al yang memang sedang melihatnya tanpa berkedip, sehingga dia pun mengurungkan niatnya ingin mencium pipi cucu perempuannya.
Al menghela napas dalam melihat mertuanya saling berbisik dan melirik ke arahnya. Padahal dia melihat mereka tak berkedip karena dia teringat dengan orang tuanya. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin mereka juga akan sebahagia itu melihat cucunya.
"Mah, Pah, Al mau ke kantin dulu. Mungkin Mama sama Papa ada yang mau dititip?" Akhirnya Al beralasan ke kantin untuk memberi ruang pada mertuanya.
__ADS_1
"Gak ada Al. Ini Mama sudah bawa makanan banyak dari rumah," ucap Bu Tasya.
"Kalau begitu, Al titip Icha dulu sebentar ya, Mah." Setelah berpamitan pada mertuanya, Al pun langsung pergi menuju kantin rumah sakit.
Saat di kantin, pria tampan itu hanya memesan kopi untuk menenangkan pikirannya. Entah kenapa, dia merasa seperti ada orang yang sedang mengintainya. Saking asyik bergelut dengan pikirannya, tanpa disadarinya sudah duduk seorang gadis cantik di depan kursi Al.
"Hai Kak Aldrich!" sapa Yura dengan tersenyum manis.
Al langsung melihat ke arah asal suara yang sangat dikenalnya sedang tersenyum manis padanya.
"Sudah puas mengacau di rumahku?" sarkas Al.
"Belum, aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan. Kamu tahu, apa yang aku lakukan pada anak dan istrimu belum sebanding dengan apa yg yang aku alami selama ini. Kamu juga harus merasakan kehilangan seperti yang aku alami." Yura pun bicara begitu tenang dengan tangan yang terus memutar-mutar rambutnya.
"Maksud kamu apa? Kamu mengancamku?" pekik Al.
"Tidak Kak Aldrich, mana berani aku mengancam Kakak." Kali ini Yura memasang wajah sendu. Sungguh pintar dia merubah ekspresi wajahnya dalam sekilas seperti seorang artis sinetron.
"Apa kamu sudah mengetahui semuanya?" selidik Al.
"Sial!!! Kenapa instingnya kuat sekali? Juna juga, kenapa datangnya telat?" rutuk Al pelan.
Arjuna yang memang tadi dihubungi oleh Al, baru saja datang saat Al menahan kesalnya.
"Telat, dianya sudah pergi," ketus Al.
"Sorry bro, nanti aku minta cek CCTV rumah sakit." Arjuna yang memang kenal dekat dengan pemilik rumah merasa bukan hal yang sulit untuk mendapatkan rekaman CCTV, apalagi dia seorang aparat kepolisian.
"Aku harap segera tuntaskan dia secepatnya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keluargaku," ucap Al sebelum beranjak pergi kembali ke ruang inap Icha.
Sementara Arjuna hanya tersenyum simpul mendengar apa yang Al katakan.
Dasar orang kaya, maunya cepat maunya beres. Tidak tahu apa kalau polisi juga manusia. Yang butuh makan, butuh kasih sayang, butuh belaian. Anjritt gue jadi pengen dibelai, batin Arjuna.
Kenapa mendadak inget sama sekretarisnya Aldrich ya, kenapa rasanya sangat familiar? Tapi gue lupa kapan ketemu sama tuh cewek. Lagi-lagi Arjuna hanya bicara dalam hatinya seraya berjalan menuju ruang pengamanan CCTV rumah sakit.
Sementara di lain tempat, Aisha sedari tadi tidak berhenti bersih sampai-sampai dia menghentikan pekerjaannya dan menuju toilet.
__ADS_1
"Duh gatel banget nih hidung, kayak mau sakit aja," gumam Aisha.
Setelah dari toilet, Aisha tidak langsung ke ruangannya tapi dia berbelok menuju ruangan Oryza. Dia merasa penasaran dengan keadaan rumah Yura. 'Apa benar Yura tidak tinggal di rumahnya? Lalu dia tinggal di mana?' pikir Aisha.
Namun, saat sampai ruangan Oryza, Aisha malah disuguhkan oleh pemandangan yang jauh dari kata biasa.
"Ya Ampun Ryza! Kenapa kamu cium ketek Kia? Gak jijik emang?" Seru Aisha di ambang pintu yang sukses membuat dua anak manusia itu menjadi kaget dengan kedatangan Aisha.
"Sha, ketok pintu dulu apa kalau mau masuk!" ketus Oryza kesal karena kegiatan yang paling disukai selama kehamilan Kia terganggu.
"Gimana mau ketuk pintu, kalau pintunya gak ditutup." Aisha langsung duduk di sofa yang ada di ruangan Oryza.
"Memangnya mau apa kamu ke sini?" ketus Oryza
"Aku boring di sana. Jadinya jalan-jalan aja ke sini, eh tahunya di sini malah tambah bikin boring," keluh Aisha.
"Memang kenapa Mbak Aisha boring?" tanya Kia.
"Abizar susah banget di hubungi, Vio di ruangan Kevin terus. Icha lahiran, jadi gak ada teman cekikikan." Aisha terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.
"Mending kita nonton drakor aja, Mbak!" ajak Kia.
"Sayang!!!" geram Oryza.
Kia hanya cengengesan melihat kekesalan suaminya, entah kenapa semenjak Kia hamil, Oryza jadi posesif. Dia melarang Kia untuk nonton drakor dengan alasan nanti anaknya malah mirip opa korea, tidak mirip dengannya sebagai pencetak bibit unggul.
"Ayolah kita nonton! Sekali ini aja, Za." Aisha mulai mengeluarkan puppies eyes buat merayu Oryza.
Dengan terpaksa Oryza pun menyetujui keinginan istri dan sahabatnya tapi tentu saja Oryza tidak mau rugi sehingga dia mengajukan syarat pada Kia.
"Boleh saja kalau mau nonton drakor, tapi aku harus cium wangi kamu sayang."
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih 🙏🏻...
__ADS_1