
Secerah sinar mentari yang menerangi Ibu kota, secerah itu wajah Abizar saat ini. Dia begitu bahagia saat tadi ditelpon oleh Bi Ijah dan diberitahu bahwa istrinya positif hamil saat di test memakai testpack.
Dengan buru-buru dia pulang ke rumahnya karena merasa tidak sabar ingin bertemu dengan Aisha. Abizar sengaja pulang sebelum jam kerja berakhir saking tidak sabarnya ingin membawa Aisha untuk periksa ke dokter. Namun saat sampai parkiran, dia melihat hal yang mencurigakan di dekat mobil Al. Perlahan dia mendekat dan melihat ada seorang lelaki yang tidak dikenalnya sedang mengotak-atik di kolong mobil.
Abizar langsung menyalakan ponselnya menghubungi Al tapi sepertinya dia sedang sibuk sehingga tidak mengangkat telepon dari Abizar. Dia pun mencoba lagi menghubungi Kevin dan langsung tersambung. Dengan berbisik di telepon, Abizar memberitahu apa yang di lihatnya. Setelahmemberi tahu Kevin, Abizar pun langsung menyalakan mobilnya pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah, terlihat keadaan rumah yang lengang seperti di tinggalkan oleh penghuninya. Dengan tidak sabaran, dia membuka pintu depan membuat orang yang ada di dalam rumah mengelus dada karena kaget. Namun, saat pintu sudah terbuka lebar, Abizar yang berbalik menjadi kaget dengan kejutan yang diberikan oleh Aisha.
"Surprise...." pekik Aisha dan yang lainnya yang ternyata sudah ada mamanya Aisha, Bu Dewi, dan Icha di dalam rumahnya.
Tanpa malu, Aisha langsung mencium pipi Abizar sekilas. "Selamat jadi ayah!" ucapnya.
Bu Dessy dan Bu Dewi pun bergantian memberi selamat pada Abizar. Tak ketinggalan dengan sahabat kecilnya yang terlihat heboh menyambut kehamilan istrinya.
"Selamat ya Abi! Jaga anak dan istrimu dengan baik!" ucap Bu Dewi.
"Iya, Tan! Abi pasti jaga mereka!" sahut Abizar
"Selamat ya, Nak! Papa pasti senang sebentar lagi akan punya cucu. Mama titip Isa dan cucu Mama ya! Jaga mereka dengan baik dan jangan pernah menyakitinya!" ucap Bu Dessy sendu.
Bagaimanapun, kepergian suaminya meninggalkan luka yang dalam.
"Pasti, Mah! Aby pasti menjaganya karena mereka sumber kebahagiaanku!" sahut Abizar.
"Selamat Mas Bro! Jadi suami siaga ya! Siap-siap aja nanti Aisha ngidam. Jangan nanggung, Sha! Kalau minta sesuatu pada Abi." Icha mendadak jadi kompor meleduk membuat Abizar dengan refleks menyentil dahi Icha.
"Awww.... Sakit Bizar! Awas aku bilang sama mama!" ancam Icha kesal.
"Kamu tuh, Bee! Hati-hati loh ketahuan Al,bisa ngamuk dia." Tegur Aisha pada suaminya.
"Tenang sayang! Suaminya Icha pasti lama di kantor, tadi ada yang ngotak-ngatik mobilnya di parkiran." Abizar berbisik di telinga Aisha takut Icha merasa khawatir.
"Kho kamu bisa tahu?" tanya Aisha heran.
__ADS_1
"Tadi pas mau pulang aku gak sengaja lihat orang mencurigakan terus aku telpon Al tapi gak diangkat. Ya udah aku telpon Kevin saja, untungnya dia angkat telpon aku," jelas Abizar.
Tak berselang lama, Al datang bersama Oryza dan Kia dengan muka yang tegang, disusul dengan Kevin dan Vio di belakangnya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Al dan yang lainnya langsung mengalami Bu Dewi dan Bu Dessy yang sedari tadi asyik bermain dengan baby Zee.
Al langsung memeluk Icha erat membuat dia bertanya-tanya dalam hati. 'Sebenarnya ada apa dengan suaminya? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?' pikir Icha.
