Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 103 Restu


__ADS_3

Disinilah sekarang Pak Gunawan, duduk bersama dengan Kevin dan Vio. Setelah tadi tidak sengaja bertemu di minimarket.


Kepalang tanggung saat tadi Pak Gunawan menanyakan perihal pernikahannya, sehingga Kevin langsung mengajaknya mampir ke apartemennya.


"Sekarang jelaskan pada Papa, Vio! Apa hubunganmu serius dengan Kevin? Kenapa kamu membohongi Papa dengan bilang akan menginap di apartemen Kia. Namun pada kenyataannya malah bersama Kevin?" cecar Pak Gunawan


"Maafkan Vio Pah! Vio sebenarnya...." Sebelum Vio melanjutkan ucapannya, Kevin langsung memotongnya. 'Kalau sudah ketahuan begini, untuk apa harus ditutupi lagi,' pikir Kevin.


"Sebelumnya saya minta Pak Gun! Sebenarnya, kami sudah menikah sebulan yang lalu." jelas Kevin


"Apa? Menikah? Kamu jangan bohong Kevin! Kapan aku menjadi wali nikah Vio?" sentak Pak Gunawan kaget


Kevin pun akhirnya menceritakan tentang kejadian saat dia dan Vio terjebak pohon tumbang sehingga tidak bisa pulang.


Pak Gunawan terus memijit keningnya mendengarkan apa yang Kevin katakan. Ingin dia menyuruh putrinya untuk berpisah dengan mahasiswa abadinya, tapi dia merasa takut berdosa karena sudah memisahkan pasangan yang terikat tali perkawinan.


Selesai Kevin menjelaskan, Pak Gunawan pun bertanya, "Apa kalian sudah melakukannya?"


"Tentu saja sudah Pak," jawab Kevin spontan membuat Vio langsung membulatkan matanya.


Sementara Pak Gunawan langsung memijat keningnya karena kepalanya terasa semakin pusing. "Vio, antarkan Papa pulang, Nak! Seperti9nya darah tinggi Papa mendadak kambuh."


"Iya Pah," jawab Vio yang sedari tadi diam. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Disatu sisi Kevin suaminya dan di sisi lain Pak Gunawan adalah ayah kandungnya. Tidak mungkin kalau dia harus memilih salah satunya.


"Ayo Pak, saya antar!" ajak Kevin


Kevin pun mengantar Pak Gunawan pulang, sementara mobilnya diantar oleh supir dari rumah Kevin, yang sengaja disuruh datang untuk mengantarkan mobil Pak Gunawan.


Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara, ketiganya larut dalam pemikirannya masing-masing. Kevin dan Vio yang was-was takut disuruh berpisah oleh Pak Gunawan, sementara Pak Gunawan sendiri sedang berpikir bagaimana cara memberitahukan tentang status pernikahan putrinya pada tetangga maupun kerabatnya. Rasanya malu jika orang-orang tahu Vio menikah gara-gara digerebek warga, hingga saat sudah sampai di rumahnya, Pak Gunawan mengajak Kevin untuk bicara serius.


"Vin, jangan pulang dulu! Ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan," ucap Pak Gunawan. "Vio, ambilkan obat Papa di laci nakas!" lanjutnya


Setelah meminum obatnya dan pusing di kepalanya berkurang, Pak Gunawan pun mulai berbicara serius dengan Kevin dan Vio.


"Sebenarnya Papa kecewa pada kalian, kenapa tidak memberitahu Papa saat kejadian itu Vio. Tapi sudahlah, semuanya sudah terjadi seperti nasi yang sudah menjadi bubur, semuanya tidak akan kembali seperti semula."


"Maafkan kami Pak!" ujar Kevin


"Sebenarnya aku kurang setuju Vio menikah denganmu Kevin, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan karena putriku ternyata sangat mencintaimu. Sampai beberapa kali dia berbohong padaku karena ingin bersamamu." Pak Gunawan menghela napas dalam sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Aku hanya minta padamu Kevin, tolong jaga putriku dan jangan pernah menyakitinya. Jika kamu merasa bosan, kembalikan padaku. Karena kedua tanganku selalu menerima kapan pun dia datang padaku."

__ADS_1


"Mengenai pernikahan kalian yang masih dirahasiakan, Bapak harap keluargamu datang padaku dan meminta dengan baik putri bungsuku. Anggap saja pernikahan siri kalian sebagai awal jadian kalian pacaran. Jadi aku menantikan kedatangan keluargamu untuk meminang putriku."


"Alhamdulillah," lirih Kevin yang masih bisa di dengar oleh Pak Gunawan


"Tahu begini, kenapa gak dari dulu aku melamar Vio, saat minta diantar Al. Gak nyangka banget dosen killer itu bisa bijak juga," batin Kevin


Pak Gunawan hanya melihat ke arah Kevin lalu bertanya, "Kapan kamu akan membawa keluargamu ke sini? Dan untuk sementara, sebelum pernikahan kalian terdaftar di catatan sipil, Vio masih tinggal bersamaku."


