Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Dika bergegas mengemasi barang-barangnya, dia sudah tidak berminat lagi untuk melanjutkan acara liburannya. Hal itu membuat Icha menjadi bingung dengan sikap anak sulungnya. Bahkan, Dika tidak mau bercerita dengan apa yang sedang dirasakan. Dia menutup rapat-rapat dengan sebenarnya yang terjadi.


"Abang, kenapa buru-buru ingin pulang? Bukankah baru semalam kita berada di sini?" tanya Icha saat melihat putranya memasukkan semua baju yang baru kemarin dia susun di lemari.


"Mah, Abang ada perlu, Mama sama Papa lanjutkan saja liburannya. Kasian ade ingin berlibur di sini." Dika berhenti sesaat saat dia bicara dengan mamanya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Lana?" tebak Icha


"Abang hanya ada perlu, Mah! Mama jangan khawatir!" sahut Dika.


"Abang, jika terjadi sesuatu cerita sama Mama! Jangan memendamnya sendiri! Mama sedih kalau Abang menganggap Mama seperti orang lain," keluh Icha.


Dika langsung memeluk mamanya. Wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang sudah bertaruh nyawa demi kehidupannya. Wanita yang sudah mengorbankan masa mudanya demi membesarkannya. Ingin dia bercerita semuanya, tapi kata-katanya terasa tercekat di tenggorakan hingga setetes bening tanpa terasa keluar dari sudut matanya.


"Maafkan Dika, Mah! Dika tidak pernah berpikir seperti itu sedikit pun. Mama segalanya buat Dika!"


Mendengar apa yang putranya katakan, Icha pun langsung meneteskan air matanya. Dia semakin yakin kalau putranya sedang tidak baik-baik saja.


"Abang, tidak apa kalau belum bisa bercerita pada Mama. Do'a Mama akan selalu bersama Abang. Kejarlah impian Abang, Mama akan selalu mendukungnya." Icha mengurai pelukannya dan menciumi wajah putra sulungnya. Meski anaknya tidak mengatakannya tapi naluri seorang ibu bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada anaknya.


Al termangu di ambang pintu kamar Dika. Dia hanya diam melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Melihat sorot mata Dika yang penuh luka, hatinya ikut merasakan kesedihan. Dia terus bertanya, 'Sebenarnya apa yang salah? Kenapa menjadi seperti ini?'


"Abang, Boat sudah siap jika ingin menyeberang," ucap Al yang membuat kedua anak dan ibu itu langsung menengok ke arah suara.


"Iya, Pah! Mama, Abang pulang dulu!" Dika langsung mencium punggung tangan Icha dan Al bergantian sebelum dia keluar dari villa.


Dari jauh, terlihat Kattie yang sedang berlari karena terus dikerjai oleh adik-adiknya Dika. Melihat Dika memakai tas ransel di punggungnya, dia semakin mempercepat larinya.


"Wait a minute, Dika!" Teriak Kattie.


Dika hanya menghela napasnya kasar mendengar Kattie memanggil namanya. Meski sebenarnya dia sedang tidak ingin bertemu dengan sahabat kecilnya itu, tak urung Dika pun menghentikan langkahnya dan menunggu Kattie.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kattie dengan napas yang tersengal.


"Aku pulang! Kamu lanjutkan saja liburannya. Papa dan mama masih beberapa hari lagi di sini." Dika membenarkan tas ransel yang dipakainya.


"No Dika! Aku mau ikut!" rengek Kattie.


"Sorry, Kattie! Aku tidak bisa mengajakmu, aku ada urusan yang harus aku selesaikan," tolak Dika.


"Apa berhubungan dengan perempuan yang kemarin ikut ke sini? Sudahlah Dika! Masih ada aku di sini." Kattie langsung memegang tangan Dika. Namun, secepatnya dia menghempaskan tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak suka kamu terus mengikuti aku!" seru Dika dengan penuh penekanan yang sukses membuat Kattie termenung di tempatnya. Dia tidak menyangka Dika bisa berkata seperti itu. Karena selama ini dia selalu mengikutinya, laki-laki yang dia sukai itu tidak pernah bicara ketus seperti itu. Sampai saat dia tersadar dari lamunannya, Dika sudah pergi jauh menuju boat yang menunggunya.


Dika, apa aku salah memperjuangkan cintaku? Aku hanya ingin selalu bersamamu dann memilikimu selamanya, batin Kattie.


***


Setibanya di ibu kota, Dika langsung menuju ke rumah Allana dengan ransel yang masih setia menempel di punggungnya. Terlihat rumah itu nampak sepi. Namun Dika tidak peduli sebelum dia bertemu langsung dengan Allana.


"Pak, bisa bertemu dengan Allana?" tanya Dika pada satpam di rumah kekasih hatinya itu.


"Loh, Den Dika memang tidak tahu kalau Non Allana sekeluarga sedang pergi ke Korea. Tuan besar sedang sakit, jadi diminta ke sana," jelas Pak Supri satpam di rumah Allana.


"Bapak sedang tidak berbohong, 'kan?" selidik Dika.


"Untuk apa Bapak berbohong? Tidak ada untungnya, Den! Yang ada malah numpuk dosa." Supri langsung menyulut rokoknya dengan pemantik api.


