
Mentari bersinar begitu terangnya, burung-burung berkicau begitu merdunya. Namun suara kicauan burung dan hangatnya sinar mentari yang menelusup masuk lewat celah jendela tak mampu membuat dua insan yang sedang terlelap dalam hangatnya pelukan dan selimut tebal yang membungkus tubuh polos itu untuk terbangun.
Bi Asih dan Mang Ojo sedari tadi bolak-balik ke kamar Dika. Mereka ingin mengatakan kalau sarapan sudah siap di meja. Namun tak satu pun dari mereka yang berani mengetuk pintu kamar.
"Pak, bagaimana ini? Nanti sorabi tidak enak kalau sudah dingin," keluh Bu Asih.
"Ya, mau bagaimana lagi, mungkin mereka masih tertidur kelelahan setengah sama-sama mendaki ke puncak nirwana," kekeh Mang Ojo.
"Si Bapak mah sok aya-aya wae (ada-ada saja)!" Bi Asih memukul tangan suaminya pelan.
"Sudah Mak! Mending kita membersihkan taman belakang dulu," ajak Mang Ojo seraya menarik tangan istrinya menuju halaman belakang villa.
Di saat villa sudah bersih sarapan sudah tersedia begitupun dengan halaman belakang yang sudah bersih, lagi-lagi pasangan suami istri itu kebingungan karena anak majikannya belum juga keluar kamar. Padahal mereka berdua ingin meminta ijin untuk pergi ke kondangan saudaranya yang ada di kampung sebelah.
Mang Ojo dan Bu Asih sudah siap untuk mengetuk pintu kamar anak majikannya. Namun, tangan yang sudah diayunkan untuk mengetuk pintu harus tertahan di udara saat mereka sayup-sayup mendengar suara lenguhan kenikmatan yang berasal dari dalam kamar Dika.q
"Pak, sepertinya Den Dika sedang indehoy dengan istrinya. Kita tunggu di belakang saja, tidak enak kalau ketahuan menguping," bisik Bi Asih yang langsung mendapat respon anggukan dari suaminya.
Pasangan suami istri itu langsung berlalu pergi dengan kaki yang sedikit dijinjit agar tidak mengeluarkan suara.
Sementara dua insan yang sedang dimabuk cinta terus memompa untuk mencapai puncak nirwana hingga akhirnya mereka mendapatkan pelepasan secara bersamaan.
"Terima kasih, Sayang!" Dika langsung mengecup kening Allana sebelum dia beranjak pergi menuju ke kamar mandi.
"Dika!" panggil Allana dengan mata yang penuh pengharapan.
"Iya, kenapa?" Dika langsung berbalik dengan tubuh toplesnya menghampiri Allana yang masih terbaring di tempat tidur.
"Gendong!" rengek Allana dengan merentangkan tangannya. Sungguh Allana sangat ingin merasakan tiap adegan seperti yang ada di dalam komik dan novel yang dibacanya. Hingga saat Dika tidak peka dengan apa yang harus dilakukannya, maka Allana akan meminta Dika untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Dika hanya tersenyum mendengar permintaan istrinya. Dia senang menjadi orang yang bisa diandalkan oleh kekasih hatinya. Tanpa ragu lagi, Dika pun langsung menggendong Allana dengan gaya bridal style sehingga kedua bukit kembar itu terpampang jelas di depan mata Dika. Ingin rasanya dia sedikit menggigitnya tapi suara perut yang saling bersahutan menginginkan keduanya untuk segera mengisi energi yang telah terkuras habis. Apalagi mereka berdua telah melewatkan sarapan pagi
__ADS_1
Setelah keduanya menyelesaikan acara mandi yang awalnya berjalan normal tapi berujung lenguhan dan pelepasan kenikmatan. Kini Dika dan Allana berjalan beriringan menuruni anak tangga disambut dengan suara tepuk tangan dari saudara kembarnya.
Prok prok prok
Elvano bertepuk tangan untuk menyalurkan kekesalannya karena dia menunggu sudah hampir satu jam di sana. Sebenarnya dia sengaja datang ke villa Keluarga Putra untuk mengajak sahabat dan adiknya jalan-jalan ke tempat wisata yang tidak jauh dari villa mereka.
