
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah megah Al. Meskipun matanya terasa berat, karena belum lama dia memejamkan mata, Icha memaksakan tubuhnya untuk bangun dan segera menuju kamar mandi.
Setelah melaksanakan kewajibannya pada Sang Pencipta, Icha pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun terlebih dahulu membangunkan Al yang masih terlelap.
"Al bangung!" Tangan Icha terus mengguncang-guncangkan tubuh Al yang masih terlelap
"Hmmm..." Tanpa membuka matanya, Al menyahut Icha dengan deheman.
"Sayang bangun! Aku mau kencan dulu di bawah," bisik Icha
Al langsung terbangun saat mendengar Icha akan kencan.
"Kencan sama siapa? Mau kencan sama Pak Narto yang botak itu," cecar Al menuduh tanpa bukti pada Icha
Icha malah tertawa melihat Al yang sewot mengiranya akan kencan dengan Pak Narto, satpam di rumahnya.
"Aku akan kencan dengan kompor dan wajan juga spatula, sayang." Disela tawanya, Icha menjawab pertanyaan Al.
"Kamu tuh, pagi-pagi udah bohongin suami." Al pun memasang muka cemberut karena merasa dikerjai oleh Icha.
"Maaf ya, Papanya Dika! Aku ke dapur dulu, mau bikin sarapan. Awas loh gak boleh tidur lagi!" Peringatan Icha lalu mencium sekilas pipi Al dan beranjak pergi.
"Kalau dapat kiss gini, jadi semangat buat mandi pagi dan sholat subuh," gumam Al
Al pun langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sebelum dia bersujud pada Sang Pencipta.
Sementara Icha sudah bergelut dengan wajan dan spatula untuk membuat nasi goreng spesial.
Tanpa disadarinya, Tuan Ardi sudah berdiri tak jauh dari tempat Icha memasak.
"Cha, Kakek akan ke London. Mungkin akan mengambil penerbangan pagi," ucap Tuan Ardi
Icha yang sedang mengaduk nasi goreng langsung menengok ke arah suara Tuan Ardi.
"Berangkat sama siapa, Kek?" tanya Icha
"Berdua sama Mun, Kakek titip Al, ya! Syukur-syukur kalau pas Kakek kembali, sudah ada cicit baru." Tuan Ardi menghela napas sejenak, sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Jangan minum lagi pil penunda kehamilan, biarkan benih Al tumbuh lagi di rahimmu," ujar Tuan Ardi kemudian.
__ADS_1
Degh!
Jantung Icha berdetak lebih cepat dari biasanya, bagaimana bisa Kakeknya AL mengetahuinya. Sementara Al sendiri tidak pernah menyadarinya.
"Maaf! Aku masih takut kejadian dulu terulang lagi," sesal Icha
Tuan Ardi langsung menghampiri Icha dan menepuk pelan bahunya. "Percaya sama Al! Dia tidak akan mengulang kesalahannya untuk yang kedua kalinya," ucapnya.
"Iya Kek, Icha akan usahakan."
"Kakek yakin, kamu bukan wanita lemah, yang akan terpuruk karena masa lalu." Tuan Ardi langsung beranjak pergi saat dilihatnya Al akan masuk ke dalam dapur.
Saat berpapasan dengan Al diambang pintu, Tuan Ardi pun menepuk bahu Al seraya berkata, "Kakek mau ke London, jaga istri dan anakmu."
Setelah berpesan pada AL, akhirnya Tuan Ardi kembali ke kamarnya, karena dia akan bersiap untuk berangkat ke bandara jam enam pagi.
Al langsung mendekati Icha, setelah Tuan Ardi tidak terlihat lagi dari pandangannya. Sebenarnya AL merasa heran dengan apa yang dikatakan kakeknya, tapi sebisa mungkin Al langsung menepis pikiran buruk yang menyerangnya.
"Sayang, wangi banget nasi gorengnya. Bi Sari kemana? Kho gak kelihatan!" ujar Al
"Bi Sari sedang tidak enak badan, dari kemarin katanya dia meriang," terang Icha
Setelah membereskan masakannya, Icha pun bergegas ke kamarnya ingin menyembunyikan pil penunda kehamilan yang setiap malam dia konsumsi.