"Baik Pak, tapi kalau sekali-kali nginep di apartemenku boleh kan, Pak?" tanya Kevin


"Seminggu sekali saja," jawab Pak Gunawan


"Makasih Papa sudah mewujudkan mimpiku untuk bersanding dengan pangeran impianku," batin Vio


***


Keesokan harinya, Kevin terlihat begitu bersemangat menyambut datangnya hari. Hatinya berbunga-bunga karena ternyata restu dari papanya Vio sudah dikantonginya. Sekarang tinggal memberitahukan keluarganya. Namun sayang mamanya sedang berlibur ke negeri gajah putih bersama dengan kakak perempuannya.


Dengan semangat 45 Kevin akan memberitahukan tentang rencana pernikahannya pada Al. Saking tidak sabarnya Kevin menunggu kedatangan Al, dia terus bolak-balik di depan ruangan Al membuat Aisha merasa pusing melihatnya.


"Vin, bisa diem gak? Aku tuh pusing lihat kamu mondar-mandir terus kayak gosokan," tegur Aisha


Bukannya menjawab, Kevin malah balik bertanya pada Aisha, "Sha, kenapa Al lama banget datangnya?"


"Bukan mereka yang telat datang, tapi kamu yang kecepatan datangnya, Vin. Memangnya ada apa sih nyari Al sampai segitunya?" tanya Aisha


"Aku mau nikah sama Vio, tapi mamaku baru balik minggu depan. Aku mau ngajak Al buat nganter melamar Vio," jelas Kevin


"Apa Vin? Kamu mau nikah juga?" Bukan Aisha yang kaget tapi Oryza yang baru datang justru terlihat sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Kenapa kamu kaget banget, Za? Memangnya salah kalau aku mau nikah?"tanya Kevin sewot


"Bukan begitu, Vin. Soalnya aku juga mau nikah bulan ini." terang Oryza


"Apaa??? Kalian berdua mau nikah bulan ini?"Giliran Aisha sekarang yang merasa kaget. Bukan apa-apa, soalnya diantara mereka berempat tinggal dia yang belum ada rencana menikah dalam waktu dekat.


Aisha sudah sering meminta Abizar untuk segera melamarnya, apalagi setelah Al menikah. Karena setiap hari mamanya selalu bertanya kapan Abizar akan datang melamarnya.


"Kalian tega sama aku! Kenapa kalian menikah duluan, bukannya menungguku dulu." Aisha terisak di tempatnya merasa ditinggalkan sendiri oleh sahabat dan saudaranya.


Kevin dan Oryza saling berpandangan, merasa heran dengan sikap Aisha yang tidak seperti biasanya, yang selalu terlihat tenang dalam situasi apapun.

__ADS_1


Dengan kode mata diantara keduanya, Kevin dan Oryza pun segera menghampiri meja Aisha dan mengelus punggung Aisha lembut.


"Maafkan aku, Sha. Bukannya mau ngeduluin kamu, tapi orang tuaku yang menjodohkan ku dengan Kia," terang Oryza


"Siapa Za? Kamu mau nikah sama Kia? Hahaha...." Tawa Kevin pecah saat tahu sahabatnya akan menikah dengan gadis yang selalu ditolaknya bahkan selalu dijadikan bahan bualan oleh Oryza.


Aisha yang sedang menangis pun mendadak berhenti dan ikut tertawa bersama Kevin. "Mampusss kamu Za, kemakan omongan sendiri. Makanya jadi orang gak boleh tampikan, karena hati manusia itu bisa berubah-ubah," cibir Kevin disela-sela tawanya.


"Iya bener Vin, Ryza tuh kemakan omongan sendiri sama kayak kamu yang dulu juga pernah nolak Vio. Hahaha.... Kalian berdua kena batunya," Aisha terus saja tertawa geli hingga ada seseorang yang menegurnya barulah dia berhenti.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Al yang baru saja datang dengan Icha.


"Wah Al, kebetulan kamu datang. Aku ada perlu sama kamu," ucap Kevin segera menghampiri Al dan langsung merangkul bahunya.


Icha yang sedang bergelayut manja di lengan kekar Al mendadak marah saat melihat Kevin merangkul suaminya.


"Pak Kevin, jangan peluk-peluk suami orang. Mau jadi pelakor ya," tuduh Icha


Entahlah, semakin bertambah usia kandungannya, Icha semakin manja dan posesif pada Al. Seakan takut ada yang merebut darinya.


"Ya elah, Cha. Masa aku mau rebut suami kamu. Aku kan cowok, Al juga cowok," terang Kevin


"Kali aja sekarang Pak Kevin sudah belok gara-gara gak jadi melamar Vio, jadinya suka sama suami orang," tebak Icha


Gubrak


Harga diri Kevin langsung jatuh ke dasar sungai Nil. Sudah dibilang belok, rahasianya dibongkar pula.


"Seriusan Cha, Kevin pernah gagal melamar?" tanya Oryza dan dijawab anggukan oleh Icha.


"Kamu belum tahu sih Za, siapa papanya Kia. Pak Gunawan Wicaksono."


"Apa dosen killer itu? Untung saja bukan papanya Kia jadi gak perlu berurusan sama dia."


"Sudah! Ada perlu apa kalian menungguku?"


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih 🙏🏻...

__ADS_1


👉 Next part


__ADS_2