Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 74 Jangan merasa sendiri!


__ADS_3

Kalisa hanya diam termenung di ruang perawatannya, dia selalu bungkam setiap kali diajak bicara oleh siapapun. Sesal, itulah yang dia rasakan kini. Kalisa menyesal kenapa baru sekarang dia menyadari, kalau sebenarnya dia juga mencintai Dave. Setelah Dave pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sakit saat ditinggal Dave, lebih menyakitkan dari saat dia mengetahui bahwa Al sudah menikah. Kalisa hanya merasa egonya terluka saat dia tahu kalau Al menikah dengan perempuan yang tidak disukainya.


Sementara Raka papanya Kalisa selalu marah setiap kali datang menjenguk putrinya. Dia merasa mukanya tercoreng dengan apa yang terjadi pada Kalisa.


"Punya anak tidak berguna! Disuruh mendekati Aldrich malah bermain serong dengan lelaki yang tidak diketahui asal usulnya," marah Raka pada Kalisa


Kalisa hanya melihat kemarahan papanya dengan tatapan yang sulit diartikan hingga Raka pun tersulut amarahnya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak suka dengan apa yang aku katakan? Dengar Kalisa! Aku tidak sudi memiliki cucu dari benih lelaki asing yang tidak tahu asal-usulnya. Mau tidak mau, bayi yang ada di perutmu itu harus digugurkan," Sentak Raka


Jederr


Terasa di sambar petir saat Kalisa mendengar apa yang papanya katakan, dia tidak menyangka papanya akan berbuat setega itu pada janin yang tidak berdosa.


"Raka!!!!" teriak Tuan Satya yang baru datang untuk menjenguk Kalisa.


"Aku tidak menyangka memiliki anak yang tidak berperasaan sepertimu. Bukannya memberi dukungan pada putrimu yang sedang terpuruk, kamu malah menambah beban pikirannya," bentak Tuan Satya


"Ayah! Kalisa putriku, jadi aku yang lebih berhak mengatur hidupnya," sanggah Raka


"Kamu memang ayahnya, tapi kamu terlalu erat menggenggamnya. Seperti sebongkah tanah liat yang kamu genggam begitu erat, maka tanah itu akan memaksa keluar lewat sela-sela jarimu. Akan tetapi jika kamu menggenggamnya biasa saja perlahan mencetak dan membentuknya dengan sabar menjadi sebuah barang, maka hasilnya akan jadi barang yang berguna dan bernilai tinggi." Tuan Satya pun mengingatkan putranya tentang kesalahannya dalam memperlakukan Kalisa.


"Begitupun dengan Kalisa, selama ini kamu hanya mengekangnya memaksanya untuk mengikuti apa yang kamu katakan tanpa peduli dengan perasaannya. Aku pikir apa yang Kalisa lakukan di belakangmu, sebagai bentuk protes sikapmu padanya. Aku sudah sering mengingatkanmu, tapi kamu dan istrimu tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan." Lagi-lagi Tuan Satya bicara dengan nada tinggi pada Raka


"Kakek!" ucap Kalisa dengan mata yang berkaca-kaca


Terasa memiliki kekuatan baru saat Kakek yang disayangi membela dirinya di depan papanya.


Tuan Satya langsung mendekat ke arah Kalisa dan membawa Kalisa ke dalam dekapannya. "Jangan merasa sendiri! Ada Kakek yang akan menjagamu," ucapnya.


Tangis Kalisa pecah di dalam pelukan hangat Tuan Satya. Kalisa hanya butuh dukungan dari orang terdekatnya dengan apa yang terjadi padanya, tapi ternyata hal itu tidak dia dapatkan dari kedua orang tuanya.


Sementara Al, Icha, Aisha, Kevin, Oryza dan Abizar hanya mematung di depan pintu. Sebenarnya mereka mau masuk, tapi mengurungkan niatnya saat mendengar Raka menyuruh Kalisa untuk menggugurkan kandungannya.


Icha hanya tertunduk, berdenyut linu hati Icha saat mendengar apa yang dikatakan papanya Kalisa, karena dia pun pernah berada di posisi yang sama dengan Kalisa.


Menyadari Icha yang tertunduk sedih, Al langsung merengkuh tubuh Icha ke dalam pelukannya, "Maafkan aku!" bisiknya.