Icha langsung memasukkannya ke dalam kantong plastik berwarna hitam, kemudian membuangnya ke tong sampah.
"Benar kata kakek, aku bukan wanita lemah yang akan terpuruk karena masa lalu," gumam Icha.
Al berpura-pura baru datang ke kamar, padahal sedari tadi dia melihat apa yang dilakukan oleh Icha.
Sebenarnya tadi Al kembali ke dapur setelah memastikan keadaan Bi Sari. Namun dia mendapati Icha seperti yang tergesa-gesa menuju ke kamarnya, sehingga Al pun penasaran dan mengikutinya. Saat sampai ambang pintu, Al melihat apa yang Icha lakukan di dalam kamar.
"Sayang, apa DIka sudah dibangunkan?" tanya Al
"Akh iya belum, ini aku mau ke sana." Icha pun langsung menuju ke kamar Dika untuk menutupi kegugupannya karena takut ketahuan aksinya.
Sementara Al, dia langsung memungut kembali apa yang tadi Icha buang ke tempat sampah. Diambilnya satu strip pil yang ada di dalam kantong plastik hitam itu, dan memfotonya. Kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula. Setelah mendapatkan hasil bidikannya, Al pun langsung mengirimkannya ke dokter pribadi keluarganya.
Tak berselang lama, jawaban atas rasa penasarannya dia dapatkan dari dokter Rio.
__ADS_1
Al langsung mencari Icha untuk meminta penjelasan dengan apa yang telah Icha lakukan. Namun saat dia akan beranjak pergi, Icha masuk ke dalam kamar. Sehingga Al langsung mengunci otomatis pintu kamarnya.
"Cha, bisa tolong bacakan artikel ini gak? aku lagi malas pegang handphone," ujar Al
Tanpa curiga, Icha pun mengambil handphone milik Al dan berniat membaca artikel yang ditunjukkan oleh Al. Matanya langsung membulat, saat dia menyadari kalau Al mengetahui semuanya.
"Tadi aku nemu pil seperti itu di tong sampah, aku penasaran dengan pil yang kamu buang, Cha. Aku takut kamu menyembunyikan suatu penyakit seperti yg ada di film-film. Tapi ternyata, dugaanku salah. Apa selama ini kamu meminumnya?"
Ingin rasanya Al marah-marah, tapi sebisa mungkin dia menahannya karena tidak ingin membuat Icha terluka lagi.
"Maaf! Bukannya aku tidak ingin mengandung anakmu lagi, tapi bayangan saat kehadiran Dika tidak diharapkan oleh keluargaku dan juga kamu, membuat aku takut akan mengalami kejadian yang sama lagi," terang Icha dengan menundukkan kepalanya
Al langsung mengangkat dagu Icha agar melihat ke dalam matanya.
"Lihat aku! Apa kamu melihat cinta yang besar dariku atau kebohongan atas semua yang kulakuakn padamu?"
"Dulu aku memang salah, tapi percaya padaku, aku tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya," ucap Al sendu
"Maafkan aku Al! Aku janji tidak akan meminumnya lagi."
Al langsung memeluknya, mencium kening Icha lama, menyalurkan semua rasa yang dimiliki untuk istrinya, sang mantan pacar taruhan.
Icha pun hanyut dalam dekapan Al yang hangat, hingga suara ketukan pintu itu membuyarkan suasana sahdu yang tercipta.
"Mama, Papa, kata Eyang mau berangkat sekarang," teriak Dika di depan pintu
"Iya sayang sebentar!" Icha pun tak kalah berteriak seperti Dika membuat Al langsung menutup telinganya.
Melihat Al yang menutup telinga karena pekak mendengar teriakannya, Icha pun langsung meminta maaf.
"Maaf Al! Tadi aku reflek berteriak," sesal Icha
"Iya gak papa! Aku jadi teringat jaman sekolah kita dulu, setiap hari kamu pasti teriak seperti tarzan." Kenang Al saat masa putih abunya.
...*****...
...Tinggalkan jejak ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
👉Next part