
"Kinan diamlah! harusnya kamu minta maaf pada sahabatmu, bukan menuduhnya yang tidak-tidak," bentak Marco.
"Kenapa kamu memarahiku? Apa kamu masih suka sama Icha? Sekarang aku yang jadi istrimu! Seharusnya kamu membelaku," sentak Kinan.
Kalau bukan karena tidak sengaja menghamilinya, aku tidak sudi menikah dengan dia. Aku heran kenapa Icha dulu betah bersahabat dengannya, padahal dia selalu saja dimanfaatkan, batin Marco.
"Kinan tadi Marco hanya meminta maaf padaku, kamu tidak usah khawatir aku akan merebutnya!" jelas Icha.
Kinan hanya menatap sinis pada Icha hingga membuat Icha merasa heran dengan sikap Kinan.
Al yang melihat suasananya semakin memanas, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Icha dan mengajaknya segera pergi.
"Sayang apa ngobrolnya sudah selesai?" tanya Al lembut membuat Icha menjadi terpaku.
"Siapa kamu?" ketus Kinan dengan menelisik penampilan Al dari atas ke bawah. Kinan masih kesal karena tadi Marco membentaknya.
"Oh, kita belum berkenalan! Tapi sepertinya kita sudah kenal, kenalkan namaku Aldrich Marchdika Putra," ujar Al.
"Apa??? kamu si culun???" tanya Kinan dengan membulatkan matanya penuh.
"Jadi kamu Dika si culun itu?" tanya Marco heran, "Apa Bener kalian sudah menikah?" lanjutnya.
"Iya! Kamu lihat, putra kami sangat mirip denganku," jawab Al tenang. Padahal dalam hatinya dia sedang menahan gejolak amarah karena merasa dibohongi oleh Icha.
"Syukurlah kalian hidup bahagia, aku jadi merasa tenang," tutur Marco.
"Kalau sudah ngobrolnya, kami pamit pulang dulu Pak Marco," ucap Al.
Marco hanya menganggukkan kepalanya, "Semoga kalian bahagia," lirihnya.
Icha hanya diam tidak berkata lagi setelah tahu apa yang dilihatnya. dia tidak menyangka Kinan sahabatnya seperti itu. Padahal dulu Icha sering berbagi makanan dengannya ataupun mentraktir Kinan. Al langsung menggendong Dika agar langkahnya cepat sampai ke mobil, sedang Icha sedikit berlari mengikuti langkah kaki Al.
Sepanjang perjalanan tidak seorang pun yang bicara, begitupun Dika yang melihat raut muka dari Icha dan Al yang tegang, membuat bocah kecil itu diam. Hingga Al membelokkan mobilnya menuju komplek perumahannya, barulah dia bicara.
"Kita ke rumah Om dulu ya Dek, Om ingin berganti baju dulu," ucap Al.
"Iya Om" jawab Dika.
Sesampainya di rumah dengan gerbang tinggi dan halaman yang lumayan luas, Al langsung memasukkan mobilnya setelah gerbang dibuka oleh Kang Asep. Dia langsung keluar dari mobil tanpa memperdulikan Icha dan Dika. Al ingin cepat-cepat mandi dibawah shower untuk menenangkan amarahnya yang memuncak.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Al pun langsung menuju kamar mandi. Tanpa membuka bajunya Al langsung berdiri dibawah guyuran air shower.
Kenapa kamu tega Cha, menyembunyikannya dariku? Bahkan saat aku merasa curiga dengan semua kesamaan aku dengan Dika, kamu terus menyangkalnya. Apa kamu takut aku akan mengambilnya? Tidak Cha, aku tidak akan memisahkan kalian karena aku ingin memiliki kalian berdua. Seandainya tadi aku tidak menyimpan penyadap di tasmu, mungkin selamanya kamu terus membodohi aku.
Al terus bergelut dengan pikirannya seraya memikirkan langkah apa yang harus diambilnya agar dia bisa bersama Icha dan Dika.
Aku akan ikuti permainanmu, Cha. Aku akan tetap berpura-pura tidak tahu tentang siapa Dika sebenarnya. Hingga kamu tidak bisa lagi mengelak.
