
Elvano terus memandangi wajah cantik penguntitnya, entah kenapa rasanya dia tidak merasa bosan untuk terus melihatnya. Gadis yang dulu tidak disukai karena dia selalu menempel padanya. Kini gadis itu pula yang bisa membuatnya khilaf.
Memang benar Elvano sering jalan dengan banyak gadis selama dia masa kuliah, tapi dia tidak pernah melakukan hal di luar batas. Tidak seperti pada Arabella yang tiap kali bersentuhan, hasratnya selalu mudah terpancing.
Perlahan Arabella membuka matanya, sesaat dia kaget melihat Elvano ada di depan matanya. Arabella langsung mengucek mata berkali-kali untuk memastikan apa yang dilihatnya.
"El, kamu sudah pulang?" tanya Arabella dengan suara serak.
"Hmm, Ara ayo mandi! Papa menunggu kita di meja makan," ucap Elvano lembut
"Apa??? Mandi sama kamu? Aku gak mau, kita belum nikah!" tolak Arabella menutup dada dengan menyilangkan kedua tangannya.
Pletak!
Elvano langsung menyentil dahi gadis cantik yang terkadang suka lola itu, sehingga Arabella segera mengelus dahinya bekas sentilan dari sahabat kecilnya.
"El, sakit!" Arabella merengut kesal dengan apa yang Elvano lakukan.
"Salah sendiri, kenapa isi otakmu kotor sekali. Aku suruh kamu mandi bukan untuk ngajak mandi bersama," ketus Elvano.
"Iya, aku salah dengar! Udah sana, aku mau mandi!" Arabella langsung mendorong Elvano yang sedang jongkok di depannya sehingga lelaki tampan itu terjengkang. "Ya ampun, El! Kenapa kamu jatuh?"
Arabella langsung berlari ke kamar mandi sebelum Elvano mengejarnya dan membalas apa yang sudah dilakukannya.
"Arabella!!!" teriak Elvano geram.
***
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan yang mampu menampung sekitar dua puluh orang. nampak Andrea sudah duduk di meja makan dengan Mitha di samping kanannya dan Joen di samping kiri Andrea. Sementara Allana dan Dika di samping Mitha, sedangkan keluarga Dika sudah pulang saat tadi pesta selesai.
Makan malam belum bisa di mulai karena masih menunggu kedatangan Elvano dan Arabella.
"Ke mana bocah itu? Sudah dibilang tiga puluh menit harus sudah ada di meja, ini belum datang juga." Andrea nampak kesal karena putranya tidak menuruti perintah.
Tidak berselang lama, terlihat Elvano sedang menarik tangan Arabella. Entah apa yang sedang diperdebatkan. Namun, terlihat jelas wajah keduanya nampak tegang.
"Sudah ributnya, sekarang makan dulu untuk mengisi tenaga. Biat nanti kalian punya kekuatan untuk adu jotos," sarkas Andrea.
__ADS_1
"Papa Andrea, aku minta maaf!" ucap Arabella
"Iya Ara, duduklah!" sahut Andrea.
Semuanya duduk dengan tenang, dan makan tanpa bersuara. Setelah selesai makan, barulah Andrea memulai bicara.
"El, papa mau tanya kepastian kamu. Apa kamu serius dengan Ara? Papa tidak keberatan jika kalian memutuskan untuk menikah secepatnya daripada kalian hanya bermain-main saja." Andrea menatap Elvano dam Arabella bergantian.
"El belum siap untuk menikah. Lagipula, El juga belum yakin mau menikah dengan dia." Seperti tanpa beban, Elvano bicara yang sukses membuat hati Arabella terasa dihempaskan dari ketinggian.
"Benar apa yang El bilang, Pah! Ara juga sudah punya calon, jadi tidak mungkin aku menikah dengan dia." Arabella tersenyum samar untuk menutupi sakit hatinya.
"Terserah kalian! Papa tidak mau ikut campur dalam urusan asmara kalian yang rumit. Kalau nanti kalian berubah pikiran dan ingin secepatnya menikah, segera beritahu Papa!" Andrea malas menghadapi dua orang yang saling memungkiri perasaannya.
"Kamu itu persis sekali papamu, El! Mati-matian tidak mau mengakuinya, tapi akhirnya dia juga yang meminta pada Mama untuk menikah dengannya. Pake acara ditodong lagi," celetuk Mitha yang sedang mengupas apel.
