
Siang sudah berganti malam, langit yang menampakkan kegagahan Sang Surya, kini sudah berganti dengan keteduhan rembulan dan bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit malam. Kia kini termenung sendiri di depan televisi yang ada di ruang keluarga, mengingat kembali kejadian tadi di rooftop saat Arjuna seorang penyidik kepolisian memintanya keterangan tentang kasus penusukan yang dilakukan oleh Adjie. Dia tidak pernah menyangka, Adjie akan segila itu karena tidak mendapatkan cintanya. Kia terus terhanyut dalam lamunannya, hingga Oryza datang pun dia tidak menyadarinya.
Oryza yang baru datang setelah memberikan kesaksiannya, mengerutkan keningnya saat melihat Kia yang sedang menonton televisi tapi dengan tatapan kosong. Dia langsung mendudukkan bokongnya di samping Kia, tanpa bersuara Oryza pun tidur berbantalkan paha Kia yang sedang melamun.
Merasa ada sesuatu di atas pahanya, Kia langsung tersadar dari lamunannya. "Za, kapan datang?" tanyanya.
"Aku udah datang dari tadi. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Sampai aku datang tidak menyadarinya," tanya Oryza.
"Aku-aku...."
"Jangan bilang kamu sedang mikirin cowok brengsekk itu. Aku tidak suka Kia, kamu memikirkan cowok lain," protes Oryza yang langsung memotong ucapan Kia.
"Maaf Za, aku hanya tidak habis pikir sama dia. Dia itu sahabat almarhum cowokku dulu, tapi kenapa seperti itu sama aku." Kia terlihat murung saat menceritakan tentang cinta pertamanya.
"Aku tidak mau dengar apapun tentang mantan pacarmu, termasuk cowok brengsekk itu. Kamu tahu Kia, bukan hanya kamu yang menjadi korban video mesum itu, tapi ada beberapa karyawan wanita di kantor Al yang juga menjadi korbannya." Tanpa menghentikan aktivitasnya yang sedang mendusel-dusel di perut Kia, Oryza menceritakan apa yang diketahuinya.
"Maksud kamu? Memang siapa yang kena?" tanya Kia heran.
"Kamu kenal Lina kan? Anak marketing yang punya body seperti gitar spayol? Video dia malah beredar dengan si brengsekk itu yang tanpa busana," jelas Oryza dengan mendongakan kepalanya melihat ke arah Kia yang sedang melihatnya.
Dengan satu tarikan, kini kepala Kia berada tepat di atas kepala Oryza dengan bibir yang saling menyatu, Oryza terus menghisap bibir atas Kia begitupun Kia yang menghisap bibir bawah Oryza. Puas dengan saling menghisap dan menyesap, Oryza langsung masuk menerobos masuk ke dalam rongga mulut Kia. Pertukaran saliva yang begitu memabukkan itu harus berhenti saat dirasa pasokan udara sudah menipis.
"Kia, ayo kita lanjutkan yang kemarin!" ajak Oryza dengan napas yang masih naik turun.
Kia memalingkan mukanya yang sudah bersemu merah, dia malu saat mengingat kejadian kemarin yang mana dia begitu menikmati setiap sentuhan dan permainan Oryza.
Oryza langsung bangun dari tidurnya dan menghadapkan muka Kia padanya. "Gak usah malu, aku suka melihatmu yang toples." Dengan senyum mengembang, Oryza pun menggoda Kia.
Kia langsung mencubit perut Oryza gemas, "Dulu aja nolak aku, sekarang malah ketagihan." Cibir Kia
"Soalnya aku belum tahu kalau kamu bisa bikin candu," seloroh Oryza
__ADS_1
"Dasar mesum! Sana mandi, bau!" suruh Kia dengan mendorong Oryza.
"Yakin aku bau? Semalam siapa coba yang tidur diketekku," goda Oryza yang langsung mengapit Kia dengan keteknya.
Kia terus meronta-ronta meminta dilepaskan, pasalnya Oryza mengapit lehernya seraya membawa masuk ke dalam kamar. Sampai saat di dalam kamar, barulah Oryza melepaskan Kia.
"Ayo temani aku mandi!" ajak Oryza
"Aku udah mandi, udah sana mandi! Aku mau siapkan makan malam dulu," usir Kia lalu mendorong Oryza masuk ke dalam kamar mandi.
Oryza hanya mengikuti apa yang Kia katakan karena sebenarnya dia juga merasa tubuhnya sudah lengket ingin dibersihkan.
Setelah memastikan suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Kia langsung menuju ke dapur untuk menghangatkan lauk dan sayur yang sudah dimasaknya tadi sepulang kerja.
Seulas senyum tersungging di bibirnya. Kia tidak pernah menyangka sebelumnya, seseorang yang dia kagumi dari sedari dia mulai bekerja di Putra Group kini benar-benar telah menjadi suaminya.