Sementara itu Icha dan Dika sedang mengobrol dengan Kang Asep dan Teh Lina di teras rumah Al sambil menikmati semangkok baso urat yang tadi lewat di depan rumah Al.
"Neng Icha sudah lama ya tidak pulang," ucap Teh Lina.
"Iya Teh, waktu itu Icha mau menyusul Kak Farish tapi malah mengalami kecelakaan hingga di rawat oleh Mama Papanya Dika," ucap Icha yang tidak sepenuhnya bohong.
"Kakak baksonya enak, Dika suka!" puji Dika.
"Abisin ya! Mubajir kalau bersisa," pesan Icha.
"Iya Kak! Kak, kenapa Om Al lama sekali di dalam? Apa dia tidak mau makan baso seperti kita?" tanya Dika.
"Mungkin sebentar lagi," ucap Icha.
"Cha, aku juga mau. Tadi kan belum sempat makan," ucap Al seraya membuka mulutnya di depan Icha minta disuapin.
"Kenapa nggak pesan lagi?" tanya Icha heran.
"Punyamu kan masih banyak, mubajir kalau sisa. Mending sedekahkan ke aku yang kelaparan," ucap Al.
Karena Icha masih diam saja, Al pun langsung meraih tangan Icha yang sedang memegang sendok. Kemudian dia menyendokkan baso dan menyuapkan ke mulutnya.
"Lebih enak kalau makan dari tangan kamu Cha," ucap Al dengan tersenyum. Sedang Icha hanya diam mematung merasa heran dengan sikap Al.
Kang Asep dan Teh Lina yang merasa tidak enak melihat pemandangan di depannya, akhirnya mereka undur diri mau ke halaman belakang.
"Om kalau mau ayo berdua makannya sama Dika, kasian Kak Ichanya lapar," ucap Dika.
"Apa boleh Om minta?" tanya Al dengan suara serak.
"Boleh! Sini Dika suapin," ucap Dika kemudian langsung menyuapi Al.
__ADS_1
Tak terasa mata Al langsung mengembun mendapat suapan dari Dika. Sebisa mungkin Al menetralkan perasaannya agar Icha tidak merasa curiga.
"Baksonya enak ya Dek!" puji Al.
"Iya Om! Nanti kalau ketemu lagi sama si abang baso tadi, Dika mau beli lagi," kata Dika.
Al dan Dika pun menghabiskan baso bersama membuat hati Icha menghangat dengan pemandangan di depannya.
"Om, Dika kenyang!" keluh Dika dengan mengelus-elus perutnya.
Al langsung mengusak lembut rambut Dika seraya bertanya, "Tadi makan apa aja hem?"
Dika menempelkan telunjuk dan jempol di dagunya seperti orang yang sedang berpikir keras lalu berkata, "Tadi pagi makan sorabi sama comet yang dibawain enin, trus buah juga, chicken, es krim, frech friesh dan tadi baso"
"Enin? Siapa Enin?" tanya Al heran.
"Mamaku tadi datang ke penginapan" jelas Icha.
Pantas saja tadi pagi ke rumahnya cuma ada Papanya Icha, berarti benar kecurigaan Teh Lina kalau sebenarnya Icha kabur dari rumah. Apa mungkin karena Icha ...?
Al langsung membelalakan matanya saat dia menyadari sesuatu setelah merangkaikan cerita demi cerita yang di dengarnya. Namun Al akan tetap menyimpanya di hati sebelum dia mempunyai bukti yang kuat. Setelah Al dapat menguasai dirinya lagi, Al pun mulai berbicara lagi pada Icha
"Cha, kita disini dulu ya sampai ashar. Biar nanti pulangnya mampir ke alun-alun" ucap Al.
"Iya nggak papa!" sahut Icha. "Al boleh aku ikut ke kamar mandi?" imbuhnya.
"Kamu mau mandi disini, Cha? Kalau mau mandi di kamarku saja," ucap Al.
"Nggak! Aku cuma ingin buang air kecil," ucap Icha cengengesan.
"Ayo kuantar! Dek mau ke kamar mandi juga nggak?" tawar Al.
"Dika ngantuk Om!"
Al langsung menggendong Dika dan membawa ke kamarnya. Sedang Icha hanya mengekor di belakang.
...*****...
👉Next part
__ADS_1