Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 80 Gagal melamar


__ADS_3

"Pak Gun kenal dengan Kevin juga? Dia asisten pribadi saya Pak." Al langsung memperkenalkan Kevin sebagai asisten pribadinya saat mendengar perkataan Pak Gunawan.


"Waduh bisa gagal kawin nih bocah, kalau aibnya sendiri ada di calon mertuanya," ringis Al dalam hati


"Tentu saja kenal Nak Al, tapi kenapa malah dijadikan asisten pribadi sekelas CEO kalau mata kuliah statistik saja harus ngulang tiga kali. Memangnya tidak takut,


nanti perusahaan yang kamu pimpin berantakan karena dia," tunjuk Pak Gunawan


Al hanya mengulas senyum mendengar ucapan Pak Gunawan.


"Bagaimana gak ngulang tiga kali, ketiduran di kelas suruh keluar, telat datang sedikit aja gak boleh masuk, lupa bawa tugas gak boleh ikut kelas, pulpen jatuh pas ujian aja dikira mau nyontek, huhh dasar dosen killer tapi aku mau sama anaknya," rutuk Kevin dalam hati


"Sebenarnya Kevin cukup ahli dalam statistik Pak, mungkin karena dia tidak kuliah sama saya jadi suka malas," bela Al tapi sekaligus meledek Kevin


"Begitu ya! Syukurlah kalau tidak membawa kebiasaan buruknya saat kuliah dulu, tapi ngomong-ngomong ada keperluan apa Nak Al datang ke sini?" tanya Pak Gunawan


"Sebenarnya kita ke sini sengaja untuk...." Al tidak melanjutkan ke ucapannya saat melihat Vio datang dengan nampan di tangannya.


Vio sengaja datang dengan membawa minuman dan cemilan untuk teman mengobrol tamu dan papanya. Dia khawatir Kevin beneran melamarnya tapi malah di tolak oleh papanya.


"Diminum dulu Pak Al, Pak Kevin," suruh Vio seraya melirik Kevin yang terlihat mukanya asam.


Al hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, begitupun dengan Kevin.


Vio mencoba tersenyum pada Kevin yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan


"Kenapa aku jadi ragu untuk melamarnya, tidak seyakin tadi siang saat sebelum bertemu dengan papanya Vio," batin Kevin


"Saya kemari ada perlu dengan Pak Gun, mewakili orang tuanya Kevin ingin me...."


"Meminta ijin untuk mengenal lebih dekat dengan Vio dan keluarganya." Kevin langsung memotong ucapan Al.


Pak Gunawan hanya tersenyum melihat kegugupan mahasiswanya, sebenarnya dia sudah menerka ada sesuatu diantara putrinya dan mahasiswa abadinya, setelah tadi dia melihat Kevin dan Vio saling berpandangan. Namun Pak Gunawan penasaran sejauh mana usaha mahasiswanya yang selalu menjulukinya dosen killer.

__ADS_1


Sementara Al melihat heran ke arah Kevin, kenapa rencananya jadi mendadak berubah.


"Aku belum bisa memutuskan akan merestui atau tidaknya, sebelum melihat kesungguhanmu pada putriku," ucap Pak Gunawan


"Kevin, apa kamu serius dengan putriku?" tanya Pak Gunawan


"Itu aku...aku...." Sebelum Kevin menyelesaikan ucapannya, Pak Gunawan sudah memotong terlebih dahulu.


"Aku tahu kamu masih ragu Kevin. Sebelum kamu mengambil keputusan, sebaiknya dipikirkan dulu baik buruknya. Jangan asal bertindak, karena aku tidak akan memberikan putriku pada orang sembarangan apalagi pada orang yang tidak yakin dengan keputusannya sendiri," ujar Pak Gunawan


Kevin hanya diam tidak menjawab ataupun membantah ucapan Pak Gunawan sehingga Al langsung angkat bicara.


"Sebenarnya Kevin serius dengan Vio, Pak Gun. Hanya saja, sepertinya dia nervous bertemu dengan Pak Gun. Mungkin Kevin merasa sekarang sedang di kampus," ucap Al yang mencoba bergurau untuk mencairkan suasana.