__ADS_1


Icha langsung mendongakan kepalanya saat mendengar bisikan dari Al. Rasa sakit itu perlahan menghilang saat dia melihat sorot mata yang teduh dan senyum yang teramat manis, yang selalu Al tujukan padanya.


Setelah tak terdengar lagi suara keributan di dalam ruang perawatan Kalisa, Kevin pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


Raka yang duduk di sofa, langsung mempersilahkan masuk.


"Selamat sore!" Kompak Kevin, Oryza, Aisha dan Al


"Sore! Mau menjenguk Kalisa?" tebak Raka


" Iya Om, boleh kami masuk?" Ijin Kevin


"Ayo masuk," ajak Raka


Terlihat Kalisa yang baru saja melepaskan pelukannya dari Tuan Satya, Al dan yang lainnya pun menyapa Tuan Satya yang sudah seperti ini Kakek mereka sendiri.


"Bagaimana keadaanmu, Lisa?" tanya Oryza


"Aku baik!" lirih Kalisa


"Kami turut belasungkawa atas meninggalnya Dave, semoga dia tenang di sisi-NYA," tutur Al


"Lisa, kamu jangan merasa sendiri! Kalau kamu butuh sesuatu, minta tolong saja sama kita," kata Aisha yang duduk di pinggir bed


"Makasih, Sha!"


"Jangan berterima kasih terus,sesama sahabat kita harus saling membantu, saling mengingatkan," ujar Oryza


Kalisa hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya. Dalam hatinya dia merasa beruntung bisa berteman dekat dengan mereka berempat. Netranya menangkap satu sosok yang terlihat menundukkan kepalanya serasa meremat jari-jemari.


"Icha kemarilah!" seru Kalisa


Perlahan Icha mendekat dengan ragu ke arah kalisa.


"Aku hanya ingin minta maaf padamu, mungkin sikap dan ucapanku keterlaluan padamu;" ucap Kalisa tulus


"Aku sudah memaafkanmu Mbak, sebelum Mbak Kalisa memintanya." Dengan besar hati Icha pun memaafkan Kalisa.

__ADS_1


"Terima kasih, Al sangat beruntung memiliki istri yang baik sepertimu," ucap Kalisa. "Al, aku mengundurkan diri dari perusahaanmu. Maaf aku tidak membuat surat pengunduran diri," lanjutnya.


"Iya, tidak apa-apa!" sahut Al


***


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Al yang melihat istrinya terus terdiam sepulang dari rumah sakit menjenguk Kalisa.


"Aku ingat sama Kalisa, bagaimana nanti sama bayi yang dikandungnya? Pasti dia akan menanyakan keberadaan ayahnya. Aku harap apa yang menimpa Dika tidak terjadi pada siapapun," ungkap Icha


"Sayang, tiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, jadi kamu jangan khawatirkan hal itu. Lebih baik kita berpikir, bagaimana caranya, agar secepatnya memberi adik untuk Dika?" Selesai berkata begitu, Al segera mengungkung Icha dan langsung membungkam mulut Icha dengan mulutnya.


Pergulatan lidah pun tak dapat dielakkan lagi. Sehingga terdengar suara decapan dan lenguhan karena tangan nakal Al yang mulai memainkan bukit kembar kesayanganya, disela-sela aktifitasnya bertukar saliva.


Al terus menyentuh titik sensitif Icha, sehingga Icha pun tidak dapat menahan hasratnya lagi. Dia menjambak rambut Al kuat, saat sesuatu di bawah sana terus berkedut dan minta dituntaskan.


Namun naas bagi Al, saat hasratnya sudah memuncak dan ingin segera memasukkan benda pusakanya ke sarang Icha, ada bercak darah di kain pelindung sarang itu.


"Sayang, kenapa ada darah? Apa kamu sedang datang bulan?" tanya Al


Blush!


Pipi Icha langsung merona karena malu ketahuan darah kotornya oleh Al.


"Mungkin Al, memang sekarang tanggal berapa?" Icha malah balik bertanya pada Al.


"Sekarang baru tangggal 4," jawab Al


"Pantas saja, memang sudah tanggalnya aku datang bulan," tutur Icha, "Apa kamu kecewa?" lanjutnya


"Sedikit, lagipula kita masih punya banyak waktu untuk membuat anak," ucap Al dengan mengerlingkan matanya nakal.


...*****...


...Dukungan Readers semua, semangat buat Author untuk terus menulis....


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya!...

__ADS_1


👉 Next part


__ADS_2