"Enak bener jadi pengantin baru, udah jam sebelas siang baru keluar kamar. Memang kalian gak gempor main ojeg-ojegan terus," sewot Elvano.
"Yeyy ... Bilang aja ngiri Bang! Makanya cepetan Ara dihalalkan, jangan main nyosor terus kaya soang." Allana membalas ucapan Elvano tak kalah pedasnya.
"Iya Bang bener! Biar kaya kita ya, Sayang! Dari semalam terus berbagi," Dika pun ikut mengompori Elvano.
"Do'ain saja sama kalian, agar El segera bertemu dengan gadis impiannya," timpal Arabella dengan tersenyum kecut, "yang jelas itu bukan aku. Karena aku jauh di bawah standar kriteria gadis impian El," lanjutnya.
"Jangan begitu Ara! Justru kamu gadis impian banyak lelaki di luar sana. Hanya saja, saudaraku buta mata hatinya sehingga dia tidak bisa melihat cinta yang sesungguhnya." Allana langsung menghampiri sahabatnya dan merangkul pundaknya.
"Ada apa kalian datang ke sini? Mama sama Papa sudah pulang?" tanya Dika untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sudah pulang. Aku mau mengajak kalian berdua jalan-jalan ke taman bunga," jawab Elvano dengan mata yang terus melihat ke arah Arabella.
Akhirnya mereka sepakat untuk berangkat ke taman bunga yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan villa yang mereka tempati sehingga tidak akan memakan waktu lama dalam perjalanan.
Saat sampai di sana, Allana terus berlari ke sana ke mari bersama dengan Arabella. Kedua sahabat itu tidak memperdulikan para cowok yang kebingungan mengejar para gadisnya. Hingga saat sampai pada bunga yang berbentuk labirin, kedua gadis itu sengaja masuk karena rasa penasaran.
Ketika sudah ada di dalam, Allana sengaja meninggalkan Arabella di sana. Dia ingin tahu, apakah saudara kembarnya mampu menemukan gadis itu atau tidak. Sedangkan dia sendiri kembali keluar labirin karena sudah ditunggu oleh Dika yang sengaja Allana beri pesan untuk menunggunya di luar.
Arabella kebingungan sendiri saat dia tidak bisa menemukan Allana. Saat berusaha mau keluar pun dia selalu kembali ke tempat semula.
"Lana, kamu di mana? Aku gak bisa ke luar!" teriak Arabella.
"Aku sudah di luar!" Allana ikut berteriak menjawab ucapan Arabella. "Bang El, cepat susul Ara! Aku mau cari minum dulu, haus."
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Elvano langsung masuk ke dalam labirin. Bukan hal yang sulit buat dia untuk menaklukan sebuah labirin, karena dia sudah terlatih. Saat dia melihat keberadaan Arabella, perlahan Elvano mengendap dan langsung memeluk gadis cantik itu dari belakang membuat Arabella terkaget dengan keberadaan Elvano.
"Di mana Lana?" tanya Arabella.
"Sedang mencari minum bareng Dika," jawab Elvano.
"Ayo kita menyusulnya!" ajak Arabella dengan menarik tangan Elvano.
"Aku lupa jalan untuk keluar," kilah Elvano.
"Lalu bagaimana kamu bisa masuk? Memangnya tidak memberi tanda?" tanya Arabella jengah.
"Tidak! Aku masuk dengan naluri saja, karena aku yakin pasti selalu bisa menemukanmu!"
"Jangan ngawur, El! Ayo cepat kita cari jalan keluar!" ajak Arabella.
"Aku lupa jalannya, tapi ada satu cara agar kita bisa keluar dari sini." Elvano langsung memasang muka serius.
"Apa?" tanya Arabella tidak sabaran.
"Kiss!" Elvano langsung menempelkan telunjuknya di bibir.
"Aku gak mau!" tolak Arabella cepat.
"Berarti kita menginap di sini, mana perut lapar karena waktunya makan siang," Elvano sengaja berakting untuk memuluskan rencananya.
Godaan makan siang karena perutnya sudah berbunyi membuat Arabella mengiyakan syarat yang diberikan Elvano.
(Jangan mudah dirayu Ara, jadi cewek harus punya sikap)
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...