Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 121 Seperti Orang Gila


__ADS_3

Karpet merah sudah digelar di sepanjang pintu masuk aula sampai ke pelaminan. Bunga-bunga dirangkai sedemikian indahnya menghiasi aula yang berubah seperti kahyangan di Negeri Dongeng. Alunan musik klasik menyambut kedatangan pengantin baru saat memasuki aula. Semua mata terlihat takjub dengan ketampanan dan kecantikan pengantin baru yang memancarkan aura yang berbeda


Semua terhanyut dalam suasana pesta yang meriah. Namun tidak bagi Al, dia terus memikirkan permintaan rekan bisnisnya yang sekarang sudah dianggapnya sebagai saudara. Apalagi kedekatan putranya dengan anak-anak Andrea membuat Al merasa segan untuk menolaknya, tapi dia juga melihat kalau putrinya Andrea seperti tidak menyukai putranya.


Melihat Al yang seperti tidak menikmati kemeriahan pesta yang dibuatnya, membuat Icha mengerutkan keningnya heran.


"Apa dia marah karena aku tidak mau ikut dipajang di depan sana?" batin Icha


Icha terus bertanya-tanya dalam hatinya karena melihat Al diam termenung sendiri, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. "Sayang, kamu kenapa?"


"Gak papa sayang, mending pulang ke villa yuk! Kepalaku pusing," dalih Al


Al dan Icha pun langsung mencari keberadaan putranya yang sedang asyik bercengkrama dengan Arkana sahabatnya.


"Sayang, Mama sama Papa mau pulang duluan. Dika mau ikut pulang apa masih di sini?" tanya Icha.


"Dika mau pulang aja, Mah. Arka mau ikut pulang gak? Kita main game aja di kamarku!" ajak Dika.


"Ayo Dik! Aku juga bosen di sini." Arkana langsung menyetujui dan dia pun mengajak kedua kakaknya Elvano dan Joen.


Melihat kakaknya seperti akan pulang, Allana pun langsung mengajak Arabella untuk ikut pulang. Memang kedua gadis kecil itu selalu mengikut kemanapun para anak lelaki itu pergi, meskipun sering mendapat penolakan dari saudara kembarnya. Namun, itu tidak membuat kedua gadis kecil itu megurungkan niatnya.


Sesampainya di villa, Al langsung menuju ke kamarnya. Begitupun dengan anak-anak yang sudah merencanakan untuk bermain game.


***


Seminggu sudah berlalu sejak pesta resepsi itu, semuanya sudah kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Kesehatan Yura pun semakin membaik.Sekarang Yura dirawat di rumah sakit jiwa mengikuti saran dari dokter yang merupakan teman sekolahnya karena melihat Yura yang depresi berat merasa terabaikan oleh orang yang disayanginya. Bahkan dia beberapa kali melakukan tindakan bunuh diri. Untung saja, Bram selalu memergoki tindakan Yura yang ingin menyayat pergelangan tangannya.


Hampir setiap hari, Oryza dan Kia menyempatkan diri untuk memastikan keadaan Yura. Meski Kia tidak berani untuk menampakkan diri di depan Yura. Namun, dia selalu mengawasi interaksi suaminya dan Yura lewat jendela kamar perawatan nya.

__ADS_1


Hari ini, tidak seperti biasanya Kevin terus tersenyum ceria, secerah baju yang sudah dicuci dengan bayclean. Tiap dia berpapasan dengan beberapa karyawan di kantornya, dia pasti memberikan senyuman terindahnya. Membuat beberapa karyawan pria bergidik ngeri. Tidak jauh berbeda dengan Kevin, wajah Oryza pun tampak berseri-seri. Sangat berbanding terbalik dengan kedua istri mereka yang tampak seperti kelelahan dan kurang tidur.


Menyadari Kevin yang terus senyum-senyum sendiri seperti habis menang lotre, Al pun mengerutkan dahinya dan memilih untuk menghentikan pekerjaannya. Al memangku dagunya di atas kedua tangan yang saling bertautan.


"Setan mana yang memasuki tubuhnya, sampai dia terus tersenyum seperti orang gila," ringis Al dalam hati.


Merasa seperti ada yang mengawasi, Kevin pun menghentikan pekerjaannya yang sedang memeriksa beberapa dokumen di sofa ruangan Al.


Dilihatnya Al yang sedang memicingkan matanya seperti menyelidik padanya, membuat Kevin langsung mengembangkan senyumnya.


