
Seminggu sudah Al berada di apartemen,seminggu itu pula dia hanya berdiam di apartemen bersama Icha dan anak-anaknya. Pak Bagas kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Rencananya setelah menikah lagi dengan Bu Mira, Pak Bagas akan memboyong keluarganya ke kota tempat dia dinas sekarang.
Sementara Al untuk sementara akan tinggal di apartemen. Mungkin kalau orang melihat, Al seperti seorang pengangguran yang luntang lantung tak karuan. Padahal yang sebenarnya, dia bekerja dari jarak jauh. Seperti hari ini, saat dia sedang sibuk mengecek e-mail yang masuk, ponselnya terus saja berbunyi membuat dia mau tak mau menghentikan pekerjaannya karena merasa terganggu dengan bunyi ponsel.
Al langsung mengambil ponsel yang dia simpan di atas meja kerjanya. Dilihatnya layar ponsel yang sedari tadi terus berkedip. Tertera di sana nama Kevin yang melakukan panggilan. Dengan segera Al pun mengangkat panggil dari sahabatnya itu.
📱"Hallo, Vin!"
📲"Al gawat! Gawat pokoknya!
Terdengar suara Kevin seperti orang yang sedang panik.
📱"Kenapa, Vin? Bicara yang jelas!"
📲"Gawat Al! Alfa corporation menarik semua investasinya. Kamu 'kan tahu kalau dia investor terbesar Putra Group."
📱"Terus, hubungannya dengan aku, apa?"
📲"Kamu berbuat sesuatu lah Al, Putra group bisa oleng kalau tidak segera mendapatkan investor baru."
📱"Kamu salah orang, Vin! Aku sudah tidak ada hubungannya dengan Putra Group, kamu tahu sendiri kalau aku sudah tidak punya saham di sana. Sudahlah jangan menggangguku! Aku sedang cari kerja.
Klik
Al langsung menutup ponselnya, Setelah selesai berbicara dengan Kevin.
Aku ingin tahu sejauh mana Om Raka berusaha membuat kondisi perusahaan kembali stabil, batin Al.
Tak ingin diganggu lagi, Al pun langsung men-silent ponselnya agar tidak ada yang mengganggu lagi pekerjaannya.
Saat matahari sudah berada dia atas kepala, perut pun sudah berbunyi minta diisi, Al langsung menghentikan pekerjaannya kala terdengar suara orang mengetuk pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
"Sayang, makan siang dulu!" teriak Icha di balik pintu ruang kerja Al.
Terlihat senyum mengembang di bibir Al, dia bahagia karena selalu berada di sisi istri tercintanya. "Sebentar!" Sepertinya Al sudah mulai terbiasa berteriak seperti istrinya.
Setelah merapihkan pekerjaannya, Al pun langsung ke luar menuju ruang makan yang hanya ada empat kursi di sana.
Terlihat Icha sedang menuangkan air minum untuknya, sedangkan Bi Sari sedang menjaga Zee di ruang keluarga.
Sekilas Al mencium pipi Icha sebelum dia duduk di kursi. Mendapat perlakuan manis dari suaminya, pipi ibu dari dua orang anak itu langsung bersemu merah muda.
"Ayo makan!" ajak Al setelah melihat Icha sudah duduk di dekatnya.
Setelah Al memimpin do'a, pasangan suami istri itu langsung menikmati hidangan yang sudah tersedia. Beruntung Icha memiliki suami yang tidak rewel soal makanan, sehingga dia tidak bingung saat menyajikan makanan di depan Al.
Sore harinya, Kevin dan Oryza sengaja datang ke apartemen. Mereka berdua mencak-mencak karena kondisi perusahaan yang sedang collapse akibat banyak investor yang menarik dananya setelah tahu pergantian kepemimpinan Putra Group, termasuk salah satunya JS internasional dan AP Technology yang mana pemiliknya adalah satu orang yang sama Andrea Nata Wiratama, papanya Allana dan Elvano teman sekolah Dika.
Mendengar kekesalan dan kecemasan sahabatnya, Al hanya diam saja tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia hanya menampung keluh kesah sahabatnya itu.
"Sepertinya Om Raka sedang mencari surat kepemilikan pulau Cinta, Al. Apa mungkin dia akan menjualnya?" Adu Kevin.
"Asal dia tidak tahu tempat rahasiaku, surat itu pasti aman." Al menyugar rambutnya kasar, kini dia cemas tidak bisa menjalankan amanah Kakek Satya untuk menjaga pulau itu.