"Sayang! Kenapa harus dibongkar?"
"Biar mereka sadar, kalau mereka tidak bisa lari dari yang namanya cinta." Mitha mulai menyuapi suaminya buah apel yang tadi dikupasnya.
"Biarin, Mah! Biar mereka nanti menyesal kalau sudah sama-sama kehilangan," ucap Andrea
"Mah, Pah, Lana ke kamar dulu, Udah ngantuk!" pamit Allana.
"Dika juga Om, Tante!" sambung Dika.
"Apa tadi bilang, Dik?" tanya Andrea.
"Dika mau ke kamar ikut Allana," jawab Dika cengo.
"Bukan yang itu, tadi kamu panggil aku apa?" tanya Andrea lagi.
"Om," Dika semakin bingung dengan pertanyaan Andrea, karena dia tidak merasa ada yang salah.
"Sekali lagi kamu panggil Om dan Tante, aku pecat jadi menantu!" tegas Andrea.
Elvano yang mengerti maksud papanya langsung memberi tahu pada adik iparnya itu. "Dika, kamu sekarang sudah jadi menantu di keluarga ini. Panggilan kamu juga harus berubah, gak boleh lagi panggil Om dan Tante tapi harus panggil Mama dan Papa," jelas Elvano.
__ADS_1
"Iya Om eh Papa, maaf aku lupa!" Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah Pah! Lana sudah ngantuk banget, ayo, Dik!" Allana langsung menarik tangan Dika agar mengikutinya ke kamar.
"Cieee ... Adik Abang udang gak sabar nih, pengen cepat-cepat belah duren," goda Elvano.
"Lana, bikin ponakan yang banyak ya! Nanti aku minta satu," teriak Arabella.
"Kamu gak usah minta sama Lana! Nanti aku bikin yang banyak." Ceplos Elvano.
"Katanya gak mau nikah, tapi bikin anaknya kenapa semangat sekali," sindir Andrea yang sukses membuat Elvano cengengesan.
"Hehehe ... Aku hanya bercanda Papa!" elak Elvano.
"Beneran juga gak papa ya, Sayang! Asalkan udah ijab kabul. Udah yuk, kita juga ikutan ngamar. Biarkan saja para jomblo meratap," Sinis Andrea melirik ke arah Elvano dan Joen.
Joen hanya menggelengkan kepala melihat kelakuann kakaknya. Meskipun sudah berumur tapi jiwa mudanya masih terlihat membara.
Setelah semuanya masuk ke kamar, kini Arabella yang bingung sendiri sehingga dia hanya diam di tempat duduknya ketika Elvano beranjak pergi.
Menyadari Arabella tidak mengikutinya, Elvano pun berbalik dan langsung menarik tangan gadis cantik itu. "Kamu mau tidur di meja makan?" tanya Elvano.
"Aku mau pulang, El! Tolong antarkan aku pulang, tadi pagi aku ke sini ikut dengan papa," pinta Arabella.
"Sebentar, aku ambil kunci mobil dulu di kamar." Elvano langsung berlari menuju ke kamarnya dan mengambil kunci mobil miliknya. Setelah mendapatkannya, dia pun segera kembali menemui Arabella.
"Ayok!" ajak Elvano dengan menarik tangan Arabella.
Elvano tidak mengambil jalan umum karena itu pasti akan menempuh perjalanan yang lumayan jauh sehingga dia melewati jalan pintas yang sengaja di bangun untuk mempecepat jarak rumah peninggalan omanya dengan mansion yang dibangun oleh opanya.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil sports keluaran terbaru itu sampai di rumah Keluarga Wijaya. Nampak keadaan rumah yang sepi, karena sebagian besar penghuninya sudah berada di dunia mimpi. Elvano menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sehingga Arabella hanya perlu berjalan sebentar untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Makasih ya, El! Aku turun dan kamu tidak perlu mampir," pamit Arabella.
"Tidak masalah, asal aku mendapatkan bayarannya." Elvano langsung menarik tangan gadis penguntit itu dan mengambi ciuman perpisahan sekilas di bibir Arabella. Membuat seseorang yang tidak sengaja melihat mengepalkan tangannya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya! Jangan lupa klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima Kasih!...