Bukan hanya Icha yang heran tapi Bu Dewi dan Bu Dessy pun sama herannya dengan Icha. Mereka tahu keponakannya itu jarang mengeluh tapi lebih ke tindakan saat dia merasa tidak baik-baik saja.
"Sayang kenapa?" tanya Icha lembut.
"Aku senang masih bisa melihatmu dan memeluk erat tubuhmu," lirih Al, "terima kasih Abizar karena kamu memberi tahu tepat waktu," lanjutnya.
"Iya, orangnya sekarang sedang diproses oleh polisi," tutur Kevin, "Thanks ya Bro! Aku berhutang padamu," ucap Kevin tulus.
"Santai aja! Aku senang jika bisa membantu," ucap Abizar tulus.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian main rahasia-rahasiaan?" Tegur Bu Dewi yang sedari tadi menimang baby Zee.
"Ada orang yang mau mencelakai Al lagi, Mah! Untung saja tadi Abizar melihatnya, jadi mobil Al langsung diperiksa oleh bengkel dan ternyata ada orang yang menyimpan bom di bawah mobil, yang dihubungkan dengan spedometer. Kalau kecepatannya bertambah tinggi, maka bom itu akan meledak." Oryza dengan sabar menjelaskan pada mamanya yang segala sesuatunya harus dia ketahui.
"Astagfirullah Al, untung kamu tidak kenapa-napa." Bu Dewi langsung berdiri dan memeriksa badan Al bolak-balik. Sedangkan Icha sudah terisak di tempatnya.
Al langsung mengeratkan pelukannya pada Icha, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ck! Ryza, kenapa harus kasih tahu? Lihat istriku nangis!" ketus Al.
"Sorry! Kamu kan tahu Al, kalau mamaku suka kepo." Ucapan Oryza sukses membuat Bu Dewi langsung menjewer anaknya setelah dia memberikan Baby Zee pada Icha.
__ADS_1
"Kamu tuh, ngatain Mama Kepo!" sungut Bu Dewi
"Mah, lepasin! Nanti Kia marah kalau ada yang jewer aku," ucap Oryza yang langsung dituruti oleh mamanya.
"Gak apa-apa, Mah! Kalau Ryza nakal dijewer aja," ucap Kia dengan santainya.
"Sayang!" rengek Oryza.
Melihat kelakuan Oryza, sontak saja semua yang ada di situ tertawa. Namun tidak dengan Al, dia masih terus berpikir, sebenarnya motif apa orang itu menginginkan kematiannya.
"Cha, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan padaku, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja dan jaga anak-anak," lirih Al.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Aku akan selalu berdo'a untuk keselamatanmu," ucap Icha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudahlah! Jangan sedih-sedihan! Harusnya kita kan bersyukur karena dua kebaikan yang Allah berikan. Aisha hamil dan Al terlepas dari bahaya," ucap Kevin menengahi.
"Oh iya, mending kita makan. Bi Ijah udah menyiapkan dari tadi," ajak Bu Dessy yang langsung diikuti oleh semua yang ada di situ. Memang, menghadapi kerumitan hidup itu membutuhkan energi yang banyak. Jadi jangan sampai lupa makan, apapun dan bagaimanapun kondisi yang harus dihadapi.
Saat semua orang sedang asyik menikmati makanannya, Al teringat pada Dika yang tidak dia lihat di rumah Abizar.
"Sayang, Dika kemana? Kho gak ikut ke sini?" tanya Al.
"Tadi dia ijin mau main di rumah Arkana. Aku bilang, nanti kita jemput sepulang dari sini." Icha terus menyuapkan makanan ke mulutnya. Semenjak dia nga-Asi, Icha jadi cepat lapar meski tadi dia sudah makan di rumah sebelum berangkat ke rumah Abizar.
"Iya gak apa-apa kalau di rumah Keluarga Wijaya, Aku khawatir kalau Dika ada di rumah sendirian." Sesekali Al menyuapi Icha makanan dan yang ada di piringnya. Karena sejujurnya dia merasa tidak napsu makan sehingga makanannya masih utuh dan meminta Icha untuk menghabiskannya.
Kenapa aku merasa, semua ini ada hubungannya dengan Om Raka, tapi aku tidak memiliki cukup bukti untuk menjeratnya ke ranah hukum.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1