"Tanya dong bos! Kenapa aku senyum-senyum terus?" batin Kevin


Harapan tinggal harapan, berharap Al menanyakan tentang perubahannya, tapi apa yang di dapatkannya tidak sesuai harapan. Al hanya menyilangkan telunjuk di jidatnya yang sontak saja membuat Kevin menjadi cemberut.


"Dasar punya sahabat gak peka. Tanya kek Al, kenapa aku senyum terus," sungut Kevin dengan kembali mengerjakan pekerjaannya.


Mendengar apa yang Kevin katakan, membuat Al mengulum senyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku rasa tender ini lebih penting dibanding memperhatikan perubahanmu," ucap Al datar dengan mata terus melihat ke arah monitor.


"Kalau aku gak matre, aku gak bisa kasih kamu dan Oryza rumah mewah di kawasan elit." Tanpa melihat ke arah Kevin, Al langsung bicara hal yang menohok hati Kevin.


"Hehehe.... Iya Paduka, maafkan hamba yang tidak tahu terima kasih. Tolong jangan dibatalkan ya! Rumah pesananku," mohon Kevin dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Al hanya diam tidak menggubris ucapan Kevin karena dia sudah fokus dengan pekerjaannya. Sementara Kevin menjadi gelisah karena tidak ditanggapi oleh Al.


"Aduh, bisa gawat kalau dibatalkan. Dia kan kadang suka tega kalau disinggung hatinya," ringis Kevin dalam hati.


Tak berapa lama kemudian, jam makan siang pun telah. Al yang sibuk dengan pekerjaannya, memutuskan untuk makan siang di kantor, sehingga Icha sudah memesankan makanan untuknya. Tidak jauh beda dengan Icha, Vio pun langsung menuju ke ruangan Al karena disuruh oleh Kevin. Sementara Oryza dan Kia memilih makan di cafetaria yang ada di lantai dasar perusahaan tempatnya bekerja.


Melihat kedatangan Vio, wajah lelah Kevin berubah sumringah. Andai saja sekarang sedang di apartemennya, mungkin kejadian semalam diulanginya lagi.

__ADS_1


Flashback on


Sepulang kerja Kevin langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket. Sementara Vio, menyiapkan makanan yang tadi di belinya di jalan. Selesai menyiapkan makanan, Vio pun langsung mengambil baju ganti di kamarnya dan berniat untuk mandi di kamar sebelah. Setelah acara bersih-bersih badan selesai, Vio pun langsung menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta karena pas sampai apartemen sudah masuk waktu sholat magrib.


Sementara Kevin, setelah acara mandinya dan sholat magrib, dia langsung menuju ke dapur karena sedari tadi perutnya terus bernyanyi goyang dompret. Namun, dia tidak mendapati Vio ada di sana sehingga mencari ke penjuru apartemen dan mendapati Vio yang sedang sholat di kamar sebelah. Tanpa diminta, senyum mengembang pun tersungging di bibirnya.


"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya aku bisa belah duren." Syukur Kevin dalam hati.


Tak ingin mengganggu Vio yang sedang melaksanakan kewajibannya, Kevin pun memutuskan untuk menunggu di meja makan.


Saat Vio datang menghampirinya di meja makan, Kevin menampilkan senyum terbaiknya. Yang sukses membuat Vio menjadi tanda tanya besar.


"Dia kenapa? Kho selama makan senyum-senyum terus," batin Vio


Setelah selesai makan, Kevin langsung menghampiri Vio yang sedang mencuci piring memeluknya dari belakang. Tercium wangi shampo yang menyegarkan menguar dari rambut Vio. Kevin pun menempelkan dagunya di pundak, yang membuat Vio merasa risih acara mencuci piringnya diganggu.


"Vin, sana ikh! Akunya lagi cuci piring," usir Vio


"Vi, tamunya udah pergi kan? Sekarang giliran jawaraku yang bertamu," ucap Kevin lembut


"Maksud kamu?" tanya Vio belum connect dengan maksud Kevin.


Kevin tidak menjawab pertanyaan Vio tapi dia langsung membalikkan badan Vio dan langsung melahap candunya dengan rakus. Tangan nakalnya mulai menelusup masuk ke balik baju tidur Vio, mencari bukit kembar yang sangat dia sukai untuk dimainkan. Hingga malam panjang yang selalu dinantinya kini mereka lewati dengan erangan, decapan, desahhan kenikmatan.


Flashback off


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2