"Terima kasih Ibu, karena perjodohan yang ibu atur dengan sahabat ibu, kini aku menikah dengan lelaki yang aku cintai," ucap Kia dalam hati seraya mendongak ke atas menghadap langit-langit apartemen.
Cup
Oryza mencium pipi Kia sekilas sebelum dia mendudukkan bokongnya. "Kia, kalau kamu cape, makannya kita beli saja. Aku gak tega lihat kamu abis pulang kerja yang harusnya istirahat malah masak," ucap Oryza seraya menyendokkan lauk dan sayur ke piringnya.
"Aku udah terbiasa seperti ini, Za. Apalagi saat dulu masih kuliah, kadang aku tidak makan malam kalau uang kiriman dari ayah habis untuk bayar kuliah, sementara uang gajianku di kafe belum bisa diambil," tutur Kia.
"Apa katamu? Bukankah keluargamu punya perusahaan textile?" tanya Oryza kaget karena dia beberapa kali datang ke perusahaan ayahnya Kia bersama mamanya untuk memesan kain batik dalam jumlah banyak.
"Ibu tiriku yang menyetir keuangan ayah. Tiap bulan masih dapat kiriman, aku sudah bersyukur banget," ucap Kia dengan nada suara yang bergetar.
"Sudahlah lupakan ibu tirimu yang pelit itu. Masih ada Aa Ryza yang sanggup menanggung hidupmu. Kalau uangku habis, aku sih tinggal minta sama Al, hahaha ...." Tawa Oryza pecah kalau mengingat kekonyolannya yang selalu meminta uang jajan tambahan pada sepupunya. Meski kadang Al suka bicara ketus, tapi dia pasti memberi apa yang Oryza minta.
"Dasar punya suami matrein sepupu sendiri," cibir Kia.
__ADS_1
"Biarin aja, dia duitnya gak habis-habis. Oh iya, gimana kalau panggil aku jangan namanya aja tapi ada Aa-nya, kan aku ada darah sundanya. Nanti aku panggil kamu neng geulis, hahaha...." Lagi-lagi Oryza tertawa sendiri merasa geli dengan apa yang dikatakannya sampai-sampai dia tersedak.
Uhuk uhuk
Kia dengan sigap memberikan minum pada Oryza, "Makanya kalau makan gak boleh ketawa, kaya anak kecil aja."
Setelah acara makan malam selesai, pasangan pengantin baru pun beristirahat di kamar karena waktu sudah menunjukkan angka sepuluh, Oryza tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak melakukan ritual malam. Apalagi di luar terdengar hujan turun, menambah hasrat untuk menyatu semakin menggebu. Saat melihat Kia sudah merebahkan badannya, Oryza pun langsung mengungkungnya.
"Za, mau apa?" tanya Kia gugup
"Tentu saja menghangatkan tubuh. Di luar hujan, sayang." Tanpa menunggu lama, Oryza pun langsung menciumi wajah Kia diakhiri dengan decapan bibir yang saling bertukar saliva hingga pelepasan demi pelepasanmu mereka raih bersama-sama.
Oryza mengeratkan pelukannya pada tubuh Kia yang toples, berkali-kali dia menciumi pucuk kepala Kia. "Sayang, kamu sukses membuatku benar-benar mabuk. Rasanya aku ingin lagi dan lagi menikmati malam panas kita."
"Za, memang kamu gak nyesel nikah sama aku? Kamu kan lihat sendiri tidak ada darah di seprai seperti yang ada di film-film ataupun novel-novel saat kita melakukan untuk yang pertama kalinya." Terdengar serak suara Kia saat dia mengatakannya, Dia takut kalau sebenarnya apa
yang dikatakan oleh Adjie memang benar adanya.
Oryza menghela napas dalam mendengar pertanyaan dari istrinya, dia percaya kalau Kia belum pernah disentuh organ intinya oleh lelaki manapun, karena dia merasa kesusahan saat akan menerobos masuk ke dalam. Sampai-sampai setelah lima kali percobaan barulah usahanya berhasil, tapi kenapa justru Kia sendiri tidak percaya pada dirinya di sendiri.
"Sayang, perawan tidak perawan itu tidak bisa ditentukan oleh adanya bercak darah di seprai. Karena tiap wanita itu memiliki selaput dara yang berbeda, apa kamu menyukai olahraga ekstrim sebelum kita menikah?" tanya Oryza
"Waktu SMU aku ikut ekskul panjat tebing di sekolahku sama pecinta alam, aku juga sering juara lari lompat jauh saat masih sekolah," terang Kia.
"Pantas saja, sudahlah jangan dibahas lagi. Aku yakin, kalau aku yang pertama kali membobol gawang pertahananmu."
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih 🙏🏻...
__ADS_1