
Selama makan, Dika hanya terdiam seperti sedang asyik memakan makanan di depannya. Berbeda dengan hatinya yang terasa sakit tapi tidak berdarah. Sementara Allana terlihat begitu asyik mengobrol dengan Gala seraya sesekali diselingi oleh tawa cerianya.
Sabar Dika! Cinta pasti akan menemukan jalannya. Sejauh apapun kakimu melangkah, dia pasti akan kembali pada pemilik hatinya, bisik hati Dika.
Tidak butuh waktu lama, Dika sudah menghabiskan mie ayam di depannya. Setelah dia membayar semua makanannya dan Allana, Dika pun undur diri kembali lebih dulu.
"Lana, Aku duluan ya! Mau ke toilet soalnya. Bro tolong nanti antar ke kelas ya! Makanannya sudah aku bayar semua." Dika langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari Allana, membuat gadis itu menjadi melongok melihat kepergian pacar bohongannya.
"Kenapa dia malah ninggalin aku? Gimana sih Dika?" gerutu Allana pelan.
Sepertinya mood Allana langsung anjlok. Setelah kepergian Dika, napsu makannya langsung hilang sehingga gadis cantik itu tidak melanjutkan makannya dan memilih memainkan ponselnya seraya menunggu Gala menghabiskan makanannya.
"Lana, kenapa gak dimakan?" tanya Gala saat melihat Allana malah asyik dengan ponselnya.
"Aku udah kenyang! Kamu masih lama gak makannya?" tanya Allana.
"Kenapa? Udah mau pergi?" Gala langsung memasukkan makanannya setelah bertanya pada Allana.
"Aku ada PR yang belum ku kerjakan untuk pelajaran setelah istirahat," bohong Allana.
"Oh! Ya udah, yuk aku antar ke kelas." Gala langsung menghentikan makannya dan beranjak pergi saat melihat Allana sudah lebih dulu akan pergi dari kantin.
Sepertinya Lana menyukai Dika, tidak biasanya dia bersikap seperti itu, batin Gala.
Gala dan Allana pun berjalan beriringan menuju ke kelas Allana karena memang Gala berada di kelas IPS, sehingga dia harus melewati kelasnya dulu jika ingin ke kelas Allana. Nampak teman sekelas Gala sedang duduk di bangku depan kelas yang disediakan pihak sekolah. Mereka terlihat begitu asyik bersenda gurau, sehingga saat Gala dan Allana lewat di depan mereka, otomatis jadi bahan godaan teman sekelasnya. Apalagi tema-temannya tahu kalau ketua OSIS itu sebenarnya menaruh hati pada gadis jutek yang ada disampingnya. Hanya saja Gala tidak memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya pada Allana.
"Suit suit ... Pepet terus Gala jangan sampai kecolongan untuk yang ketiga kalinya," teriak salah satu temannya yang di tanggapi dengan tawa kecil oleh Gala.
Sementara Allana cemberut tidak suka dengan apa yang didengarnya, sehingga dia mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke kelasnya. Namun, saat dia sampai di ambang pintu kelas, matanya nyalang saat melihat Dika bersama dengan Celline sedang mengobrol. Tanpa permisi lagi, dia langsung menarik tangan Dika agar mengikutinya.
Melihat Allana yang malah meninggalkannya, Gala pun berbalik ke kelasnya dengan tersenyum getir.
Mungkin di hatimu, aku hanyalah sebagai sahabat. Tapi bagiku, kamu adalah kebahagian aku, batin Gala.
"Kamu sengaja ninggalin aku, agar bisa berduaan sama dia?" tuduh Allana saat mereka sudah duduk di bangkunya.
Dika tersenyum tipis melihat kekesalan Allana saat melihatnya bersama dengan wanita lain. "Apa kamu cemburu, Honey?" tanya Dika seraya mencolek hidung mancung Allana.
__ADS_1
"Yang benar saja, Dik? Mana mungkin aku cemburu sama kamu," elak Allana.
"Oh, iya! Tidak mungkin 'kan kamu cemburu? Karena aku, bukan laki-laki yang kamu harapkan jadi pendamping kamu." Dika tersenyum getir lalu menyibukkan dirinya dengan ponsel yang dia ambil di kantong bajunya.
Daripada dia larut dalam sakit hatinya, lebih baik memeriksa pergerakan saham perusahaannya. Selama dia tinggal di negeri orang, dia selalu menyibukkan dirinya untuk belajar bisnis pada papanya ketimbang terus berlarut-larut dalam kerinduan pada teman dan seseorang yang disukainya.
"Dika, kamu marah?" tanya Allana yang melihat Dika langsung terdiam.
"Tidak! Aku keluar dulu sebentar, ada panggilan telepon dari temanku," pamit Dika seraya beranjak pergi.
"Apa aku salah bicara begitu sama dia? Bukankah dia sudah tahu kalau aku tidak mungkin menyukainya?" gumam Allana.
***
Siang pun berganti malam, mentari yang bersinar terang kini tergantikan dengan cahaya rembulan dengan kelap-kelip bintang menghiasi angkasa.