"Baiklah, Pak! Kalau nanti Allana pulang, tolong bilang sama dia, aku mencarinya." Dika membenarkan ransel yang dirasanya melorot.


"Siap, Den! Nanti Bapak bilang ke Non Allana," ucap Supri seraya memainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya.


"Kalau begitu, aku pamit Pak!" ujar Dika.


Tak berapa lama, taksi yang dipesan oleh Dika pun datang sehingga dia langsung pergi menuju ke rumahnya. Tanpa di sadarinya, ada seseorang yang memperhatikan di balik jendela kaca besar di kamarnya.


Maafkan aku, Dika! Begini lebih baik, sebelum perasaan kita semakin dalam. Namun, pada akhirnya harus berpisah juga, batin Allana.


Allana langsung berbalik dan mendapati kembarannya sedang duduk di ranjangnya dengan tangan yang menopang tubuhnya di belakang.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Elvano.


"Aku harus yakin! Aku tidak ingin merasakan sakit hati karena cinta. Sudah cukup aku merasa sakit karena impianku tidak mungkin menjadi nyata," lirih Allana.


Elvano langsung merengkuh tubuh kembarannya dan membawa Allana ke dalam pelukannya. "Aku akan selalu mendukungmu, apa pun itu keputusanmu."


"El, jangan bilang apa pun pada papa! Aku tidak ingin hubungan baik papa dan papanya Dika menjadi buruk," pinta Allana.


"Untuk apa aku memberitahunya? Memang kamu tidak tahu kalau handphone kita dia sadap semua? Tanpa diberitahu, papa pasti sudah mengetahuinya." Elvano mengurai pelukannya, dia menatap lekat pada adik yang hanya selisih lima menit dengannya. "Kamu tenang saja, papa pasti bisa bersikap profesional."


"Apa mungkin papa sudah tahu, El? Videonya kan sudah aku hapus."


Flashback on

__ADS_1


Setelah Dika keluar dari kamar Allana, Elvano langsung masuk ke kamar adiknya. Dia melihat Allana yang sedang menangis dengan handphone di tangannya. Elvano langsung mengambil handphone Allana dan melihat apa yang sudah dilihat oleh adiknya.


Dia sempat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh papanya Dika tapi dia juga bisa mengerti kenapa Al bisa bicara seperti itu, mengingat bagaimana sikap Allana selama ini pada Dika.


"Sudah, Dek! Mungkin Om Al tidak tahu kalau kamu dan Dika sudah jadian." Elvano mencoba menenangkan adiknya.


"El, bilang papa aku ingin pulang! Bilang saja aku tidak betah di sini dan ingin ketemu harabeoji (kakek), bukankah sedang sakit?" Allana mencoba memberi alasan, karena alasan yang sebenarnya bukan hanya soal video saja melainkan ada hal lain yang membuat dia ingin mundur dan menjauh dari Dika.


"Baiklah! Aku akan menghubungi papa," ucap Elvano dan langsung menelpon Andrea untuk menjemputnya ke pulau Cinta. Elvano tidak sadar kalau handphone Allana yang dipakai untuk menelpon papanya, sehingga Andrea tahu tentang video itu karena memang handphone anak-anaknya sudah dia sadap semua termasuk milik istrinya.


Flashback off


Sementara di tempat lain, sesampainya di rumah Dika langsung masuk ke kamarnya. Dia membantingkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Diambilnya kalung yang selalu Allana pakai itu, dia acungkan tinggi-tinggi, menatapnya dalam diam, hati dan pikirannya benar-benar kalut. Ingin sekali dia menangis, menjerit sekencang mungkin meluapkan semua kegundahan hatinya. Namun, Dika hanya diam tidak bergeming di tempatnya.


Lana, apa aku tidak pantas ada di sisimu?


Seketika lamunannya buyar saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Den, Den Dika, Mama nelpon! Suruh Den DIka untuk mengangkat teleponnya," teriak Bi Sari di depan pintu.


"Iya Bi! Aku akan nelpon balik mama," Dika pun ikut berteriak di dalam kamarnya tanpa ada niat untuk membuka pintu.


"Ya sudah, Bibi kembali ke bawah." Lagi-lagi Bi Sari berteriak karena anak majikannya tidak membukakan pintu.


"Iya Bi, Makasih!" teriak Dika lagi.


(Sepertinya patah hati membuat Dika mendadak menjadi Tarzan)


Dika pun mencari handphone-nya yang dia masukkan acak ke dalam ransel. Setelah menemukannya, Dika langsung menghubungi Icha, mamanya.


"Hallo, Assalamualaikum Mah."


"Wa'alaikumsalam, Bang. Sudah sampai rumah? Jangan lupa makan ya! Mungkin besok mama juga akan pulang," ucap Icha di seberang sana.


"Iya, Mah! Baru sampai rumah, Mama tenang saja, Abang pasti makan kho!" Matanya masih asyik melihat kalung yang ada di tangannya.


"Ya sudah Mama tutup teleponnya, baik-baik di rumah. Assalamu'alaikum." Icha langsung menutup teleponnya setelah dia mengucapkan salam.


Kenapa mama selalu tahu kalau aku sedang banyak pikiran? Padahal aku tidak mengatakan apa-apa. Bisik hati Dika.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2