"Al, ayo bertindak! Jangan biarkan semuanya hancur di tangan Om Raka. Kamu tahu, kerjaan dia hanya bercinta dengan Siska di ruangan kamu. Aku sampai jijik setiap kali masuk ke ruangan kamu, selalu memergoki mereka." Curhat Kevin yang merasa sudah tidak tahan dengan apa yang dilakukan CEO baru di tempatnya bekerja.
"Bener Al, dari yang ku dengar, Tante Elisa akan menggugat cerai karena Om Raka sering bermain dengan daun muda," timpal Oryza.
"Kalian itu sudah seperti emak-emak, tadi bergosip tentang perusahaan sekarang malah urusan rumah tangga orang. Biarkan saja, paling nanti dia mati karena OD obat kuat." Ceplos Al yang ucapannya tidak dipikir dulu.
"Aku sih setuju dia OD," ucap Kevin.
"Aku juga yes, sudah setengah abad tapi kelakuannya malah semakin menjadi." Oryza malah mendukung apa yang dikatakan Al.
__ADS_1
Setelah puas mereka mencurahkan kekesalannya, Kevin dan Oryza pun pamit pulang karena hari sudah malam dan pasti istri mereka sudah menunggu di rumah.
Selepas kedua sahabatnya undur diri, Al pun menuju ke kamarnya. Dilihatnya Icha sedang menyusui putri cantiknya, Al pun langsung merebahkan badannya di belakang tubuh istrinya.
Setelah baby Zee tidur terlelap, Icha membalikkan badannya mengarah pada Al yang sedang tidur telentang dengan tangan sebagai bantalan.
"Al, kamu tidak apa-apa?" tanya Icha yang tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Al, Kevin dan Oryza.
Al melirik ke arah Icha sekilas kemudian kembali menatap langit-langit kamar. Perlahan dia menarik napas dalam lalu menghembuskan. "Mungkin aku harus mengikhlaskan Putra Group ke tangan Om Raka. Kalau aku membuat perusahaan itu gulung tikar, bagaimana dengan nasib ribuan karyawan? Mereka berharap banyak pada Putra Group. Aku akan menyuruh Philip untuk membeli saham Putra Group setelah menarik uang investasi dari sana," tutur Al dengan terus memandang langit-langit kamar.
"Maksud kamu apa, Al? Aku tidak mengerti," ucap Icha.
"Aku sengaja menarik investasi dari Putra Group, karena aku yakin perusahaan itu pasti collapse tapi ternyata karyawan yang kena imbasnya langsung."
"Sayang, kita tidak boleh egois sehingga merugikan banyak orang. Aku tidak keberatan hanya menjadi istrinya culun bukan istri CEO putra group lagi. Jangan menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah papa dan kakek bangun. Meski kita sudah bukan pemiliknya lagi. Biar Allah yang menghukum Om Raka, kita hanya perlu memaafkannya saja," tutur Icha.
"Aku sangat beruntung bisa memiliki istri yang tidak haus dengan harta," ungkap Al.
"Aku kalau haus minum, Sayang!" ucap Icha
Al langsung memijit hidung Icha gemas, "Bisa saja Mama Icha," ucapnya.
Malam ini mereka lewati dengan saling bercerita mengungkapkan isi hati hingga entah siapa yang memulai untuk kini keduanya sudah terhanyut dalam gelora gairah yang membuncah di dada.
Keesokan harinya, di saat Icha pergi ke dapur untuk untuk membuat sarapan, terlihat Bi Sari sedang menonton televisi yang ada di dekat meja makan, matanya tidak berkedip melihat berita di televisi.
"Penemuan mayat telanjang di kamar hotel masih diselidiki polisi. Dalam pemeriksaan sementara, korban sempat chek in bersama seorang perempuan. Korban dengan inisial RP yang merupakan seorang CEO dari perusahaan besar di tanah air, ditemukan tewas tanpa busana dengan kondisi mulut mengeluarkan busa di kamar hotel Jalan Raya xxxx. Dia diketahui sempat masuk bersama seorang perempuan ke dalam kamar tersebut."
"Ngeri ya, Neng! Meninggal dalam keadaan hina begitu, apa semasa hidupnya dia orang jahat?" tanya Bi Sari.
Icha hanya melihat ke arah Bu Sari lalu berkata, "Sut! Bibi gak boleh ngomongin kejelekan orang yang sudah meninggal. Kata mama, pamali."
__ADS_1