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Dika datang menjemput Allana bertepatan dengan suara adzan yang berkumandang. Setelah dia dipersilakan masuk, Dika pun meminta ijin ikut sholat isya di rumah Allana. Selesai menunaikan kewajibannya, dia pun bergabung bersama dengan Joen dan Andrea yang sedang berbincang di ruang televisi karena Elvano sudah berangkat untuk menjemput Arabella. Sementara Allana masih didandani oleh mamanya di kamar.
"Dik, bagaimana Lana dia sekolah? Apa dia bikin ulah lagi?" tanya Andrea.
"Tidak, Om! Dia mengikuti pelajaran dengan baik," terang Dika.
"Siapa lagi kalau bukan dari papanya," celetuk Mitha yang baru datang setelah dia diminta bantu make-up putrinya.
"Emang Mama gak kayak gitu?" debat Andrea.
"Ya Mama 'kan cewek, gak mungkin kan bilang suka lebih dulu sama cowok, gengsi Pah! Harga diri bisa anjlok," ungkap Mitha yang malah mengungkapkan kisah percintaannya.
"Beneran, Mah? Ternyata Bang Andrea orangnya munafik!" cibir Joen yang sedari tadi diam.
"Heyy ... Bocah! Ngomong asal bunyi saja bilang munafik sama orang tua," sewot Andrea.
"Sudah, Joen! Dia gak akan sadar diri," celetuk Mitha.
"Tuh, Dik! Cewek itu gede gengsinya, jadi kita para cowok jangan mudah menyerah saat mendengar orang itu bilang tidak suka tapi sikapnya menunjukkan hal sebaliknya. Mungkin saja dia belum menyadari perasaannya." Andrea seperti paranormal yang mengerti dengan apa yang Dika rasakan sekarang.
Dika ingin menyerah dengan perasaannya dan menganggap apa yang dia rasakan hanya mimpi masa kecilnya. Namun, kata-kata dari Andrea seperti air yang menyirami hatinya yang gersang.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Allana turun dengan dress selutut yang membuat dia terlihat semakin cantik ditambah dengan model rambut curly sebahu membuat penampilannya terlihat lebih fresh.
Sudut bibir Dika terangkat sempurna membentuk bulan sabit saat melihat gadis yang disukainya sedang menuruni tangga.
Sementara pasangan suami istri itu saling siku saat melihat putra rekan bisnisnya terpesona dengan anak gadis mereka. Sepertinya keinginan mereka untuk menjadikan Dika sebagai menantunya mendapatkan respon yang baik, tinggal mencari cara agar putrinya menyetujui. Bukan tanpa sebab Andrea selalu mendekatkan Allana dengan Dika, dia tidak ingin putrinya larut dalam obsesinya, menginginkan seseorang yang tidak mungkin menjadi pendampingnya meskipun sebenarnya orang yang Allana inginkan seorang duda beranak satu karena istrinya meninggal saat melahirkan putranya.
"Ayo, Dik!" ajak Allana saat sudah sampai didepan Dika.
Dika yang tersadar dari lamunannya langsung menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ajakan Allana. Setelah berpamitan pada orang tuanya dan Joen, Allana pun langsung berangkat ke pesta ulang tahun teman sekelasnya.
Selama perjalanan, Dika hanya terdiam. Sedari tadi dia terus meresapi apa yang dikatakan oleh papanya Allana. Mereka bicara hanya sesekali saat Dika menanyakan arah jalan menuju ke rumah Yuki.
Bagaimana caranya aku bisa membuktikan kalau sebenarnya Allana memiliki perasaan yang sama denganku? Bukankah dia tidak menolak saat aku menciumnya, batin Dika
Dika terus bergelut dengan pikirannya, sampai mobil memasuki pelataran rumah megah Yuki, barulah dia tersadar dari lamunannya.
"Dika, apa kamu marah sama aku?" tanya Allana saat mobil sudah terparkir sempurna. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman saat Dika mendiamkannya sedari tadi di sekolah sampai saat sekarang. Terasa ada yang ganjil di hatinya.
Dika melihat ke arah Allana sekilas sebelum dia menjawab apa yang gadis itu tanyakan. "Aku gak punya alasan untuk marah sama kamu. Kamu suka atau tidak sama aku, itu hak kamu." Dika membuka seat belt yang dipakainya sebelum dia turun dari mobil. Namun, Allana menahan tangan Dika agar kembali duduk di kursinya.
"Oke, aku minta maaf kalau salah ngomong sama kamu. Aku harap, kamu tidak berharap lebih dari status kita yang sekarang." Allana menatap lekat pada Dika yang kini sudah duduk kembali di kursinya.
"Tidak masalah bagiku, bagaimana kalau kita percepat saja waktunya. Setelah pulang dari pestanya Yuki, kita anggap permainanmu selesai dan kita kembali menjadi teman. Sekaligus aku akan meminta hadiahku," ucap Dika dengan menatap balik pada Allana.
"Apa secepat itu? Bukankah masih dua hari lagi?" tanya Allana kaget dengan apa yang Dika ucapkan.
"Aku mau fokus belajar, bukankah Senin besok sudah mulai ujian semester?" kilah Dika.
"Baiklah, kalau itu mau kamu! Tapi sebagai teman, kamu mau kan jemput aku untuk berangkat sekolah?"
"Iya, sampai masa hukuman kamu habis, aku pasti jemput kamu!"
...*****...
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...