"Apa tampang saya begitu menyeramkan Nak Al?" tanya Pak Gunawan pada Al


"Tentu saja tidak! Kalau Pak Gun menyeramkan, mana mungkin memiliki putri yang secantik Vio. Sampai sahabat saya saja tidak bisa makan, tidak bisa tidur kalau belum bertemu dengan Vio." Gombal Al pada Pak Gunawan


Pada akhirnya acara lamaran pun berganti menjadi sesi mengenang masa muda Pak Gunawan, membuat Kevin dan Vio hanya melongo mendengarkan pembicaraan Pak Gunawan dan Aldrich.


Setelah puas mendengarkan cerita Pak Gunawan, Al dan Kevin pun pamit karena hari sudah malam. Apalagi Al berjanji untuk pulang tidak larut malam.


"Buang waktuku saja tahu gak, Vin," sungut Al saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Sorry Al!" sesal Kevin


"Kenapa kamu jadi mundur sih, Vin? Bukannya kamu ingin melamar Vio, tapi saat aku mau mengatakan maksud kedatangan kita, kamu malah memotongnya," cecar Al


"Aku ragu Al dengan pilihanku setelah aku tahu kalau ternyata Vio anaknya dosen killer itu," ungkap Kevin


"Kamu sebenarnya cinta gak sama Vio? Kalau kamu memang cinta sama Vio, siapapun bapaknya, mau itu pejabat, presiden, bahkan maling sekalipun kamu tidak akan mundur begitu saja," ujar Al


"Bener apa yang dibilang Pak Gun, sebaiknya kamu pikirkan dulu matang-matang, yakinkan hatimu dengan seyakin-yakinnya, baru boleh melamar anak gadis orang. Sekarang kamu sudah tahu kalau Vio anaknya Pak Gun, terserah kamu mau lanjut apa tidak menjalin hubungan dengan Vio. Tapi yang jelas jangan pernah permainkan hati perempuan," Al pun memberi nasihat panjang kali lebar Al pada Kevin.

__ADS_1


"Iya aku salah," sesal Kevin


Hening


Hingga mobil Kevin masuk ke halaman rumah Al, barulah Al bersuara lagi.


" Aku turun dulu, pikirkan baik-baik apa yang akan kamu lakukan selanjutnya," pesan terahir AL sebelum dia keluar dari mobil.


Kevin langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota J yang tak pernah lengang, sedangkan Al langsung masuk ke rumah yang terlihat sudah sepi karena penghuninya sudah beristirahat di peraduannya.


Al langsung menuju kamar Dika yang ada di depan kamarnya, dilihatnya Dika yang sudah tertidur pulas. Perlahan Al mencium kening putra semata wayangnya lama, perasaan bersalah itu selalu menyeruak setiap kali dia melihat wajah polos Dika yang sedang terlelap. Setelah meniupkan do'a di ubun-ubun Dika, Al pun beranjak pergi menuju ke kamarnya.


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar yang dibuka dari luar, membuat Icha yang sedang chattingan dengan Vio langsung menghentikannya dan menyembunyikan handphone di bawah bantal yang dipakainya. Sementara dia sendiri berpura-pura tidur agar Al tidak meminta jatahnya malam ini.


Al melihat sekilas ke arah istrinya, alisnya berkerut saat menyadari Icha ternyata tidur ayam.


"Dia pura-pura tidur, dikiranya aku tidak akan tahu. Awas saja, Cha! Malam ini, aku akan minta lima ronde karena kamu sudah mencoba untuk membohogiku," batin Al.


Al langsung menuju kamar mandi utuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah semua urusannya beres di kamar mandi, Al pun langsung merebahkan dirinya di samping Icha.


Dipeluknya Icha yang tidur sedang membelakanginya. Al terus menciumi tengkuk leher Icha, sedang tangan nakalnya memilin lembut tombol hitam di squisy kembar itu, membuat Icha harus menahan sekuat tenaga hasratnya yang mulai bangkit karena ulah Al. Menyadari Icha sedang menahan hasratnya, Al pun langsung berbisik di telinga Icha, "Jangan ditahan sayang! Lepaskan saja suaramu!" bisiknya.


"A-A-Al akh....." racau Icha


Malam panjangpun mereka lewati dengan peluh kenikmatan tanpa ada yang menggangu acara pendakian bukit kembar yang dipenuhi oleh racauan, lenguhan yang membuat hati berdesir saat mendengarnya.


...*****...


To be continued


👉Next part

__ADS_1


__ADS_2